
Setelah Rey pulang dari kantornya, dia menceritakan segala sesuatu yang dia alami hari ini, dari betapa lelahnya mengurus dua perusahaan besar, sampai bertemu seorang wanita yang tiba-tiba menyetopnya di tengah perjalan menuju kantor.
Gita yang mendengarkan segala cerita sang suami, dengan setia dia tak mengeluh. Mungkin, dengan mendengarkan segala cerita Rey, dapar mengurangi rasa lelah Rey yang dialaminya sendiri.
"Oh iya, Yang, tadi ada seorang wanita yang menyetop Mas di tengah jalan," ucap Rey, membuat Gita menjadi penasaran siapa wanita itu.
"Siapa, Mas, dan kenapa dia nekad sekali nyetop di tengah jalan?" tanya Gita.
"Namanya Indah, dia seorang Psikiater. Perihal dia nyetop Mas di tengah jalan karena keadaan darurat, pasienya sedang mengamuk, dan pada saat itu tak ada angkutan umum yang melintas." Rey menceritakan pengalamannya yang sangat unik menurut Gita.
"Wah, berarti dia seorang dokter yang berdedikasi tinggi! Jarang loh ada seorang dokter yang sangat mengkhawatirkan pasiennya sampai seperti itu!" Gita memberi aplouse kepada wanita itu.
"Iya, Yang. Karena Mas bingung, Mas bukain dia pintu, dan Mas antarkan ke rumah pasiennya," ujar Rey.
"Oh iya, Mas, tadi kata Mas dia itu seorang Psikiater kan?" tanya Gita antusias.
"Iya, Yang."
"Mas, kamu berobat sama dia aja, mana tau kamu bisa sembuh!" usul Gita.
"Kamu yakin, Yang? Tadi Mas juga sempat minta kartu namanya," ujar Rey.
"Iya, Mas. Kamu berobat sama dia aja."
"Yang, dia masih muda loh, seger!" Rey menggoda Gita.
"Berani macam-macam!" Gita mengarahkan tangannya ke lehernya, dan menggerakkan tangannya seperti orang yang ingin menebas leher.
Rey yang melihat itu bergidik ngeri, ternyata istrinya tak bisa diajak bercanda hal yang seperti itu. Gita bangkit dan meninggalkan Rey sendirian. Sukses sudah, Gita kembali ngambek.
__ADS_1
"Yang, Mas bercanda, maaf ya!" ucap Rey.
"Yang! Yang!" panggilnya yang tak direspon oleh sang istri.
***
"Huh, untung ada Pak Reyhan tadi, kalau tidak, tak tau apa yang akan terjadi dengan pasienku," ucap Indah.
"Kalau diingat-ingat, pria itu sangat baik, dia mau menolong orang di tengah kesibukannya yang padat, tapi tadi dia meminta kartu namaku, buat apa ya?" Indah berfikir buat apa Reyhan meminta kartu namanya, sementara tadi mereka sempat berkenalan.
Flashback....
"Sudah sampai, Bu!" ucap Reyhan memberi tahukan kalau mereka telah sampai tempat yang dituju.
"Terima kasih, Pak. Saya keluar ya?"
"Tunggu!" Rey tiba-tiba menghentikan Indah yang ingin pergi.
"Punya, Pak. Memangnya kenapa?" tanya Indah.
"Boleh saya minta kartu nama Anda?"
"Tentu, buat apa, Pak?" tanya Indah lagi.
"Nggak buat apa-apa, mana tau di kemudian hari saya membutuhkan jasa Anda," jelas Rey.
"Oh ini, Pak!" Indah memberikan kartu namanya.
"Terima kasih, kalau begitu saya pergi." Rey pamit dan pergi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
Sedangkan Indah, dia langsung bergegas masuk ke dalam rumah pasiennya.
Flashback off....
"Mama! Mama!" Tiba-tiba datang seorang baby sister yang sedang menuntun seorang anak laki-laki yang usianya satu tahun lebih, membangunkan Indah dari lamunannya.
"Eh, anak Mama, sini, Nak!" Indah merentangkan tangannya.
"Bagaimana, Bi, apa Axel nakal hari ini?" tanya Indah pada baby sister itu. Ya, anak itu adalah Axel Alexander, putranya Indah.
"Tentu tidak, Bu. Den Axel sangat baik, ceria, nggak nangis lagi!" jawab baby sister itu.
"Bapak belum pulang?" tanya Indah.
"Belum, Bu. Tadi katanya juga ada pasien yang kritis di kliniknya," ujar Baby sister itu.
"Oh yaudah, terima kasih, Bu. Sini, Axel biar sama saya aja." Indah pun mengambil Axel dan menggendongnya, membuat balita iti sangat senang.
Sedangkan di sisi lain, ada Farhan dan Ina, Kevin dan Kesya, yang sedang berkumpul di rumah kediaman Nataniel, bermain dengam cucu kesayangannya, Rere. Bahkan, Gita dan Rey tak mendapat kesempatan untuk bermain dengan sang putri, jika sudah kakek dan neneknya berkumpul.
Kehadiran Rere dalam kehidupan mereka merupakan anugerah terindah bagi kehidupa mereka, apalagi setelah dokter mengatakan kalau Rere sudah tak mungkin untuk diselamatkan, kesempatan untuk bertahan sangat kecil.
Mungkin karena hal itu, membuat Rere menjadi sangay disayangi, bahkan dalam sekejab dia sudah menjadi primadona untuk keluarga itu.
*************
Hai, kaka reader. Author up lagi nih, maaf ya bab kali ini sangat sedikit, di rumah lagi kumpul keluarga, jadi nggak enak kalau kelamaan main hp. Jangan lupa tinggalin jejaknya, like, komen, dan kritikannya yak.
Sampai jumpa lagi.
__ADS_1
See you all.