Adikku Is My Wife

Adikku Is My Wife
Akhirnya Sadar


__ADS_3

"Papa mau, Nak!"


Tiba-tiba ada sebuah suara serak-serak basah khas orang yang baru saja bangun tidur yang sukses membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu terkejut. Ya, siapa lagi kalau bukan Kevin, dia telah sadar dari komanya, membuat semua menjadi menangis. Kesya dan Reyhan langsung mendekat, memegang dan mencium tangan serta wajah Kevin. Sedangkan Gita, perlahan mundur, dia menangis bahagia, sembari memeluk mamanya --Ina.


Begitu pula dengan Anggi, dia juga memeluk Devan sambil menangis, dia tak menyangka kalau Kevin akan sadar tepat saat mereka datang berkunjung. Frans dan Tika ikut bahagia saat menyaksikan itu semua. Bagaimana dengan Farhan? Dia langsung berlari keluar, memanggil sang dokter dan mengabari kalau Kevin telah bangun dari tidur panjangnya.


"Pah, gimana keadaan Papa? Ada yang sakit?" tanya Kesya setelah cukup dengan adegan menangis dan peluk-memeluknya.


"Iya, dan kenapa Papa lama banget tidurnya?" timpal Rey.


"Apa Papa nggak Kangen Mama? Kita baru aja bisa bareng-bareng lagi, Papa harus janji ini nggak akan terulang lagi!" pinta Kesya tak memberikan kesempatan kepada sang suami untuk berbicara.


"Iy--" jawab Kevin terpotong karena tiba-tiba dokter datang bersama beberapa suster dan diikuti oleh Farhan dari belakang.


"Selamat siang, semuanya?" sapa dokter itu.


"Siang, Dok!"


"Ehm, maaf sebelumnya, saya meminta kepada kalian semua untuk menunggu di luar, karena saya akan memeriksa pasien sebentar, apakah boleh?" Dokter itu berkata, tetapi seketika wajah semua orang langsung menunjukkan wajah tak rela, karena baru saja mereka bisa berbicara dengan Kevin, tetapi sudah disuruh keluar.


"Maaf, Dok, tetapi saya ingin bersama dengan suami saya!" pinta Kesya.


"Benar, Dok, kami baru saja bisa berkomunikasi kembali dengan Pak Kevin," timpal Ina mendukung Kesya.


"Iya, saya mengerti, tapi sebentar aja kok, saya hanya ingin memeriksa dan menjalankan beberapa test saja," balas dokter itu lagi.


"Iya, Mah. Mendingan kita keluar dulu, kita serahkan semua ini kepada ahlinya!" ucap Gita mendukung dokter itu.


Semua langsung mengiyakannya setelah Gita berbicara, mungkin karena dia calon seorang dokter, jadi seluruh keluarga langsung menurutinya, berbeda dengan Anggi, dia langsung tertunduk lesu bersedih, kalau saja dia tak berhenti kuliah, mungkin dia sudah menjadi seorang dokter sekarang. Devan yang menyadari gelagat sang istri yang tiba-tiba berubah, langsung berinisiatif mengajaknya ke kantin Rumah sakit.


"Nggi, ke kantin yok, aku laper!" Devan mengajak Anggi ke kantin supaya menjauh dari kerumunan.


"Yaudah, yuk!"


Mereka pun berjalan melewati koridor rumah sakit hingga sampailah mereka di kantin, saat berada di sana ternyata Devan hanya memesan salad buah, bahkan itu bukan untuknya, melainkan untuk Anggi.


"Nih, dimakan!" suruh Devan.

__ADS_1


"Loh, kok aku, kan yang laper kan kamu?" Anggi mengerutkan dahinya karena heran dengan sang suami.


"Aku nggak laper, aku sengaja ngajak kamu ke sini karena aku perhatiin kamu kok tiba-tiba murung? Ada apa? Cerita sama aku!" ucap Devan membuat hati Anggi terenyuh, ternyata sedari tadi dia sedang diperhatiin oleh Devan.


"Aku nggak papa kok, kamu jangan khawatir!" ucap Anggi berkilah.


"Udah, jujur aja, aku suamimu, jadi jangan pernah ragu, dan aku minta mulai sekarang nggak ada lagi yang kita sembunyiin!" tutur Devan sembari memgang kedua tangan Anggi, membuat perasaan Anggi menghangat, dia merasa sangat disayang saat ini.


"Terima kasih!" ucap Anggi dengan mata berkaca-kaca.


"Yaudah, sekarang kamu cerita, apa yang sebenarnya kamu rasakan saat ini!" suruh Devan.


"Sebenarnya aku hanya sedang bersedih, mungkin kalau aku tak berhenti kuliah, kini aku sudah menjadi seorang dokter," ungkap Anggi sendu, membuat Devan jadi ikut bersedih.


"Maafin aku ya, karena diriku, kamu harus berhenti ruwetkuliah," ucap Devan menundukkan kepalanya.


"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang aku bahagia memiliki kalian semua!" ujar Anggi.


"Aku janji akan buat kamu bahagia terus, kalaupun kamu ingin menyelesaikan kuliahmu, aku bakal izinin, soal biaya tenang aja ya," ucap Devan lagi.


"Nggak kok, aku tak ingin kuliah lagi, aku hanya bersedih akan kegagalanku di masa lalu, sekarang aku mau fokus keluarga kecil kita, aku mau fokus terhadap calon anak kita," tutur Anggi membuat Devan merasa sangat senang, karena memiliku istri yang sangat memperhatikan kekuarganya.


***


Setelah beberapa saat menunggu di depan ruangan Kevin, akhirnya dokter tadi pun keluar dari ruangan Kevin bersama dengan beberapa suster yang tadi bersamanya.


Seluruh keluarga pun langsung berbondong mendekati si dokter, bertanya tentang gimana keadaan Kevin yang baru saja sadar dari komanya.


"Bagaimana keadaan papa, Dok?" tanya Rey yang duluan bertanya, mewakili semua orang.


"Kondisi pasien sekarang sudah baik-baik saja, sungguh ini sebuah keajaiban, padahal sebelumnya kami baru mau mengabari kalau pasien mengalami syok hipovalemik permanen, beliau akan koma selamanya, tetapi syukurlah, beliau sudah sadar," ungkap dokter itu.


"Terus, kapan papa bisa pulang, Dok?" tanya Rey lagi.


"Dilihat dari hasil pemeriksaan kami, kondisi pasien sudah pulih sepenuhnya, jaringan-jaringan di tubuhnya sudah jawaban yang sangat membuat seluruh keluarga merasa sangat senang.


"Benarkah, apa boleh kami melihatnya?" Rey meminta izin kepada sang dokter, agar diizinkan untuk menemui Kevin.

__ADS_1


"Iya, Silahkan. Selamat ya! Kalau begitu saya tinggal dulu. Kalau ada perlu, Anda bisa menemui saya!" ucap dokter itu  sambil berlalu pergi.


"Terima kasih, Dok!"


Setelah dokter itu pergi, seluruh keluarga pun masuk, kecuali keluarga Devan, mereka meminta izin untuk pulang karena mengingat hari yang sudah mulai petang.


Kini mereka semua telah berada di dalam ruangan tempat Kevin dirawat, wajah sedih telah hilang sirna, berganti dengan wajah hinar binar yang menunjukkan rona kebahagiaan. Sunggu, setelah sekian lama mereka menunggu, akhirnya Kevin sadar juga dari komanya.


Kesya sangat senang, tak henti-hentinya dia mengucap syukur kepada Ilahi yang telah mengabulkan doanya, begitu pula dengan Rey, Gita dan yang lainnya.


"Hai, Mah?" sapa Kevin saat melihat belahan jiwanya yang sedang menangis.


"Papaa!!" teriak Kesya mendekat dan memeluk suaminya, orang yang telah terpisah dari dirinya cukup lama.


"Eh, kok nangis? Mama jelek kalau nangis," Kevin mengejek istrinya seraya memencet hidung Kesya.


"Ikh, emangnya Papa nggak kangen?" tanya Kesya.


"Ya kangen lah, sini peluk lagi!" ucap Kevin, membuat semua orang menjadi tertawa karena melihat kelakuan pasutri kadaluarsa itu.


"Papa sama Mama ada-ada aja," ucap Gita membuat atensi Kevin melirik ke arahnya.


"Nak, kemarilah!" suruh Kevin.


Gita pun mendekat ke arah mertuanya.


"Hai, Pah!" sapa Gita.


"Terima kasih ya, Papa bisa bangun karena kamu, karena sentuhan tangan kamu. Terima kasih karena telah memberikan sentuhan yang membuat Papa semakin bersemangat lewat calon cucu Papa. Papa tunggu kehadirannya, Papa akan selalu menunggu kehadiran Abi kecil Papa!" ucap Kevin membuat Gita menangis terharu.


"Iya, Pah!"


"Untuk kalian semua, maafkan saya yang tak merespon kalian, saya mendengar semua seruan kalian, tangis, kalian, semua saya telah mendengarnya. Akan tetapi, entah mengapa tubuh ini tak dapat merespon kalian, maafkan saya yang tak berguna ini!" kata Kevin merunduk sendu, dia benar-benar bersedih saat mendengan segala seruan semua orang yang berusaha memberikan support agar dia bisa bangun dari komanya.


***********


Hai kaka reader, gimana kabarnya semua? Semoga baik-baik saja. Btw, gimana bab kali ini? Mohon like, komen, fav, dan ratenya yak. Gift atau tips juga boleh, wkwk. Oh iya, jangan lupa votenya juga yak, terima kasih.

__ADS_1


Sampai jumpa lagi.


See You All.


__ADS_2