
"Syukurlah, operasi pasien laki-lakinya telah selesai dan berjalan dengan baik, kondisi pasien pun sekarang sudah stabil. Baiklah, sisanya kalian para perawat urus sisanya, kami para dokter akan membantu operasi tim sebelah!" ucap salah satu dokter.
"Siap, Dok!"
Para dokter pun beralih ke pasien satunya, bermaksud membantu operasi yang sedang dilakukan tim ke dua mengoperasi pasien satunya.
"Bagaimana, Dok?" tanya salah satu dokter yang telah selesai mengoperasi Reyhan.
"Operasinya cukup rumit, di satu sisi kami berusaha menyelamatkan si bayi, di sisi lain kondisi sang ibu semakin menurun akibat sebuah gumpalan yang ada di kepalanya," ungkap salah satu suster yang sedang membaca data tentang kondisi pasien.
"Baiklah, kalau begitu. Kami akan membantu untuk mengoperasi bagian kepala, semoga operasi ini bisa beerjalan lancar," ucap dokter yang ingin membantu mengoperasi Gita. "Kalau begitu, siapkan segala keperluan yang dibutuhkan untuk menjalankan operasi ini, kita tak boleh melakukan kesalahan sekecil apapun!" sambungnya lagi.
"Siap, Dok!"
Operasi pun langsung dimulai, segala usaha dan kerja keras telah dikerahkan oleh seluruh tenaga medis, berharap apa yang mereka lakukan membuahkan hasil yang memuaskan.
Sedangkan di luar ruangan, seluruh keluarga Reyhan dan Gita masih setia menunggu. Rasa takut dan khawatir akan kehilangan orang yang mereka sayangi cukup besar, membuat mereka mengalami kesedihan yang mendalam. Frans dan keluarganya yang melihat kesedihan itu, merasa bersalah. Seharusnya mereka semua sekarang tengah berkumpul dengan bahagia, menanti kehadiran cucu pertama mereka. Tetapi, kenyataannya berbeda, semua berakhir kacau hanya karena sebuah dendam.
Meskipun keluarga Frans juga sedang bersedih, karena kehilangan putri satu-satunya. Tetapi, kesedihan mereka berusaha mereka abaikan, membantu menyemangati keluarga Reyhan yang sedang bersedih menjadi tujuan mereka. Rasa bersalah mendominasi hati, tatkala kunci penyebab segala insident yang terjadi akibat Maya yang awalnya sangat terobsesi dengan Reyhan, berakhir dengan dendam hingga membawanya kepada pintu maut, dan pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
Beberapa jam kemudian....
Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka dengan para perawat dan salah seorang dokter yang keluar membawa Reyhan ke ruang perawatan. Hal ini sontak membuat semua orang langsung menghadang dokternya. Mereka ingin bertanya tentang kondisi anak-anak mereka.
"Dok! Tunggu, Dok!"
"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?"
"Semua baik-baik aja kam, Dok?"
"Operasinya berjalan dengan lancar kan?"
Berbagai pertanyaan kembali keluar dari berbagai mulut keluarga yang menunggu. Mereka sangat penasaran akan kondisi anak-anaknya, harap-harap semoga semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
"Bapak, Ibu, harap tenang! Kami para tim medis sedang berusaha semaksimal mungkin, dan yah, kami telah berhasil mengoperasi Pak Reyhan, dan kondisinya pun juga sudah stabil. Hanya tinggal menunggu beliau bangun dari tidurnya karena sebelumnya kami memberikan sebuah anestesi yang membuatnya tak sadarkan diri. Kami juga sedang memindahkan pasien ke ruang perawatan," jelas dokter itu membuat seluruh keluarga menjadi sedikit tenang.
"Lalu, bagaimana dengan putri dan kandungannya, Dok?" tanya mereka lagi.
"Itu yang kami belum tahu, tim kami masih sedang melakukan operasi untuk menyelamatkan si bayi beserta ibunya. Saya harap, Anda semua tetap mendoakan kami, agar kami berhasil menyelamatkan nyawa mereka!" tutur dokter itu.
"Pasti, Dok! Ehmm, apa boleh kami lihat Reyhan?" tanya Farhan.
"Untuk sekarang belum bisa, Pak. Pasien harus istirahat full selagi masa pemulihan, kami juga akan terus memantau perkembangannya," jawab si dokter.
"Kalau begitu, saya pergi dulu."
Dokter itu pun pergi berlalu, meninggalkan seluruh keluarga untuk menunggu hasil operasi Gita. Seperti sebelumnya, mereka kembali dilanda kecemasan, belum lagi saat memikirkan kondisi Gita yang saat kecelakaan cukup parah, plus dengan kondisinya yang sedang hamil tua. Apakah Gita bisa diselamatkan? Apakah sang bayi juga bisa selamat? Semua tergantung pada Tuhan, semoga Tuhan memberi kesempatan kepada Gita dan keluarga kecilnya untuk merasakan kebahagiaan. Amiinn.
***
"Alhamdulillah, si kecil berhasil kita selamatkan, potong pusarnya, Sus!" ucap dokter yang mengoperasi Gita.
"Ayo, segera bersihkan si bayi, terus masukkan ke ruang ingkubator, keadaannya saat ini masih sangat lemah!" suruh dokter itu.
"Baik, Dok!"
"Gawat! Terjadi pendarahan, kita harus segera menyelesaikan operasi ini dan menghentikan pendarahannya, jangan sampai pasien mati otak!" ucap dokterr itu.
Tiba-tiba, bagian tubuh Gita yang dioperasi saat melahirkan juga ikut mengalami pendarahan. Sontak membuat para dokter menjadi kalang kabut.
"Dok, keaadan pasien tak stabil, tekanan darahnya menurun, dan detak jantungnya mulai melemah!" ucap salah satu perawat membacakan data yang dia lihat di monitor.
"Segera beri dia suntikan, dan lakukan transfusi darah sekarang!" suruh dokter itu.
"Baik, Dok!"
Beberapa jam kemudian....
__ADS_1
Pada akhirnya, seluruh tim medis pun berhasil mengoperasi Gita, kondisinya juga sudah stabil, tapi kemungkinan Gita akan sulit untuk hidup sehat seperti sadiakala, karena tadi Gita mengalami pendarahan yang cukup parah. Sehingga para dokter melakukan transfusi sebanyak 6 kantung darah.
Para dokter dan perawat pun keluar membawa Gita ke ruang perawatan. Membuat keluarga yang menunggu langsung berbondong-bondong mendekat. Mereka sangat deg-degan saat melihat lampu ruang operasi yang tiba-tiba mati, pertanda kalau operasi telah selesai.
"Dok, gimana kondisi anak saya?"
"Dia baik-baik aja, kan?"
"Bagaimana kondisi cucu kami juga, Dok?"
Begitulah jika orang sudah sangat cemas, selalu membombardir seseorang dengan pertanyaan, berharap orang itu bisa meenghilangkan rasa cemasnya.
"Bapak, Ibu, harap tenang ya, kami para dokter menyatakan kalau operasi ini telah berhasil!" tutur dokter itu, membuat keluarga langsung kembali menangis, mereka sangat terharu. "Kondisi pasien sudah stabil, si bayi juga sudah dipindahkan ke ruang inkubator," sambungnya lagi.
"Boleh kami melihat anak dan cucu kami, Dok?" tanya mereka yang benar-benar ingin bertemu dengan anak cucunya.
"Maaf, untuk sekarang belum bisa, pasien harus istirahat total. Sebaiknya kalian juga istirahat, jangan sampai sakit dan malah membuat pasien menjadi khawatir," usul dokter itu.
Semua orang pun langsung melihat diri mereka sendiri. Sungguh, keadaan yang sangat kacau, baju lusuh, mata sembab dan merah. Mereka langsung tersadar.
"Baiklah, Dok. Terima kasih atas semua ini!"
"Sama-sama, kalau begitu, kami pamit?"
"Silahkan, Dok!"
******************
Yeayy, akhirnya mereka selamat, semoga mereka selalu dalam lindungan-Nya.
Hai kaka reader, gimana part kali ini, jangan lupa tinggalin jejak yak. Oh iya, kalau mau masuk GC author, ketuk saja pintu GC-nya di profil aku ya. Salam hangat dari kami.
Sampai jumpa lagi.
__ADS_1
See You All.