ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
36. Simpanan itu bukan Tabungan


__ADS_3

Jam delapan lewat tiga puluh malam itu, Reksa bergerak ke dapur; Bi Sri yang sengaja menunggu di ruang makan langsung menghangatkan makan malam sebelum kembali ke kamarnya untuk istirahat.


Reksa mengetuk pintu kamar Sera dua kali sebelum masuk. Buntalan di atas ranjang masih sama seperti sebelumnya, nampak tidak bergerak sama sekali.


Reksa bergerak ke tepi ranjang dan menyingkap selimut. Gadis kecil itu tersentak dan segera menyembunyikan wajahnya di dalam bantal.


“Jangan kaya gitu, nanti susah napas.” sebelum datang Reksa sudah memeriksa cctv. Dia menyaksikan tingkah putrinya yang berkeliling kamar seperti pencuri. Ingin keluar kamar tapi gengsi.


Reksa menunggu beberapa saat untuk putrinya bergerak; karena Sera tidak memberi respon, dia langsung menggendong putrinya.


Sera yang di gendong tiba-tiba menggeliat ingin diturunkan. Reksa berusaha menahannya.


“Diem, nanti jatuh.”


Mendengar kata dengan nada teguran itu, Sera semakin menjadi. Tak sengaja kepalan tangan Sera menampar wajah Reksa tepat di hidungnya.


Pok!


"Oww!"


“....”


Sera membeku seketika sementara Reksa menahan sakit. Meski Sera masih kecil, tenaganya bisa disepelekan. Apalagi yang jadi sasarannya adalah tulang hidungnya.


Sera yang sebelumnya merajuk langsung jadi pendiam seperti hamster ketakutan. Di satu sisi dia panik, bagaimana kalau papa-nya marah?


Selain berseru sakit, Reksa tak mengatakan apa pun lagi. Dia hanya menahan sakit kemudian membawa Sera ke ruang makan. Sekalipun marah, anak kecil tetap harus makan. 


Sera di dudukkan di kursi dan makan tanpa suara. Gadis kecil itu mencuri lirik ke arah Reksa setiap beberapa saat dan melihat hidung papa-nya memerah.


Reksa  tidak marah sama sekali. Menemukan Sera memukulnya dengan energetik, hati Reksa justru sedikit bersyukur.


“PR-nya udah selesai?” tanya Reksa. 


“Belum..,” di tengah-tengah, Sera ingat kalau tas dan buku tugasnya di tinggalkan di kantor Papa-nya. “.....”


“Yaudah kerjain sekarang.” kata Reksa tenang.


Sera turun dari meja makan, meletakkan piring bekas makannya di wastafel dan beranjak ke kamar.


'Gapapa.'


Dia bisa ambil sembarang buku untuk pura-pura belajar sebagai kamuflase. Besok, baru dia akan pikirkan alasan ke Bu Guru karena tidak mengerjakan tugas.


Sera familiar dengan yang namanya tugas dan sejenisnya. TK-nya jarang memberikan tugas, tapi papa-nya selalu memberikan tugas untuknya.


Saat melewati ruang tengah, dia melihat tas ranselnya yang semestinya masih di kantor justru ada di atas sofa. Sera lega karena dia tidak perlu berlagak seperti orang bodoh. Meskipun Papa pergi bersama perempuan itu, Papa masih membawa tasnya.


Sera menghibur diri. Papa masih ingat dirinya. Masih ada harapan.


Kemarahan yang Sera rasakan sebelumnya padam seketika.


Ketika Reksa datang ke ruang tengah bersama laptop dan tas kerja berisi dokumennya, dia melihat Sera mengerjakan tugas dengan serius.


“...ada yang susah?” ini bukan pertama kalinya Sera cemberut, tapi Reksa belum mengobrol dengan Sera soal masalah yang dialami sebelumnya. Reksa jadi agak sedikit canggung.


Dalam hati Sera berpikir: apa yang susah? Cuma perkenalan. Dia sudah melakukan perkenalan sejak dia kecil. (sekarang pun dia masih kecil, hanya tidak merasa saja.)


Sera menggeleng, menjawab pertanyaan Reksa.


Keduanya mengerjakan pekerjaan masing-masing dalam diam.


Reksa yang mulanya masih memperhatikan gerak-gerik Sera, lama-lama tenggelam dalam pekerjaannya. Mengabaikan putrinya yang sibuk cari perhatian.


Waktu berlalu dengan cepat. Reksa menurunkan dokumen di tangannya dan memeriksa ke sebelahnya. Putrinya masih duduk dengan pensil di tangan dan bukunya masih terbuka, namun kepalanya sudah naik-turun saking mengantuknya.


Reksa menepikan pekerjaannya dan membawa Sera kembali ke kamar mandi.


"Buka mulutnya." mendengar suara Papa-nya, Sera otomatis membuka mulutnya dan mengulurkan tangan, menerima sikat gigi yang sudah diolesi odol.


Reksa memeriksa isi mulutnya sebelum melepas Sera ke kamarnya dan membiarkannya tidur sebelum melanjutkan pekerjaannya.


Selesai mengaji, Sera berlari masih memakai mukena menuju kamar Papa-nya. Dia ingin berangkat bersama dengan Papa-nya, Sera bahkan mandi sebelum shubuh dan tinggal ganti pakai seragam. Namun begitu melihat kamar utama yang kosong, Sera merasa kecewa.


Dia bertanya ke Bi Sri saat sarapan pagi.


Rupanya, Papanya berangkat lebih pagi lagi. Kalau hari biasa, Sera akan menelepon Papanya, menuduhnya meninggalkan dirinya di rumah, atau membujuk Papanya untuk mengantarnya lain kali.


Namun saat ini, Sera tidak bisa menggerakkan tangannya untuk menelepon.


Sederhananya, pagi itu tidak menyenangkan untuk Sera.


Sampai di sekolah, Sera tak lagi bisa berpikir soal masalah di rumah. Fokusnya terbawa suasana belajar di kelas.


Reksa yang menerima laporan dari Bi Sri, menelepon Shain untuk menanyakan keadaan Sera di sekolah.


"Nona kecil aktif di kelas seperti biasa, Pak." karena belum tiba waktu istirahat, Reksa langsung menutup telepon setelah memastikan beberapa hal. Sera tidak tahu sama sekali Papa-nya telepon.


Begitu pulang, barulah Sera teringat soal masalahnya. Dia merasa dia melakukan hal sia-sia. Selama sekolah, masalahnya tidak selesai juga. Sera langsung murung ketika sampai.


Shain yang jelas-jelas melihat Nona-nya menjawab pertanyaan dengan semangat, sempat senang. Namun melihat sosoknya yang menghela napas panjang dan kembali murung, dia merasa konflik.


Mungkinkah Bosnya belum mengatakan apa pun pada Nona kecil? Dia tidak mengerti dengan hubungan ayah dan anak satu ini. Kalau Sera lebih kekanakkan, dia mungkin sudah membuat keributan mendengar ayahnya memiliki kekasih. Jenis yang beracun, pula.


Namun karena Sera anak yang berpikir banyak, Reksa tidak bisa memperlakukannya seperti anak biasa.


Jam dua lewat Sera pulang, Sera mengganti bajunya, makan dessert, kemudian Sera tidur siang seperti biasa. 


Jam tiga bangun, Sera lanjut membuka tablet untuk mulai memainkan gamenya. Begitu masuk, dia menerima banyak pesan dari anggota aliansi yang Sera abaikan semuanya.


Dia langsung mengirim pesan di grup aliansi.


RAARW: lg sibuk. Jgn ganggu.


Intinya, mood-nya sedang buruk. Anggota yang lain pun membiarkannya, karena tidak ada yang tahu, kalau crazy rich satu ini sedang bad mood dan diganggu, apa yang akan dia lakukan.


Petinggi Aliansi yang online saat itu juga membiarkan, karena tidak ada hal yang penting sama sekali.


Ding


Ding


Ding

__ADS_1


Meski Sera sudah memberitahu, ada satu orang yang terus mengiriminya pesan, membuat Sera kesal.


Dia akhirnya membuka pesan itu.


Nama TheDarkLord nampak di pesan. Akhirnya dia tahu siapa.


RAARW: apa sih akmal


TheDarkLord: km lama bgt aku Ping ngga di bls terus.


RAARW: lagi males


Dia sudah menjelaskan di grup!


TheDarkLord: oh bad mood.


Balasan Akmal mengingatkan Sera akan kekurangannya dalam berbahasa asing.


TheDarkLord: pantesan di sekolah km kaya ngelamun.


RAARW: aku gak nglamun


Dia menjawab semua pertanyaan di kelas. Bisa di bilang, hari ini dia malah lebih antusias. Mungkin efek dari kejadian kemarin.


TheDarkLord: aku ketawain km diem aja pas istirahat


Wajah Sera yang tak berekspresi langsung menggelap, mirip dengan ekspresi Reksa saat menerima laporan mengecewakan.


Mungkinkah anak laki-laki ini mengajaknya berkelahi?


Sera tidak ingin membalas Akmal. Anak laki-laki itu terlalu menyebalkan.


TheDarkLord: buka vcall deh.


RAARW: vcall apa?


TheDarkLord: vcall ya vcall masa gatau


Sera lagi-lagi dibuat kesal membaca balasan itu.


TheDarkLord: nanti aku telepon km jawab ya.


TheDarkLord: jawabnya pas sendirian.


Membaca balasan penuh misteri itu, Sera langsung meneliti sekitar. Shain duduk di depan Sera seperti biasa sambil melap  bersih alat rutin yang selalu dia bawa. Gadis kecil itu memutar otaknya dan memutuskan pergi ke kamar.


Shain tidak banyak bicara namun ikut bangun. Ketika Sera melangkah masuk ke kamar, dia langsung menutup pintu kamar.


Shain yang ditinggal tepat di luar pintu kamar, nampak terkejut dengan aksi nona kecilnya. Shain bukannya mau masuk, dia hanya mau mengontrol Nonanya mau melakukan apa sebelum duduk kembali di sofa. Tapi sekarang Nona kecilnya menutup pintu kamar, dia jadi panik. Mengingat kejadian sebelumnya, Shain jadi tambah tidak tenang.


“Em… Nona?” Shain mengetuk-ngetuk pintu. "Nona pintunya boleh di buka?"


“Sera ada urusan penting. Jangan masuk.”


Urusan penting apa yang anak umur 6 miliki? PR? Dia masih bisa bantu. Shain tidak terpikirkan soal apapun namun nada suaranya tetap tenang. Dia tidak boleh membuat Nona-nya curiga.


“Oh. Baik.” Shain lantas membuka ponselnya yang aplikasinya langsung terhubung dengan kamera di kamar Nona-nya.


Saat Sera sedang tidur siang, Shain sudah memeriksa jendela kamarnya dan juga keadaan di luar. Selama Nona kecilnya tidak melakukan hal mencurigakan seperti membuka jendela dan berusaha memanjat, Shain tidak akan mendobrak pintu kamar.


Di layar dia melihat Nona kecilnya duduk di pojok bersama tabletnya. Tabletnya tertutup badannya, dia hanya bisa melihat punggung kecil bahkan saat kamera di zoom.


Shain melirik jam tangannya. Tak lama lagi waktu bermain gadget Nona kecil habis, tapi kalau begini dia tidak bisa melakukan apa-apa.


Sementara itu di kamar.


Akmal yang melakukan panggilan video langsung dibuat kaget begitu dihadapkan dengan lubang hidung Sera.


“Ngapain sih!!”


“Shhh. Aku lagi sendirian di kamar.”


“Jangan deket-deket. Upilmu keliatan!”  seru Akmal. 


Mendengar itu Sera langsung memeriksa hidungnya di kamera. Akmal harus berhadapan dengan pemandangan hutan yang tak menyenangkan.


“Idungku bersih, kok.”


“Pokoknya jangan dekat-dekat!”


“Ngga bisa, keadaan lagi darurat.” Sera bukannya tidak sadar dengan kamera di kamarnya. Tapi kalau dia memilih kamar lain, Shain akan panik dan mengganggunya.


Kalau di kamarnya, Shain akan menunggu. Selama Sera tidak melakukan hal aneh. Gadis enam tahun itu tidak khawatir.


Akmal akhirnya mematikan kamera lawan bicaranya. Seberapa bersihnya pun, tidak enak bicara dengan lubang hidung.


“Jadi, ada masalah apa?” tanya Akmal. Sera adalah teman pertama Akmal, sudah pasti dia harus bertanya apa yang terjadi. Meskipun dia tidak tahu apakah dia bisa membantu.


Kakaknya bilang antara teman yang penting itu berbagi.


Berbagi susah.


“Kemarin aku ke kantor Papa.”


“Uh-uh, dan?” Akmal meniru kakak perempuannya waktu mendengarkan sahabatnya curhat.


“Ada perempuan yang jahat tiba-tiba ke aku.”


Akmal tidak khawatir sama sekali.


"Anaknya siapa dia?" Akmal pikir orang yang Sera maksud masih anak-anak seperti mereka. Kalau iya, yang ada anak itu yang akan menderita. Sera tidak akan kalah sama sekali.


"Dia udah besar...," tidak setua Papa-nya tapi lebih muda dari Kak Shain.


Mendengar itu, barulah Akmal mengerutkan keningnya. Sera tidak akan menang melawan orang dewasa.


“Pegawai Papa kamu?”


“Bukan.”


“Kak Shain?” Akmal menebak.


“Bukan, lah.” Sera memutar bola matanya. Hanya saja percuma, Akmal tidak bisa melihatnya.

__ADS_1


"Bukan pacar papa kamu?"


"Papa aku janji ngga akan pacaran." kata Sera dengan wajah gelap. Sebenarnya Reksa tidak pernah mengatakan hal itu. Hanya saja Sera punya kepercayaan diri mengenai hal ini.


Akmal ingin menghembuskan napas panjang mendengar itu. Kakak perempuannya bilang bahwa omongan laki-laki itu tidak bisa dipercaya. Manis di mulut saja. Tapi Akmal tidak bisa mengatakan hal itu pada Sera. Nanti dia kira Akmal mengatakan omong kosong pula. Kan dia laki-laki juga.


“Terus siapa?”


“Aku gak tau. Pokoknya dia jahat.” Sera tidak ingin menceritakan bagaimana wanita itu mengatakan bahwa dia anak haram. Meskipun Akmal adalah temannya, kata-kata perempuan itu masih membuatnya sedikit takut. Dia takut Akmal akan menjauhinya.


“Terus Papa aku barengan sama dia pas aku  pulang ke rumah.” Sera mengingat kembali saat Papa-nya menelepon Sera di mobil.


Akmal yang mendengar kalimat itu, langsung berputar ke drama yang kakak perempuannya tonton. Mamanya juga ikut menyaksikannya. Judulnya Dunia Pernikahan atau apalah itu.


“Papamu punya simpanan?”


Akmal hanya tahu Ibunya Sera sudah meninggal; tapi dia tidak tahu detaillnya. Akmal selalu mendengar ayah dan ibunya mengumbar kemesraan, berkata bahwa yang satu akan setia sampai mati; sementara  yang satunya akan menunggu di kuburan sampai yang satu datang.


Dia merasa aneh dengan situasi Papa-nya Sera yang kemungkinan punya kekasih baru setelah Mama-nya Sera meninggal.


“Huh? Simpanan?” Sera mengerutkan kening.


“Perempuan itu cantik?” tanya Akmal lagi.


“...Ya.” Sera tidak ingin mengakui tapi dia harus jujur.


“Terus dia jahat ke kamu?”


“..Ya.”


“Terus yang kerja di kantor Papa kamu ngga bisa marahin dia?”


Sera tidak yakin. Dia melihat wanita itu masuk, dia tidak melihat interaksi wanita itu dengan pegawai papa-nya.


Namun terbawa suasana, dia hanya menjawab iya.


“Terus kamu pulang, tapi Papa kamu malah sama perempuan itu?”


“Ya!”


“Dia simpanan.” kata Akmal tegas.


“Simpanan itu apa?”


“Masa kamu ngga tahu?”


“Iya apa?”


“Iya simpanan itu ya perempuan itu tadi.” Akmal tidak bisa menjelaskannya.


“...”


Otak kedua anak kelas satu SD itu lag sesaat.


“Terus aku harus gimana?”


“Kalau dia simpanan ya kamu harusnya berani—!”


“Heh, Akmal Ali Yasyfii! Ngapain kamu ngomong-ngomongin soal simpanan?”


Sera melihat dari sosok Akmal yang berada di depan kamera tiba-tiba goyang bersama dengan suara nyaring seorang wanita. Akmal terlihat melarikan diri. Dia harus menyelesaikan misi dan memberikan pencerahan pada Sera sebelum ditangkap oleh Ibu. Lihat pengorbanan yang dia lakukan! Inilah pertemanan sejati!


Samar-samar Sera bisa mendengar suara teriakan.


Gambar di kamera sudah blur dan tidak jelas. Membuat Sera pusing menyaksikannya.


“Pokoknya…huff…coba kamu tanya Papa kamu dulu.” Suara Akmal terdengar terengah-engah.


Clak. Akhirnya Akmal berhasil sembunyi ke kamar.


“Ta-tanya apa?” Sera menyaksikan Akmal melarikan diri, dia jadi ikut panik. 


“Tanya apa perempuan itu simpanan papa kamu!!”


“Akmal Ali Yasyfi!” setelah seruan nyaring itu, panggilan video terputus.


Sera: …..


Setidaknya dia tahu kini harus melakukan apa. Akmal tidak memberinya solusi, tapi Sera bisa memikirkan hal lain.


Shain yang gelisah akhirnya melihat nona kecilnya bangun dari jongkoknya.


Melihat reaksi keluarga Akmal waktu mereka membicarakan simpanan, Sera ada perasaan mungkin simpanan itu bukan hal bagus?


Sera pikir, dia tidak boleh buta dan melakukan semua yang Akmal katakan. Dia harus mencari lebih dalam.


“Sera mau belajar.” kata Sera setelah membuka pintu kamar.


Shain yang berdiri di depan Sera mengangguk.


“Tapi Sera mau pake tablet, ya.”


“Baik, Nona.” Shain tidak masalah. Dia hanya melapor ke Reksa. Selanjutnya, untuk konten belajar yang Sera telusuri, jejaknya bisa terlihat di ponsel Reksa karena terhubung.


***


Sementara itu, Akmal yang berhadapan dengan wajah gelap Ibunya.


"Ibu."


Akmal menelan ludah. Dengan cepat dia melempar bola di tangannya ke Sera yang jauh disana.


"Aku ngga belajar itu, Bu. Sera yang ngasih tahu aku."


Bukankah teman itu harus berbagi susah? Akmal pikir teman itu sungguh sesuatu yang bagus.


Ibunya yang mendengar itu sedikit lega. Dia kira putra bungsunya mendengar sesuatu dari siapa. Namun dia tetap mengingatkan untuk jauh-jauh dengan anak yang namanya Sera. Akmal mengangguk mantap.


Kalau Ayahnya dengar, dia akan langsung tahu bahwa putra bungsunya yang selalu dingin itu sudah berbohong. Tapi omong-omong, memang sejak mengenal Sera, Akmal jadi lebih ceria. Dia semakin nakal dan semakin licin dalam mengelabui keluarganya.


Ayahnya sudah kebal karena ada Roger yang memantau. Sayangnya, ibunya belum terlatih soal ini.


***

__ADS_1


__ADS_2