
Adnan mengantarkan Andin terlebih dahulu ke dalam kamarnya .
" Tunggu disini sebentar ,aku akan kembali ,"
Andin mengangguk mengerti kemudian Adnan kembali keluar dan menuju ruang kerja ayahnya .
Tuan Sanjaya terlihat gugup di dalam ruang kerjanya .Adnan membuka pintu ruangan tersebut dan kembali menutupnya dengan rapat .
" Oh kau sudah datang ? apa pipimu sakit ?" tanya tuan Sanjaya yang mendekati Adnan .
"Tentu saja ayah ,mengapa ayah menamparku sangat keras ," keluh Adnan ia mendudukan tubuhnya di sofa .
" Lihatlah ,pipiku merah dan terasa mati rasa sekarang ," tutur Adnan .
" Maafkan ayah ,jika tidak begitu ibumu takkan percaya ." saut ayah .
" Tapi aku bertanya tanya mengapa ayah pintar sekali berakting ,apa ayah dulu pernah menjadi aktor ?" tanya Adnan .
Tuan Sanjaya tersenyum bangga .
" Ayah mu ini multi talenta bukan ."
" Ayah terima kasih karna sudah membelaku ." ucap Adnan bersungguh sungguh .
" Tidak perlu berterima kasih Nak, sudah seharusnya seorang ayah membantu anaknya ." saut tuan Sanjaya .
Ia menepuk pundak putranya itu .
" Mengapa Ayah merestui kami ? " tanya Adnan .
Tuan Sanjaya menghela nafasnya .Ia memandang kesembarang arah .
"Dulu Ayah pernah menyukai seorang wanita yang punya status lebih tinggi dari Ayah dan keluarganya memperlakukan ayah sama seperti apa yang ibumu lakukan pada Andin .Ayah hanya tidak ingin kejadian itu terulang kembali ,lagi pula Ayah melihat Andin gadis yang baik dan terlihat cocok denganmu ." tutur tuan Sanjaya .
" Apa Ayah masih menyukai wanita itu dan merasa menyesal menikah dengan Ibu ?"
" Itu sudah masa lalu Nak, bahkan jauh sebelum ayah mengenal ibumu .Dan satu lagi ibumu orang yang baik dia hanya gengsi pada teman temannya .Suatu saat nanti ia juga pasti akan menerima Andin ." saut tuan Sanjaya dengan sedikit tawa .
" Sekali lagi terima kasih Ayah ." Adnan memeluk ayahnya yang kini terlihat tak lagi muda .
" Sudahlah ,sekarang temui calon istrimu dia pasti bingung ." ucap tuan Sanjaya ,ia kemudian keluar terlebih dahulu dan turun kebawah menghampiri Istrinya yang masih mondar mandir dengan cemas .
" Papah tidak memukulnya lagi kan ?" tanya ibu saat tuan Sanjaya sudah ada di sampingnya .
" Hanya sedikit ." tuan Sanjaya terus berjalan menuju kamarnya dan di ikuti oleh Istrinya .
__ADS_1
Adnan terlihat tersenyum kemudian masuk kedalam kamarnya .
" Mas Adnan baik baik saja ?, apa ayah mu memukul mu lagi ? " Andin menghampiri Adnan yang baru saja masuk .
Adnan terlihat mengaduh ia memegangi pipi dan juga berjalan sedikit membungkukan badannya.
Andin terlihat iba ,kemudian membawa kekasihnya itu duduk di tepi ranjang .
" Dimana yang sakit ?" tanya Andin serius .
Adnan menunjuk pipinya .
" Disini ,"
Andin terlihat sedih menatap pipi Adnan yang merah ,ia mengusap pipi Adnan dengan lembut berharap rasa sakitnya bisa berkurang .
" Apa sangat sakit ? " tanya Andin .
Adnan menganggukan kepalanya .
" Maafkan aku ," ucap Andin tertunduk .
Tiba tiba sebuah ide muncul di kepala Adnan .
" Apa kau ingin membantuku agar tidak sakit lagi ? " tanyanya .
" Cepat cium pipiku maka sakitnya akan berkurang ," ucap Adnan .
Andin terlihat berdecak namun ia menuruti permintaan Adnan, ia mengecup pipi kekasihnya itu .
" Ahh ,itu sangat melegakan sakitnya langsung hilang ,tapi di sini juga sakit kau harus mengecupnya juga ." Adnan menyentuh bibirnya namun bukannya mendapat kecupan Andin justru memukul lengan Adnan dan berhasil membuat laki laki itu mengaduh .
"Kau berhutang penjelasan padaku ,Apa maksud Mas Anand mengatakan aku hamil tadi kita bahkan belum pernah melakukannya ." ucap Andin setelah berhenti memukuli Adnan .
" Haruskah kita melakukannya sekarang ?" Adnan mengerling nakal .
Andin memelototkan matanya .
" Aku hanya bercanda ," ucap Adnan tergelak .
" Kau tahu aku melakukannya agar ibu mau merestui kita ," imbuhnya .
" Tapi Ayah mu terlihat sangat marah ," saut Andin .
" Seharusnya ayah memang menjadi aktor saja ,kau bahkan tertipu oleh aktingnya ,"
__ADS_1
" Apa maksudmu ? apa om Sanjaya tadi bersandiwara ? "tanya andin tak percaya .
Adnan menganggukan kepalanya .
" Kau bahkan tidak percaya kan ,Seharusnya ayah memang menjadi aktor bukan pengusaha ." saut Adnan .
" Apa mas Anand tahu jika ayahmu bersandiwara ?"
" Tentu saja sayang karna aku yang memintanya ."
" Tapi kapan Mas Anand membicarakannya ? " Andin kembali mengingat saat dalam peejalanan. Saat itu Adnan hanya fokus menyetir tanpa menyentuh ponselnya sama sekali .
" Sebelum aku menjemputmu aku menelfon Ayahku .Aku mengatakan ingin segera menikahimu dan juga menceritakan apa yang telah di lakukan ibu padamu siang tadi ." jelas Adnan .
" Kau sudah tau ? " ucap Andin tertunduk.
Adnan memegangi kedua telapak tangan Andin .
" Maafkan ibuku atas perkataanya siang tadi ." pinta Adnan .
" Iya tidak apa apa mas ,aku bisa mengerti ," Andin mengangkat kepalanya dan menatap Adnan .
" Terima kasih ," Adnan memeluk Andin dan Andin pun membalasnya .
" Sudah malam sebaiknya kita beristirahat ." ucap Adnan sambil merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya .
" Apa kita tidur bersama ?" tanya Andin .
" Tentu saja ," Adnan segera menarik tubuh Andin dan menjatuhkan wanita itu di sampingnya .
" Sebentar lagi kita akan menikah ," ucapnya seraya memeluk andin dengan erat .
"Tapi ini tidak benar ," saut Andin .
" Tenang saja ,aku tidak akan melakukan apapun ," ucap Adnan memejamkan mata.
Dan mereka pun tertidur di bawah selimut yang sama .
.
.
.
.
__ADS_1
.