Adikku Is My Wife

Adikku Is My Wife
Trauma....


__ADS_3

1 tahun kemudian....


"Gitaaaa!!!"


Jam menunjukkan pukul dua pagi, di tengah keheningan malam, Rey terbangun dari tidurnya dengan berteriak, membuat siapa saja yang berada di dekatnya terkejut. Istrinya --Gita, juga ikut terbangun, karena dia kembali dikejutkan oleh sang suami di sepertiga malam.


"Mimpi buruk lagi, Mas?" Gita bangkit dan mengambil segelas air, lalu memberikannya kepada Rey. "Nih, minum dulu, biar tenang!" suruh Gita.


Rey pun meminum air yang telah diberikan istrinya, setelah meminum air itu, Rey mulai merasa lega, perasaannya menjadi lebih tenang. Gita dengan sabar mengelus punggung sang suami.


"Maafin Mas ya! Udah buat kamu bangun lagi tengah malam," ucap Rey.


"Nggak papa, Mas. Yaudah, yuk kita tidur lagi!" ajak Gita.


"Bentar, Yang. Mas mau lihat Rere dulu, mungkin dia kebangun karena teriakan Mas tadi." Rey bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah tempat tidur bayi yang letaknya tepat di samping tempat tidur mereka. Gita juga ikut bangun, mengikuti suaminya.


"Kan bener, Rere bangun, Yang!" ucap Rey.


"Maafin Ayah ya, Nak. Kamu jadi kebangun karena Ayah." Rey mengangkat Rere untuk digendongnya.


"Dengaren Rere nggak nangis ya, Mas?" ucap Gita.


"Iya, mungkin karena dia sudah terbiasa, maafin Ayah ya, Nak!" Rey terus menggendong Rere, berharap bayi itu tidur kembali.


"Sini, Mas! Mungkin dia laper, makanya tak tidur-tidur," pinta Gita.


Rey pun memberikan bayi itu ke bundanya untuk diberi ASI, berharap dengan begitu, Rere mau kembali tidur.


"Uluh-uluh, anak Bunda bangun, iya? Kaget, ya? Maafin Ayah ya!" Gita memberikan ASI kepada sang putri, dengan sigap, sang bayi langsung menghisapnya dengan kuat.


Beberapa menit kemudian....


Rere sudah kembali tidur, kini Rey dan Gita juga kembali ke tempat tidur, ingin kembali melanjutkan tidurnya yang terjeda akibat sebuah mimpi buruk.


"Mas, besok kita ke Psikiater ya! Kita periksa kembali, aku kasian melihat kamu yang selalu ketakutan karena trauma yang kamu derita pasca insident satu tahun yang lalu!" ajak Gita kepada sang suami.


"Mas takut, Yang."


"Mas harus berani, ini demi kesehatan Mas sendiri, ingat loh, Mas masih punya istri dan bayi yang masih terlalu kecil, kalau Mas kalah, siapa yang mau jagain kami?" tutur Gita membuat Rey menunduk.


"Baiklah, besok Mas akan pergi ke Psikiater," jawab Rey.


"Makasih, Mas. Mas tenang aja, aku akan temani sampai Mas benar-benar sembuh dengan trauma yang Mas alami," ujar Gita memeluk suaminya.


"Makasih juga, karena tetap di samping Mas, meski keadaan Mas seperti ini!"

__ADS_1


"Aku juga minta maaf, Mas. Karena aku, kamu harus menderita seperti ini, aku janji akan selalu ada di sampingmu sampai maut yang memisahkan kita," ucap Gita dalam hati.


Gita merasa kalau sekarang yang dialami suaminya itu akibat dirinya, sehingga membuat Rey menjadi trauma berkepanjangan.


"Mas minta maaf, Yang, karena selama ini selalu ngerepoti kamu dengan trauma yang Mas derita, Mas janji sembuh, Mas akan selalu berada di samping kalian!" batin Rey, dia menekadkan dirinya, dan berjanji akan segera sehat demi keluarga kecilnya.


Setelah saling menguatkan, pada akhirnya mereka memilih kembali tidur, meskipun jam sudah menunjukan tepat pukul tiga pagi, mungkin mereka sangat kelelahan dengan segala aktivitas di siang hari, apalagi sekarang mereka telah direpotkan dengan kedatangan seorang malaikat kecil yang usianya baru menginjak enam bulan. Ya, dia adalah Claretta Ardhifah, putri kesayangan Rey dan Gita yang lahir enam bulan yang lalu.


***


Keesokan harinya....


Rey dan Gita telah berada didapur, lebih tepatnya di meja makan, bersama dengan Farhan dan Ina. Mereka akan sarapan terlebih dahulu untuk mengisi tenaga, sebelum menghadapi segala aktivitasnya yang cukup menguras energi.


"Rey, ehmm kamu mimpi buruk lagi, Nak?" tanya Ina.


"Iya, Mah," jawab Rey sendu, dia bersedih karena bukan hanya sekali dia bermimpi buruk, tetapi entah sudah berapa kali sejak enam bulan yang lalu.


"Kasihan kamu, Rey. Kalian nggak ada rencana pergi berobat kembali?" Gantian Farhan yang bertanya.


"Gita udah ngusulin, Pah. Tetapi, Rey takut gagal lagi, karena pengobatan kami yang pertama tak membuahkan hasil, semua hanya sia-sia," jelas Rey.


"Kamu nggak boleh gitu, Rey. Yang namanya berobat itu harus yakin kalau kamu bakalan sembuh. Insya Allah, kalau kamu berikhtiar pasti yang kuasa akan membantu kamu untuk sembuh!" tutur Farhan. "Apalagi, sekarang tanggung jawab kamu sudah bertambah, ada Rere yang harus selalu kamu jaga, apalagi anak kamu itu perempuan!" sambung Farhan lagi.


"Bener kata Papa kamu, Nak. Kamu harus yakin kalau kamu bisa sembuh!" Ina ikut menimpali perkataan sang suami.


"Mas tenang aja ya! Aku akan temani Mas ke Psikiater, kita cari Psikiater yang terbaik, agar Mas cepat kembali seperti dulu lagi!" Gita menyemangati sang suami.


"Makasih, ya!"


"Oh iya, cucu kesayangan Mama mana nih? Belum bangun?" tanya Ina.


"Belum bangun apaan, itu lagi main sama bibi di kamar tuh," jawab Gita.


"Oh yaudah, biarin aja dulu, entar Omah sama Opahnya nanti yang nyamperin."


Mereka pun melanjutkan sarapannya. Setelah sarapan, seperti biasa Rey pamit untuk pergi ke kantornya. Apalagi, sekarang dia telah mengurus dua perusahaan besar yang sudah memiliki cabang di mana-mana.


Di sisi lain, ada Devan dan Anggi yang kini tengah bermain dengan putra mereka yang usianya hampir menginjak satu tahun. Nama bayi itu adalah Rizal, Rizal Hardian.


"Izal, ayo sini sama Papa!" panggil Devan saat melihat sang jagoannya tengkurap di tempat tidur. Tetapi, yang dipanggil hanya tertawa, membuat Devan menjadi gemas, lalu mendekat dan menggendongnya sambil mencium seluruh wajah Rizal, membuat Rizal menjadi menangis.


"Tuh kan, Izal nangis! Kamu sih jahil banget!" tegur Anggi.


"Hehe, habisnya dia gemesin, yakan, Izal?" Devan mengajak Rizal berbicara, tapi Rizal malah semakin kuat nangisnya.

__ADS_1


"Tuh kapok! Diemin, aku nggak mau tau!"


"Yah, aku mau ke kantor, Mah. Mamanya Rizal yang cantik, nih anaknya, Papanya Rizal mau kerja dulu, buat beli susu Izal." Devan dengan licik memberikan Rizal ke Anggi, tentu Anggi tak dapat menolaknya.


"Huh, dasar!"


"Yaudah, Aku mau ke kantor dulu, kalian di rumah baik-baik ya! Izal juga jangan nakal ya, kasihan Mama! Dadah!" Devan pun pergi meninggalkan istri dan putra kesayangannya di rumah untuk pergi bekerja.


***


Di dalam perjalanan menuju kantor, Rey tiba-tiba dihalang oleh seorang wanita yang membuat dia terkejut bukan kepalang. Wanita itu tiba-tiba meminta untuk diantar ke suatu tempat. Dari gelagatnya, sepertinya wanita itu sedang dalam keadaan yang cukup darurat.


"Pak, tolong saya! Tolong antarkan saya ke tempat ini, tolong, Pak! Ini darurat." Wanita itu terus mengetuk pintu mobil, membuat Rey kebingungan dan karena terbawa suasana, Rey pun membukakan pintu mobil dan menyuruh wanita itu untuk masuk.


"I-iya, silahkan, Bu!"


"Terima kasih, tolong antarkan saya ke tempat ini, di sana ada pasien saya yang sedang mengamuk," pinta wanita itu sambil mengatur nafasnya.


"Emangnya Anda seorang dokter ya?" tanya Rey.


"Saya seorang Psikiater, nama saya adalah Indah, panggil saja saya Dokter Indah!" ucap wanita itu memperkenalkan diri.


"Oh, kenalin, saya Reyhan!"


"Hai, Pak Reyhan!"


***************


Hai kaka reader, maaf ya kemaren nggak up, author bener-bener sibuk, tolong maafkan ya!


Oh iya, jangan lupa!


Like


Komen


Favorite


Rate


Vote


Semangat Author menurun, sebab sekarang semakin sedikit yang ngedukung karya aku. Mohon bantuannya semua, tetap dukung karya pertama aku.


Sampai jumpa lagi.

__ADS_1


See You All.


__ADS_2