
Sedangkan di aula resepsi, Farhan dan Ina sedang mencari keberadaan pengantin yang setelah insiden tumpahnya minuman itu, sang pengantin hilang entah kemana. Hal ini juga membuat keluarga cemas, tetapi, kecemasan mereka sirna karena mendapat telfon dari Rey.
"Hallo, Pah?"
"Iya hallo, kamu sama Gita ada di mana, Nak?"
"Eh, ehmmm, Rey sama Gita ada di kamar, Pah. Kami istirahat, kemungkinan kami tak turun kembali, soalnya Gita sudah tidur," jawab Rey pada sambungan telfon.
"Ohh ehmmm, yaudah, tapi pelan-pelan ya! Kasian anak gadis papa, hahaha." Farhan meledek putranya.
"Apaan sih, Pa? Kayak ngapain aja, yaudah Rey tutup." Panggilan ditutup oleh Rey.
Setelah sambungan telfon ditutup, raut wajah cemas, telah sirna berganti kebahagiaan, wajahnya memancarkan senyuman, dan saat ini Farhan sedang diperhatiin oleh Ina.
"Papa kenapa senyum-senyum gitu? Anaknya hilang juga," tanya Ina mengernyitkan kepala karena heran.
"Anak kita bukan hilang, mereka baru siap bikin cucu buat kita," ucap Farhan seadanya.
"Apaan sih, Pa, kalau ngomong di filter dulu!" ucap Ina ketus.
"Ih, papa beneran kok, mereka ada di kamar tuh katanya mau istirahat," jelas Farhan.
"Ohh, hihi semoga cepet jadi ya, Pa," ujar Ina yang diaminin oleh Farhan. Padahal mereka salah paham atas apa yang terjadi, justru malah obrolan mereka yang terlalu fulgar, wkwkwk.
Di sisi lain, Anggi dan Devan yang mendengar ucapan Farhan dan Ina malah marah tak jelas, telinganya panas akan apa yang tak mereka harapkan malah terjadi.
"Ini semua gara-gara lo, Nggi! Rencana lo malah makin buat mereka makin susah untuk dipisahin." Devan menyalahkan Anggi yang gegabah dalam melakukan sesuatu.
"Apaan si, lo, kok malah gue yang disalahin, gue kan nggak tau bakal kayak gini jadinya," jawab Anggi membela diri.
"Ah udalah! Malas gue, uda yok kita pergi! Nggak mood gue." Devan berjalan yang diikuti Anggi.
*****
GITA POV ON
Aku terbangun dari tidur karena cahaya mentari masuk ke dalam kamar kami dan tepat mengenai wajahku, tetapi, kini posisiku sedang sangat nyaman. Aku sedang berbaring dalam dekapan kakak yang sekarang sudah menjadi suamiku, dekapannya terasa sangat nyaman dan menenangkan.
Setelah itu, kulihat dia yang sedang tertidur sambil memeluk diriku, wajahnya yang sedang tidur terlihat sangat tenang seperti menggambarkan bahwa dia sedang tak ada masalah, wajahnya sungguh tampan, ku singkirkan rambut yang menutupi wajah tampannya, ku sentuh alisnya yang tebal nan tegas, turun ke mata yang bulu matanya terlihat sangat lentik, hidungnya yang mancung bak perosotan, dan terakhir ku sentuh bibirnya yang tipis terlihat sangat sensual.
Ku pandang wajah itu lama, sampai tanpa sadar aku terus mengelusnya dan mengecup pipi dan bibirnya sekilas dan seketika aku dikagetkan dengan suara bariton orang khas bangun tidur, bahkan suaranya sangat seksi.
"Morning kiss sayang," ucap Rey yang bangun tiba-tiba.
"Eh, ka-kapan kakak bangun?" kataku gugup karena tertangkap basah.
__ADS_1
"Ehmmm sejak kapan ya? Mungkin sejak kamu menyentuh wajahku," ucapnya yang tentu mengejutkanku.
"Jadi, kakak udah bangun? Kok nggak bangunin aku sih!" ucapku cemberut.
"Ya kan kalau kakak bangunin, gak dapat servise pagi dari kamu," ucap Rey menggoda serta kembali mengecup bibirku tiba-tiba. Dia meletakkan kepalanya di leherku yang tentunya membuat aku geli.
"Apaan sih, awas! Aku mau mandi," ucapku dengan wajah yang memerah karena malu, tetapi tetap tak dilepaskan oleh kak Rey.
"Kak, awas dong! Aku mau mandi, aku lapar," ucapku memelas.
"Nggak usah, tadi kakak udah pesen makanan, palingan sebentar lagi sampai," ucap kak Rey.
"Iya, tapi aku mau mandi," kataku lagi.
"Yaudah, tapi satu kecupan dulu!" ucap kak Rey gamblang.
"Ish!" tolakku.
"Tak mau yaudah."
"Iya iya, cuph...." Kecupku di keningnya.
"Kok di kening, kakak maunya di sini atau nggak sama sekali!" Ancam nya lagi menunjuk bibir.
"Iya iya, Cuph...." Kecupku kembali dan aku langsung berlari ke kamar mandi karena malu, bisa-bisanya kakakku yang awalnya cool bisa jadi semanja ini, tapi sungguh sifatnya itu manis sekali.
*******
REYHAN POV ON
Aku terbangun dari tidur sebelum adikku yang sekarang statusnya telah menjadi istri, bahkan diriku tak pernah membayangkannya, antara bingung mau senang atau sedih, tetapi, entah mengapa didekat adik/istriku rasanya sangat nyaman, kini aku semakin memeluknya erat, bahkan sekarang tidurku tak sendiri lagi, ada yang menemani dan menjadi bantal guling yang sangat nyaman sekali.
Akan tetapi, beberapa saat kemudian adikku mulai terbangun dari tidurnya, aku pun dengan reflek kembali memejamkan mata tanpa melepas pelukan, aku mulai merasa sebuah tangan mulai menggerayangi wajahku sampai bibirku pun telah di kecupnya, tak dapat lagi menahan rasa gemasku, akhirnya aku memilih terbangun dan mengerjainya.
Melihat wajahnya yang memerah karena malu adalah hiburan tersendiri bagiku, wajahnya sungguh menawan, manis, dan semakin cantik, bahkan aku pun sampai berfikir jadi begini rasanya punya istri, aku sangat senang sekali punya istri, meski itu adalah adikku, tapi entah mengapa asal didekatnya setelah menikah jantungku selalu berdegub tak karuan.
REYHAN POV END
******
Setelah Reyhan dan Gita bersiap-siap, kini mereka sedang berada di sebuah mobil yang sedang berjalan ke arah rumah kediaman Nataniel. Mereka tak henti-hentinya melihatkan senyum tanda mereka telah bahagia, mereka ikhlas akan apa yang terjadi sehingga mereka pun mendapatkan kebahagian buah dari keikhlasan.
Setelah sampai di kediaman Nataniel yang notabennya adalah orang tua mereka sendiri, turunlah mereka dan disambut oleh Ina dan Farhan.
"Hai, Mah, Pah?" ucap Gita duluan karena Reyhan ketinggalan Gita setelah turun dari mobil langsung berlari memeluk Ina.
__ADS_1
"Hai, Mama, dan Papa mertua?" ucap Reyhan bercanda.
"Hai, menantu?" balas Farhan seloroh yang mengundang gelak tawa mereka.
"Ah sudah-sudah, ayuk masuk!" ajak Ina.
Kini mereka telah berkumpul di ruang keluarga, tempat biasa yang mereka gunakan untuk bersantai bersenda-gurau. Setelah semua duduk Farhan langsung membuka percakapan.
"Nak, apa kalian berdua bahagia ngejalanin pernikahan ini?" tanya Farhan.
"Ehmmm, kami ikhlas kok pah, dan Insya Allah kami pasti bisa ngejaninnya dan yang paling penting tentunya, pasti bahagia dong, yakan, Dek!" ucap Rey.
"Iya," jawab Gita seraya tersenyum.
"Yasudah, yang penting jangan lupa segera kasih mama dan papa cucu! Papa sama mama sudah tua, kami ingin segera menimang cucu," ucap Farhan yang membuat Reyhan gugup sedangkan Gita wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
"Iya iya, tapi nanti, papa saja belum kasih hadiah kami, katanya mau kasih apartemen sama tiket haneymoon." Rey menuntut.
"Kamu itu nggak pernah lupa sama hadiah ya. Tenang, udah papa siapin, apartemennya kebetulan deket sama kampus kamu, jadi kalian berdua tinggal di sana aja," jelas Farhan.
"Hah, Gita juga ikut sama kak Rey?" tanya Gita ambigu.
"Ya iyalah, kamu kan istri aku," jawab Rey agak ketus karena pertanyaan dari Gita sungguh konyol.
"Yeeee, biasa aja dong! Akukan cuman nanya doang," kata Gita malas.
"Iya, kamu harus sama suami kamu, nurut sama dia, karena surga kamu ada pada ridho suamimu." Ina kembali memberi petuah kepada Gita.
Tiba tiba....
"Permisi, Tuan! Diluar ada tamu, katanya temen kampus tuan muda sama nona," ucap pelayan.
"Oh, baik, Bi! Biar kami aja yang liat, yaudah, bi, makasih ya!" ucap Farhan.
"Iya, Tuan." Pelayan itu pun pergi.
"Emangnya siapa tamunya, Rey?" tanya Ina.
"Entahlah, Mah, Rey juga tak tahu, mendingan kita liat aja yuk!" ajak Rey dan mereka berempat pun pergi menemui tamu,tapi alangkah terkejutnya mereka saat melihat siapa yang datang.
"Elo...."
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Gimana guys dengan keuwuan mereka? Jangan lupa tinggalkan jejak ya! Like, komen, dan beri author hadiah, sampai jumpa lagi.
__ADS_1
LOVE YOU ALL.