Adikku Is My Wife

Adikku Is My Wife
Mama Kesya


__ADS_3

Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang dan memakan waktu, kini Rey dan yang lainnya telah sampai di Bandung, lebih tepatnya di kediaman Herman dan Windy pada jam yang sudah menunjukkan telah malam.


Mereka sungguh tak sabar melihat Kesya yang sudah menghilang dua puluh satu tahun lamanya, terlebih lagi Rey dan Kevin. Di sini Rey sangat penasaran dengan mama kandungnya, sedangkan Kevin dia sangat merindukan wanitanya, istrinya, dunianya ataupun cintanya, entah apa lagi ibaratnya, wkwk. Sedangkan yang lain anggap saja, ya seperti Rey.


"Pah, mama Rey beneran ada di dalam?" tanya Rey antusias.


"Kata kakek kamu iya, yaudah yuk masuk, ehmm Gita, kamu masih grogi, Nak?" tanya Kevin menggoda Gita.


"Ihk, udah enggak kok!" Dalih Gita yang cemberut karena sedari tadi diejek terus karena ketahuan gugup oleh semua, dan itu gara-gara papanya, Farhan.


"Bumil kok cemberut sih, nanti dedenya juga ikut cemberut loh," ucap Rey merangkul sambil mengelus perut Gita.


"Aikhh, uda deh, kapan kita masuknya? Papa sama mama udah capek, belum lagi nanti ngeliat drama kalian, pasti memakan waktu," ucap Farhan seloroh,tetapi emang fakta kalau dia lelah, faktor umur juga sih, hihi.


"Papa ngaco ngomongnya, kalau ngomong nggak pernah disaring dulu!" kata Ina mencubit mulut sang suami yang kalau berbicara emang benar, wkwk.


"Maaf, Pak, yaudah yuk kita masuk," ajak Kevin dan mereka pun berjalan menuju pintu rumah untuk segera masuk.


********


KESYA POV


Aku sedang berada di ruang tengah bersama papa dan mama mertuaku, kami sama-sama sedang menunggu suamiku yang kabarnya telah berhasil menemukan putra kami, dan katanya kini dia juga sedang membawa anak kami ke rumah ini.


Tak luput dari relung hatiku yang paling dalam, sungguh aku juga sangat merindukan suami serta anankku, dua puluh satu tahun lamanya aku tak pernah melihat mereka setelah peristiwa itu, dalam lubuk hatiku aku sedih, sedih karena tak bisa melihat tumbuh kembang anakku, melihat anakku jatuh saat dia belajar berjalan, mendengar dia mengucapkan kata mama untuk yang pertama kalinya, aku juga sedih karena telah meninggalkan suamiku, aku yakin saat aku diculik aku meninggalkan rasa bersalah terhadapnya, sebab dulu aku sudah memberi peringatan kepadanya tetapi dia tak mempercayainya, aku juga sedih karena tak bisa menemaninya di saat dia jatuh, melihat dia tumbuh uban bersamaku.

__ADS_1


Aku ... Aku ingin membayar dua puluh satu tahun yang telah hilang itu.


Ting ning....


Di tengah lamunanku, aku tersadar karena ada suara bel pintu pertanda ada tamu, aku berfikir siapa ya? Jangancjangan suamiku, senyumku mulai merekah seakan-akan duniaku yang telah hancur mendadak lahir kembali memberi penerangan di hatiku yang gelap.


"Biar Key aja, Mah!" ucapku cepat karena melihat mama mertuaku bangkit dari sofa.


"Kita bareng-bareng aja, mungkin itu Kevin," ujar Herman memberi saran yang bagus, karena aku juga yakin mereka juga sangat merindukan cucu mereka, secara mereka hanya memiliki anak tunggal, itupun suamiku Kevin. Saat aku dan anakku pergi, dengan setianya Kevin tak mau menikah lagi, padahal kalau mau dia bisa mendapatkan seribu kali yang lebih dari aku.


"Yaudah, yuk!" ajak Windy dan kami pun bersama-sama berjalan menuju pintu berencana untuk membukakan pintu, kenapa tak pelayan saja? Karena sebelum itu kami sudah memberi tahu bahwa khusus hari ini, kalau ada tamu kami yang akan membukakan pintu.


Kini aku sudah berada di depan pintu, siap untuk membuka pintu itu sekarang juga, sungguh aku juga sangat tak sabar untuk menemui suami serta anakku, terlebih lagi aku mendengar kalau putraku juga sudah menikah, aku penasaran seperti apa wajah menantuku.


Perlahan aku buka pintu itu, menampakkan sedikit demi sedikit wajah seseorang, perlahan tapi pasti wajah orang itu mulai terlihat, saat sudah sempurna terbuka, air mataku sukses mengalir di pelupuk mataku.


"Maas Kevin, aku kangen kamu," ucapku masih memeluk suamiku.


"Kamu kemana aja, Key? Hiks, a-aku mencarimu kemana-mana, dua puluh satu tahun kau tinggalkan aku, maafkan aku karena tak mempercayaimu, hiks." Suamiku juga ikut menangis.


Sungguh aku baru pertama kali melihat sisi lemah dari suamiku, aku bahkan tak pernah melihatnya menangis, kini untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis itupun karena aku.


Akan tetapi, atensi mataku berubah, aku melihat seseorang yang benar-benar mirip dengan suamiku, siapa dia? Apakah itu Abiku? Anakku? Benarkah? Tak mimpi inikan?


"Itu, Mas...." ucapku melepas pelukan suamiku dan menunjuk seorang anak muda yang entah mengapa matanya sangat tak asing bagiku, wajahnya sangat mirip dengan suamiku, benar-benar pinang dibelah dua.

__ADS_1


"Iya, Key, itu Abi putra kita," jawab suamiku membuat aku semakin menangis terharu.


Perlahan aku mendekat, ku pegang wajahnya, rahangnya yang tegas, tak salah lagi dia adalah Abiku, putraku. Saat sedang mengamati, tiba-tiba aku dipeluk, dia menangis, bahkan putraku yang tak terlalu mengenalku malah menangis, membuatku merasa bersalah karena telah menaruhnya di Taman sendirian.


"Ini mama, hiks, ini mama Rey, i-ini mama kan?" tanya dia yang benar-benar menangis.


"Iyaa, Nak, ini mama hiks, maafin mama yang udah ninggalin kamu," ucapku ikut memeluknya.


"Mama nggak salah justru berkat mama, Rey masih bisa melihat dunia ini," jawabnya yang benar saja dia memanggil dirinya Rey, sesuai nama sejak kecil yang diberikan orang tua asuhnya.


"Mah, Rey udah nikah, dan sebentar lagi Mama bakal jadi nenek, istri Rey sekarang sedang hamil," katanya yang benar-benar membuatku sangat bahagia, aku langsung mengalihkan pandanganku kepada salah satu wanita muda cantik yang juga meneteskan air mata, aku menyuruhnya mendekat dan memeluknya juga.


"Makasih, Sayang makasih, tolong jaga anak mama ya, jaga juga calon cucu mama, mama pengen lihat tumbuh kembang Rey lewat anak kalian!" ucapku benar-benar bahagia dan hanya dijawab anggukan oleh istri Rey, karena dia sekarang dalam posisi yang lelah sekaligus menangis.


Ku lepas pelukanku dan beralih kepada sepasang suami istri yang mungkin seumuran denganku, mungkin ini orang tua yang mengasuh anakku dengan sangat baik, aku harus berterima kasih kepada mereka.


"Terima kasih, Pak, Bu, karena telah merawat anak saya dengan penuh kasih sayang," ucapku mengatupkan tangan.


"Tak masalah, Bu, justru kami yang berterima kasih karena kami diberi kesempatan merawat seorang bayi yang sekarang telah menjadi menantu kami," ucap wanita itu yang ku tebak itu adalah mama asuh Rey dan laki-laki itu adalah papa asuhnya, sungguh baik sekali mereka.


KESYA POV OFF


****************


Hai guys, maaf ya aku sekarang jarang up, soalnya jaringan sering sekali bermasalah dan sekarang banyak banget tugas sekolah, aku akan usahain upnya bakal rajin kembali, jangan lupa tinggalin jejak ya, jangan lupa votenya!

__ADS_1


SEE YOU ALL.


__ADS_2