
"Maafin Maya, Mah. Sebenarnya Maya baik-baik saja, Maya tak betah di dalam penjara, ini semua gara-gara keluarga mereka, aku pastikan akan membuat mereka hancur!" batin Maya sambil memeluk mamanya.
"Maya nggak apa-apa, Mah. Maya kangen kalian." Maya memeluk Tika agar berhenti menangis.
"Udah, sekarang kamu istirahat, biar cepet sembuh!" Tika membaringkan sang putri kembali.
"Aku harus segera keluar dari rumah sakit ini, aku nggak mau kalau harus dibawa ke penjara lagi," batin Maya, dia takut jika dia cepat sembuh, maka dia akan dikembalikan ke penjara yang sangat menakutkan itu.
"Iya, Mah."
Maya pun kembali menutup matanya, dia tidur, mengistirahatkan tubuhnya yang saat ini terbilang cukup lemah akibat racun itu. Tika dan yang lainnya pun memutuskan untuk keluar, agar tak mengganggu Maya yang sedang istirahat. Tetapi, tanpa mereka sadari Frans meninggalkan kunci mobil dan dompetnya di atas nakas.
Di luar ruangan, Tika menangis memeluk suaminya, dia sangat tak tega melihat keadaan Maya yang seperti itu, sebelumnya dia sudah mendengar penjelasan medis tentang apa yang sedang dialami sang putri. Saat dia tahu kalau sang putri keracunan, membuat Tika semakin khawatir, dia tak mau kalau sang putri harus kembali ke penjara itu, pasti di sana sangat menakutkan dan makanannya sangat tak sehat sehingga membuat Maya menjadi keracunan, pikir Tika.
Padahal, yang terjadi sebenarnya adalah Maya yang meracuni dirinya sendiri, dia berniat untuk keluar dari penjara, karena dia sangat tidak betah di tempat itu.
"Pah, tolongin Maya! Mama nggak tega ngeliat kondisinya yang seperti itu, lihat saja tubuhnya, mulai kurusan." Tika memohon kepada Frans --suaminya.
"Tapi, Mah, ini bukan wewenang Papa." Frans bingung menghadapi tingkah sanv istri, dia tahu ini semua adalah mutlak kasih sayang seorang ibu yang sedang merasa khawatir terhadap anaknya.
"Bantu Maya, Pah! Mama kasian lihat dia menderita, hiks...." Tangis terus keluar dari mata Tika, Devan dan Anggi yang melihat tingkah sang mama juga ikut terenyuh, rasa simpati mulai muncul untuk membantu Maya bebas dari penjara.
"Sekarang Mama tenang, nanti akan Papa usahakan. Mama belum makan, kan? Yuk kita ke kantin dulu!" ajak Frans kepada sang istri.
"Mama nggak mau, Pah. Mama mau nemeni Maya aja, dia sendirian di sini," tolak Tika.
__ADS_1
"Maya nggak apa-apa, Mah. Ada banyak suster disini, udah yuk! Devan sama Anggi juga belum makan," ujar Frans.
"Baiklah."
Mereka pun pergi ke kantin rumah sakit untuk mengisi perut dan meninggalkan Maya sendirian di ruangannya.
Maya yang melihat keluarganya sudah pergi, tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dengan paksa, dia mencabut selang infus yang terpasang di lengannya. Lalu mulai berjalan meski tertatih agak sempoyongan menahan rasa pusing. Dia keluar dari ruang rawatnya dengan mengendap-endap dengan membawa dompet dan kunci mobil orang tuanya.
Perlahan namun pasti, kini Maya telah berada di luar rumah sakit, lebih tepatnya dia berada di garasinya, sedang mencari di mana mobil sang papa diparkirkan. Karena tak mau lama, Maya menyalakan alarm mobilnya.
Done, berhasil sudah, dia telah tau di mana letak mobilnya, dengan segera dia pergi meninggalkan Rumah sakit itu. Sedangkan di sisi lain, Frans yang baru saja selesai makan baru menyadari kalau dompetnya telah tertinggal di ruangan Maya tadi. Dengan segera dia kembali ke ruangan itu setelah sebelumnya meminta izin kepada istri dan anak-anaknya.
Saat telah berada di ruangan Maya, betapa terkejutnya Frans saat melihat sang putri tak ada di kamarnya, dengan selang infus yang berantakan, membuat Frans menjadi marah, apalagi saat menyadari ternyata dompet sama mobilnya juga dibawa sang putri.
"Kurang ajar! Berani sekali kau permainkan perasaan kami, May. Papa nggak akan memaafkanmu jika sampai terjadi sesuatu lagi!" ucap Frans marah.
***
"Iya, Nak."
Devan dan Anggi pun mau beranjak pergi. Tetapi, saat mereka mau pergi, Frans datang dengan wajah yang tak biasanya, membuat Devan dan Anggi mengerutkan dahi karena merasa heran.
"Kenapa, Pah? Kok kayak sedang emosi gitu," ucap Devan.
"Maya kabur," jawab Frans singkat, namun sukses membuat orang yang mendengar menjadi terbelalak.
__ADS_1
"Kabur?" ucap semua.
"Iya, dan kamu, Mah. Tak perlu mengkhawatirkannya, dia membawa dompet dan mobil Papa, anak itu kalau diberi hati terus ngelunjak, mau sampai kapanpun, Papa nggak akan pernah maafin dia!" tukas Frans.
"Udah, sekarang kita pulang, Papa udah lapor polisi tadi, biar mereka yang menjalankan tugasnya!" sambung Frans dingin, membuat semua orang menjadi patuh terhadapnya.
***
"Maafin Maya, Pah, Mah, karena sudah mengecewakan kalian lagi. Untuk sekarang aku butuh tempat tinggal, aku harus cari hotel, tapi di mana ya, agar tak ada yang bisa nemuin aku?" ucap Maya pada dirinya sendiri.
"Untung tadi papa juga ninggalin dompetnya, sebaiknya aku harus segera melakukan penarikan sebelum papa memblokir kartu-kartunya," sambungnya.
Maya pun pergi ke sebuah ATM mini, untuk mencairkan uang yang ada di dalam ATM papanya, setelah itu dia pergi ke sebuah hotel yang berada di pinggir kota, agar tak ada yang mencarinya. Tak lupa juga dia pergi ke counter Hp, untuk membeli ponsel sebagai sarana untuk komunikasi dengan orang-orangnya, supaya dia bisa menjalankan rencananya dengan lancar.
Di sisi lain pula, Frans dan istrinya datang mengunjungi kediaman Nataniel. Kedatangan mereka bermaksud untuk mengabari kalau Maya telah berhasil melarikan diri dari genggaman hukum, dia berhasil mengelabui aparat hukum dengan berpura-pura sakit. Sungguh licik sekali pikiran Maya.
Saat Frans selesai menjelaskan kedatangan mereka, seluruh keluarga Nataniel menjadi terkejut, mereka tak menyangka Maya akan berbuat hal yang serendah itu sampai-sampai bisa membahayakan dirinya sendiri. Tetapi, yang membuat mereka lebih terkejut lagi, Maya berhasil kabur, kemungkinan besar dia akan kembali melakukan balas dendamnya kembali kepada Rey dan Gita.
Tentu saja para orang tua Rey dan Gita sangat khawatir, mereka menyuruh Rey dan Gita memperketat keamanan rumah, dan pergi keluar rumah membawa pengawal. Ini dilakukan agar memperkecil kemungkinan Maya berhasil membalaskan dendamnya. Karena hal ini, semua menjadi ekstra waspada, apalagi Maya adalah orang yang sangat nekad, dia akan melakukan apapun untuk memenuhi keiinginannya.
"Mulai saat ini, kita harus siap menghadapi segala sesuatu yang akan terjadi, kita harus selalu bersama. Percayalah, tak ada seorang pun yang akan bisa memisahkan kita," ucap Rey memegang tangan sang istri. "Mas berjanji akan selalu melindungi kalian dari segala marabahaya yang ada di luar sana! Mas janji kita akan selalu bersama, bahkan maut pun tak akan bisa memisahkan kita," sambungnya memeluk Gita yang pada saat itu sedang mengandung delapan bulan.
*************
Hai, kaka reader, maaf ya kemaren nggak up, kesibukan banyak menyita waktu. Oh iya, ini kelajutan flashbacknya yak, tapi belum selesai. Tunggu kelanjutannya yak.
__ADS_1
Sampai jumpa lagi.
See You All.