Adikku Is My Wife

Adikku Is My Wife
Kabar Baik dan Kabar Buruk


__ADS_3

"Dokter, papa, Dok!" ucap Rey panik.


"Mohon tenang! Kami akan berusaha melakukan yang terbaik. Sebaiknya Anda dengan keluarga tunggu saja di luar," titah dokter itu.


Gita keluar dari dalam ruangan dengan dibantu oleh salah satu suster. Sesampainya di luar, Gita langsung menyetujui perkataan si dokter.


"Benar kata Dokter, Mas, sebaiknya kita di luar saja, kita serahkan kepada mereka dan kepada Yang Kuasa, semoga papa dalam lindungan-Nya," ujar Gita dan disetujui oleh yang lain.


Lalu Dokter pun masuk ke dalam ruangan Kevin bersama dengan para suster dan tenaga medis lainnya.


Rey dan keluarga tampak  cemas karena sudah sedari tadi Dokter tak kunjung keluar.


"Sebenarnya ada apa ini, Yang? Mas takut terjadi sesuatu dengan papa." Rey berjongkok dan meletakkan kepalanya di atas paha Gita.


"Kamu yang sabar ya, Mas, doain semoga papa baik-baik aja. Kita serahkan semua pada mereka!" Gita mengelus kepala Rey.


"Mas takut ... Takut terjadi sesuatu dengan papa," tutur Rey dengan nada cemas.


"Mas, ten-" Gita tidak melanjutkan ucapannya karen melihat sangat dokter keluar.


"Itu dokternya, Mas," sambungnya sembari menuntun Rey untuk bangkit dan menghampiri dokter.


Rey menanyai sang dokter dengan berbagai pertanyaan. "Papa kenapa, Dok? Dia baik-baik aja, kan? Apa yang sebenarnya terjadi, Dokter?" tanya Rey bertubi-tubi.


"Saya mohon Anda tenang dulu, Tuan. Maaf sebelumnya, saya di sini sebagai dokter yang merawat Bapak Kevin, ingin memberi dua kabar kepada kalian semua bahwa Pa-"


"Cepat katakan, Dok. Apa yang sebenarnya terjadi?" sela Kesya membuka suara, setelah sedari tadi hanya bisa menangis.


Gita mencoba menenangkan Tasya agar memberi kesempatan kepada sang dokter untuk menjelaskan.


"Baiklah, Saya di sini mempunyai dua kabar, yang pertama kabar baik dan yang kedua adalah kabar buruk," terang dokter itu.


"Apa kabar baiknya, Dok?" tanya Rey kembali berbicara.

__ADS_1


"Kabar baiknya adalah, pasien telah melewati masa kritisnya," jawab dokter itu, membuat seluruh keluarga mengembangkan senyumannya.


"Akan tetapi, kabar buruknya adalah beliau mengalami Syok hipovolemik," tukas dokter itu membuat Gita mendadak kembali lemas, sedangkan yang lain masih tak mengerti apa maksud dari si dokter.


Dokter itu pun menjelaskan apa itu Shok Hipovolemik. Syok hipovolemik adalah kondisi gawat darurat yang disebabkan oleh hilangnya darah dan cairan tubuh dalam jumlah yang besar, sehingga jantung tidak dapat memompa cukup darah ke seluruh tubuh. Syok hipovolemik harus segera ditangani untuk mencegah kerusakan organ dan jaringan.


"Untungnya kami segera melakukan transfusi darah, jadi kondisi pasien sekarang sudah stabil, tetapi kini pasien dalam keadaan ... Koma," jelas dokter itu.


Mendengar penuturan sangat dokter, Keysa jatuh pingsan.


"A-apa, Dok? Papa ko-koma? Terus kapan papa akan bangun, Dok?" gagap Rey, dia benar-benar terkejut, hingga tanpa sadar air matanya menetes.


"Saya tak tau kapan beliau akan sadar, tetapi menurut perkiraan kami, pasien hanya mengalami koma sementara, kita tunggu saja perkembangannya dan tentunya semua kita serahkan kepada Yang Kuasa, tak lupa juga seluruh support dari orang yang tersayang, mungkin akan membantu pasien untuk segera siuman," jelas dokter itu.


"Baiklah, saya tinggal dulu, kalau ada sesuatu, segera panggil saya!" pamit dokter itu kemudian berlalu pergi.


Seluruh keluarga langsung membopong Kesya yang pingsan ke sebuah ruangan yang telah disediakan di Rumah sakit itu. Sedangkan Rey, dia langsung terduduk lemas di lantai koridor depan ruangan Kevin. Rey benar-benar syok akan berita ini.


Setelah berhari-hari dia menunggu kabar perkembangan papanya, tetapi setelah mendengar kabar bahagia, dia kembali ditimpah dengan kenyataan yang lebih pahit. Kini, orang yang terpenting dalam hidupnya yang bahkan baru ditemuinya tengah berjuang untuk bertahan hidup.


"Mas," panggil Gita.


Rey langsung berbalik, dan kembali meletakkan kepalanya di paha sang istri. Dia menangis, menumpahkan segala kekhawatiran kepada sang istri.


"Kenapa? Kenapa harus papa, Yang? Kenapa bukan Mas aja?" tanya Rey kepada sang istri.


"Hush! Enggak boleh ngomong seperti itu. Aku tahu ini berat, Mas, tapi kamu harus kuat! Kamu harus kuat demi papa." Gita mendongakkan kepala Ret, dan menghapus airmatanya.


"Hiks, tapi, Yang--"


"Shut! Ingat, kamu harus kuat demi papa, tadikan kata dokternya, papa hanya mengalami ini sementara, jadi masih besar kemungkinan untuk papa bisa bangun. Jadi, kamu harus dukung papa, agar dia juga bisa bangun dari tidurnya!" seru Gita berusaha menghibur Rey. "Kamu juga harus kuat, ingat, anak kita tak mau punya ayah yang cengeng," kelakar Gita yang ternyata berhasil membuat Rey tersenyum.


"Maafin papa ya, Nak! Kamu baik-baik dalam perut mama." Rey mengelus perut Gita yang sudah mulai terlihat menonjol.

__ADS_1


"Nah, gitu dong. Ya udah, yuk kita lihat mama Kesya. Mama juga tadi sangat syok mendengar kabar ini!" ajak Gita.


Mereka pun berjalan ke ruangan Kesya dengan Rey yang mendorong Gita yang masih berada di atas kursi Roda.


Di sisi lain, ada sepasang suami istri yang melihat kesedihan keluarga Nataniel dari jauh. Orang itu juga ikut bersedih, apalagi saat melihat seluruh keluarga menangis. Dapat dibayangkan betapa rapuhnya keluarga itu sekarang.


"Aku ngerasa bersalah banget sama mereka, Nggi." Devan menghapus air matanya yang juga ikut menetes saat melihat apa yang sedang dialami keluarga Rey.


"Aku juga, Dev. Aku enggak nyangka akan serumit ini keadaannya. Apalagi ini semua bermula dari kita yang terobsesi sama kakak adik itu." Anggi menyandarkan kepalanya di dada Devan.


Tangan kekar Devan membawa Anggi kedalam pelukannya.


"Maafin aku, ya? Mungkin kalau aku tak melibatkan Maya dalam rencana kita, semua ini tak akan terjadi. Seharusnya itu yang sedang terbaring koma itu bukan Om Kevin, tetapi ak--" Sebuah tangan tiba-tiba menutup mulut Devan.


"Shut up, jangan bicara lagi! Aku tau ini semua salah kita, tapi kamu juga enggak berhak nyalahin diri sendiri. ingat, sekarang ada seseorang yang akan hadir dikehidupan kita," sergah Anggi membuat Devan menjadi merasa bersalah.


Devan melepas pelukannya, beralih turun mensejajarkan tubuhnya dengan perut Anggi yang sudah menonjol. Devan mengeleus-elus perut Anggi, seraya mengajak calon anaknya untuk berbicara.


"Nak, maafin papa ya! Papa janji akan selalu ada di sisi mama dan kamu, kamu sehat-sehat di dalam perut mama, ya!" ucap Devan kepada calon anaknya dan sesekali mengecup perut Anggi.


*****


PASYA POV


Aku terduduk di lantai penjara yang sangat dingin. Entah mengapa seakan perasaanku tak tenang beberapa hari ini. Aku terus memikirkan Kevin yang terkena tembakan ponakanku, apa dia baik-baik aja?


Meskipun aku telah banyak berbuat jahat kepadanya, tapi sungguh, aku masih sangat mencintainya. Ya Tuhan, tolong lindungi Kevin, kapanpun dan di mana pun dia berada, beri dia kesempatan untuk berkumpul dengan anak istrinya. Maafkan aku yang telah memisahkan mereka selama puluhan tahun, semoga Kevin tetap dalam lindungan-Mu, Aminnn.


PASYA POV OFF


**********


Hai kaka reader, maaf ya aku kelamaan hiatus, semoga kaka-kaka semua masih setia menunggu aku up.

__ADS_1


Jangan lupa yak, tinggalin jejak kalian di sini. Aku tunggu notifikasi like, dan komennya, jangan lupa juga beri aku gift, biar tambah semangat upnya. Terimakasih.


LOVE YOU ALL.


__ADS_2