Adikku Is My Wife

Adikku Is My Wife
Pasca Insident


__ADS_3

Setelah mengalami kecelakaan itu, kini Rey dan Gita sudah berada di rumah sakit terdekat dengan dibantu para warga tadi, tak lupa Rey juga sudah menelpon orang tuanya yang kini juga sedang dalam perjalanan ke Rumah sakit.


"Mas, ini udah terlambat loh, kan ada sidang hari ini," ucap Gita.


"Nggak, mas nggak akan ninggalin kamu," tolak Rey sebelum Gita mengatakan maksudnya.


"Aku nggak apa-apa kok, Mas, cuman pusing dikit aja, nanti nggak lulus loh kalau sidangnya dicancel," bujuk Gita.


"Nggak, kalau mas bilang nggak ya nggak! Mas mau nemenin kamu di sini, titik!" ucap Rey kembali yang kata-katanya mulai terdengar dingin tak bersahabat, Gita tak berani mengucapkan kata-kata lagi, karena dia sudah tau sifat suaminya dari kecil.


"Udah kamu tenang aja, jangan pikirin tentang sidang, tadi mas udah nelpon pihak kampus, mereka udah kasih izin mas untuk tak hadir, digantikan minggu depan," jelas Rey kembali yang kata-katanya sudah mulai lembut kembali.


"Ehm? Pasca kecelakaan tadi, Mas nggak kenapa-napakan?" tanya Gita yang khawatir, karena insident tadi lumayan membuat takut.


"Nggak, mas nggak apa-apa, cuman kaki mas aja sedikit keseleo, terbentur setir tadi," jawab Rey yang membuat Gita lega.


Mereka terus bercerita hingga ada yang mengetok pintu dan saat pintu itu dibuka terpampang jelas wajah cemas para orang tua, siapa lagi kalau bukan Farhan, Kevin dan Ina, apalagi Ina yang notabane nya seorang ibu, perasaannya lebih sensitif terlebih mendengar kabar kalau putra putrinya mengalami insident lalu lintas.


Ina langsung nyelonong masuk, dia langsung melihat keadaan Rey dan bertanya-tanya apakah ada yang luka, mana yang sakit, yah, seperti itulah hati seorang ibu yang biasanya selalu melankolis.


"Kamu nggak apa-apa? Mana yang luka? Mana yang sakit? Kok bisa sih kecelakaan?" tanya Ina bertubi-tubi.


"Aku nggak apa-apa kok, Mah, istri aku yang kepalanya terbentur dan berdarah," ucap Rey ceplos yang mendapat plototan dari sang istri.


"Hah!?" kaget Ina langsung mendekat ke Gita.

__ADS_1


"Duh salah ngomong lagi." gerutu Rey dengan raut wajah memohon maaf ke sang istri, sukses karena perkataan Rey kepala Gita semakin pusing karena harus mendengar banyak sekali pertanyaan dari Ina, mereka tau Ina sangat khawatir, tapi kekhawatiran Ina selalu berlebihan.


"Mana yang sakit, Nak? Aduh itu kepala kok diperban gitu? Banyak nggak darahnya? Kok bisa sih kalian kecelakaan? Ap--" perkataan Ina dipotong oleh Farhan.


"Mama gimana sih, kalau nanya itu satu-satu, yang ada Gita makin pusing denger celotehan Mama," ucap Farhan protes, Kevin hanya bisa terkekeh, sebelumnya dia sempat khawatir tetapi setelah melihat anak dan menantunya tak mengalami luka yang serius dia pun bisa bernafas lega.


"Mama kan khawatir, Pah," kata Ina tak merasa bersalah.


"Mama berlebihan, anaknya baik-baik aja kok, udah jangan nanya-nanya lagi!" titah Farhan dan langsung dituruti Ina ya meski dengan wajah masam dan cemberut.


"Oh iya, Rey, kalian kok bisa kecelakaan?" tanya Kevin yang akhirnya bersuara.


"Rey pun nggak tau, Pah, tiba-tiba tadi ada mobil melaju kencang ke arah kami, mobil itu salah lajur tetapi malah melaju kencang, padahal kami ada di lajur yang sama, tetapi, Pah, yang bikin Rey heran itu padahal di lajur dia sepi, tapi dia malah pakai lajur kami," jelas Rey sedikit menaruh rasa curiga.


"Ada yang gak beres ini," ucap Kevin lirih.


"Nggak apa-apa kok, papa keluar sebentar ya," ucap Kevin memberi kode ke Farhan agar ikut juga ke luar.


Lalu mereka pun keluar dari ruang rawat.


"Anda ngerasa enggak ini seperti direncanakan?"tanya Kevin curiga.


"Bener, Pak, saya akan mengirim orang untuk menyelidikinya dan memperketat penjagaan rumah," jawab Farhan.


Sedangkan di sisi lain, Pasya sedang bersama seorang anak buahnya disebuah gudang, dari lagaknya Pasya sedang sangat emosi, dia menyalurkan emosinya ke anak buahnya.

__ADS_1


"Dasar nggak berguna! (Plakkk). Hanya saya suruh ngebunuh satu pria saja kau gagal, dasar nggak berguna!" teriak Pasya marah sambil sesekali manampar anak buahnya. Mungkin kalau tak dilerai oleh seseorang mungkin anak buah tadi sudah mati.


"Yang, sudah! Bisa mati nanti dia," ucap seorang pria itu memeluk Pasya dari belakang.


"Tapi dia itu bodoh! Dia emang harus mati!" ucap Pasya kejam.


"Sudah, jangan marah-marah terus, mending sekarang kamu temenin aku ke kamar, puaskan aku!" ucap orang itu yang tak lain adalah kekasih dari Pasya.


"Hmm?" pikir Pasya.


"Ayo lah, Yang, sudah lama kita tak melakukan itu, aku merindukanmu," bujuk pria itu menjilat telinga Pasya, sungguh baru sentuhan kecil saja Pasya sudah terangsang, dia membalik tubuh dan mencium kekasihnya.


Merekapun menuntaskan gairah masing-masing yang mungkin sudah lama terpendam.


"Makasih, Yang, kamu nikmat sekali," ucap Pria itu memeluk Pasya.


Pasya hanya mengangguk, karena kelelahan.


"Yang, tadi aku ngeluarkannya di dalam tubuh kamu, enggak apa apa?" tanya Pria itu.


"Nggak apa-apa, aku udah pasang alat kontrasepsi kok," jawab Pasya.


"Berarti boleh diulangin lagi dong," ucap Pria itu langsung menyerang Pasya kembali.


****************

__ADS_1


Hai kaka Reader, jangan lupa ya like sama komennya yang banyak ya!


SEE YOU ALL.


__ADS_2