Adikku Is My Wife

Adikku Is My Wife
TAMAT


__ADS_3

"Jadi seperti itu, Dok. Kilas balik asal muasal suami saya trauma," ucap Gita setelah selesai menceritakan semua yang telah mereka lalui.


Gita menggenggam tangan Rey kuat, karena sedari tadi Rey berusaha melawan rasa takutnya, seluruh tubuhnya bergetar, air mata sudah sedari tadi mulai mengalir. Rey benar-benar takut akan peristiwa yang hampir merenggut nyawanya serta nyawa orang yang paling dia sayangi. Indah yang melihat itu merasa iba, di balik sikap tenangnya Reyhan, terdapat kisah yang sangat memilukan.


"Cukup berat ya. Baiklah, mulai besok kita akan memulai terapinya, saya akan menyusun jadwal Anda dan saya berjanji akan membantu Anda, Pak Rey, untuk menghilangkan trauma yang Anda alami," tutur Indah.


"Terima kasih, Dok!" jawab Rey yang sudah mulai tenang.


"Jangan terlalu formal, panggil saja nama saya, Indah! Oh iya, lain kali bawa putri kalian ya, kebetulan saya juga punya seorang putra, mungkin kedepannya anak-anak kita bisa berteman!" ucap Indah.


"Oh ya, siapa nama putra Anda?" tanya Gita.


"Kan sudah saya bilang, jangan terlalu formal!"


"Ya itu kamu juga formal!" jawab Gita.


"Eh iya, maaf ya! Nama anakku adalah Axel, Axel Alexander," ucap Indah.


"Nama yang bagus, dan ayahnya kemana?" tanya Gita.


"Ayahnya juga sibuk, karena beliau juga seorang dokter. Nanti suami saya juga akan membantu untuk menyelesaikan masalah yang sedang kalian alami," jawab Indah. "Oh iya, siapa nama putri kalian?" sambung Indah.


"Nama putri kali Claretta, Claretta Fier Nataniel, biasa kami panggil Rere," ungkap Gita.


"Nama yang bagus, semoga kelak anak-anak kita bisa berteman dengan rukun! Oh iya, boleh saya minta alamat kalian?" tanya Indah.


"Tentu, jangan lupa sesekali singgah ke kediaman rumah kami!" ucap Gita.


"Baiklah, mungkin cukup untuk pertemuan kita hari ini, dan Pak Reyhan, semoga Anda lekas sembuh dan kembali seperti sedia kala!" ucap Indah mengakhiri pertemuan mereka.

__ADS_1


"Terima kasih, mohon bantuannya!"


Setelah bercerita, Rey dan Gita pun keluar dan pergi meninggalkan tempat praktek Dokter Indah. Begitu mereka keluar, Indah juga pergi meninggalkan ruangannya, dia akan pulang ke rumahnya untuk beristirahat, meluangkan waktu untuk keluarga.


"Hah, cerita hidup Gita dan Reyhan sangat memilukan, aku hampir aja terbawa suasana. Coba kalau nggak ada mereka, mungkin aku sudah nangis. Semoga aku dan suamiku bisa membantu menyelesaikan problematika yang sedang mereka hadapi," ucap Indah pada dirinya sendiri saat berada di perjalanan menuju rumahnya dengan menggunakan sebuah mobil.


***


Di sisi lain, ada Devan yang kini sedang berada di rumahnya, bermain dengan sang putra pertamanya, Rizal. Meluangkan waktu barang sejenak untuk keluarga yang dia sayang.


"Izal, yuk main yuk!" ajak Devan membuat balita itu menjadi kegirangan.


Di tengah asiknya ayah dan anak itu bermain, tiba-tiba Anggi datang dan mengatakan sesuatu.


"Dev, kerumah Gita yuk!" ajak Anggi.


"Ish, pakek nanya lagi, ya silaturahmi lah!" Anggi memutar mata malas.


"Besok aja deh, aku capek!" tolak Devan.


"Ikh, sekarang dong, kamu luangnya kan hari ini, besok pasti jadwal kamu padat, ya kan?" terka Anggi.


"Iya, sih!" jawab Devan. "Tapi, aku masih mau main sama Rizal," sambungnya.


"Yaudah, dibawa aja Rizal, di sana kan ada Rere, pasti dia juga senang, sekalian kita lihat keadaan Rey," tutur Anggi.


"Rey? Dia kenapa?" tanya Devan heran.


"Ih, kok lupa sih, paska kecelakaan dulu kan masih berbekas di ingatannya, sampai sekarang dia masih trauma!" jawab Anggi.

__ADS_1


"Oh iya, yaudah yuk kita kesana! Jangan lupa, bawah tangannya, masa ke sana tangan kosong!" suruh Devan.


"Iya iya, bawel!"


Rizal yang melihat percakapan kedua orang tuanya, hanya tertawa girang, mungkin dia merasa pembicaraan mereka sangat lucu, atau karena dia senang akan diajak pergi ke rumah Rere.


***


Kini, Devan dan keluarga kecilnya sudah sampai di kediaman Rey. Bermaksud bersilaturahmi demi mempererat persahabatan mereka yang sempat renggang karena beberapa insident. Berharap, semua hal itu bisa mereka lupakan bersama dengan waktu yang terus berlalu.


Eitss, bukan berarti mereka semua berjauhan yak, karena mereka sedang sibuk dengan keluarga kecilnya. Ada anak yang harus mereka perhatikan dan tentu saja karena pekerjaan yang sangat menyita waktu. Apalagi, Rey sudah menjadi pemilik perusahaan orang tuanya, dan Devan juga sama. Mereka memiliki amanah yang harus Mereka jalankan.


***


Hari demi hari terus berlalu, pengobatan yang selama ini dijalani Rey dengan bantuan Indah telah berhasil membantu menghilangkan traumanya. Seluruh keluarga sangat bahagia atas kesembuhan Rey yang pada akhirnya, mereka bisa kembali menikmati hari-hari bersama dalam membesarkan Rere yang semakin hari semakin aktif.


Btw, karena Rey yang menjalankan pengobatan dengan Indah. Kini mereka semua telah menjadi teman yang sangat dekat. Devan, Anggi, beserta putra mereka, Rizal. Indah dengan suaminya, beserta dengan putranya juga, Axel. Lalu, Rey dan Gita dengan putrinya, Rere. Yang kini telah menjadi sahabat dekat.


**********


Hai kaka reader, maaf ya author kelamaan hiat, author lagi fokus sama sekolah yang kini banyak menyita waktu, sekali lagi maaf yak.


Maaf ya, novel ini akan slow update karena author lagi mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian yang sebentar lagi akan dilaksanakan.


Sampai jumpa di lain waktu


Salam hangat dari Udden


Papayo

__ADS_1


__ADS_2