
Keesokan harinya....
Gita dan Rey memutuskan untuk pergi ke klinik Dokter Indah, setelah sebelumnya Rey telah mengabari Indah, kalau dia akan pergi berkunjung ke kliniknya bersama dengan Gita.
Kini mereka telah sampai di klinik, tempat Dokter Indah menjalankan praktiknya. Sejujurnya, Rey merasa apa yang akan mereka lakukan akan menjadi sia-sia, bagaimana mungkin hanya mendatangi seorang psikiater, trauma seseorang bisa sembuh.
Akan tetapi, dia tetap menuruti sang istri dan keluarganya, sejujurnya dia juga sangat berharap agar bisa sembuh dari traumanya. Sebab, traumanya ini telah sangat mengganggu orang yang dia sayang, contohnya, Gita. Gita hampir bangun tiap malam karena khawatir dengan Rey. Putri kesayangannya, Rere, dia juga sering terbangun, bahkan sudah sangat sering.
Hal itu telah membuatnya menjadi merasa bersalah, dia pun bertekad akan melakukan apapun, agar trauma paska kecelakaan enam bulan yang lalu dapat hilang dan tak mengganggu dirinya dan orang yang dia sayangi.
Sesampainya di lobi klinik, Rey dan Gita berjalan menuju meja resepsionis, ingin bertanya di mana letak ruangan Dokter Indah.
"Permisi, Mbak!" sapa Gita, sedangkan Rey, dia lebih memilih duduk di kursi yang ada di lobi itu.
"Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" jawab resepsionis itu.
"Maaf, Mbak. Di mana letak ruangan Dokter Indah?" tanya Gita.
"Apa Ibu telah membuat janji dengan beliau?" tanya balik Resepsionis itu.
"Sudah, Mbak." Gita menjawab sekenanya saja.
"Owh, kalau begitu ruangan beliau ada di ujung, dekat lorong mawar, di pintunya ada namanya kok, ruangan Dokter Indah. Anda bisa lurus saja melewati lorong ini!" jelas Resepsionis itu.
"Terima kasih!"
"Iya, silahkan, Bu!"
__ADS_1
Rey dan Gita pun berjalan menuju ruangan Dokter Indah mengikuti petunjuk yang diberikan Resepsionis tadi.
"Yang, ini beneran?" tanya Rey gamblang, membuat Gita mengerutkan dahinya, karena mendengar pertanyaan dari Rey yang benar-benar konyol.
"Apanya yang beneran, Mas?" ucap Gita.
"Kita beneran mau ketemu wanita itu? Beneran mau berobat sama dia?" jawab Rey sekenanya.
"Hih, ya beneran lah, emangnya kenapa sih, Mas?" tanya Gita balik.
"Mas ngerasa ini percuma," jawab Rey.
Gita menghentikan langkahnya, membuat Rey juga ikut berhenti.
"Denger ya, Mas! Segala sesuatu yang kita lakuin dengan niat yang baik, Insya Allah, pasti bakal dibantu oleh-Nya. Yang terpenting itu kita sudah ikhtiar, perihal berhasil atau tidaknya itu bukan urusan kita," tutur Gita.
"Kalau Mas nggak yakin, yaudah yuk kita pulang, percuma juga kalau diterusin kalau tak ada keyakinan kan sembuh dal hati Mas!" ucap Gita sambil membalikkan tubuhnya, ingin berlalu pergi, tetapi, tiba-tiba Rey memegang tangan Gita.
"Bukannya Mas nggak yakin, Yang. Mas hanya takut kita akan kecewa lagi." Rey mencemaskan hal itu.
"Iya, aku tau, Mas, tapi...."
"Yaudah yuk kita ke ruangan Dokter Indah! Mas juga sangat ingin bisa segera sembuh, demi kamu, demi Rere, dan demi keluarga kecil kita, yuk!" Rey menarik tangan Gita, membawanya pergi ke ruangan Dokter Indah.
Gita tersenyum, dia senang karena pada akhirnya, sang suami mau untuk berobat, semoga saja ikhtiar mereka kali ini, bisa membuahkan hasil, semoga Rey bisa sembuh dari traumanya yang sudah berkepanjangan.
Sedangkan di sisi lain, Indah merasa heran, sebab sudah sejam lebih dia menunggu, tetapi yang dia tunggu tak kunjung datang. Padahal, jadwalnya hari ini sungguh sangat padat.
__ADS_1
"Ya ampun, sudah sejam lebih, kok Pak Reyhan tak kunjung datang, bagaimana ini? Setengah jam lagi, aku ada pasien yang harus aku kunjungi," ucap Indah bingung.
***
"Hai, cucu Omah, lagi ngapain?" ucap Inayah mengajak Rere untuk berbicara
" Doain papa kamu ya, Nak. Agar dia bisa sembuh, biar bisa main sama Rere." Ina menggendong Rere, dan menina bobokannya.
"Semoga kali ini berhasil. Ya Tuhan, bantulah keluarga kecil anak-anakku, aku yakin mereka telah melewati banyak sekali berbgaia macam ujian yang kau berikan. Ku mohon, ridhoilah langkah mereka, tunjukkan jalanmu agar mereka dapat menemukan pintu gerbang menuju kata bahagia." Inayah berdoa, semoga semua dapat terjadi dengan lancar tanpa adanga gangguan yang lain.
***
Kini, Rey dan Gita telah berada di depan ruangan Dokter Indah, tanpa menunggu ba bi bu be bo, Rey langsung mengetuk pintu itu.
"Permisi, Dok!" ucap Rey sambil mengetok pintu.
"Silahkan masuk!"
Rey dan Gita pun memutuskan untuk masuk. Saat sudah berada di dalam ruangan, ternyata sang pemilik tak menyadari kalau tamunys telah berada di dalam ruangan saking sibuknya dia dengam berbagai formulir di meja kerjnya.
"Hai, Dok!" sapa Gita dan Rey bersamaan.
"Eh, Pak Reyhan dan Ibu...."
**********
Happy reading....
__ADS_1