Adikku Is My Wife

Adikku Is My Wife
Gita Menyebalkan


__ADS_3

Buhkkkkk....


"Aduhhhhhh! Kok kamu jahat banget sih, Yang? Dorong aku sampai jatuh dari ranjang," ucap Rey meringis kesakitan memegang pinggangnya yang terbentur lantai akibat tiba-tiba didorong sama sang istri.


"Lagian kenapa mas peluk-peluk aku, modus aja!" ucap Gita ketus dan Rey jadi cengo, sebab tadi pagi yang sampai menangis minta dipeluk itu dia, mengapa malah Rey yang disalahin.


"Istri aku kenapa sih, kan dia yang minta dipeluk, mana kuat lagi dia dorongnya, aduh sakit benget pinggangku," gerutu Rey dalam hati.


"Kok malah diem aja, bantuin mas bangun! Sakit tau!" seru Rey kesel.


"Iya-iya, yaudah sini!" Terima Gita mengulurkan tangan tetapi saat sudah dipegang dan setengah terangkat, Gita malah melepasnya dan akhirnya Rey jatuh kembali.


"Aaadduuuhh! Kamu kok jahat banget sih? Sakit tau!" pekik Rey meringis kesakitan.


"Eh, ma-maaf, tapi Mas kok bau banget, Mas udah berapa hari sih nggak mandi, mau muntah aku nyiumnya." Gita menutup hidungnya.


"Sembarangan, mas rajin mandi dan bau apa sih? Orang tadi mas udah mandi kok, udahlah, cepet tolongin!" kata Rey ketus.


"Kok Mas marah sih sama aku, kan emang Mas bau, malas aku deket-deket," ucap Gita lebih ketus dan berlalu keluar kamar meninggalkan sang suami yang kesakitan.


"Yang, Ya tuhan istri aku kenapa sih, ini hari nyebelin banget," keluh Rey, benar-benar hari yang menyebalkan sebab hampir satu harian dia dikerjain sang istri, dari adegan muntah sampai adegan bau badan.


Setelah Rey bangkit dengan tertatih-tatih, dia berjalan masuk ke kamar mandi berniat membersihkan dirinya kembali, karena dia tadi sempat kembali tidur. Setelah menyelesaikan ritual bersihcbersihnya, dia memutuskan untuk turun menyusul istri menyebalkannya.


Dia berjalan sambil tertatih, karena emang rasanya sakit banget, sudah di dorong, dia malah juga jatuh, saat sudah ditolongin malah dijatuhkan kembali.


"Untung cinta, kalau nggak udah aku buang kamu ke laut, Yang." Gerutu Rey.


Sesampainya di bawah tepatnya di meja makan, dia langsung disuguhkan dengan pemandangan yang entah apa lah itu, bagaimana tidak, tanpa merasa bersalah sang istri malah enak-enakan makan dengan lahapnya.


Bahkan di situ juga ada Ina, Ina pun juga merasa heran dengan putrinya itu karena tak biasanya dia makan selahap itu, bahkan dia sudah menghabiskan dua piring tapi ini masih saja melanjutkan makannya dengan lahap.


"Nak, pelan-pelan makannya, entar kesedak!" ucap Ina.


"Enak banget kamu, Yang, udah makan aja, sini mas minta!" ucap Rey menarik makanan Gita, tetapi saat dia lihat ternyata sudah habis.


"Kok habis sih, Yang, kamu nggak ada sisahin?" tanya Rey kepada sang istri, tetapi sang istri malah berlari ke arah wastafel dapur dan memuntahkan isi perutnya.

__ADS_1


Huek....


Huek....


Sontak Rey dan Ina menjadi kalang kabut, ini juga kejadian cukup langka sebab Gita tak pernah-pernahnya selesai makan malah muntah, apakah dia alergi terhadap makanannya, tapi kok tadi makan segitu banyaknya dia baik-baik saja. Begitulah yang ada di pikiran Ina dan Rey.


"Kamu kenapa, Yang?" tanya Rey panik sambil memijat tengkuk sang istri, tetapi tak mendapat jawaban sebab Gita masih saja mual muntah.


Huek....


Huek....


"Coba kamu awas, Rey! Biar mama yang pijat tengkuknya, kamu ambil air hangat sana!" ujar Ina, dan benar saja saat Rey menjauh mual-mual Gita mulai mereda.


"Kamu nggak apa-apa, Nak?" tanya Ina khawatir melihat wajah anaknya yang memucat kehabisan tenaga karena mual-mual.


"Enggak, Mah. Gita cuman nggak tahan dengan parfum Mas Rey, nyengak banget," ucap Gita menutup hidung saat sang suami mendekat membawa segelas air hangat.


"Ini diminum dulu, biar enakan!" kata Rey memberikan air hangat yang baru saja diambilnya.


Sedangkan Ina yang tadi mendengar penuturan dari Gita langsung diam membisu, entah apa yang dia fikirkan yang tau hanyalah dirinya sendiri, tuhan dan authornya.


"Masak bau sih? Mas kan baru selesai mandi," sanggah Rey.


"Maksud Gita bukan badan kamu, tetapi parfum kamu katanya bau banget, mendingan kamu masuk kamar, mandi lagi, ganti baju abis itu antar Gita ke Rumah sakit, mama takut ini efek kecelakaan kemarin!" suruh Ina.


"Iya, Mah, tadi pagi juga udah Rey ajak ke Rumah sakit, tapi Gitanya nggak mau," jawab Rey dan berlalu pergi ke kamar lagi, tapi masih beberapa langkah dia dipanggil kembali oleh Ina.


"Rey, kok kamu jalannya kayak orang yang punya beban hidup?" canda Ina.


"Mama nyindir ya?" ucap Gita membuka suara.


"Haha, nggak kok, Mah, pinggang Rey sakit tadi pagi didorong sama Gita dari kasur, pas dia nolongin malah Rey dijatuhkan lagi," ucap Rey jujur dan langsung lari saat mendapat pelototan dari sang istri.


"Emang iya, Git?" tanya Ina.


"Hehe iya, Mah, abisnya dia tidur meluk-meluk Gita, pas Gita tolongin entah kenapa Mas Rey jadi bau banget, jadi Gita lepas aja deh, dan Mas Rey jatuh lagi," ucap Gita membuat mama Ina geleng kepala.

__ADS_1


"Dosa tau!" tukas Ina


"Semoga ini emang pertanda." Doa Ina dalam hati.


*******


Di sisi lain Kesya dan Radit sedang berlari dari kejaran anak buah Pasya, sebab mereka ketahuan melarikan diri. Mereka terus berlari ke arah kerumunan agar mereka sulit untuk dikejar.


"Ayo, Bu, sebentar lagi kita sampai, di sana banyak kendaraan umum. Kita akan naik salah satu angkutan umum di sana, mungkin kita akan lolos dari kejaran mereka!" ajak Radit.


"Iya ayo, Pak!" jawab Kesya.


"Woy, tunggu! Jangan coba-coba untuk kabur!" ucap orang suruhan Pasya.


"Ayo, Bu, nah itu ada taxi, kita bakal lari naik itu, cepetan, Bu!" ucap pak Radit menyuruh Kesya untuk lari lebih kencang, dan kini mereka sudah sampai di dekat taxi.


"Pak, buka pintunya, ayo Pak jalan! Cepetan!" teriak Kesya kepada supir taxi itu setelah mereka berdua telah berada di dalam taxi. Karena panik supir taxi itu langsung melajukan mobilnya dan tancap gas.


Sedangkan di belakang, orang yang mengejar Radit dan Kesya kehilangan jejak, kini mereka memutuskan sebagian mencari, sebagian kembali ke Markas.


"Sial! Kita kehilangan jejak mereka, ayo sebagian tetap cari sebagian kita ke markas, laporan sama Bos!" ucap orang itu.


"Akhirnya mereka semua tak mengejar kita lagi," ucap Kesya lega, begitu juga dengan Radit.


"Sebenarnya ada apa sih, Bu?" tanya supir taxi itu.


"Eh maaf ya, Pak, udah ngelibatin Anda, kami tadi dikejar-kejar preman, oh ya pak, tolong anterin saya ke Bandung ya, jalan Z, rumah nomor 12!" suruh Kesya.


"Baik, Bu!" jawab supir taxi itu.


Sedangkan di sisi lain Pasya sungguh marah besar atas berhasil kaburnya tawanan yang selama dua puluh satu tahun ini dia jaga, dia memarahi semua antek-anteknya.


"Dasar bodoh! Jaga seorang wanita aja tak becus, sekarang kalian cari dia sampai dapat kalau tidak saya pecat kalian!" ucap Pasya marah dan teriak.


****************


Hai kaka reader, jangan lupa like yang banyak ya, grafiknya turun terus nih, jangan lupa kritik dan sarannya ya!

__ADS_1


SEE YOU ALL.


__ADS_2