Adikku Is My Wife

Adikku Is My Wife
Penyesalan


__ADS_3

PASYA POV


Aku tak menyangka kalau Maya bisa senekad itu, sedendam itukah dia? Apa aku telah salah karena membantu membalaskan dendamnya? Tetapi, kenapa dia sampai nekad menembak orang. Padahal tadi saja aku hanya berani menggertak, sedangkan dia, bisa sampai senekad itu.


Apa aku salah karena tadi memanggil dia? Dan bagaimana dengan pernikahan Devan? Apa semua bakal berjalan dengan lancar? Ya tuhan, apa adikku akan marah kepadaku?


Aku sungguh menyesal melakukan semua ini, bagaimana  masa depan Maya? Kehidupannya hancur, masa mudanya bakal dia habiskan di penjara. Maafkan tante, karena telah menjerumuskan dirimu, Nak.


Flashback....


"Bos, gawat! Di luar kita telah di kepung polisi."


Anak buahku tiba-tiba masuk memberikan kabar yang membuatku sangat terkejut, aku bahkan tak memprediksi kalau mereka akan secepat itu menemukan kami.


Bagaimana ini, aku hanya menyiapkan beberapa penjaga saja, diluar semua sudah tak berkutik, di dalam hanya tinggal empat orang ini saja, apa yang harus aku lakukan? Maya harus tau hal ini.


"Bos, kok diam aja? Awas loh, nanti kesambet," ucap anak buahku membuatku tersadar dari lamunan. Tunggu, apa tadi katanya? Dasar kurang ajar, berani sekali dia bicara seperti itu kepadaku.


"Apa kamu bilang? Dasar idiot, mau kupecat kau?!!" bentakku kepadanya, bisa-bisanya dia berbicara seperti itu.


"Maaf, Bos. Habisnya bos diam aja seperti orang linglung yang di pinggir pasar," katanya kembali yang  membuat diriku semakin naik darah.


"Jadi, kamu nyamain aku dengan orang gila, hah?!!!" bentakku lagi.


"Mirip sih, Bos."


Haduh, malah semakin ngelantur jawabannya.


"Diaammmmm!!!" bentakku lagi, akhirnya dia mau menutup mulutnya. Cukup sudah berdebat sama preman idiot itu, sebaiknya aku segera menelfon dan mengabari Maya, agar ia bisa membantuku. Setidaknya, dia, bisa membebaskanku dari sini.


"Halo, May?" sapaku pada sambungan telpon.

__ADS_1


"Iya, Tant, ada apa?" jawab Maya.


"Gawat, tante di sini telah dikepung oleh polisi, cepetan cari cara untuk bebasin tante! Setidaknya keluarin tante dari tempat ini. Mereka sudah menemukan tempat ini," ucapku panik.


"Aku harus gimana, Tant?" tanya Maya juga sepertinya bingung.


"Lakuin apa aja, yang penting bebasin tante dulu!" Desakku yang sudah kalang kabut.


"Oke, Tant, aku akan tiba di sana dalam dua puluh menit," jawab Maya seraya mematikan sambungan telfon.


Flashback off


Aku tak menyangka, setibanya dia di sana malah semakin memperkeruh keadaan. Sekarang sudah tak ada yang bisa dilakukan, mungkin ini balasan atas apa yang kuperbuat selama ini. Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku pasti akan membimbing ponakanku kejalan yang benar. Sejatinya memang penyesan selalu datang di akhir cerita.


PASYA POV OFF


********


Di sisi lain Rey juga sangat khawatir akan kondisi papanya -Kevin. Sudah sekitar tiga jam lamanya, setelah paska operasi bedah trauma, pengangkatan peluru yang tadi tertancap di bahu dekat dada bagian kiri tubuh Kevin. Sudah cukup lama mereka menunggu, tetapi, yang ditunggu tak kunjung sadar juga, bahkan sekarang beliau masih berjuang melewati masa-masa kritisnya.


"Ya Tuhan, selamatkan papa hamba. Beri dia kesempatan untuk ada bersamaku kembali, baru hitungan bulan aku bisa bertemu papaku, dan sekarang aku harus menghadapi kenyataan pahit," kata Rey mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sabar, Nak! Yakinlah kalau papamu pasti bisa melewati masa kritisnya." ucap Farhan memberikan sedikit semangat kepada Rey.


"Rey takut, Pah. Rey takut kehilangan Papa Kevin untuk yang kedua kalinya," kata Rey yang benar-benar sedang gundah.


Tak lama kemudian, sampailah Ina dan juga Kesya, setelah tadi diberitahu oleh Farhan akan keadaan Gita dan Kevin.


"Nak, gimana keadaan papa kamu, semua baik-baik ajakan?" tanya Kesya langsung kepada Rey, dia sangat cemas akan keadaan suaminya, betapa terkejutnya dia saat mendapat kabar kalau sang suami mendapatkan luka tembak.


"Papa belum sadar, Mah. Rey juga enggak tahu, padahal sudah sekitar tiga jam lamanya paska operasi tadi." Rey menjawab pertanyaan mamanya dan memeluknya untuk menenangkannya, Rey tahu kalau disini bukan hanya dia saja yang tengah bersedih, tetapi, mamanya juga takut kehilang suaminya. Karena mereka akhirnya bisa kembali bersama setelah dua puluh satu tahun lamanya berpisah.

__ADS_1


"Hiks, Mama takut kehilangan papa lagi, Nak." Tangis wanita itupun sukses pecah karena melihat keadaan  Kevin dari balik kaca ruangan itu. Malihat kondisi tubuh sang suami dalam keadaan yang menyedihkan, terdapat banyak selang, dan alat medis lain di tubuh Kevin.


"Oh iya, gimana keadaan Gita? Apa dia baik-baik aja?" Gantian Ina kini yang bertanya.


"Gita baik-baik aja, Mah, kandungannya dia juga baik-baik saja, dokter tadi hanya menyarankan untuk bedres dan menjaga suasana hatinya agar tak tertekan," jawab Rey sendu saat memikirkan sang istri yang kini juga sedang berbaring di kasur Rumah Sakit.


"Kalau gitu, Mama ketempat Gita dirawat ya, oh iya, dimana tempatnya?" tanya-nya kepada yang lain.


"Iya, Mah, ruangannya di lorong ini kamar nomor sembilan." Farhan menjawab pertanyaan dari istrinya.


"Mama tinggal dulu ya, biar yang jaga Gita, Mama aja," tawar Ina.


"Makasih, Mah."


*******


Sedangkan di sisi lain, Devan dan keluarganya sangat terkejut saat mendapat kabar kalau adik dan tantenya ditahan di kantor polisi, padahal mereka baru saja merasa bahagia karena anak sulung mereka yang baru saja menyelesaikan ijab kabulnya, tetapi, kebahagiaan mereka hanya sekilas akibat terbanting kenyataan yang membuat mereka malu saat mendengar alasan kenapa Pasya dan Maya bisa ditahan.


"Udah kakak bilangkan, jangan ganggu mereka lagi! Kenapa kamu tidak mau dengar? Dan kenapa kamu sampai tega menculik Gita, hah?!!" teriak Devan kepada adiknya yang benar-benar tak punya hati.


"Papa sama Mama kecewa sama kamu, May. Ternyata, selama ini kami telah gagal mendidikmu, sehingga dengan teganya kamu menjadi psikopat, dengan beraninya kamu menembak orang, kamu udah buat keluarga malu," ucap Frans selaku orang tua dari Devan dan Maya. "Sekarang kamu tanggung sendiri akibat dari perbuatanmu," tambahnya lagi dan berlalu pergi meninggalkan sang putri dibalik jeruji besi nangelap dan dingin, lalu diikuti oleh Devan dan mamanya.


"Pah, Mah, Kak, maafin Maya! Maya khilaf, Pahhhh!!" teriak Maya saat dia ditinggalkan sendiri ditempat itu.


Kini giliran Devan dan keluarganya untuk menemui Pasya, selaku orang yang memberi dukungan kepada Maya untuk melakukan kejahatan itu.


"Kenapa kau lakuin ini lagi, Mbak? Kenapa kau sampai menjerat putriku, kenapa kau tega sekali, Mbak?" ucap papanya Devan kepada Pasya.


"Maafin Mbak, Dek! Mbak nyesel, Mbak tidak tau kalau Maya sedendam itu sama mereka, hingga mampu mengotori tangannya." Pasya berusaha mendapatkan maaf dari adiknya.


"Cukup, Mbak! Dua puluh satu tahun yang lalu mbak udah ngebikin keluarga malu, dan sekarang kau lakuin lagi, kali ini cukup, Mbak! Sekarang, Mbak

__ADS_1


akibatnya, tak akan ada diantara kami yang akan membantumu," ucap Frans yang benar-benar telah kecewa, lalu pergi meninggalkannya sendiri di jeruji besi itu, diikuti pula oleh Devan dan mamanya lagi.


__ADS_2