Adikku Is My Wife

Adikku Is My Wife
Janji Rey


__ADS_3

Saat tengah asik Ina memasak di dapur untuk anak kesayangannya sekaligus yang telah menjadi menantunya, sedari tadi Rey malah juga ikutan asik mengganggu mamanya memasak, karena Rey ingin di buatin brownis, jadi Rey dengan sengaja menjolek tepung ke pipi sang mama.


"Rey, ikh kan kotor, entar nggak jadi loh brownisnya," ucap Ina geram sebab wajahnya telah menjadi kanvas kejahilan sang anak.


"Hahaha, wajah mama lucu, tambah lagi, Mah!" jahil Rey malah terbahak-bahak melihat ulahnya yang berhasil membuat maha karya di wajah sang mama.


"Udahlah, nggak jadi mama masakin ini ya!" ancam Ina dan tentu saja Rey langsung menurut karena emang dia tengah merindukan masakan sang mama sekaligus emang laper, hihihi.


"Iya iya." Rey menghentikan kejahilannya.


Di tengah-tengah aktivitasnya, Ina membuka kembali percakapan saat Rey sibuk melihat mamanya yang sedang membuat kue, akan tetapi perkataan Ina justru langsung ngebuat Rey jadi sedih.


"Rey, ehmmm semisal kamu bertemu dengan orang tua kandung kamu, apa kamu bakal terima mereka?" tanya Ina tiba-tiba.


"Entahlah, Mah, Rey nggak tau harus sedih atau senang, di satu sisi Rey pingin tau siapa mereka, tetapi di sisi lain Rey benci, mengapa mereka tega membuang Rey," ucap Rey sendu.


"Kamu nggak boleh ngebenci mereka, mau bagaimana pun itu tetap orang tua kandung kamu, mungkin mereka punya alasan tersendiri mengapa sampai kamu dibuang," ucap Ina menasehati.


"Rey masih bingung, Mah," kata Rey semakin terlihat sendu.


"Rey, berjanjilah sama mama, setelah kamu menemui orang tua kandungmu kelak, kamu mau memaafkan mereka apapun alasannya, lagian mama juga nggak pernah ngedidik kamu jadi orang yang pembenci, dan janjilah kamu nggak akan lupain mama dan papa ya!" pinta Ina mendekat dan memegang tangan Rey.


"Rey janji, Mah, demi mama Rey akan berusaha menerima mereka kelak, dan Rey pun janji nggak akan lupain kalian, Rey sayang kalian," ucap Rey yang sedetik kemudian Ina pun meneteskan air matanya,sedangkan Rey matanya sudah berkaca-kaca,sontak Rey langsung memeluk sang mama, tetapi tanpa mereka sadari di sebalik pintu ada Farhan yang sudah pulang dan mendengarkan percakapan antara ibu dan anak itu.


"Bagus, Mah. Mama berhasil ngebuat Rey berjanji, semoga setelah mereka bertemu, tak terjadi suatu masalah," kata Farhan pelan.


"Uda ah, jangan sedih-sedih lagi," ucap Ina.


Ting....


"Tuh, brownisnya udah mateng, ayuk mama irisin abis itu kamu cobain!" ucap Ina menarik tangan Rey agar mendekat.


"Enak, Mah, seperti biasa, makasih ma!" Rey kembali memeluk sang mama dari belakang.


"Siapa coba yang buat, mama gitu loh," ucap Ina bangga.


"Irisin lagi, Mah, agak banyakan!" pinta Rey.


"Iya, kamu laper? Nih udah mama iris," ucap ina sembari memberi irisan kue yang telah di letak di atas piring.


"Cuph, dah Mama, Rey mau makan sama istri Rey di kamar," pamit Rey sambil berlari meninggalkan Ina begitu saja.

__ADS_1


"Kurang ajar ini anak, Rey beresin ini dulu!" teriak Ina.


"Hai, Pah, awasloh itu ada singa ngamuk! Tidur di luar nanti Papa," ucap Rey berpapasan dengan Farhan.


"Hah, bener--" ucap Farhan terpotong.


"PAPAAA!! Kemana aja sih dari tadi di tungguin juga?" ucap Ina membentak yang tiba-tiba telah berada di belakangnya.


"Dah, Papa." Rey berlari meninggalkan orang tuanya.


"Kurang ajar itu anak," ucap Farhan dalam hati.


"Eh, Mama lagi ngapain?" tanya Farhan kikuk.


"Nggak usah nyelimur, Papa kemana aja sih dari tadi di telponin tapi ponselnya nggak aktif katanya keluarnya sebentar kok sampai sore!" ucap Ina tinggi.


"Hp papa lowbat, Mah, tadi mampir dulu di Restaurant sama Pak Kevin makan siang," ucap Farhan jujur.


"Nggak ada alasan, pokoknya papa tidur di luar!" Telak sudah, Ina langsung berlalu meninggalkan Farhan sendirian menuju kamarnya.


"Ehh, Mah tunggu! Masak papa tidur di luar, ayo lah, yang bener aja?" bujuk Farhan mengejar sang istri.


"Biarin!" Ina melongos begitu saja.


"Yaudah, yuk masuk!" ucap Ina ketus masih tak ikhlas.


Setelah beberapa menit mereka membersihkan diri, keduanya langsung merebahka diri di ranjang sebari menunggu waktu makan malam.


"Mah, tadi papa ketemu sama orang yang ngikutin Rey loh," ucap Farhan membuka percakapan.


"Hah beneran, Pah?" tanya Ina terkejut.


"Iya, Mah, tadi papa ketemunya di Restaurant bareng Pak Kevin, dan yang ngebuat papa terkejut adalah wanita itu yang membuat keluarga Pak Kevin hancur, Mah," jelas  Farhan, tentu langsung membuat Ina terperangah, matanya terbelalak sangking terkejutnya.


"Hah, kok bisa kalian ketemu dia?" tanya Ina kembali.


"Enggak tau lah, Mah, dan lebih parahnya, dia tinggal di depan rumah kita," ungkap Farhan, tetapi kali ini Ina tak terkejut, malahan dia mengeratkan giginya, pertanda kalau dia sedang sangat marah, bagaimana dengan Farhan? Sungguh dia merasa ngeri karena Ina jarang sekali marah, tetapi sekali marah dapat menghancurkan dunia, wkwk.


*****


Di sisi lain, Pasya yang baru pulang dari Restaurant untuk makan siang, dia merasa tak asing dengan orang yang dilihatnya, ya dia melihat Farhan dan rekannya, tetapi dia merasa tak asing dengan rekan Farhan, dia sempat melihat sekilas, tetapi tak sempat melihat wajahnya dengan teliti.

__ADS_1


"Sebenarnya siapa lelaki itu, kok aku ngerasa tak asing, ah mungkin klienku juga kali," ucap Pasya berspekulasi.


"Ah, mending aku telpon anak buahku, udah dua hari mereka tak ada kabar pasca mau kabur wanita sialan itu, gara-gara dia aku harus ngelakuin hal sejahat ini, coba aja dia nggak datang di kehidupan aku dan Kevin, mungkin kami udah menikah, tetapi dengan bodohnya Kevin tak menyadari perasaanku," ucap Pasya geram.


"Hallo?" sapa Pasya lewat sambungan telpon


"Iya, Bos!"


"Gimana keadaan wanita sialan itu?"


"Aman, Bos, tapi dia sulit sekali untuk makan."


"Bujuk dia, pastikan dia


tetap hidup, aku mau dia


sendiri yang meminta mati!"


"Siap, Bos!"


Tutt....


"Dasar wanita sialan, udah nggak berdaya tetapi masih aja nyusahin, dua puluh satu tahun aku siksa dia tetapi tak mau menyerah juga," ucap Pasya marah.


******


"Mas, enak banget brownisnya, kok mama bisa sih buat seenak ini?" puji Gita.


Cuph....


"Enak Yang, manis...." Ucap Rey setelah mengecup bibir Gita.


"Mas apaan sih!" Kesel Gita yang tak malu lagi melainkan geram karena Rey berlaku sesukanya.


"Hehe, yang, tamu kamu udah selesai belum, mas kepingin?" ucap Rey yang terlihat memelas.


"Hahah belum, Mas, baru juga sih hari, tahan ya, atau nggak itu kamar mandi nganggur." Gelak Gita, sungguh menjadi hiburan tersendiri bagi Gita, tetapi dia juga merasa kasihan dengan suaminya yang memelas, bahkan wajahnya menandakan kesakitan.


"Yah, Yang, gimana ini, udah sesak banget loh, masak main solo, ah." Rengek Rey.


****************

__ADS_1


Hai kaka reader, maaf ya aku telat up lagi, tadi malam nulis tapi malah ketiduran, entar siang aku up lagi, jadi jangan lupa like yang banyak ya, jangan lupa kasih giftnya juga ya. Kita santai-santai dulu, karena beberapa chapter lagi menuju konflik selanjutnya.


Terima kasih.


__ADS_2