
"Sini Rey, papa bantuin bangun!" ucap Farhan mengulurkan tangan dan langsung disambut oleh Rey.
"Terima kasih, Pah," ucap Rey.
"Iyaa, sebagai gantinya kamu sama Gita harus cepet-cepet kasih papa cucu!" seru Farhan.
"Hah, bener tuh, mama udah nggak sabar nimang cucu," ucap Ina ikut menimpali.
"Papa sama Mama doain aja ya, kami pun nggak nolak kok," balas Gita.
"Iya, Pah, Mah. Rey pun pengen punya anak," kata Rey juga.
"Udah kalian juga jangan kebawa pikiran, nikmati aja prosesnya, kalau rezeky pasti nanti cepetan jadi," ucap Farhan mengelus kepala Rey dan dengan sengaja mencabut beberapa helai rambutnya.
"Aukhhhh sakit, Pah," ucap Rey mengaduh karena rambutnya yang kecabut memberikan rasa sakit sesaat tetapi cukup membuat kaget.
"Eh, maaf, papa nggak sengaja tadi," ucap Farhan sembunyi.
"Maaf Rey, rambut kamu papa ambil untuk sample DNA kamu besok" ucap Farhan dalam hati.
Sedangkan Ina yang melihat hal itu hanya tersenyum, karena rencana mereka untuk membuat Rey bertemu dengan ayah kandungnya.
"Wah, Papa geraknya gercep banget yak, wkwk," ucap Ina dalam hati.
Di sisi lain, Kevin baru saja sampai rumah, tapi sebelum sampai rumah, dia sekilas melihat seseorang yang sangat tak asing baginya, tetapi siapa? Dia pun masih belum terlalu tau, sampai sekarang dia masih memikirkannya.
Sebenarnya siapa wanita tadi, kok aku nggak asing ya? Pikir Kevin tetapi terhenti karena ponselnya berdering tanda ada yang sedang menelfonnya.
"Hallo, Pak?"
"Iya Pak Farhan, ada apa?"
"Ehmm, saya sudah dapet sample DNA Rey."
"Benarkah, Pak?"
"Iya, besok kita jumpa di RS kota."
__ADS_1
"Baik, Pak, tarima kasih."
"Sama-sama, Pak."
Tutt....
***
KEVIN POV
Setelah mendengar kabar dari Pak Farhan, entah mengapa seakan duniaku telah kembali, harapan yang sudah lama pupus dan aku buang jauh kini malah datang kembali, aku berdoa bahwa kabar ini memang benar adanya.
Sudah lama aku kehilangan belahan jiwaku, bahkan istriku juga menjadi korban, aku benci sama keaadan dua puluh satu tahun yang lalu, karena keteledoranku, aku sampai harus kehilangan orang yang selalu ada di sisiku, tapi sudahlah, sekarang tidak lagi, sudah saatnya aku bangkit, karena pada akhirnya sebentar lagi aku akan bertemu dengan putraku.
Besok adalah hari di mana aku melakukan test DNA, bukan aku tak percaya kalau dia adalah putraku, tetapi aku takut dia yang tak percaya, jadi aku akan membuat dia percaya, aku tak tau dia akan menerima aku atau tidak, kalaupun dia tak menerimaku aku akan terus berjuang mencuri hatinya, tetapi jika dia menerimaku, maka aku akan menjadi orang yang paling bahagia, tetapi mungkin dia juga akan sedih karena saat dia tahu orang tuanya, tetapi sudah tidak lengkap, karena ibunya telah lama meninggal saat berusaha menyelamatkan semua orang termasuk aku dan anakku.
Akan tetapi mau bagaimana pun aku tak kan mundur, aku akan berusaha mendapatkan kebahagiaan ku yang sirna dua puluh satu tahun yang lalu, karena aku sudah berjanji kepada istriku dan aku pun tak akan menyia-nyiakan pengorbanannya. Aku pun harus mengembalikan cucu kesayangan papa dan mama, penerus keluarga Pratama.
Key, sebentar lagi aku akan menjumpai anak kita, semoga kau senang di sana karena pada akhirnya aku bisa menemukan Abi kita. Betapa beruntungnya Abi karena dia dirawat oleh keluarga yang sangat baik.
KEVIN POV
"Dasar bodoh kalian! Hanya saya suruh jaga satu orang aja tak becus!" bentak Pasya.
"Maaf bos, dia tadi berusaha kabur, tetapi kami udah menangkapnya kembali, dan sekarang dia masih dalam pengaruh obat bius agar tak berulah lagi," jawab orang itu.
"Jaga yang bener! Kalau sampai dia lolos, saya sendiri yang akan ngebunuh kalian!" ancam Pasya dan langsung menutup telfonnya.
Sungguh, karena hal ini dia sangat emosi, dia tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya kalau orang yang selama ini dia tahan malah kabur, untung anak buahnya gercep.
"Akhhhh pusing mikirin ini, belum lagi anak muda yang mirip Kevin itu, akhhh mending aku ke salon, udah beberapa ini aku tak perawatan," ucap Pasya pada dirinya sendiri.
*****
"Yang, kamu udah enakkan belum?" tanya Rey ke Gita.
"Udah agak mendingan, tapi kalau aku bangkit kepala aku pusing banget," jawab Gita.
__ADS_1
"Yaudah yuk tidur! Lagian udah malem juga, biar kamu besok vit, dan kita bisa bikin Reyhan junior," ucap Rey seloroh.
"Ets, tak semudah itu Ferguso," ucap Gita tiba-tiba.
"Emangnya kenapa, Yang?" tanya Rey heran.
"Hehe, aku tadi baru aja kedatangan tamu bulanan," ucap Gita cengar-cengir.
"Hah, di mana kamu sembunyiin orang itu? Kok kamu nggak izin sih sama aku? Kamu selingkuh ya?" tanya Rey bertubi-tubi.
"Hush! Mana ada aku selingkuh," jawab Gita.
"Terus di mana kamu sembunyiin tamunya?" tanya Rey karena dia memang belum faham atas kata-kata kiasan yang telah diberikan sang istri.
"Astaga, kok tiba-tiba suamiku jadi polos-polos keparat, kemana kau bawa suamiku yabg cool dan manly Ya Tuhan?" gerutu Gita.
Karena melihat Rey yang sedari tadi keliling kamar, sampai melihat kamar mandi bahkan kolong tempat tidur, Gita pun memutuskan untuk menjelaskan kata-katanya, ada-ada aja suami satu ini.
"Mas, kamu nyariin apa sih?" tanya Gita sebel karena dicuekin.
"Tamunya kamu," jawab Rey singkat.
"Ch, maksud tamu bulanan itu aku lagi menstruasi loh, kamu gimana sih, calon CEO tapi hal sekecil itu tak paham!" jelas Gita sebel tetapi hal mengejutkan pun terjadi .
"Hah, jadi keluar darah dari itu kamu, sini mas lihat!" ucap Rey kaget.
"Apaan sih mas!" jawab Gita malu, sebab hal yang akan dilakukan sang suami sungguh di luar logika, bisa-bisanya ya.
"Sini mas lihat, mas khawatir loh," ucap Rey semakin mendramalisis, dan seakan-akan hal mesum berlindung kata khawatir.
"Tau ah, dasar suami mesum," jawab Gita ketus. "Udah nggak apa-apa juga, masik aja mau modus," cibir Gita lagi.
"Sesekali, Yang, jadi mas harus libur berapa hari ini?" tanya Rey lesuh dan menjadi hal menyenangkan tersendiri bagi Gita saat melihat sang suami sedang bersedih karena harus libur.
"Hemmm, sekitar seminggu bahkan bisa lebih," jawab Gita, sontak Rey terbelalak, dia terkejut mendengar jawaban Gita.
"Hah, lama banget, kalau mas pengen gimana?" tanya Rey semakin lesuh.
__ADS_1
"Ya solo lah, hahahaha," ejek Gita tertawa terbahak-bahak.
"Sial, lihat aja setelah siap mens kamu, mas gempur kami sampai nggak bisa jalan," gerutu Rey.