
Keesokan harinya dimana semua anggota keluarga panik dengan keadaan lita tina dan hany yang tidak kunjung datang
'posisi saat ini, ruang tamu yang besar'
Ditambah lagi mereka tidak tau ada dimana sekarang karena rumah yang mereka tinggali sangat asing
dimana wajan wajah pelayan yang sangat menyeramkan ditambah lagi bodyguard yang bertubuh besar dan menyeramkan
semua yang ada di sana sangat asing, tak adasatu orang pun yang mereka kenali
mereka pun berusaha menghubungi Lita namun Lita hanya bisa di hubungi sekali saja lalu nomornya tidak aktif lagi
mereka pun mencoba bertanya kepada pelayan namun tidak ada jawaban sama sekali
"Kak apa yang harus kita lakukan" tanya Hans pada frans
"aku juga tidak tau" ucap frans
"Devan apa kau sudah bisa menghubungi Lita" tanya Kak Lia
"Tidak" ucap Devan
"bagaimana ini ayah, Lita dan Tina belum ada kabar dari kemarin" ucap Lia
"Hany juga menghilang" sahut Hans
Lia pun melihat ke arah Hans dengan sinis
"ada apa, aku hanya bilang kalau saudaraku juga juga hilang dari kemarin" ucap Hans
"aku tau, andai saja kemarin Lita tidak menjemput mu dan kakak mu itu, pasti sekarang Lita ada di sini" ucap Kak lia
"kau ini"oceh Hans dengan tidak sopan
"Hans... "bentak Devan
"iya aku tau, lagi pula kenapa kita harus satu rumah dengan orang seperti dia"ucap Hans dengan kesal
"Hans.. sudah lah, berdebat itu tidak penting sekarang " bentak Frans
mereka pun hanya diam diaman dan saling menatap sinis satu sama lain
"permisi tuan, ini telfon untuk tuan" ucap salah satu pelayan pada Devan
devan pun mengambil ponselnya
"dari siapa" tanya Devan
namun pelayan itu tidak menjawab lalu pergi begitu saja
Devan pun hanya diam dan mengangkat panggilannya dan ternyata dari lita
dengan sangat gembira dan bercampur khawatir ia pun menanyakan Lita ada di mana
namun lita tidak menjawabnya, dan hanya bertanya "apa semua baik baik saja" ucap lita
"kami tidak apa apa, bagaimana dengan mu" tanya Devan
"itu tidak penting, yang penting sekarang kalian jangan keluar dari rumah itu, dan sebentar lagi Tri Salsili Billy Andika Jana dan ayahnya tri akan segera datang disana, aku mau kau menjaga mereka semua" ucap Lita pada devan dan memutuskan panggilannya
"sayang... sayang... "ucap Devan
"ada apa Devan, apa itu tadi Lita" tanya ayah pada devan
"iya ayah" ucap devan yang masih menatap ponsel tersebut
"apa yang dia katakan" tanya Dio
"apa mama baik baik saja pah.."tanya tamara
__ADS_1
"tidak, sepertinya terjadi sesuatu pada dia" sahut Andika yang baru saja datang
"apa maksud perkataan mu" tanya frans
"kalian tenang saja dalam waktu 1 minggu semuanya akan baik baik saja seperti semula" ucap tri
"apa maksud mu dalam satu minggu"tanya kak lia
"kakak tenang saja, sebaiknya kakak fokus saja pada D.o "ucap salsili yang berjalan mengiring jana begitu juga dengan billy
"ada apa ini sebenarnya, kenapa sepertinya kalian menyembunyikan sesuatu dari kami" ucap Kak Dio
"kami tidak menyembunyikan sesuatu dari kalian, sebaiknya kita tetap disini dalam waktu satu atau dua minggu ini" ucap Billy
"apa yang kakak maksud 1-2 minggu, bagaimana dengan sekolah ku, apakah aku harus bolos selama itu"ucap Hans
"kau tenang saja, lagi pula kami juga harus bekerja " ucap Andika
"Jika kau mau, kau bisa dering" ucap salsili
"apakah itu bisa"tanya Hans
"tentu saja, kau tinggal bilang sama kepala sekolah bahwa kau akan sekolah dering" ucap Tri
"bagaimana mungkin, sedangkan kepala direktur saja tidak mewajibkan, bagaimana bisa kepala sekolah mengizinkan ku sekolah secara dering"ucap Hans
"kau tenang saja, lagi pula kepala direktur itu tidak akan membiarkan adiknya bodoh" ucap Salsili dengan santai
"apa maksudmu dengan 'adik, kepala direktur' apakah kepala direktur itu kau atau salah satu dari kalian" ucap frans
"Lita, dialah pemilik sekolah dan kampus mu itu"ucap Billy
semua pun terkejut dan tercengang mendengarnya kecuali Tri Salsili Andika dan Billy
"apa maksudmu pemilik, dari mana lita akan mendapatkan uang sebanyak itu untuk membeli nya" ucap ibu
"Lita tidak membelinya, namun Lita mendapatkannya dengan cara geratis" ucap Andika
"tentu saja mudah bagi Lita untuk mendapatkannya" ucap Tri
"apa maksud kalian semua, siapa sebenarnya kalian dan kak Lita" ucap frans
"itu tidak penting" ucap Devan
Tri Andika Billy dan Salsili pun melihat ke arah Devan, dan mencurigai Devan
"sayang kau pergilah kekamar no 5 bersama Salsili dan Tri"ucap Billy pada Jana
"baiklah" ucap Jana yang beranjak dari sofa dan memegang perut besarnya
Salsili Tri dan Jana pun pergi menuju kamar tersebut
sedangkan tamara Kak Lia Dio ibu dan ayah pergi ke kamar mereka masing masing begitu juga ayah Tri
dan hanya menyisakan Billy Devan Andika Hans Dan Frans
"Hans sebaiknya kau pergi ke kamar mu, begitu juga dengan mu Frans" ucap Billy
"Memangnya kenapa" ucap Hans
"kita pergi saja" ucap Frans menarik Hans
"bagaimana dengan kakak Devan"
"aku akan baik baik saja" ucap Devan
"baiklah" ucap Hans
Frans dan Hans pun pergi meninggalkan mereka bertiga
__ADS_1
"sebaiknya kita tidak mengobrol disini" ucap Andika
"Ikuti aku" ucap Billy yang beranjak dari duduknya
Andika dan Devan pun mengikuti Billy dari belakang
sesampainya di salah satu ruangan mereka pun masuk
ruangan yang indah, penuh dengan senjata api, peralatan tempur, peta, atlas globe dan beberapa foto musuh yang lita targetkan untuk menghabisinya
"apa maksudnya ini, kenapa foto kita ada di sini, dan apa maksud tanda ✖️ dan tanda ⭕️ " tanya Devan
"itu tidak penting, lagi pula Lita tidak akan menyakiti kita" ucap Andika
"sekarang kita hanya perlu melacak keberadaan Lita saat ini dan di mana posisinya sekarang" ucap Billy menghidupkan GPS dan pelacak di atas meja sofa
"apa kau mwnemukannya" tanya Andika
"tidak" ucap Billy
"apa kau sedang melacak keberadaan lita melalui ponsel nya" ucap Devan
"ya.. "ucap Billy
"itu tidak akan berhasil, karena kemungkinan ponselnya sudah mati" ucap Devan
"mungkin itu benar, bagaimana jika kita menghubungi anak buahnya saja" ucap Andika
"apa kau tau bagaimana dinginnya mereka jika kita tanya sesuatu pada mereka" ucap Billy
"mungkin jika kita menanyakan Lita pada mereka, mereka mau memberitahu kita" ucap Devan
"itu hanya mungkin, kemungkinan besarnya hanyalah 'tidak' itu yang akan terjadi selanjutnya" ucap Billy
"Bagaimana kau tau, sedangkan kau saja belum mencobanya" ucap Devan
"tentu saja aku tau, karena aku pernah mencobanya"Ucap Billy
"bagaimana jika mencobanya lagi, tidak masalah bukan" ucap Andika
" akan aku coba" ucap Billy
Billy pun menghubungi anak buah Lita yang ada di London dan termasuk bawahannya juga namun tidak ada jawaban
"mereka semua bilang kalau mereka tidak akan memberi tau kita keberadaan Lita" ucap Billy menyimpan ponselnya di atas meja
"lantas apa yang harus kita lakukan sekarang" ucap Andika
"entahlah, yang pasti sekarang kita hanya bisa menunggu kabar dari Lita"ucap Billy menghela nafas panjang
" lantas, apakah kita harus tetap diam saja seperti ini " tanya Devan
"Aku tau kau khawatir, tapi bukan kah kau sudah tau siapa sebenarnya Lita" ucap Andika
"Aku tau itu, tapi dia juga manusia pastinya... "ucap Devan terpotong
"Apa kau berpikir kalau dia akan mati" bentak Billy
"aku tidak berfikir seperti itu, tapi kau lah yang mengatakannya" ucap Devan
"lantas apa yang kau pikirkan tadi" ucap Billy
"Aku hanya takut dia terluka" tegas Devan
"Apa yang kalian lakukan, dari tadi kalian hanya berdebat saja, apa itu akan membuat kita tau akan keberadaan Lita saat ini" oceh Andika
"sudahlah, terserah saja saat ini aku hanya ingin fokus dengan Jana " ucap Billy yang meninggalkan Andika dan Devan
Devan dan Andika pun hanya diam dan menatap kepergian Billy dari balik pintu
__ADS_1
"aku akan menyusun rencana, supaya kita bisa keluar dari sini dan menyusul Lita" ucap Andika sambil menepuk bahu Devan dan pergi meninggalkan Devan
Sedangkan saat ini....Lita