
Jam satu malam itu, saat Reksa sedang menyortir dokumen, selembar kertas menyelip keluar. Dia membacanya sebentar, melihat bahwa kertas itu berisi informasi program tadabur alam untuk Sera di sekolahnya.
Di belakangnya tersemat formulir untuk mengisi nama anak yang ikut, serta kolom tanda tangan orangtua. Reksa mengulang membaca dari awal dan mengingat tanggal yang tertera.
“....tunggu, sudah masuk bulan september?” Reksa membuka kalender untuk memastikan bahwa putrinya akan berulang tahun tak lama lagi. “Benar juga. Sera sekarang sudah kelas tiga, sudah mau umur delapan tahun.” di ujung kalimatnya Reksa tertegun.
Sera sudah delapan tahun? Tidak terasa gadisnya sudah bertambah besar. Tanpa sadar senyum terukir di wajah Reksa.
Tiga tahun lagi dia akan masuk SMP.
Waktu benar-benar berlalu dengan cepat. Reksa membuka internet untuk mencari ide hadiah apa yang harus dia siapkan.
Ding
Emailnya menerima pesan masuk. Reksa langsung membukanya begitu membaca user ‘Royal’. Dia membuka email berisi foto-foto seorang pria yang diambil dari sudut tersembunyi. Gambar pertama menunjukkan si pria yang keluar dari lapas. Selanjutnya gambar mengikuti si pria sampai ke rumahnya dan foto berhenti di sana. Perlu waktu lama untuk Reksa menyadari siapa pria di dalam gambar. Kenapa Royal mengirimkan foto seseorang yang tidak dia kenal?
Mungkinkah dia saingannya yang baru keluar dari penjara? Saat membaca informasi orang terkait, barulah dia ingat.
Erik. Reksa mengerutkan kening.
Erik?? Reksa memiringkan kepalanya. Kenapa terasa familiar?
Erik!!
Reksa menahan dahinya dan diam beberapa lama. Erik kakaknya Lily, dan juga pamannya Sera.
Sial, jadi ini sudah waktunya pria itu keluar dari penjara?
Reksa memicingkan mata, kenapa dia merasa seperti ada yang janggal? Berhubung penyebab Reksa menjebak Erik adalah karena hubungannya dengan Sera, Reksa tidak bisa memikirkan alasan lain kecuali ini.
Erik keluar dari penjara saat Sera menginjak delapan tahun.
Mimpi yang dulu menghantuinya, tenggelam di makan waktu, perlahan muncul ke permukaan. Kenapa dari sekian banyak mimpi harus mimpi yang seperti ini yang dia ingat dengan jelas? Melihat bayangan wajah putrinya yang seperti boneka saat ini jauh lebih menyakitkan dibanding saat dia pertama bermimpi dahulu.
Bertambahnya rasa sayang Reksa pada Sera membuat dia merasa tidak terima hanya dengan fakta bahwa Erik hidup bebas.
“.....” Reksa mengetuk-ngetuk meja, makin lama ketukannya makin cepat. Sayang sekali, dia adalah warga yang cinta kedamaian dan taat hukum. Karena kejadian di mimpi itu tidak akan pernah terjadi, yang mana Reksa akan memastikannya, dia hanya perlu mengirim orang mengawasi Erik untuk saat ini.
****
Cicak diomongin, cicaknya datang.
Jam istirahat hari itu Sera pergi menuju ruang rekreasi untuk mencari ide penampilan apa yang akan dia tampilkan untuk pentas seni sekolah. Setiap tiga tahun sekali, sekolahnya akan mengadakan acara yang melibatkan SD, SMP, dan SMA.
Sera jadi salah satu partisipan dan dia ingin melakukan yang terbaik karena… Papanya akan menonton saat itu!!
__ADS_1
Lima menit sebelum jam istirahat selesai, Sera keluar ruangan dan bertemu Akmal.
“Kamu kenapa disini?” tanya Sera heran. Setahunya, Akmal orang yang anti untuk tampil dan ikut pentas-pentas-an. Jadi apa yang dia lakukan di depan ruang rekreasi?
“Bu guru minta aku panggil kamu.”
“Kenapa?”
“Katanya ada yang cari kamu. Karena jam sekolah dan satpam gak yakin dengan identitas dia, jadi dia dibiarkan menunggu di luar gerbang.” kata Akmal datar.
“Mencari aku?”
“Hm.”
Sera bergegas ke tempat, namun di belakangnya dia mendengar suara langkah. Sera melirik dan melihat Akmal, serta Daud mengikutinya.
“...Kalian ngapain ngikutin?”
“Guru-guru lagi sibuk dengan persiapan pentas untuk anak-anak yang lain.” kata Daud beralasan. Karena mereka berdua, Akmal dan Daud menolak untuk ikut, keduanya tidak ada kerjaan.
“Siapa yang mau bertemu denganmu?” tanya Daud. Akmal di samping ikut mendengarkan. Meski dia tidak berkata apa-apa, dia juga penasaran.
“Lah, aku juga gak tahu.” kata Sera mengerutkan kening.
“...Jangan-jangan kamu anggota organisasi terlarang, ya?” Akmal berceletuk curiga pada Sera. Sera mengabaikannya. Tapi dalam hati dia juga bertanya-tanya, betulan ini orang mencari dirinya?
Pertanyaannya, siapa? Sera tidak kenal.
Sera berjalan mendekati gerbang sekolah, tapi lengannya ditahan Daud.
“I don’t think you can go there.” kata Daud, hidungnya mengerut. Dilihat bagaimanapun, orang itu terlihat mencurigakan. Dan untuk Sera yang hidup jauh di atas rata-rata, mana mungkin dia bisa kenal dengan orang seperti itu?
“Tenang, aku cuma mau tanya, gak akan sampe keluar gerbang.” kata Sera menenangkan.
“Kenapa kamu gak telpon Papamu?”
“Aku udah kelas tiga, bukan balita lagi. Tenang aja, aku pasti telepon Papaku.” tapi kalau hanya sekedar tanya-jawab, Sera pikir dia tidak perlu merepotkan Papanya yang sudah sibuk.
Daud akhirnya melepas tangannya dan memperhatikan dengan tajam Sera yang berjalan ke pagar.
Pria itu, Erik, melihat seorang gadis kecil berjalan ke arahnya. Seragamnya rapi, rambutnya berkilau dan wajahnya bersih. Gadis itu terlihat terawat dan di sayang. Meski Erik sudah lupa, namun raut muka itu tidak bisa menyembunyikan kemiripannya… dengan Lily. Erik yakin bahwa gadis kecil ini adalah keponakannya. Kalau adiknya tidak kelaparan, dia yakin Lily akan terlihat seperti ini ketika kecil.
Sementara bagaimana dia tahu lokasi dan nama keponakannya yang tidak pernah dia temui, hanya Erik yang tahu.
“Aku pamanmu.” Erik menarik senyum dan mencengkeram pagar besi. Senyumnya lebih cocok untuk menakuti anak kecil, bagaimana pun, Erik sedang frustasi dan tertekan saat ini.
__ADS_1
Sera yang melihatnya terkejut, namun di luar dia tetap berdiri dengan tenang. Wajah kekanakannya tanpa ekspresi dan Sera bertanya perlahan.
“Anda siapa?”
“Aku pamanmu, aku kakak ibumu!” kata Erik antusias. Keponakannya sekolah di tempat bagus ini, tidak hanya hidupnya enak, pastilah orang yang merawat keponakannya seseorang yang kaya. Memikirkan kehidupan perihnya di penjara dan kesempitan hidupnya setelah kembali ke rumah, Erik tidak bisa menahan diri untuk datang kemari.
Mendengar bahwa pria di depannya adalah kakak ibunya, mata Sera membulat. Kali ini dia tidak berhasil menyembunyikan rasa terkejutnya.
“Hehe, kamu gak tahu.” Erik menjilat bibir keringnya dan berkata cepat. “Waktu Ibumu mati, kamu harusnya tinggal bersamaku, aku, aku pamanmu.”
Sera mengerutkan kening, bahkan Daud dan Akmal yang berdiri beberapa meter di belakang, mengerutkan kening. Erik bicara dengan nada tinggi, tentu saja mereka bisa dengar.
Pak Satpam yang berjaga di pos, mendengar kebisingan itu dan berniat untuk bertindak. Sera memberi isyarat, Pak satpam akhirnya kembali duduk.
“Saya tidak kenal Anda siapa.” kata Sera tegas. “Sebaiknya Bapak pergi dari sini, sebelum orang lain datang mengamankan Bapak.”
Erik melirik Satpam dan hanya menyeringai. Sayang sekali yang Sera maksud bukanlah satpam, melainkan Papa-nya. Peringatan Sera itu tidak akan diingat oleh orang yang tidak tahu terima kasih.
Reksa tentu saja tidak akan diam mengetahui ada orang yang mengganggu putrinya.
Meskipun Sera penasaran dengan orang yang katanya ‘paman’ ini, sejak Reksa menawarkan Sera belajar beladiri, dia sudah ditanamkan rasa waspada.
Sera masih ingat dengan kejadian Abima. Sebagai anak kecil yang memiliki tenaga terbatas, Sera harus memikirkan keselamatannya.
Setelah berkata demikian, Sera langsung berbalik.
“Ayo.”
Daud dan Akmal tidak berkata banyak. Keduanya mengikuti Sera kembali ke kelas.
Sebelum Sera sempat mengirim pesan pada Papa-nya, informasi bahwa Erik mengunjungi sekolah Sera sudah sampai pada Reksa.
“Bagus.., bagus sekali!” Reksa menggertakkan giginya dan membanting telapak tangannya ke meja. Tenaganya begitu kuat sampai barang-barang di atas kayu jati itu bergetar beberapa saat sebelum berhenti.
Joe yang hendak masuk mendiskusikan pekerjaan, berhenti di luar ruangan Reksa untuk sesaat. Dari suara kemarahan di dalam, anggota sekretaris yang lain sudah mengerti bahwa ini tandanya, Bos mereka sedang kesal. Lebih baik menunggu sampai emosi bos-nya turun daripada masuk ke dalam dan di sembur.
“Pak Joe,” Jihan mengedipkan mata dari kubikelnya ke arah Joe, “Mening ngemil dulu sambil nunggu Pak Bos.”
Joe meringis dalam hati. “Maunya sih begitu.”
Siapakah yang memancing kemarahan yaksha satu ini? Joe menatap ke langit-langit dan berpikir, kalau urusan ini tidak selesai sekarang, dia harus bergadang lagi. Tolonglah, dia sudah tidak kuat. Tapi kalau dia masuk, dia mungkin akan kehilangan bonus bulan ini.
Joe masih gelisah, sampai dia melihat sosok seorang wanita keluar dari lift.
"Arina."
__ADS_1