
Keesokan harinya, dimana semua orang terbangun dan merasa ada yang aneh, sesuatu yang janggal namun mereka masih tidak mengetahuinya
namun kini dikediaman Devan dimana Hans Hany dan Tamara berlari ke arah kamar Lita
dengan tergesa gesa panik dan penuh pertanyaan mereka pun berlari ke arah kamar Lita
tok... tok... tok....ketuk mereka dipintu kamar Lita
"siapa "ucap Lita dari dalam berjalan menuju pintu
"ini kami kak" ucap Hany
Lita pun membuka pintu dengan lebar
"ada apa" tanya Lita
"kak apa yang terjadi, kenapa kami bisa berada di kamar kami"ucap Hany yang masih bingung
"maksudnya" ucap Lita yang pura2 tidak tau
"bukankah semalam kami tidur ditempat yang berbeda, lalu kenapa kami bisa berada di kamar kami masing masing" ucap Hans
Lita pun hanya menatap mereka datar dengan raut wajah yang biasa saja tanpa ada tanggapan lain di wajahnya
"apa itu penting" ucap Lita
"Tidak.. "ucap tamara
"Lantas kenapa kalian bertanya" ucap Lita
"kami hanya sedikit bingung saja, kenapa kami bisa berpindah kamar"ucap Hans dengan polos
"apa kita tertidur terlalu lama sehingga kita bermimpi panjang dan berhalusinasi" ucap Hany pada Hans
"tidak kita tidak mimpi panjang dan kita tidak berhalusinasi dan ini semua nampak nyataan" ucap Hans
"tapi kenapa aku sepertinya melupakan sesuatu"ucap Hany
"aku juga begitu" sambung Hans yang berpikir keras
"apa itu penting" tanya Lita dengan datar
"tidak juga" ucap Hans
"Lantas, apakah kalian akan tetap disini, sebentar lagi kalian akan terlambat pergi ke sekolah "ucap Lita yang akan menutup pintu
"Kakak... " teriak Frans yang baru saja bangun tidur dan langsung pergi kelantai atas
Lita pun melihat ke arah Frans, dan Lita juga tau apa yang akan dikatakan sehingga Lita mengabaikannya dan kembali menutup pintu
"kakak... " ucap frans yang melihat Lita menutupinya pintu
"sudahlah kak, mungkin kak Lita sedang tidak ingin berbicara, kita pergi saja dan berangkat ke sekolah "ucap Hany pada Frans lalu menarik tangan Frans turun ke bawah lagi
lalu Hans mengendong Tamara turun kebawah juga
sedangkan Lita hanya tertawa jahat karena melihat wajah polos adiknya yang bertanya namun tidak di jawab olehnya
karena sebenarnya semalam para pelayan memasukan obat didalam makanan yang mereka makan semalam
sehingga saat mereka di pindahkan dikamar mereka masing masing mereka tidak menyadarinya bahwa mereka berpindah tempat dari tempat yang satu ke tempat yang lain
begitu juga yang di alami oleh mereka yang tinggal di rumah Lita kemarin, mereka hanya terdiam kebingungan siapa yang memindahkan mereka kembali ke rumah mereka masing masing
lalu kembali ke kediaman Devan
dimana Devan yang belum bangun dan belum menyadari apa yang telah terjadi
sedangkan yang lainnya sedang memikirkan bagaimana bisa mereka berpindah tempat
lalu Lita yang mengetahui bahwa mereka dipindahkan oleh bawahannya pun hanya menikmati tawanya di wajah polos mereka saat bertanya
tak lama Lita yang selalu tertawa pun membangunkan Devan yang masih tertidur
"sayang apa yang kau tertawakan" ucap Devan dengan lesu duduk diatas ranjangnya dan melihat ke arah Lita dan belum menyadari apa apa
"apa kau sudah bangun"ucap Lita yang berjalan menghampiri Devan
"kita dimana kenapa tempatnya sepertinya berbeda dari semalam" ucap Devan yang setengah sadar
"kita ada dirumah dan ini kamar kita" ucap Lita
"benarkah bagaimana bisa kita berpindah tempat " ucap Devan
"sudahlah, apa itu penting" ucap Lita
"benar juga, ya sudah aku akan pergi mandi dulu "ucap Devan yang berdiri setengah sadar dan melihat Lita mengunakan pakaian sedikit terbuka
"kau mau pergi ke mana, kenapa kau menggunakan pakaian seperti itu" ucap Devan yang duduk kembali di samping Lita dan mencoba menyadarkan dirinya
"tidak, aku hanya mencoba pakaian ku yang dulu ternyata masih pas di tubuh ku lalu aku memakainya" ucap Lita berdiri di hadapan Devan
Devan pun melihat Lita dari atas ke bawah yang membuatnya tersenyum nakal
"apa ini masih cocok untuk ku" tanya Lita yang membolak balikkan tubuhnya
"ya kau sangat cocok memakainya" ucap Devan menarik tangan Lita di pangkuannya
"ada apa bukankah kau mau mandi" ucap Lita yang menggeser tubuhnya kesamping
__ADS_1
"aku lapar apa kau mau jadi santapan ku" ucap Devan tersenyum nakal
"tidak"
"benarkah, bagaimana jika aku memaksa"
"aku tetap tidak mau"
"ya sudah aku akan marah pada mu selama sebulan"
"bagaimana bisa kau marah selama itu pada ku"
"bisa saja jika kau tidak mau"
Devan pun mulai bersikap dingin kembali pada Lita yang membuat Lita tersenyum
"baiklah aku akan mengunci pintu dulu"
"biar aku saja yang menguncinya"
Devan pun berjalan ke arah pintu lalu menguncinya dan kembali menghampiri Lita
"kau siap"
cup..
mereka pun memulai aksi panas mereka dipagi hari dan melakukannya cukup lama karena keduanya beradu desahan yang membuat darah keduanya mendidih
hingga pada puncak dimana tubuh mereka akan segera menyatu dan tubuh mereka yang tidak menggunakan benang sehelai pun
dan.. mereka pun menyatu seperti apa yang mereka inginkan dari awal
meskipun desahan mereka kecil tetapi mereka tetap terbawa suasana yang indah
hingga dimana keduanya mengakhirinya saat Devan mengendong Lita berjalan menuju kamar mandi
lalu menguyur tubuh mereka dengan air hangat namun masih melakukannya dibawah air
📲…
lalu mengakhirinya karena ponsel lita berdering
"apa kita harus mengambilnya bersama" ucap Devan
"tidak perlu aku bisa mengambilnya sendiri"
"bagaimana dengan ku"
"sudahlah kita bisa melakukannya lain waktu"
"baiklah aku akan menantinya nanti malam"
Devan pun melepasnya dan mengeringkan tubuh Lita sedangkan dia melanjutkan mandinya
Lita pun keluar menggunakan handuk dan pergi mengambil ponselnya
Lita pun melihat layar ponselnya ternyata Tri yang menelfon dirinya sebanyak 3 kali
lalu Lita pun menelfon balik Tri dan langsung di angkat oleh Tri
🗣:"Lita lo di mana, cepat sekarang datang di rumah bibi yuli karena ada seseorang yang tidak kami kenal menghancurkan isi rumah bibi" ucap Tri yang tampak sangat takut dan gemetar
Lita pun langsung menanggapi perkataan Tri dwngan serius
:" apa kau melakukan perlawanan" tanya Lita
🗣:"aku tidak berani melakukannya"
:"baiklah tetap bersembunyi ditempat yang aman bentar lagi gue ke sana"
🗣:"ku mohon selamatkan kami"
:"lo tenang, hubungi Salsili dan beberapa rekannya nanti gue nyusul ke sana, Ok"
🗣:"Salsili dan rekannya sudah datang namun mereka diancam untuk tidak bergerak, karena jika bergerak ayah akan ditembak"
Lita pun mulai khawatir dan menggunakan pakaian seadanya saja
:"gue segera ke sana"
lalu Lita pun mengakhiri sambungan panggilan
"sayang aku harus pergi sekarang" teriak Lita dari balik pintu kamar mandi
"kau mau pergi ke mana" teriak Devan
"rumah Tri "
Lita pun berlari turun ke bawah tanpa mempedulikan yang lain dan langsung mengambil mobil di bagasi
"ada apa dengan kak Lita" ucap Hans
"entahlah" ucap frans
"apa mama akan pergi jauh" tanya Tamara
"tidak, mama hanya pergi sebentar" ucap Hany
"benarkah" ucap Tamara
__ADS_1
"iya, sekarang habiskanlah sarapan mu" ucap Frans
mereka pun melanjutkan sarapan bersama mereka
sedangkan Lita sedang menyetir dengan tergesa gesa dan menyelip beberapa kendaraan didepannya
hingga beberapa menit kemudian Lita pun sampai dan langsung bergegas masuk ke dalam
dan Lita juga melihat beberapa mobil polisi parkir di depan rumah bibi Yuli
"Tri... " ucap Lita me menerobos masuk ke dalam
dan saat Lita masuk kedalam sebuah pistol telah mendarat dikepala Tri dan bibi Yuli
Lita pun mulai paham siapa yang telah di incar oleh orang itu, dan siapa yang akan menjadi korbannya
"apa itu kau lagi" ucap Lita pada orang itu
"kau masih mengenali ku" ucap orang itu
"aoa kau mengenalnya" tanya Salsili pada Lita
"ya aku mengenalnya, kau selamatkan yang lain aku akan mengurus dia" ucap Lita
lalu Lita pun berjalan mendekati orang itu
"apa yang kau inginkan" tanya Lita
"bukankah sudah jelas apa yang aku inginkan" ucap orang itu menyodorkan patoknya pada anak bibi yuli
anak itu pun ketakutan dan menangis dihadapkan Lita
"ibu, kakak tolong aku, aku tak ingin mati, ayah.. "ucap anak bibi yuli
Lita pun terus menatap orang itu dan tidak mengalihkan pandangannya
"akan aku kabulkan apa yang kau mau, sekarang jatuhkan senjata mu" ucap Lita
"baiklah akan aku jatuhkan asalkan kau menepatinya" ucap orang itu
"letakan terlebih dahulu senjata mu" ucap Lita
"baiklah jika kau tidak percaya " ucap orang itu melempar pistolnya dikaji Lita
lalu Lita pun melihat disaku celananya masih ada senjata tajam sehingga membuat Lita tidak bisa berkutik
"biarkan mereka melarikan diri terlebih dahulu" ucap Lita
"permintaan mu terlalu"
"ya sudah jika kau tidak mau"
"baiklah, pergilah kerah polisi dan kau harus berjalan ke arah ku"
mereka Tri pun berjalan ke arah Salsili sedangkan Lita melangkah maju ke orang itu
orang itu pun menarik Lita kepelukannya dan hendak menusuk lita di bagian dada namun gagal
Dor... satu tembakan mengenai tangan orang itu hingga membuat orang itu menjatuhkan senjatanya
Lita yang melihat ada peluang untuk lari pun langsung berbalik badan dan melihat ke arah pintu
"sayang... "ucap Lita
Lita yang melihat Devan memegang senjata api didepannya dan diwajahnya penuh amarah pun menghentikan langkahnya
"apa kau menyentuh istri ku" bentar Devan pada orang itu lalu
Dor.... satu tembakan mengenai kaki kanan pria itu
"sayang hentikan itu" ucap Lita menendang senjata Devan karena Devan akan meluncurkan satu tembakan lagi
"apa yang kau lakukan, apa kau membelanya " ucap Devan yang penuh amarah
"tidak, aku hanya tak ingin suami ku menjadi seorang pembunuh"ucap Lita
Lalu petugas kepolisian pun menangkap orang itu dan mengamankan keluarga Tri
"Lita, terimakasih atas bantuannya"ucap Salsili lalu pergi meninggalkan Lita
"kenapa kau bisa ada di sini" ucap Lita pada Devan
"kenapa, apa aku tidak diizinkan datang" ucap Devan
"bukan seperti itu, cuaca diluar sangat dingin kenapa kau malah keluar dengan rambut mu yang masih sangat basah" ucap Lita melepas pakaiannya untuk mengeringkan rambut Devan
"bagaimana dengan mu, padahal rambutmu juga basah dan pakaian mu sangat tipis kenapa kau mengkhawatirkan ku" ucap Devan yang masih bersikap dingin kepada Lita
"aku hanya tak ingin kau sakit " ucap Lita
"tidak masalah jika aku sakit, karena yang mengurusku saat sakit hanyalah istriku "ucap Devan yang masih dingin
Lita pun tersenyum dan memeluk Devan
"apa kau marah pada ku" ucap Lita
"iya, karena kau lebih peduli pada orang lain dari pada diriku"
"maafkan aku "
__ADS_1
Lita pun melepas pelukannya lalu keluar dari rumah itu bersama Devan