Adakah Cinta Sejati

Adakah Cinta Sejati
Episode 2


__ADS_3

Pagi itu langit terlihat gelap, gumpalan awan hitam nampak sudah bersiap untuk segera menumpahkan isinya. Tak lama kemudian suara rintik hujanpun kini mulai terdengar menghantam atap rumah di bawahnya.


Dinginnya cuaca pagi itu membuat beberapa orang kembali menarik selimutnya. Tak terkecuali bagi sepasang suami istri yang baru saja merayakan anniversay pernikahannya, yaitu Andin dan Farhan.


Hembusan nafas Farhan menyapu kulit wajah Andin yang saat itu berada tepat di hadapannya, membuat istrinya itu terbangun. Andin menggeliat untuk meregangkan otot-ototnya. Senyumnya mengembang tatkala ia memandangi wajah tampan suaminya yang masih terlelap.


"Selamat pagi suamiku," ucapnya lirih. Andin membelai serta mengecup pipi Farhan dengan lembut dan perlahan memindahkan tangan sang suami yang melingkar di pinggangnya. Ia segera turun dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai ia menuju ke dapur untuk membuat sarapan.


Sementara tak lama kemudian Farhan juga ikut terbangun setelah mendengar dering alarm yang begitu memekakan telinga. Dengan mata yang setengah tertutup, tangannya berhasil meraih ponselnya untuk mematikan alarm tersebut. Ia turun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar.


Farhan berjalan menghampiri istrinya yang sedang sibuk mengoleskan selai coklat di atas roti.


"Selamat pagi Sayang," ucap Farhan seraya memeluk Andin dari belakang.


"Kau sudah bangun?" saut Andin sambil membalikan badan, tangannya ia lingkarkan di leher sang suami dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Farhan.


"Mandilah dulu, setelah itu sarapan bersama," perintah Andin.


"Bagaimana kalau kita mandi bersama?" ajak Farhan.


"Apa mas Han tidak bisa melihat kalau istrimu ini sudah cantik?" Andin meletakan kedua telapak tangannya di bawah dagu dan dengan senyum yang begitu menggemaskan.


"Jangan tersenyum seperti itu atau aku akan memaksamu agar mandi untuk kedua kalinya," ancam Farhan.


Andin menggelengkan kepala sebagai tanda penolakan. Ia segera mendorong suaminya itu menuju ke kamar mandi.


"Cepat mandilah," ucapnya


Farhanpun hanya tersenyum dan menuruti perintah istrinya. Setengah jam kemudian Farhan kini sudah rapi pakaian kerjanya. Celana panjang berwarna hitam serta kemeja warna maroon terlihat melekat sempurna di tubuhnya yang atletis.


Sambil memakai dasi, Farhanpun keluar dari kamar dan menghampiri Istrinya yang tengah menyajikan sarapan mereka di atas meja. Ia duduk di salah satu kursi meja makan yang berwarna putih itu.


"Sayang apakah kau hari ini akan ikut ke kafe?" tanya Farhan sambil mengunyah roti bakar yang telah di beri selai coklat.


"Tidak mas Han, hari ini aku ingin bertemu dengan Rahmi," sautnya seraya mendudukan tubuhnya di samping Farhan.


"Kalau begitu aku akan mengantarkanmu," ucap Farhan.


"Tidak perlu mas," tolak Andin.


"Kita kan tidak searah, nanti aku bawa mobilku sendiri atau naik taksi saja."


"Baiklah, tapi kau harus hati-hati," pesan Farhan, ia terlihat membelai kepala Andin dengan lembut. Andinpun mengiyakan dengan menganggukan kepalanya.


Setelah selesai dengan sarapannya Farhan pamit untuk berangkat kerja.


"Aku berangkat dulu Sayang," ucap Farhan seraya mengulurkan tangan pada Andin.


Andinpun menyambut uluran tangan Farhan dan mengecup punggung tangan suaminya itu.


"Hati-hati di jalan Mas, jangan mengebut," pesan Andin.


"Tentu," saut Farhan. Ia mengecup puncak kepala Andin setelah itu menghampiri mobil miliknya dan melajukannya meninggalkan halaman rumah.

__ADS_1


Setelah mobil yang dikendarai oleh suaminya tak terlihat lagi oleh pandangan matanya, Andin pun kembali masuk ke dalam rumah.


*****


Siang itu Andin terlihat tengah duduk di kafe yang ada di dalam sebuah mall. Ia terlihat memesan segelas coklat panas dan juga rainbow cake.


Deringan ponselnya mengagetkan Andin yang kala itu tengah bersenandung mengikuti irama musik yang sedang di putar di kafe tersebut. Andinpun segera merogoh tas kecilnya untuk mengambil ponsel di dalamnya.


"Hallo," ucap Andin setelah benda pipih tersebut sudah berada di daun telinganya.


"Aku sedang berada di La Freshco, kau di mana?" tanyanya pada seseorang yang ada dalam sambungan telponnya.


"Baiklah," ucapnya lagi.


Tak lama kemudian, seorang wanita terlihat menghampiri Andin dengan membawa balita dalam gendongannya. Wanita itu adalah Rahmi, sahabat Andin sejak ia kecil.


"Hai Ndin?" ucapnya sambil bercipika cipiki ria dengan Andin.


"Hai Mi, apa kabar?" tanya Andin.


"Aku baik Ndin, bagaimana denganmu?"


"Seperti yang kau lihat, aku sangat bugar," saut Andin.


"Silahkan duduk Mi,"


Merekapun duduk beriringan di kafe tersebut.


"O iya, happy anniverasary ya buat kamu dan mas Farhan"


"Iya Mi, terima kasih atas ucapannya." saut Andin.


"Bagaimana sekarang, apa perutmu itu sudah berisi?" tanya Rahmi.


"Sudah," saut Andin


"Apa kau serius Ndin?" tanya Rahmi penasaran. Ia terlihat sangat antusias ingin mendengar jawaban dari sahabatnya itu.


"Tentu saja, baru saja aku mengisinya dengan cake ini," saut Andin, ia menunjuk cake yang ada di hadapannya itu.


"Hemm, ku pikir ada Farhan junior di dalam sana," ucap Rahmi sambil menunjuk perut Andin.


"Kan kemarin kau bilang sering pusing dan juga mual-mual," imbuhnya.


"Ya doakan saja Mi, semoga aku dan mas Farhan segera di beri momongan." saut Andin di sertai helaan nafas panjang. Wajahnya terlihat begitu berharap.


"Tentu Ndin, aku selalu mendoakanmu agar kau segera di beri keturunan."


"Teruslah berusaha dan juga berdoa, mudah-mudahan saja tahun depan kau sudah punya anak," ucap Rahmi.


"Amin," timpal Andin.


"Kau mau makan atau minum apa Mi?"

__ADS_1


"Tidak perlu Ndin, aku tidak lapar dan juga tidak haus. Bagaimana kalau kita ke toko baju saja, aku ingin mencarikan baju untuk Tania."


"Yakin untuk Tania?" tanya Andin dengan nada mengejek.


"Aku tahu itu hanya alasanmu, nanti ketika di sana kau pasti lebih banyak membeli baju untukmu di bandingkan untuk Tania," imbuhnya.


"Kau tau saja Ndin," ucap Ami terkekeh.


"Ya sudah, ayo." imbuhnya .


"Tunggu sebentar aku ingin membayar minumanku dulu." Andin berdiri dan berjalan menuju meja kasir.


Setelah Andin selesai membayar pesanannya, merekapun pegi ke toko baju yang terletak di lantai tiga.


"Ndin, menurutmu mana yang lebih bagus untuk Tania? yang warna baby blue atau yang pink?" tanya Ami yang sedang memegang dua dress anak yang terlihat lucu.


Sementara Andin tengah menggendong Tania yang merupakan putri dari Rahmi.


"Keduanya bagus Mi, tapi mungkin lebih baik kau ambil yang baby blue saja, karna baju Tania sudah banyak yang berwarna pink," saran Andin.


"Ah, kau benar juga." saut Rahmi menyetujui.


Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, kini Andin dan Rahmi bergegas menuju ke kasir untuk membayar barang belanjaan mereka. Setelah selesai mereka berdua keluar dari toko tersebut dan kembali berkeliling menelusuri luasnya mall tersebut


"Sepertinya sekarang kau terlihat agak gemuk Ndin." ucap Rahmi yang terlihat memperhatikan badan Andin yang kini lebih berisi.


"Iya Mi, berat badanku memang naik empat kilo."


"Kalau menurutku sebaiknya kau harus diet Ndin, agar badanmu tetap bagus seperti sebelumnya. Jadi suamimu tidak melirik wanita lain yang lebih seksi," Ucap Rahmi


"Kau tenang saja Mi, mas Han tidak pernah mempermasalahkan bentuk tubuhku. Lagipula mas Farhan bukanlah laki-laki yang seperti itu," jawab Andin.


"Mas Farhan itu tipe orang yang setia, dia tidak mungkin melirik wanita lain." Imbuhnya.


"Baguslah jika seperti itu,"


"Aku hanya ingin memberi saran saja, karna mas Farhan itu kan tampan. Dia juga pengusaha muda yang sukses, takutnya banyak wanita yang menggoda suamimu," timpal Rahmi.


"Aku percaya dengan Suamiku Mi, lagipula kami sudah menikah selama lima tahun,"


"Apa kau tahu, dulu aku pernah mendengar orang mengatakan jika suami istri bisa melewati fase lima tahun di awal pernikahan mereka, itu artinya pasutri tersebut akan langgeng," tutur Andin.


"Ya mudah mudahan saja ya Ndin, rumah tangga kita berdua awet dengan pasangan kita masing masing."


"Amin."


Tak terasa sudah empat jam Andin dan Rahmi berkeliling mall. Beberapa tentengan paper bag pun terlihat ada di kedua tangan mereka. Akhirnya merekapun berpisah dan pulang ke rumahnya masing-masing.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2