
Di sebuah komplek perumahan cluster yang cukup elit, nampak seorang wanita cantik baru saja turun dari sebuah taksi. Dengan di balut sebuah flatshoes berwarna putih, wanita tersebut berjalan melenggak lenggok menuju bagasi tempat dimana ia meletakan barang belanjaannya yang cukup banyak. Dengan bantuan supir taksi yang ia tumpangi, wanita tersebut kini sudah selesai memindahkan semua barangnya ke dalam rumah hanya dalam waktu beberapa menit saja. Wanita tersebut kini terlihat merogoh Slingbag yang menempel sempurna di bahu kirinya untuk mengambil sesuatu. Selang beberapa detik, nampaklah sebuah dompet berwarna hitam yang berukuran kecil. Wanita tersebut nampak mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya itu.
"Ini Pak uangnya, terima kasih ya sudah mengantar saya," ucap sang wanita seraya menyodorkan uangnya kepada sang supir taksi yang telah ia tumpangi.
Sang supirpun menerimanya dengan senang hati. Dahinya terlihat berkerut saat ia menghitung uang yang baru saja ia terima dari pelanggannya sebagai upahnya mengemudi. Ia terlihat heran karna uang tersebut lebih banyak dari yang seharusnya ia terima.
"Loh, tapi ini kebanyakan Bu," ucap sang supir sambil menatap wanita yang ada di hadapannya itu.
"Tidak apa-apa Pak, anggap saja itu rezeki lebih untuk istri dan anak2 Bapak," saut wanita itu.
Sang supir yang sudah tak lagi muda itupun tersenyum. Ia begitu bersyukur atas rezeki yang tidak di sangka itu.
"Terima kasih banyak Bu,"
"Ibu sudah cantik, baik lagi. Saya doakan semoga rezeki ibu semakin bertambah dan semoga beserta suami segera di berikan momongan ya," puji sang supir taksi itu.
"Amin, terima kasih doanya Pak," jawab wanita itu.
"Sama-sama Bu, kalau begitu saya pemisi ya Bu, mau lanjut lagi nariknya," pamit supir tersebut.
"Silahkan Pak," saut wanita tersebut.
Mobil taksi yang berwarna putih itupun melaju meninggalkan halaman depan rumah wanita tersebut.
Setelah selesai dengan urusannya, wanita tersebut hendak masuk kedalam rumah. Namun, niatnya ia urungkan tatkala seseorang menyapanya.
"Andin...." sapa seseorang tak jauh dari posisi wanita itu.
"Hai kak Lina," sapa Andin tersenyum ketika tetangganya itu menghampirinya.
"Ada apa kak? tumben jam segini ada di rumah," tanya Andin.
"Iya, hari ini kakak ijin dari kantor karna sedang tidak enak badan," saut Lina.
"Loh, kakak sakit apa? sudah ke dokter?" tanya Andin sedikit cemas.
"Sudah tadi Ndin, kata dokter hanya demam saja, ini juga sudah mendingan," jelas Lina.
"Oh iya kakak mau nganterin ini," ucap Lina seraya memberikan paperbag kepada Andin.
Andin menerima paperbag tersebut sambil melongok sedikit isi di dalamnya.
"Apa ini Kak?" tanyanya.
"Tadi Kakakmu ke sini, dan kau tidak ada di rumah jadi beliau menitipkan ini pada kakak," jawab Lina.
"Makasih banyak loh kak. Maaf, jadi merepotkan kak Lina."
"Tidak masalah Ndin, kalau begitu Kakak pulang ya."
"Tidak mampir dulu kak Lina?"
"Tidak usah Ndin, Kakak masih sedikit pusing jadi mau istirahat saja di rumah,"
"Oh ya sudah, semoga lekas sembuh Kak," ucap Andin.
Linapun mengangguk sambil tersenyum, kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan kediaman Andin.
Ya, wanita cantik dan baik seperti yang di bicarakan oleh supir taksi itu ialah Andin. Seorang wanita yang masih sangat muda. Ia baru saja menginjak usia dua puluh tiga tahun. Meski di usianya yang masih muda, akan tetapi ia kini bukanlah seorang gadis lagi. Andin kini sudah menyandang gelar sebagai seorang istri. Suaminya ialah Farhan Wisnutama, pria beruntung yang lima tahun lalu telah mempersunting Andin.
Farhan sendiri ialah seorang pengusaha muda yang cukup sukses, ia memiliki beberapa bisnis di bidang kuliner dan juga perkebunan.
Pasangan suami istri memang belum lama tinggal di komplek tersebut. Akan tetapi tak butuh waktu lama bagi mereka untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Bahkan sebagian tetangga mereka banyak yang memuji Andin dan Farhan karena terlihat sangat harmonis dan keduanya terlihat sangat serasi.
*****
Setelah mengganti pakaian dengan baju rumahan Andin mulai merapikan barang-barang yang tadi di belinya dari supermarket. Ia mulai memilah dan memasukan beberapa barang belanjaannya ke dalam kulkas dan sebagian lagi ia bawa ke dapur.
Setelah semuanya tertata rapi, Andin kini mulai menyiapkan bahan-bahan serta peralatan masak untuk membuat kue. Hari ini adalah Anniversary pernikahannya bersama Farhan. Rencananya ia ingin memberikan kejutan pada suaminya itu.
Dengan cekatan Andin mulai membuat kue yang berbahan dasar tepung serta telur dan bahan lainnya itu. Setelah hampir satu jam ia bergelut dengan adonan akhirnya kue buatannya itupun sudah matang. Andin mulai mengeluarkan kue bolu buatannya itu dari dalam oven. Seketika aroma wangi khas dari kue yang telah ia panggang itu menyeruak ke dalam hidungnya.
__ADS_1
"Hemmm, wangi sekali," ucap Andin seraya kembali menghirup aroma dari kue buatannya itu. Setelah kue itu cukup dingin Andin mulai mendekorasi kue tersebut sesuai dengan keinginannya. Meskipun ia tak pernah mengikuti pelatihan khusus membuat kue, akan tetapi berkat keuletannya Andin kini sudah mahir dalam membuat kue. Mungkin karna itu memang bakatnya sehingga hanya dengan mempelajarinya sendiri lewat media sosial ia bisa membuatnya setelah beberapa kali percobaan.
"Nah, akhirnya selesai juga kue tartnya," ucap Andin seraya memandangi kue tart yang berlumur lelehan coklat serta beberapa buah-buahan di atasnya. Ada kepuasan tersendiri bagi Andin ketika ia membuat kue sendiri meskipun itu merepotkan. Baginya membuat kue adalah hobi yang sangat menyenangkan. Bahkan Andin pernah membujuk suaminya agar mau membuatkannya sebuah toko kue untuk dirinya. Namun, Farhan menolak keras dengan alasan tak ingin istrinya itu kelelahan.
Setelah membersihkan semua peralatan masak dan juga dapur yang telah ia gunakan itu, Andin kini berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat sejenak. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang berukuran king size itu. Andin memandangi langit-langit kamarnya yang berwarna putih gading itu.
Kira-kira mas Farhan pulang jam berapa yah? batin Andin
Rasanya wanita sudah tidak sabar ingin memberikan kejutan untuk suaminya itu.
Andin meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja di samping tempat tidurnya.
Dengan jemari lentiknya ia terlihat memainkan ponselnya untuk menghubungi Farhan. Ia meletakan benda pipih tersebut di daun telinga sebelah kananya. Setelah deringan kedua Farhanpun mengangkatnya.
"Hallo," ucap Andin membuka percakapan.
"Iya Sayang, ada apa?" saut Farhan dari seberang sana.
"Tidak ada apa-apa Mas, aku hanya merindukanmu saja," saut Andin
Farhan hanya terkekeh mendengar pengakuan istrinya itu.
"Kenapa mas Han tertawa, memangnya ada yang lucu?" tanya andin heran.
"Tentu saja Sayang, kau memang sangat lucu. Rasanya aku ingin menggigitmu setiap hari," goda Farhan.
"Huh dasar gombal." saut Andin dengan wajah tersenyum.
"Oh iya, apa mas Han pulang terlambat malam ini?"
"Tidak. Aku pulang seperti biasa."
"Memangnya ada apa Sayang? tumben sekali kau bertanya seperti itu? apa kau butuh sesuatu?" tanya Farhan.
"Tidak ada Mas, hanya ingin tahu saja. Kalau begitu sampai bertemu nanti malam,"
"Baiklah."
******
Malam kini telah tiba, matahari telah terbenam dan di gantikan oleh rembulan yang terlihat temaram terhalang oleh awan. Andin tengah duduk di ruang makan sembari menunggu suaminya pulang. Di hadapannya sudah tersaji beberapa makanan kesukaan suaminya serta kue tart buatannya tadi. Sesekali Ia terlihat mondar mandir kedalam kamar untuk memastikan apakah dirinya sudah tampil cantik atau belum.
Malam ini Andin mengenakan dress renda selutut berwarna hitam, warna yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Dress tersebut nampak sempurna membalut tubuh kecil Andin. Sebelumnya ia pun tak lupa mengaplikasikan riasan di wajahnya, sehingga kecantikannya semakin bertambah. Pipinya terlihat merona oleh sentuhan blush di kedua sisinya. Bibirnya terlihat penuh dan lebih menggoda dengan polesan matte lipstik berwarna merah terang, warna kesukaan suaminya. Ia tersenyum memandangi pantulannya sendiri di depan cermin.
Aku sudah cantik ,pasti mas Farhan menyukainya. batin Andin memuji diri sendiri.
Tak lama kemudian momen yang di tunggupun tiba. Mobil Farhan terlihat memasuki halaman rumahnya.
Andinpun bergegas mematikan lampu di ruang tamu serta ruang di mana ia berada saat ini.
Farhanpun mulai memasuki rumahnya yang tak terkunci. "Sayang, aku pulang," teriaknya. Ia terlihat bingung karna ruangan terlihat gelap padahal biasanya di jam seperti ini lampu menyala kecuali saat istrinya tidak ada. Meskipun demikian ia tetap berjalan menuju saklar lampu dan menyalakannya. Setelah itu ia kembali berjalan menuju ruang tengah dan saat itulah Andin menyalakan lampu.
"Kejutan," teriak Andin dengan wajah tersenyum. Ia menghampiri suaminya dan memeluknya dengan erat.
Meskipun Farhan sangat kaget tapi ia tetap tersenyum dan membalas pelukan hangat istrinya.
"Happy anniversary Sayang," ucap Andin seraya melepaskan pelukannya. Ia sedikit berjinjit untuk memberikan kecupan di pipi suaminya itu.
"Happy anniversary juga istriku."
"Kau cantik sekali malam ini," puji Farhan, matanya tak luput memandangi tubuh serta wajah istrinya. Ia juga memberikan kecupan lembut di kening dan bibir wanitanya itu.
"Mas Han pasti lupa kan?" tanya Andin.
Farhan mengangguk sambil tersenyum memamerkan gigi putihnya. "Maaf," sautnya.
"Hemm, selalu saja lupa."
"Untung saja istrimu ini ingatannya kuat, jadi kita tetap bisa merayakannya setiap tahun," ucap Andin.
Farhan hanya mengangguk.
__ADS_1
Mengapa wanita selalu merayakan dan mengingat hal-hal yang tak terlalu penting. Batin Farhan.
"Mandilah dulu setelah itu kita makan bersama," perintah Andin. Ia membawa tas kerja suaminya dan berjalan ke dapur mendahului Farhan.
Sementara Farhan berjalan mengikuti di belakangnya. Farhan duduk di sebuah sofa tak jauh dari istrinya berdiri. Kedua tangannya terlihat sibuk melepaskan sepatu di kedua kakinya, namun matanya tak lepas memandangi istrinya yang sedang sibuk membuat teh.
"Sayang aku punya kado spesial untukmu," ucap Farhan seraya berdiri dan berjalan menaruh sepatunya.
"Benarkah?" saut Andin terlihat saat mendengar kata kado, matanya begitu berbinar seperti anak kecil yang di beri hadiah.
"Apa itu?" tanya Andin antusias.
"Kemarilah," ucap Farhan sembari melambaikan tangannya agar istrinya itu mendekat.
Mereka kini berjalan menuju kamar mereka.
"Mengapa kita ke sini?" tanya Andin.
"Karna aku meletakan kadonya di sini," jelas Farhan.
"Benarkah? padahal sedari tadi aku berada di kamar. Mengapa aku tak melihatnya,"
"Karna kadonya baru saja datang," saut Farhan.
"Ah begitu, aku jadi tidak sabar," ucap andin tersenyum senang.
"Kalau begitu tutup matamu, kau pasti sangat menyukai kadonya," ucap Farhan dengan senyum nakal.
"Apa aku harus menutup mataku?" tanya Andin.
"Tentu saja, karna ini kejutan,"
Dengan senang hati Andinpun mengikuti perintah suaminya untuk menutup kedua matanya.
Farhan terkekeh karna berhasil mengerjai istrinya. Ia merengkuh wajah cantik istrinya dan ******* bibir merah yang sedari tadi menggodanya.
Andin membuka matanya dan terlihat terkejut dengan perlakuan Farhan yang begitu tiba-tiba namun ia pun membalasnya.
Merekapun merayakan hari jadi pernikahannya dengan penuh kasih sayang.
******
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Farhan terlihat tengah memandangi wajah istrinya yang kini sudah tertidur pulas karna kelelahan.
Aku memang tak begitu ingat dengan momen-momen bahagia kita dulu
Tapi bukan berarti aku tak menyayangimu lagi
Aku sangat mencintaimu
Hanya saja aku tidak bisa mengungkapkannya
secara langsung kepadamu.
Aku mencintaimu istriku, sangat mencintaimu
Sejak awal kita bertemu,sekarang dan selamanya.
Terima kasih untuk semuanya.
"Selamat tidur istriku," ucap Farhan lirih di telinga Andin. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Tak lupa ia juga memberikan kecupan lembut di kening wanita yang sangat ia cintai itu. Setelah itu ia ikut berbaring di sampingnya dan tertidur.
.
.
.
.
.
__ADS_1