
Reksa terbangun merasakan cahaya matahari yang masuk menembus kaca jendela. Untuk beberapa saat dia seperti di suntik obat, tak bergerak, tak merespon. dia menatap langit-langit asing, bertanya-tanya kenapa dia ada disini.
Dia bangun perlahan, duduk setengah menit sebelum mencari ponselnya dan melihat banyak panggilan tak terjawab dari Pengasuh Sri. Reksa scroll ke bawah sebelum melihat jejak panggilan tak terjawab dari jam pintar Sera. Yang terakhir baru satu jam lalu. Mendadak kantuknya hilang.
Tepat saat itu, panggilan masuk dengan nama Pengasuh Sri. Reksa menerima panggilan dan langsung menerima seruan dari seberang.
"Tuan!!"
"Bi Sri, dimana Sera?"
"Tuan, Nona sekarang sedang demam dan di infus. Saya tungguin Nona sampai tidur jam 10 malam kemarin dan kembali ke kamar. Saya ngga sadar Nona tidak tidur lelap semalam!"
Pengasuh Sri pergi tidur semalam, dan tidak memiliki akses untuk memeriksa cctv pun dia terpikirkan untuk berjaga dan mengawasi. Siapa sangka Nona kecil-nya itu gelisah. Setiap terbangun gadis kecil itu akan menelepon nomor Reksa. Saat mengantuk karena terlalu lama menunggu, gadis kecil itu akan tertidur. Namun tak lama dia akan terbangun lagi dan mengulang proses.
Sampai jam lima tadi, ketika Pengasuh Sri selesai sholat subuh, Sera mengetuk pintu kamar Sri pelan dan menangis bahwa ayahnya pergi.
Sri langsung kaget melihat keadaan Sera saat itu. Dia hanya menerima arahan dari Reksa untuk mempersiapkan Sera pukul enam. Saat itu juga Pengasuh Sri membawa Sera ke klinik terdekat.
"Ini salahku." Reksa memejamkan mata dengan dahi berkerut. Dadanya berdenyut tak enak. "Gimana keadaan Sera sekarang?"
"Masih panas Tuan, dan Nona sedang tidur." Pengasuh Sri tidak menceritakan bagaimana dokter memarahi dia sebelumnya. Menuduh Pengasuh Sri lalai hanya dalam menidurkan anak usia tiga tahun. Yang penting Nona sudah baik-baik saja.
"Saya kesana sekarang." dia hanya berniat untuk main hingga tengah malam, dan pulang pada dini hari. Dia tak menyangka dia akan tertidur sampai pagi dan tidak pulang. Tambahan, dia lupa memberitahu Sera. Anak itu mungkin hanya mendengar dari Pengasuh Sri bahwa dirinya akan pulang larut.
Tak disangka Sera menunggunya. Mengingat jejak panggilan Sera sepanjang dini hari itu, rasa bersalahnya langsung bertambah.
Reksa langsung berkemas dalam keadaan khawatir.
Kertas catatan di atas meja di sisi ranjang tidak di notice sama sekali.
Dengan kemeja kusut dan jas di lengan, Reksa masuk bergegas ke klinik, mengabaikan tatapan orang sekitar yang tertuju padanya. Dia bahkan tak sempat cuci muka. Hanya sebelum masuk ruangan saja dia ingat untuk cuci tangan.
Saat pintu di buka, Pengasuh Sri yang sedang menyiapkan sarapan Sera, mendongak dan langsung menyambut Tuannya.
Reksa memberi Pengasuh Sri waktu libur sehari saat itu juga.
Reksa duduk di tepi ranjang, melihat Sera yang badannya kecil di balut selimut, terbaring di ranjang panjang. Di tangannya terpasang selang infus yang membuat Reksa seperti di tampar. Tangan kecil ini pasti kesakitan waktu di suntik.
Dia hendak bergerak ke kamar kecil untuk membersihkan diri, memanfaatkan Sera yang masih tidur. Namun terhenti saat mendengar panggilan pelan.
"...Papa."
"Iya, ini Papa." mendengar balasan lembut itu, Sera yang masih kebingungan langsung berurai air mata. Tangisannya pecah mengisi seisi ruangan. Selain saat dia menangis keras ketika mencari Mama-nya, Sera tidak pernah menangis keras dalam beberapa bulan ini.
"Papa kemana.." di sela-sela isakannya Sera hanya bisa terus mengulang-ulang pertanyaan itu. Menuduh ayahnya menghilang, meninggalkannya.
Reksa langsung menggendong Sera ke pelukannya.
__ADS_1
Tangisan anak kecil adalah tangisan yang paling jujur. Meski anak mudah berubah suasana hatinya, namun mereka tak bisa mengukur besar kesedihan. Mungkin kesedihan yang Sera rasakan sama besar ukurannya dengan tangis anak di luar yang sakit hati karena mainannya diberikan ke orang lain.
Mendengar tangisan Sera, Reksa merasa tertekan untuk Sera. Dia hanya bisa mengayun dan menggendong Sera sambil membisikkan kata maaf, sementara tangan satunya menahan tangan Sera yang di infus untuk tetap di tempat.
"Sera sama Papa main ke taman, naik bianglala ya? Mau?"
Sera masih kebingungan, dia tidak bisa membayangkan se-menyenangkan apa naik bianglala itu, karena kesedihan masih menyelimuti hatinya.
Anak itu berhenti sesaat mendengarkan sebelum menggeleng dan melanjutkan tangisnya.
Reksa meratap dalam hati: Bukankah kamu cari Papa? Ini papa ada disini tapi kenapa masih menangis?!
"Sera nanti naik kuda sama papa, makan eskrim, lari-lari, ketemu badut, berenang... nanti ada kelinci sama kancil." Reksa tidak tahu ada apa saja di Taman Hiburan, dia hanya mengucapkan omong kosong.
Tak di sangka ucapannya membuat Sera terdiam dan mendengarkan. Meski masih sesenggukan, Reksa seakan mendapat pencerahan. Tidak berhenti sedikitpun, dia lanjut bicara mulai dari hutan, kemping, sampai gedung-gedung tinggi dan mobil di jalan yang tak ada hubungannya dengan Taman Hiburan.
Saat ada hal yang membuatnya penasaran, Sera langsung bertanya.
"Kucing mbim?" Kucing naik mobil?
"Iya... kucing meong-meong," kata Reksa asal, tak mengerti sementara tangannya bergerak menyapu air mata Sera dengan lembut.
"Papa mbim?" Papa kan yang naik mobil? Masa kucing naik mobil..
"Papa orang, ngga mbim." Reksa pikir Sera menuduh dirinya adalah seekor kambing. Mbe dan Mbim tidak beda jauh.
"....orang mbim?" Sera mencerna kalimat sesuai pengertiannya. 'Orang' yang naik mobil, bukan papa?
Keduanya berceloteh ngaler-ngidul, sampai Sera menatap lama ke leher Reksa. Mata polos anak itu menatap leher dan wajah Reksa bergantian.
Meski dia tidak mengerti banyak hal, mengejutkannya, Sera sensitif dengan hal seperti ini.
Mamanya penah mencium Sera beberapa kali, meninggalkan bekas serupa. Sepemahamannya, hanya perempuan yang pakai lipstik.
Siapa yang mencium papa-nya?
Keadaan di kontrakannya tidak begitu bagus. Seorang wanita paruh baya pernah mengancam anaknya, bahwa ayahnya mau punya ibu baru. Si anak tidak mengerti kenapa.
Sera juga tidak mengerti. Tapi Mama-nya sudah pergi. Siapa yang cium papa?
Perlu waktu lama untuk Sera mencerna, dan begitu sadar, tatapannya pada Reksa langsung berubah penuh tuduhan. Alisnya melengkung, matanya bulat berkaca-kaca, bibirnya menggaris tipis.
Reksa melihat tanda-tanda ini langsung panik. Dia kembali berbicara panjang untuk mengalihkan perhatian Sera.
Tapi dengan tanda di depan mata Sera, anak itu hanya akan fokus kesana.
Pagi itu satu bilik di klinik terasa meriah.
__ADS_1
**
Reksa tidak berhasil meredakan tangis Sera, namun terselamatkan saat Joe datang untuk mengantarkan dokumen Reksa ke klinik pagi itu. Melihat bosnya yang berantakan, dengan rambut mencuat kesana-sini, menggendong Sera dan berayun--berbicara tak jelas sementara Sera menangis. Keduanya seperti beduet, sibuk dengan bakat masing-masing.
Joe langsung tak bisa berkata-kata.
Tapi dia melihat dengan jelas tanda lipstik di leher Reksa. Dia pikir ini tidak pantas di lihat anak kecil, meski mereka belum mengerti.
"Bos, coba periksa cermin dulu." saking speechless-nya, Joe sendiri tidak sadar dia memanggil Reksa 'bos'.
Reksa yang sadar ada keanehan juga tidak ngeh, langsung menyerahkan Sera ke Joe yang langsung menambah keperihan tangisnya.
Reksa bergegas ke kamar mandi dan mencuci muka. Mungkinkah karena dia belum gosok gigi dan ada tai mata, Sera jadi menangis? Di pikir-pikir anak itu menangis keras setelah menatap wajahnya lama.
Tapi saat dia mengangkat wajahnya, Reksa melihat bayangannya di cermin. Tanda merah itu sebenarnya mudah di hapus. Tapi karena dia tidak sadar, mungkin juga karena bahannya yang bagus, tanda merah itu masih jelas bentuknya.
Reksa memeriksa seluruh lehernya dan lega karena ini satu-satunya. Dia segera menghapusnya dan mengganti bajunya dengan kaus santai yang di bawa Joe.
Dari dalam, Reksa yang tidak lagi mendengar tangis Sera, diam-diam menggeritkan gigi memikirkan Joe yang berhasil mendiamkan Sera entah dengan cara apa.
Reksa keluar dari kamar mandi, menemukan Sera sudah kembali tertidur di ranjang. Joe menyeka dahi Sera dengan hati-hati.
Merasakan tatapan kearahnya, Joe diam sebentar dan mengangguk ke arah Reksa. "Saya sudah siapkan laporannya, dan meeting akan dilakukan nanti malam secara online."
Anehnya, bos-nya tidak bergeming. Joe pikir dia melakukan kesalahan lantas menarik tangannya yang memegang sapu tangan, kemudian berdiri tegak. Dalam posisi siap.
Dua detik kemudian terdengar suara.
"Oke." Reksa berjalan ke sisi ranjang dan duduk di kursi. Joe menilik ekspresi bos-nya baik-baik dan bernapas lega setelah memastikan suasana hatinya baik-baik saja.
"...." Joe diam menunggu instruksi selanjutnya dari Reksa.
"...." Reksa bertanya-tanya kapan Joe pergi.
Keduanya terdiam. Reksa melirik Joe dengan datar. "Ada lagi?"
"Ah tidak, Pak. Kalau begitu saya pamit dulu, Pak."
"Hm."
Di muka pintu Joe berhenti sebentar. Teringat mangkuk bubur yang masih hangat di sisi ranjang namun tak tersentuh. Memikirkan betapa pentingnya Nona Kecil untuk Tuannya, Joe pikir ini waktu yang bagus untuk menunjukkan perhatiannya.
"Nona kecil sepertinya belum sarapan, Pak."
Reksa yang menatap Sera dengan lembut, langsung berurat dahinya.
"Saya. Tahu."
__ADS_1
Joe tidak sadar kenapa bos-nya tiba-tiba kesal. Dia hanya merasakan garis suasana hati bos-nya melompat dari garis normal. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia langsung undur diri.
****