
Setelah melepas pagutannya Adnan membawa Andin kedalam pelukannya .Adnan memeluknya dengan erat serta tangannya mengelus rambut panjang wanita itu.
" Jangan dengarkan perkataan ibu dan jangan pernah putus denganku ,kau mengerti ! " ucap Adnan .
Andin melepas pelukan mereka .
" Kita tidak bisa bersama lagi Mas Anand sebaiknya kita berhenti ." Andin membalikkan tubuhnya membelakangi Adnan .
" Aku tidak mau Andin ,aku sangat mencintaimu ,aku tidak mau berpisah denganmu ." Adnan membalikan tubuh Andin dan kini mereka saling berhadapan .
" Aku juga mancintaimu Mas , sangat mencintaimu ,tapi untuk apa cinta kalau kita tidak bisa bersatu ." saut Andin dengan mata berkaca kaca .
" Status kita berbeda ,aku bukan lagi seorang gadis mas ,keluargamu akan malu jika Mas Anand menikah denganku ." imbuh Andin .
" Berhentilah berbicara omong kosong dan ikut aku ," Adnan mengandeng tangan Andin dan juga menyambar kunci yang menggantung di slot pintu.
Setelah mengunci pintu rumah .Adnan segera membawa Andin pergi dari sana .Mereka melintasi jalanan beraspal yang terlihat padat oleh lalu lalang kendaraan lain .
Semakin larut jalanan semakin senggang Adnan terlihat menambah kecepatan mobilnya .
Andin hanya diam melihat jalanan yang sudah pernah ia lewati .Ya ,tujuan mereka saat ini sama seperti perjalanan minggu lalu yaitu menuju kota H .
Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam Adnan menghentikan mobilnya di depan rumah dengan gerbang setinggi dua meter itu .
Ia membunyikan klaksonnya dua kali dan seorang penjaga terlihat berjalan tergopoh gopoh menghampiri pintu gerbang lalu membukanya .
Adnan kembali melajukan mobilnya menuju garasi dan memarkirkan mobilnya disana .
__ADS_1
Adnan turun terlebih dulu kemudian ia mengitari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Andin .
Adnan segera menggandeng tangan Andin dan membawanya kembali masuk kedalam rumah kedua orang tuanya .
Adnan membuka pintu rumah itu dengan kasar dan sengaja membanting daun pintu tersebut .
Ia segera menuju ruang keluarga tempat dimana Ayah dan Ibunya sedang berkumpul .Disana Ibu sedang menonton tv sementara tuan Sanjaya terlihat memainkan ponselnya .
" Adnan ," sapa ibu tersenyum namun senyumnya langsung menghilang ketika melihat Andin di sebelah putranya tersebut .
" Ibu ,Ayah aku menghamili Andin ,sekarang Andin tengah mengandung anakku ," ucap Adnan lantang .
Semua orang di ruangan itu terlihat terkesiap kecuali Adnan .Ibu terlihat menutupi mulutnya yang terbuka lebar karna terkejut .
Sementara Andin melototkan matanya pada Adnan .Adnan mengedipkan matanya dan juga meremas tangan Andin .
" Mengapa kau bertindak seperti orang bodoh ," Ayah kembali melayangkan tamparannya di pipi kanan Adnan .
" Apa ayah mengajari mu untuk berbuat kurang ajar pada wanita ,hah ? " teriak tuan Sanjaya .Ia hendak melayangkan pukulan lagi pada Adnan namun Ibu menghalanginya .
" Ayah hentikan ! Adnan bisa terluka ," saut ibu cemas .Ia memegangi tangan suaminya itu .
" Lepaskan tangan ku Bu ,dia berhak mendapatkannya ,dia sudah mencoreng nama baik keluarga kita ,seharusnya kita mengusir anak yang tidak tahu diri ini ." ucap tuan Sanjaya dengan suara lantang .
"Papah Adnan itu putra kita satu satunya, Ibu tidak mau dia pergi dari sini , jangan usir dia pah ." ucap ibu memohon .
" Lalu bagaimana sekarang ,lambat laun kehamilan wanita ini akan semakin membesar dan orang orang akan mengetahui kalau anak kita menghamili anak orang lain ,mau di taruh dimana muka papah bu ?" tanya tuan sanjaya .
__ADS_1
" Kalian cepat pergilah ,sebelum aku menyeret kalian berdua ." bentak tuan sanjaya menunjuk Adnan dan juga Andin .
" Tidak pah jangan usir Adnan,kita bisa menikahkan mereka berdua secepatnya .Orang lain tidak akan mengetahui kehamilan Andin ." sergah ibu .
Tuan Sanjaya terlihat berfikir sejenak .
" Baiklah karna ini permintaan ibumu ayah akan mengabulkannya ,kau ikut denganku ." tuan Sanjaya menunjuk Adnan kemudian ia berlalu menuju ruang kerjanya di lantai atas .
Setelah tuan Sanjaya tak terlihat lagi dari pandangan mata Ibu segera menghampiri Adnan .
" Apa kau baik baik saja Nak ? " Ibu memegangi pipi Adnan yang memerah, wajahnya terlihat cemas .
" Cepat susul ayahmu sebelum ia semakin marah ," perintahnya .
" Baik bu ," Adnan menaiki anak tangga bersama Andin sementara ibu menunggu di bawah dengan tegang .
Saat Ibu sudah tidak lagi melihatnya ,Adnan terlihat tersenyum kegirangan sementara Andin terlihat bingung dengan apa yang baru saja terjadi .
.
.
.
.
.
__ADS_1