Adikku Is My Wife

Adikku Is My Wife
Makan Malam Para Orang Tua


__ADS_3

"Ehmm, coba deh Papa selidiki, kalaupun dia orang tua kandungnya Rey, pasti dia punya alasan mengapa sampai membuang Rey," jawab Ina memberi saran dan sangat disetujui oleh Farhan.


"Iya, Mah, papa bakal selidiki, papa pun juga kepengen melihat Rey tak bersedih lagi, pasca taunya dia kalau bukan anak kandung kita,dia jadi tak murah senyum seperti dulu lagi," ucap Farhan sendu memikirkan Rey yang hanya tersenyum seadaanya, jikalau dia tertawa lepas, itupun hanya pada istrinya.


"Iya, Pah. Mama jadi penasaran deh, gimana sih wajah anaknya Pak Herman itu? Boleh nggak kita undang di mansion kita, soalnya kalau di rumah utama nanti Rey bakalan tahu, sekalian kita selidiki pelan-pelan," ucap Ina penasaran sekaligus memberikan saran, untuk pertama kalinya Ina ikhlas menjalani ini demi melihat sang putra agar segera menemukan orang tua kandungnya.


"Boleh juga tuh, Mah. Yaudah, papa bakal telfon Pak Herman dan Pak Kevin untuk datang ke sini makan malam dengan kita," jawab Farhan semringah menyetujui saran dari sang istri karena dianggapnya sebuah ide yang sangat brilian.


*****


PASYA POV ON


Kini aku sedang berada di perjalanan menuju rumah adikku, aku sudah tak sabar melihat kedua keponakanku yang mungkin sekarang telah memasuki dunia perkuliahan, tetapi ini yang paling aku benci, asal mau pergi ke mana-mana di Indonesia aku harus sembunyi-sembunyi. Kku takut, takut akan bertemu dengan Kevin, bukan takut akan dia menangkapku ,tetapi aku takut untuk bertemu dengannya kembali, setelah apa yang aku perbuat kepadanya dua puluh satu tahun yang lalu.


Ah sudahlah, tujuanku ke Indonesia hanya ingin menyelidiki seorang anak muda yang mirip dengan Kevin, tapi kenapa ya? Akhir-akhir ini dia jarang sekali terlihat, yang ada di rumahnya hanya terlihat istrinya serta Art yang berwara-wiri disekitaran rumahnya.


Kini aku telah barada di rumah adikku, sedikit mengobrol melepas rindu, tetapi saat aku bertanya tentang kedua keponakanku, betapa terkejutnya aku saat mendengar kenyataan bahwa kedua keponakanku saat ini telah mendekam di penjara.


Terkejut? Tentu saja, bagaimana bisa keduanya terjerat kasus yang sama, tapi tentu saja aku masih tak berani menjenguk mereka ke kantor polisi, aku masih belum siap jika harus mendekam di jeruji besi nan dingin tak menentu itu. Baiklah, aku akan menyuruh pengacaraku untuk membebaskan mereka, atau paling nggak, aku bisa membayar uang jaminannya.


PASYA POV END


*****


"Mas, nanti aku ke kantor ya jam makan siang, aku mau bawain kamu makan siang," ucap Gita kepada Rey.


"Wah, dengaren nih, pasti ada maunya?" jawab Rey bercanda.


"Apaan sih, mana ada aku minta-minta, yasudahlah tak mau tak apa," balas Gita ketus tak terima.

__ADS_1


"Eh iya iya, yaudah kalau mau datang ke kantor, lagian mas suntuk kalau harus berkutat terus dengan berkas-berkas, belum lagi mas sempetin untuk nyusun skripsi, kan bentar lagi sidang," seru Rey panjang dibumbuhi dengan keluhan.


"Yaudah, entar aku masakin yang enak, sekalian untuk Om Adam juga," jawab Gita tersenyum.


"Iya, makasih my wife," ucap Rey romantis.


*****


Sedangkan di sebuah penjara, Kini  Devan dan Maya telah berada di halaman kantor polisi untuk menyelesaikan hukumannya, tetapi diam-diam Devan dan Maya bertemu.


"Kak, kakak tau nggak kalau tante Pasya ada di rumah loh, tadi dia telfon," ucap Maya senang.


"Hah, beneran? Tapi dia kok nggak menjenguk kita?" tanya Devan.


"Entahlah, yang penting sekarang aku ada kabar bagus!" ucap Maya semringah.


"Aku kak, tiga bulan lagi bebas dari penjara, dan aku janji akan menghancurkan keluarga Rey dan Gita, aku nggak rela mereka bahagia di atas penderitaanku," ucap Gita menggebu gebu karena amarah.


"Udahlah, Dek, nanti makin panjang, ikhlaskan aja mereka, lagian kamu mau apa menjadi pelakor, dibenci semua orang?" tanya Devan.


"Engak! Aku nggak bisa maafin mereka, karena mereka aku harus menahan malu dan masa depanku hancur, aku janji akan hancurin keluarga mereka," ucap Maya tegas dan Devan hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan sang adik.


****


Beberapa jam kemudian di Bandung tapatnya pukul 19:30 telah berkumpul Farhan, Ina, Herman dan tentu Kevin juga datang, tetapi saat melihat wajah Kevin, Ina tak dapat berkata-kata, dia cengo mematung sampai pada akhirnya disadarkan oleh Farhan.


"Mah, ayo siapin makanannya, silahkan, Pak," ucap Farhan mempersilahkan.


"Iya, Pah." Ina pun menyiapkan makanan, mereka makan dalam keadaan yang tak henti-hentinya bercanda tertawa bersama sampai Farhan memulai rencana penyelidikannya dengan menyinggung usia Kevin.

__ADS_1


"Oh ya, Pak Kevin, Anda kan sudah tua, mengapa belum menikah?" tanya Farhan random seketika membuat airmuka Kevin menjadi senduh.


"Sebenarnya saya sudah menikah, tapi....".ucap Kevin terpotong oleh perkataan Herman.


"Jangan bicara kalau tak sanggup!" ucap Herman yang membuat  Farhan dan Ina menjadi semakin penasaran.


"Enggak apa-apa, Pah. Sebenarnya istri saya sudah meninggal tepat dua puluh satu tahun yang lalu saat meyelamatkan putra pertama kami," jelas Kevin.


"Maaf, Pak, karena sudah menyinggung hal pribadi Anda, berarti putra bapak juga sudah dewasa dong?" tanya  Farhan kembali.


"Bener itu, pasti anak bapak tampan seperti ayahnya," timpal Ina yang sedikit membuat Kevin tersenyum.


"Ehmm, sebenarnya saya tak pernah menceritakan ini kepada siapapun, bahkan ini tertutup dari awak media," ucap Herman angkat biacara, "Akan tetapi sepertinya kalian bisa dipercaya. Nak, apa boleh papa ceritakan?" Herman meminta izib yang diangguki oleh Kevin.


"Sebenarnya, istri dari anak saya meninggal karena dibunuh oleh sahabat Kevin, saat itu tanpa sengaja istrinya mengetahui rahasia besarnya, jadi dia dikejar-kejar oleh orang suruhannya, sehingga istri anak saya kabur dengan membawa putranya, tetapi dia terbunuh, akan tetapi sebelum dia terbunuh, dia meninggalkan sepucuk surat yang berisi untuk mencari sang putra karena sebelum meninggal, dia telah mengamankan anaknya terlebih dahulu, jadi putra dari anak saya sudah menghilang dua puluh satu tahun yang lalu hingga saat ini, pada peristiwa itu kebetulan kami sedang ada rapat di Jakarta, jadi kami tak tau akan kejadian ini," jelas Herman yang membuat Farhan dan Ina terkejut bukan maen.


Bahkan Ina yang mendengarkan saja sampai menangis, dia tak menyangka selama ini Kevin sangat tersiksa akan rasa kesepiannya.


"Ehmm, maaf sebelumnya, Pak, kami juga ingin memberi tahukan suatu hal kepada kalian," kata Farhan mantap sambil memegang tangan istrinya.


"Bahwa sesungguhnya kami...."


**********


Hai kaka reader, jangan lupa tinggalin jejak ya!


Sampai jumpa besok lagi di next bab.


SEE YOU ALL.

__ADS_1


__ADS_2