
Tengah malam Andin tiba tiba terbangun dengan sendirinya. Ia melihat jam di dinding. Waktu menunjukan pukul tiga pagi, namun ia belum mendapati suaminya di tempat tidur.
" Sudah hampir pagi , kenapa dia belum turun juga ." ucap Andin sambil menguap.
Andin keluar dari kamarnya dan menuju ke roof top untuk mengajak suaminya agar tidur.
Ia mulai menaiki anak tangga menuju lantai dua .Saat berada di lantai dua itu Andin sempat mendengar sedikit desahan dari kamar Sherly. Andin menggeleng gelengkan kepalanya. Ia berfikir mungkin salah satu dari teman suaminya berhasil memenangkan hati Sherly ,sehingga mereka bisa bercinta di malam yang dingin ini.
Andin merapatkan kembali mantelnya lalu melangkahkan kaki menaiki anak tangga yang mengarah ke roof top.
Ketika sampai di atas ,Andin memperhatikan sekeliling ,namun ia tak mendapati suaminya disana .Hanya ada Dodi dan Falen yang sedang meringkuk sambil meracau karna mabuk.
" Dia tidak ada di sini ." Andin menghela nafas
*M*ungkin mas Farhan sedang di kamar mandi sebelum ke kamar, lebih baik aku mencarinya di bawah . batin Andin
Andin pun kembali memutar tubuhnya lalu menuruni tangga. Saat sedang berjalan ia berpapasan dengan Anton yang terlihat membawa selimut di tangannya. Rambut Anton sedikit berantakan membuat Andin tersenyum melihatnya.
" Kau belum tidur Ndin? " tanya Anton.
" Tadi aku sudah tidur, kemudian aku terbangun karna mas Farhan belum kembali ." jawab Andin.
" Jadi aku memutuskan untuk menjemputnya ." imbuhnya.
" Bukankah dia sudah turun kebawah dua jam yang lalu ." tanya Anton bingung.
" Begitukah mas ? ah, mungkin aku tidak menyadari suamiku sudah kembali ,dan mungkin juga saat aku bangun mas Farhan sedang di kamar mandi ." ucap Andin
__ADS_1
" Mas Anton sendiri belum tidur ?" tanya Andin.
" Aku tadi sempat tertidur bersama Falen dan Dodi diatas ,udaranya sangat dingin jadi aku terbangun. Karna terlalu banyak minum yang lainnya jadi mabuk dan aku turun kebawah untuk mengambil ini ." ucap Anton sambil mengarahkan pandangannya pada selimut yang menyampir di tangannya .
Kening Andin berkerut ,ada sekelebat kecurigaan di hatinya setelah mendengar jawaban Anton, namun ia segera menepis semua kehawatiran yang tidak perlu itu .
" Kalau begitu aku akan kembali ke kamarku mas ." pamit Andin pada Anton.
" Baiklah ,selamat beristirahat Andin ." ucap Anton .
" Oh, kau juga mas, selamat malam ." saut andin.
Saat hendak melangkahkan kakinya ,lagi lagi terdengar suara desahan dan juga lenguhan dari kamar yang tak jauh dari tangga.
Andin dan Anton seketika menoleh kearah sumber suara yang berasal dari dalam kamar dengan pintu yang bercat putih gading itu.
DEG
Andin menuruni tangga dengan kaki dan tangan yang sedikit gemetar .Pikirannya entah terbang kemana mana .Ia tidak mengatakan sepatah katapun pada Anton .Kakinya terus melangkah menghampiri kamar itu.
*Ji*ka mas Anton ,Dodi dan Falen ada di atas lalu siapa laki laki yang ada di dalam sana . ucap Andin dalam hati.
Otaknya kini tertuju pada satu nama yang tertinggal disana yaitu Farhan ,laki-laki yang sangat ia cintai ,laki-laki yang kini menjadi suaminya .
Suara itu terdengar semakin jelas .Andin merasa familiar dengan suara itu.
*T*idak , tidak mungkin dia di dalam sana ,itu pasti orang lain . batin Andin meyakinkan diri
__ADS_1
Ia semakin penasaran ,gerakan tubuhnya mengikuti nalurinya untuk semakin mendekati kamar itu dan melihat siapa yang berada di dalam sana .
Sementara Anton tak bergeming dari posisinya. Ia hanya memperhatikan Andin yang terus melangkah maju mendekati kamar Sherly .
Dengan tangan yang semakin gemetar Andin memegang kenop pintu lalu memutarnya dengan maksud membuka pintu itu.
CEKLEK
Suara kenop pintu terdengar begitu nyaring di tengah malam .Pintu itu tidak terkunci ,
dengan sisa-sisa tenaganya Andin mendorong pintu itu dengan keras sehingga membentur tembok yang ada di belakangnya.
Brakk .
Suara gebrakan pintu tersebut membuat orang yang berada di dalam kamar itu terkesiap ,mereka menghentikan aktifitasnya .
Sepasang pria dan wanita itu menoleh pada Andin yang berdiri mematung di depan pintu.
Bola bening meluncur begitu saja dari kedua mata Andin dan membasahi pipinya yang halus.
Sementara di atas tangga ,Anton memasang raut sedih dan tak tega melihat Andin menangis tak jauh dari posisinya saat ini.
.
.
.
__ADS_1
.
.