
Kini Rey dan Gita sudah berada di perjalanan menuju Bandung, tak lupa pula Kevin, Farhan, dan Ina juga ikut serta, mereka berangkat telat pukul lima sore tadi. Sungguh, di sisi Rey, dia sangat penasaran ingin bertemu dengan ibu kandungnya, itu juga berlaku untuk Gita, dia juga penasaran sekaligus deg-degan karena ingin berjumpa dengan mertuanya, kata orang, mertua tak sebaik orang tua kandung, jadi kini Gita juga merasa nerves.
Sedangkan di sisi lain, Kevin juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan belahan jiwanya yang telah menghilang selama dua puluh satu tahun, dia sangat rindu dengan sang istri tercinta.
Ina dan Farhan sangat heran dengan tiga orang ini, dua orang senyum-senyum sendiri sedangkan yang satunya malah berkeringat seperti Author kalau disuruh presentasi di depan kelas.
(Jujur amat Authornya, wkwk).
Kebetulan mereka semua memutuskan untuk berangkat menggunakan satu mobil berhubung sudah sore dan mungkin sampai sudah malam, jadi mereka berfikir alangkah baiknya jika satu mobil, supaya terhindar dari bahaya di luar sana.
"Kalian kenapa sih, senyum-senyum sendiri, gila ya?" tanya Farhan ceplos membuka percakapan.
"Hih, Papa tanya atau ngumpat sih?" tanya Ina kesel.
"Abisnya kita dianggurin, pada senyum-senyum sendiri, nah itu bumil malah keringet dingin, mules tuh perut?" tanya Farhan nyeleneh lagi.
"Papa apaan sih, aku gerogi tau mau ketemu mama mertua aku," ucap Gita ketus, sebab dia sudah nerves malah dicandain sama Farhan.
"Hahaha, kenapa harus gerogi, Nak? Mama mertua kamu nggak makan orang kok," jawab Kevin.
"Tetep aja, Pah, rasanya gimana gitu bawa-annya tetep nerves," ucap Gita.
"Nggak apa-apa, Yang. Wajar itu, mas aja dulu gerogi, hihi." Nimbrung Rey becanda.
"Dasar anak kurang ajar! Kapan kamu gerogi sama mama, yang ada malu-maluin iya," jawab Ina ketus.
"Canda, Mah, haha," ucap Rey. "Jangan gugup, Yang, lagi pula mas juga sangat penasaran dengan mama kandung mas, ceritain dikit, Pah, tentang mama kandung Rey!" pinta Rey.
"Iya, ceritain dikit, Pah!" pinta Gita juga.
__ADS_1
"Iya, Pak. Kami juga penasaran seperti apa Ibu Kesya," ucap Ina juga ikut menimpali perkataan anak anaknya.
"Baiklah, saya akan ceritakan sedikit, Kesya adalah orang yang sangat baik, ramah, cerdas, dan juga cantik, tetapi dia berasal dari keluarga sederhana. Saya bertemu dengan dia pertama kali saat di bangku perkukiahan, dia kuliah di kampus dan jurusan yang sama dengan saya, tetapi dia kuliah dari beasiswa yang diraihnya di SMA tempat dia sekolah dulu," ucap Kevin.
Flasback....
Di sebuah Universitas ternama di Bandung, lebih tepatnya di kelas tempat Kevin menuntut ilmu, sembari mengejar titel sarjana, di dalam kelas itu Kevin tengah asik mengobrol dengan sahabat baiknya, Pasya sembari menunggu dosen masuk.
"Sya, gimana dengan keadaan bokap lo?" tanya Kevin kepada Pasya.
"Alhamdulillah, Vin, papa gue udah baikan, semalam sudah diperbolehkan pulang sama pihak Rumah sakit," jawab Pasya.
"Syukur deh, yaudah gue entar pulang dari kampus mampir ke Rumah elo, jenguk Om Ridwan," ujar Kevin.
"Makasih ya, Vin. Jadi ngerepotin," ucap Pasya.
"Tapi gue nggak mau jadi sahabat lo, Kevin, gue pengen elo jadi milik gue!" ucap Pasya dalam hati.
"Sya, kok lo diem aja sih?" tanya Kevin menepuk pundak Pasya dan membuat sang empunya tersadar dari pikirannya.
"Eh i-iya, maaf gue nggak fokus tadi," ucap Pasya beralasan.
"Elo kenapa sih?" tanya Kevin lagi.
"Nhgak apa-apa kok, btw nanti katanya ada mahasiswa baru loh yang mau masuk ke kelas kita," ucap Pasya mengalihkan pembicaraan.
"Oh...." jawab Kevin singkat.
"Kok oh doang sih?" tanya Pasya sebal sebab Rey sangat dingin pada orang yang belum dia kenal.
__ADS_1
"Jadi aku harus apa?" tanya Rey bingung.
"Ya apa kek, jangan kayak tunggul yang diem aja!" ujar Pasya.
Tak lama kemudian seorang dosen masuk ke kelas membawa seorang mahasiswi baru bersamanya. Semua mulai berbisik-bisik, mencari tahu siapa yang dibawa oleh dosen Univ itu.
"Selamat siang semuanya?" sapa Dosen itu ramah.
"Siang, Bu!" jawab mereka serentak.
"Itu siapa, Bu?" tanya salah satu mahasiswa itu.
"Oh iya, ini adalah Kesya Fadillah, mahasiswi baru di sini. Dia hebatloh, dia kuliah lewat jalur beasiswa yang diadain di SMA-nya dulu," ucap Dosen itu memperkenalkan Pasya.
"Hai semua, salam kenal semuanya. Saya harap kita bisa saling kerja sama," ucap Kesya barusan membuat Kevin membelalakkan mata mendengar suara seindah itu, wajahnya ya lumayan, cerdas lagi tetapi dia tetap stay cool. Sedangkan mahasiwa lainnya sudah pada secara langsung menembak Kesya, lain pula dengan para mahasiswinya, ada yang senang, ada yang tidak senang akan kehadiran Kesya.
"Hai boleh aku duduk di kursi kosong sebelah kamu?" tanya Kesya kepada Kevin.
"Dia kok ramah banget sih, mana suaranya dan wajahnya indah di pandang lagi," kata Kevin dalam hati tanpa sadar tak henti memandang wajah Kesya.
"Ehmm, maaf, kamu mau apa?" tanya Pasya membuat Kevin tersadar.
"Eh iya silahkan!" jawab Kevin.
"Terima kasih."
Flashback off....
"Jadi begitulah awal saya bertemu dengan Key, saat itu kami terus bersahabat bertiga, saya, Key, dan Pasya, tetapi dari situ saya sadar bahwa tak ada yang namanya pertemanan lain jenis tanpa melibatkan perasaan," ucap Kevin.
__ADS_1