
Kini Rey tengah berada di ruangan tempat istrinya dirawat, dia begitu lega setelah mendengar kabar kalau Gita telah siuman dari pingsannya. Setidaknya kekhawatiran Rey sedikit berkurang, hanya tinggal menunggu sang papa bangun dari tidurnya, tetapi seakan keadaan memang sengaja membuat keluarga Rey hari ini bersedih, sudah hampir satu hari, tetapi Kevin tak ada menunjukkan kemajuan sedikitpun, malahan beliau masih dalam kondisi kritis.
"Kamu baik-baik aja kan, Yang?" tanya Rey memegang tangan Gita.
"Iya, aku baik-baik aja kok," jawab Gita, "Oh iya, yang lain kemana, Mas?" sambung Gita.
"Yang lain lagi nunggu di depan ruangan papa Kevin," jawab Rey yang tiba-tiba sorot matanya mejadi sendu.
"Ehmm, gimana kondisi papa, Mas?" tanya Gita lagi.
Kali ini, Rey tak menjawab, malahan dia meneteskan air matanya. Gita yang melihat itu pun juga ikut merasa bersedih, sebagai calon seorang dokter, Gita tahu bahwa orang yang masuk ke dalam pusat trauma, kemungkinan untuk pulih dengan cepat itu sangat kecil.
"Kamu yang sabar ya, Mas! Kamu harus yakin kalau papa pasti bisa melewati masa-masa kritisnya," ucap Gita menyemangati suaminya.
"Mas takut, takut kehilangan papa lagi, baru beberapa bulan Mas bisa berkumpul, tetapi, sekarang...." ucap Rey menangis, dia sangat bersedih saat melihat keluarganya yang kembali terancam akan berpisah kembali, bahkan kemungkinan tak akan bersatu kembali.
"Aku yakin kok, Mas... Kalau papa pasti bisa melewati ini semua. Kamu jangan pesimis dong!" protes Gita.
"Mas akan terus berdoa untuk kesembuhan papa," ucap Rey lagi.
"Nah, gitu dong! Enggak cocok banget Mas nangis. biasanya juga omes." Candaan Gita yang ternyata mampu membuat Rey tersenyum.
"Kamu, yakin? Walaupun Mas lagi sedih, tapi, Mas masih bisaloh buat kamu tepar," ucap Rey membuat Gita salah tingkah, ternyata candaannya telah salah, memancing seorang manusia yang telah berhari-hari puasa.
"Ikh, Mas tega! Aku lagi sakit juga." Gita memalingkan wajahnya yang memerah karena malu.
Sedangkan Rey menjadi sedikit terhibur akan kepolosan istrinya, meskipun sudah beberapa kali melakukan itu, tetapi, Gita masih saja malu-malu.
"Kok kamu malingkan wajah sih? Ada apa hmm?" tanya Rey membalikkan wajah sang istri agar kembali menghadapnya.
"Ishh, pemaksaan! Apa sih, Mas? Jauhan dikit, ikh!" pinta Gita karena dengan sengaja Rey mendekatkan wajahnya ke arah Gita.
Rey bermaksud mengerjain Gita, karena selama ini dia sangat merindukan masa-masa ini, di mana segala beban pikiran seakan hilang saat sudah berkumpul dan bercanda ria dengan sang istri.
Akan tetapi, Rey semakin mengerjai Gita, memmbuat wajah Gita semakin merona akibat malu terhadap perlakuan suaminya. Bagi Rey, melihat istrinya yang malu-malu sampai wajahnya ngeblush, merupakan hiburan tersendiri baginya.
__ADS_1
"Ada apa, hmm?" tanya Rey yang wajahnya tepat di depan Gita.
"Ikh, jauh dikit ngapa!" Bukannya menjauh, Rey malah merebahkan kepalanya di samping tubuh Gita, tepat di dekapan istrinya.
"Mas, lep--"
"Sebentar aja, Yang, seperti ini dulu, Mas kangen!" ucap Rey lalu memejamkan matanya.
Setelah mendengar perkataan Rey, Gita pun langsung mengelus kepala Rey, dia tahu bukan hanya dia yang mengalami hari yang tak menyenangkan, tetapi, suaminya juga dan sekarang yang membutuhkan banyak semangat adalah Rey, agar dia tak bersedih lagi.
"Kasihan kamu, Mas. Maafkan aku, ya! Karena menyelamatkan aku dan calon anak kita, papa sampai harus terkena tembakan," ucap Gita seraya mengelus kepala Rey.
"Shutt! Jangan minta maaf! Sekarang kamu fokus untuk pulih, buktikan kalau pengorbanan papa tak sia-sia," kata Rey yang masih sedia dalam dekapan Gita.
"Iya, Mas."
******
Sedangkan di sisi lain, ada Devan yang sedang mengecek kandungan istrinya ke rumah sakit, setelah kejadian itu, mungkin membuat Anggi tertekan akan segala cemooh orang-orang yang mengatakan kalau mereka adalah keluarga penjahat. Devan berinisiatif mengajak Anggi periksa, dia takut calon anaknya tak baik-baik saja.
"Aku tak apa-apa, Dev, sungguh!" ucap Anggi.
Mereka pun masuk ke ruangan dokter yang bekerja di bagian OBGYIN, dokter yang memeriksa Anggi dari awal kehamilannya.
Kebetulan sekali, rumah sakit itu adalah rumah sakit yang sama tempat di mana Gita dan Kevin dirawat.
Setelah melewati beberapa test, akhinya Anggi dan Devan keluar dari ruangan itu dengan airmuka bahagia, sebab, dokter mengatakan kalau kandungan Anggi baik-baik aja. Mereka terus berjalan melewati koridor hingga tanpa disengaja, Devan dan Anggi bertemu dengan Rey dan Gita di koridor rumah sakit itu.
"Rey! Git!" Sapa Devan, tetapi, Gita malah memilih untuk menyuruh Rey jalan terus, mungkin dia marah dengan keluarga itu. Beda dengan Rey, dia sebenarnya ingin berhenti.
"Rey, Git, tunggu!" teriak Devan dan berjalan berbalik mendekati Rey dan Gita bersama dengan istrinya, Anggi.
Setelah berjalan sedikit lebih cepat, akhirnya Devan dan Anggi berhasil menyilang Rey dan Gita.
"Mau apa lagi sih, Kak? Belum puas buat aku kayak gini? Belum puas buat papa kami kena tembak? Belum puas hancurin keluarga kami? Hah, Jawab!!!" teriak Gita.
__ADS_1
"Tenang, Yang! Kamu masih belum pulih," ucap Rey khawatir.
"Maafin keluarga aku, Git! Sungguh hal ini di luar sepengetahuan kami, aku tak tau kalau Maya dan tanteku akan melakukan hal yang kejam seperti ini," tutur Devan. "Aku mohon, Git! Atas nama mereka aku mohon maaf, sekarang mereka sudah di penjara, dan kali ini tidak akan ada satu orangpun yang akan membantu mereka," sambung Devan berjongkok mensejajarkam tubuhnya ke Gita, seraya mengatupkan tangannya sebagai tanda memohon.
"Hiks, terus kalau mereka di penjara, papa kami bisa langsung bangun? Bisa langsung sembuh? Enggak, kan? Semua sudah terlambat, Kak. Kini papa kami sedang berjuang menghadapi mautnya, bahkan sampai sekarang beliau masih kritis." Gita meneteskan air matanya.
"Udah, Yang! Nanti kamu sakit lagi, udah, maafin mereka! Mereka tidak salah," tutur Rey berbesar hati.
"Tapi, Mas...."
"Mau mereka dimaafkan ataupun tidak, papa tetap masih kritis," tambah Rey.
"Bangkit, Dev! Gue maafin elo kok, udah jangan merasa bersalah, sekarang kamu fokus terhadap Anggi, katanya kemaren kalian menikahkan?" tanya Rey.
"Iya, Rey."
"Nah, sekarang kamu udah punya tanggung jawab, jangan pernah ulangin kesalahanmu di masa depan nanti!" ucap Rey yang langsung dipeluk oleh Devan.
"Makasih, Rey, sekali lagi gue minta maaf ya!" ucap Devan lirih.
******
Setelah bertemu dengan Devan dan Anggi, kini Rey dan Gita telah berada di ruangan tempat Kevin dirawat. Sungguh sakit hati Rey saat melihat kondisi papanya yang seluruh tubuhnya penuh dengan alat-alat medis.
"Pah, makasih ya, udah nyelametin Gita, Papa cepet bangun, katanya Papa mau lihat cucu Papa," ucap Gita berada tepat di samping Kevin.
"Pah, Rey kangen Papa, Papa cepet sadar, ya! Rey baru aja ketemu sama Papa, bahkan baru beberapa bulan. Rey takut, Rey takut kehilangan Papa lagi, Rey mohon, Paj! Kembali ke sisi kami lagi, kasihan mama, kita baru aja bisa berkumpul, sekarang malah Papa yang mau pergi, Rey mohon, Pah! Cepet sadar ya!" kata Rey, tetapi, tiba-tiba Kevin menjadi sesak nafas, dan kejang, Rey panik begitu pula dengan Gita.
"Pah! Papa! Papa!!" ucap Gita dan Rey panik.
"Papa kenapa? Bangun, Pah! Mas, panggil dokter, cepat!!" teriak Gita panik.
"Dokter! Dokter!" mendengar teriakan Rey, keluarga yang berada di luar ruangan ikut panik.
"Ada apa, Rey?" tanya mereka.
__ADS_1
"Panggil dokter! Dokter!" teriak Rey, dan dokternya pun datang.
"Dokter, papa, Dok?" ucap Rey panik.