
Malam hari di sebuah hotel RNR milik orang tua Devan dan Maya, diadakan sebuah acara birthday party untuk Maya, yang banya mengundang teman-temannya saja, termasuk Rey dan Gita.
Kini Rey dan Gita tengah memasuki aula hotel, tetapi mereka terpisah, bahkan Rey masuk ke dalam acara dengan menyamar, ini dilakukan atas perintah Gita dan tentu saja Farhan ikut serta membantu rencana Gita, beliau menyabotase acara dengan memerintahkan beberapa orang suruhannya untuk melindungi anak-anaknya, dan mengerahkan beberapa polisi untuk menyingkap kejahatan dari Devan dan Gita, tentu saja semua bergerak dengan menyamar.
Wah, hebat sekali pemikiran Gita, dia merencanakan ini seolah-olah dia telah membaca apa saja yang akan terjadi di dalam acara.
"Hai, May!" sapa Gita.
"Hai, Git, loh sendiri aja?" tanya Maya.
"Iya nih, suami gue ada kerjaan sama bokap gue di perusahaan," jelas Gita tapi dibubuhi dengan sedikit aroma kebohongan, wkwk.
"Wah, kebetulan nggak ada kak Rey, dengan kata lain, Gita hanya seorang diri, berarti akan lebih mudah bagiku untuk ngejebaknya," ucap Maya dalam hati.
"Sayang banget, pasti kalau ada suami lo pasti makin ramai," jawab Maya pura-pura kecewa.
"Dih, dasar ular!!" Sumpah serapah dari Gita dalam hati.
"Yaudah gih, dinikmatin pestanya, gue mau nyamperin yang lain dulu ya," pamit Maya.
Disisi lain, Devan sedang memperhatikan Gita yang sedang sendiri, tetapi tanpa Devan sadari, ada seorang pria yang mengawasinya dengan tangan yang mengepal menahan amarah, siapa lagi kalau bukan Rey yang marah karena sang istri di tatap dengan tampang lapar.
Beberapa saat kemudian, barulah rencana Maya dan Devan di jalankan. Maya menyuruh seseorang memberikan minuman yang telah dicampur dengan alkohol kepada Gita, guna membuat Gita mabuk dan tak sadarkan diri, lalu mereka akan menjalankan rencana mereka.
"Pak, tolong berikan minuman ini ke wanita yang sendiri itu ya!" ucap Maya kepada pelayan, tentunya dituruti karena Maya adalah putri dari pemilik hotel tempat pelayan itu bekerja.
"Kak Dev, siap-siap! Sebentar lagi Gita akan jatuh ke pelukan kakak, haha." Maya tertawa jahat karena merasa rencananya berjalan dengan lancar.
"Oke, kamu tenang aja, rencana kita pasti akan berjalan dengan baik," jawab Devan.
Di sisi lain pula, Rey sudah sangat geram melihat tingkah mereka, berani-beraninya mereka merencanakan hal ini. Akan tetapi, dengan segala kesabarannya, Rey masih terus menahan emosinya karena menunggu kode dari Gita.
"Mbak, mau minum?" tanya pelayan tadi.
__ADS_1
"Boleh, Pak, makasih ya," ucap Gita ramah yang tak menyadari bahwa minuman yang diminumnya telah dicampur dengan cairan yang membuat siapa saja yang meminumnya akan mabuk.
Devan yang melihat Gita sudah sempoyongan, menandakan kalau Gita sudah mabuk, perlahan mendekati dan menjalankan rencananya. Dia menuntun Gita ke sebuah kamar hotel yang memang telah mereka persiapkan untuk menjalankan rencana tersebut.
Sedangkan Rey masih heran, mengapa Gita mau saja dibawa pergi, bahkan sampai sekarang tak kunjung memberikan kode, maka dari itu dia mengikuti Devan dan Gita secara diam-diam, tak lupa pula Rey menghubungi rekannya supaya berjaga-jaga dan polisi juga ikut mengikuti Devan.
Kini Devan sudah berada di dalam kamar hotel, tetapi sangking bersemangatnya dia sampai lupa mengunci pintu kamar hotel, dia terus berjalan menuntun Gita ke sebuah kasur.
"Hei, Sayang, kamu loh yang membuat aku ngalakuin hal ini, coba saja kamu nggak berpaling dari aku, mungkin kita sekarang udah bahagia, tetapi sekarang aku nggak peduli, aku akan buat kamu jadi miliku seutuhnya." Devan sekarang berada di atas Gita, dia sekarang tengah mengukungnya.
Dia mulai dengan mengecup bibir Gita, menyapu isi mulut Gita dari ******* sampai mengulum, kemudian turun mengecap leher Gita, dan meninggalkan kissmark/tanda kepemilikan. Kemudian dia menyingkap dress yang digunakan Gita, hingga terpampanglah 2 bukit yang masih terbungkus oleh kain bra.
Dia meremas-remasnya hingga membuat sang empunya melenguh mengeluarkan ******* yang terdengar sangat seksi, dia ingin mengeluarkan benda tersebut dari balik kain yang menutupinya, tetapi belum sempat dia membukanya, tiba-tiba ada yang menariknya, dan menonjok wajahnya.
BUGH....
BUGH....
BUGH....
"Kurang ajar, bugh, beraninya elo ngelecehin istri gue! Nggak akan gue ampunin lo!" teriak Rey emosi sampai para polisi datang dan memisahkan mereka.
"Cukup, Pak Rey! Biar kami para kepolisian yang memprosesnya," ucap polisi yang membuat mata Devan terbelalak, bagaimana mungkin para polisi bisa ada di sini.
"Maafin gue Rey, gue khilaf, jangan ceblosin gue ke penjara, gue janji nggak akan ganggu lo sama istri lo lagi, tolong Rey!" seru Devan meminta tolong Rey saat tangannya telah diborgol oleh polisi, tetapi, yang dimintai tolong malah acuh tak memperdulikan perkataan Devan.
Devan terus memohon kepada Rey agar mau menolongnya tetapi percuma, Rey sudah terlanjur sakit hati karena sahabatnya sendiri telah berkhianat dan telah berani melecehkan istri sekaligus adiknya.
"Maafin gue juga Dev, gue ngelakuin hal ini biar lo jerah. Gue marah, gue marah sama lo karena udah berani ngelecehin adik gue yang selalu kami jaga sedari kecil, tetapi, gue juga udah maafin elo, gue harap elo bisa berubah," ucap Rey dalam hati hingga tanpa sadar dia meneteskan air mata melihat sang sahabat terseret ke jeruji besi.
Akan tetapi, tanpa sadar air mata Rey dilihat oleh Devan, hal ini tentu membuat Devan semakin merasa bersalah, dia bertekad akan berubah.
"Ternyata elo masih nganggep gue sahabat Rey, maafin gue yang udah ngancurin persahabatan kita, gue janji bakal berubah dan memperbaiki hubungan kita suatu saat nanti," ucap Devan dalam hati sedih.
__ADS_1
Devan ditangkap, bahkan Maya juga ikut terseret karena dia adalah otak dari segala hal yang terjadi, tetapi berbeda dengan Devan, Maya cendrung marah dan ingin membalas dendam kepada keluarga Nataniel.
"Liat aja, suatu hari nanti gue akan balas dendam sama lo Git, dan seluruh keluarga elo!" ucap Maya dalam hati dengan amarah yang benar-benar membutakan hati dan nuraninya.
******
Setelah peristiwa penangkapan itu terjadi, kini Rey dan Gita telah berada di rumah mereka. Setelah beberapa jam, akhirnya Gita sadar tetapi masih meninggalkan rasa sakit di kepala dan sedikit perih di lehernya akibat kissmark dari Devan.
Rey yang melihat tanda kemerahan itu tidak marah, malah dia sedih sudah gagal melindungi sang istri meski Devan belum sempat mengambil hal berharga dari istrinya, tetapi tetap saja, dia merasa gagal sebagai suami.
"Ah, kenapa kepalaku pusing sekali?" ucap Gita yang baru sadar dari pingsannya.
"Kamu udah sadar, mana yang sakit?" tanya Rey khawatir.
"Kepala aku sedikit pusing, Kak, tapi nggak apa-apa kok, loh kakak kok nangis?" tanya Gita, sontak Rey langsung memeluk Gita dan menumpahkan air matanya.
"Maaf, maafin kakak yang udah gagal jagain kamu, kakak gagal jadi suami kamu, Maaf!" Beribu kata maaf diucapkan Rey sebagai rasa bersalahnya yang telah gagal menjaga adik sekaligus istrinya.
"Iya, nggak apa-apa kok kak, Gita juga salah, Gita nggak bisa jaga diri dengan baik," ucap Gita memaafkan.
"Makasih ya, Git, kakak nggak tau lagi kalau sampai sesuatu terjadi ke kamu, kakak cinta Kamu, kakak nggak mau kehilangan kamu," ucap Rey mengutarakan perasaannya, membuat Gita ikut menangis, tetapi menangis bahagia karena bukan hanya Rey yang cinta, tetapi Gita juga sudah mencintai Rey.
"Gita juga cinta sama kakak, Gita sayang kakak." Gita semakin mempererat pelukannya, karena pada akhirnya cinta mereka tak bertepuk sebelah tangan, akhirnya kakak adik itu bisa saling mencintai, bukan sekedar rasa sayang kakak terhadap adik ataupun sebaliknya.
Di sisi lain, Farhan dan Ina terharu melihat putra dan putrinya yang akhirnya bisa saling mencintai, hingga tanpa sadar air mata Ina juga ikut menetes.
"Semoga tak ada lagi orang yang ingin menghancurkan kebahagiaan kalian." Ina berdoa untuk kebahagiaan putra putrinya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Hai kaka reader, gimana chapter kali ini? Aku udah up dua bab loh, jangan lupa tinggalin jejak. Kalau sempat, entar malam aku up lagi.
LOVE YOU ALL.
__ADS_1