Adikku Is My Wife

Adikku Is My Wife
Soto buatan Rey


__ADS_3

Kini Rey dan Gita masih dalam perjalanan menuju klinik sebab Gita tak mau ke Rumah sakit, jadi mereka memutuskan untuk ke klinik saja, tetapi di dalam perjalanan Gita melihat sebuah warung di pinggir aslpal, warung itu menjual pecel, mie rebus, baso, dan soto.


"Mas, berhenti di sini!" ucap Gita tiba-tiba.


"Ada apa sih, Yang, bentar lagi nyampek juga," seru Rey.


"Itu, aku mau soto di warung itu, Mas, berhenti dong!" pinta Gita.


"Nanti aja ya pulangnya!" ucap Rey.


"Aku maunya sekarang, hiks, aku mau itu!" Tiba-tiba Gita menangis karena keinginannya tak dipenuhi, sungguh entah mengapa satu harian ini Gita seperti anak kecil, apa-apa nangis.


"Eh kok kamu nangis, Yang? Jangan nangis dong, iya kita putar balik," ujar Rey.


Istri aku kenapa sih, saat keinginannya tak dipenuhi, dia malah nangis seperti anak kecil.


"Cepet, Masss!" teriak Gita marah mengagetkan sang suami dari lamunannya.


"I-iya iya," Rey kaget dan gugup.


Hah, sekarang tiba-tiba marah-marah, ada apa sih? Kok tingkah Gita sungguh aneh hari ini.


Sesampainya mereka di warung itu, Gita langsung keluar dari mobil dan berjalan cepat ke warung itu, sedangkan Rey, dia hanya bisa geleng-geleng melihat sifat baru istrinya.


"Mas, ayo dong, lama banget sih!" teriak Gita kepada suaminya.


"Iya iya bentar." Rey pun mempercepat jalannya, kini mereka telah duduk di tempat yang telah disediakan oleh pemilik warung makan itu.


"Mau pesen apa, Pak, Bu?" tanya pemilik warung itu.


"So--" kata Rey terpotong oleh sang istri.


"Soto satu, Bu! Tapi yang buat suami saya, boleh, Bu?" tanya Gita yang membuat pemilik warung itu tersenyum sedangkan Rey, dia cengo mendengar permintaan istrinya, bagaimana tidak? Dia bahkan tak pernah memasak, kini sang istri malah ngelakuin hal itu, Rey berfikir dia sedang dikerjain.

__ADS_1


"Mas nggak bisa, Yang!" tolak Rey seketika membuat Gita menjadi sedih, entah mengapa Gita mudah sekali bersedih, dia kini menunduk terisak.


"Yah, kok kamu nangis sih, Yang?" tanya Rey panik, sedangkan pemilik warung, dia sedang berusaha menahan tawanya, sungguh kejadian yang menghibur.


"Mas nggak sayang sama aku lagi! Hiks, hiks...." ucap Gita terisak.


"Iya iya, mas buatin," pasrah Rey seketika Gita langsung tersenyum penuh kemenangan, karena keinginannya akan segera terpenuhi.


"Yaudah, ayo lewat sini, Pak!" ucap pemilik warung itu mempersilahkan.


Saat sudah sampai di dapur warung, Rey bingung harus memulainya dari mana, dia pun meminta bantuan pemilik warung itu, sekisar 20 menit baru selesai satu porsi soto, tak tau rasanya seperti apa, yang terpenting udah jadi. Pikir Rey.


"Bapak yang sabar ya, terkadang kalau lagi hamil, perempuan itu sifatnya banyak berubah, suasana hatinya berubah-ubah, dan permintaannya harus dituruti, itu namanya nyidam," jelas pemilik warung itu yang membuat Rey mematung.


"Ha-hamil, Bu?" tanya Rey tak percaya.


"Iya, Pak," kata pemilik warung itu membuat senyuman terpancar di wajah Rey, kini dia semakin bersemangat, meski tak tau pastinya, setidaknya ada harapan, ya kalau tak jadi ya buat lagi. Pikir Rey.


"Makasih infonya ya, Bu," ucap Rey.


"Silahkan, Yang!" ucap Rey.


"Makasih, Mas," ujar Gita dan langsung menyantapnya dengan lahap sehingga membuat Rey jadi bangga pada diriya sendiri, dia mengira bahwa soto buatannya enak rasanya.


"Enak ya, Yang?" tanya Rey.


"He'em," jawab Gita mengancungkan jempol, karena penasaran Rey pun mencicipinya dan....


Huek....


Huek....


"Air air!" ucap Rey memuntahkan soto yang dia cicipi tadi.

__ADS_1


Setelah selesai minum, dia pun menarik soto yang tengah dimakan oleh sang istri, sontak membuat Gita jadi marah karena makanannya malah di ambil.


"Mas, baliki dong, tanggung itu!" teriak Gita


"Enggak, nanti kamu sakit perut, ini nggak enak, nanti minta buatkan sama ibu itu aja," ucap Rey yang membuat Gita malah menangis.


"Huaaaaa, balikin soto aku, aku nggak mau yang lain!" Tangis Gita kuat.


"Eh, jangan nangis dong, nanti dikira orang mas nyakitin kamu," ucap Rey panik tetapi bukanya berhenti Gita malah semakin menambah volume suara tangisnya.


"Huaaaaaaaaa, balikin!" Tangis Gita  semakin kuat.


"Iya iya, nih udah jangan nangis lagi!" Rey mengembalikan soto sang istri, dengan sigap Gita kembali memakan soto itu dengan cepat, dia tak ingin makanannya malah diambil lagi oleh Rey.


Gila, beneran istri gue hamil, haduh jadi gue harus sabar selama sembilan bulan? Ngadepin emosinya yang naik turun.


********


"Gimana, Pak, Anda maukan ketemu istri saya di Bandung?" tanya Kevin yang sekarang tengah mengobrol bersama Farhan dan Ina di kediaman Nataiel.


"Tentu dong, Pak, kami pasti ikut, Rey pasti sangat bahagia mengetahui kalau ibunya ternyata masih hidup," seru Farhan.


"Iya, Pak, kita berangkat entar sore aja sekalian nunggu Rey dan Gita yang sekarang sedang memeriksakan kesehatannya," timpal Ina.


"Yaudah, kalau gitu saya pergi dulu ke perusahaan, tadi saya meninggalkan pekerjaan  begitu saja," Kevin pamit dan berlalu meninggalkan mereka.


*******


"Tinggal satu hari lagi, abis itu aku akan bebas dari tempat ini, setelah itu aku akan membantu tante," ucap Maya di balik jeruji besi, kemarin dia mendapat telpon dari tantenya mengenai keluarga Rey, kebetulan sekali mereka sama-sama punya dendam, mereka pun telah merencanakan sesuatu secara bersama tentunya.


****************


Hai guys, maaf aku telat upnya, seharian ini aku sibuk banget, jangan lupa like sama komen yang banyak, kita santai-santai dulu, sebentar lagi konflik selanjutnya akan meluncur.

__ADS_1


SEE YOU ALL.


__ADS_2