Adikku Is My Wife

Adikku Is My Wife
Julid


__ADS_3

Setelah beberapa jam di perjalanan, kini Rey, Gita, dan Kevin telah sampai di kediaman Nataniel. Bayangkan saja, betapa bahagianya seluruh keluarga menyambut kepulangan Kevin yang beberapa hari lalu berada di Rumah sakit, sedang bertarung melawan mautnya.


Kevin juga sangat bahagia, karena pada akhirnya, setelah bertahun-tahun, dia bisa kembali berkumpul dengan keluarganya. Tetapi, kini dengan edisi terlengkap, di sana telah ada besan, menantu kesayangan, orang tuanya, Abinya, bahkan, para sahabat putra kesayangannya.


Ya, Devan dan keluarganya juga diundang ke acara itu, karena Farhan berencana ingin membangun tali silaturahmi agar kedepannya tak ada yang saling menyakiti lagi, seperti yang telah mereka lalui beberapa hari lalu.


"Gimana kabarnya, Pah, Mah, kalian sehat-sehat aja kan?" tanya Kevin saat mereka sedang berkumpul di ruang tamu, bersama dengan yang lain.


"Heh, bodoh! Seharusnya yang bertanya itu kami, bukan kau, kenapa kau tak memberi tahu masalah yang telah kalian hadapi, setidaknya kami bisa membantu kalian, meskipun tak banyak?" protes Herman kepada sang putra.


"I-iya, Pah, maaf! Kevin tak memberi tahukan ini semua, karena takut akan mengancam kesehatan kalian," jawab Kevin, membuat mata Windy melotot.


"Dasar anak kurang ajar! Kau pikir kami udah tua apa, hah?" ucap Windy sinis.


"Kan emang sudah tua, gimana sih?" kata Kevin pelan, tapi masih bisa didengar oleh Windy.


"Apa kau bilang?!" pekik Windy kesal.


"Eh, ma-maaf, Mah!" Kevin terkejut saat menyadari ternyata orang tuanya mendengar apa yang baru saja dia katakan.


Sedangkan semua orang yang melihat tingkah mereka berusaha menahan tawa, karena sedari tadi saat mereka ingin menertawai mereka, sang nenek malah melototinya, membuat semua orang menjadi takut.


"Sudah, Mas! Tuh lihat, Mama ngambek," ucap Kesya yang juga ikut-ikutan meledek mertuanya.


"Dasar! Suami istri sama aja, awas kualat loh!"


"Hush, Mah. Jangan nyumpahin anak!" tegur Herman.


"Habisnya, mereka julid banget." Windy cemberut.


Disaat inilah Gita dan Rey beraksi, mereka mendekat dan memeluk sang nenek, membuat siapa saja yang melihatnya, hatinya akan merasa hangat.


"Uluh-uluh, jangan ngambek dong, Nek. Nenek siapa sih ini?" Rey, menempelkan pipinya ke pipi neneknya, lalu mengusapnya perlahan.


"Iya, Nek. Jangan ngambek lagi ya!" pinta Gita yang juga sedang memeluk sang nenek.


"Lihat! Cucu-cucuku sangat baik budi, mereka sayang sama neneknya, nggak seperti kalian yang ngejahilin orang tua mulu." Windy memamerkan perlakuan cucu-cucunya.


"Iya, Nek. Papa sama Mama mana sayang sama Nenek, yakan, Yang?" sedangkan Rey, dia malah semakin bersemangat mengompori neneknya.


"Mas, Ikh! Malah jadi kompor, gimana sih?" Gita memarahi Rey --suaminya.


"Hehe, maaf, tapi ini seru, Yang, kalau nggak percaya, coba deh!" usul Rey yang mendapat sebuah jeweran dari sang nenek.

__ADS_1


"Dasar cucu edan, seneng ya lihat kami bertengkar, hah?" tanya sang nenek dengan menjewer Rey.


"Aduh, sakit, Nek. Malu tau, lepas ikh!" ucap Rey mengaduh kesakitan.


"Jangan dilepasin, Nek. Biar tau rasa, hihi." Gita tertawa puas saat melihat suaminya kesakitan.


"Tega kamu, Yang. Awas aja nanti!" ancam Rey.


"Lihat, Nek! Mas Rey ngancam Gita." Gita mengadu kepada sang nenek.


"Ah, sudahlah. Kalian ini bertengkar terus, pusing Nenek menghadapi kalian, udah sana!" Windy mengusir cucu-cucunya yang bukannya memperbaiki keadaan, malah membuat pusing kepala dengan berbagai perdebatan mereka.


Sedangkan di sisi lain, Devan dan Anggi merasa sangat bahagian melihat keharmonisan keluarga Rey. Mereka menjadi tenang. Sebab, mereka tak akan merasa bersalah lagi atas semua yang telah mereka hadapi, sekarang semua sudah kembali seperti semula.


Apalagi sekarang mereka semua sebentar lagi akan kedatangan seorang malaikat kecil, yang akan menambah kebahagiaan mereka.


"Aku senang melihat mereka bahagia seperti ini, Nggi, semoga kebahagiaan mereka abadi sampai maut yang memisahkan mereka." Devan berdoa seraya mengusap perut sang istri.


"Iya, Dev. Aku rasa maut pun tak akan bisa memisahkan mereka, semoga semua ini akan berlangsung seterusnya."


"Ekhm, ada yang asik cerita sendiri nih!" sindir Rey saat melihat Anggi dan Devan yang asik berpelukan di sofa.


"Iya, Mas. Mereka nggak mau bagi-bagi kebahagiaannya dengan kita, maunya main sendiri!" Gita juga ikut-ikutan menyindir.


"Iya, nggak Om sama Tante, nggak Nenek sama Kakek, semua kalian ganggu!" Anggi juga ikut-ikutan memprotes Rey dan Gita.


"Hilih, biasa aja dong, gitu aja ngambek, PMS Loe?" Rey tak terima.


"Hush, sembarangan! Ya kali gue PMS, noh lihat mahakarya gue, sudah enam bulan." Devan menyombongkan diri, tetapi, malah membuat Anggi menjadi malu.


"Kamu apa-apaan sih!?" ucap Anggi kesal.


"Eh, gue juga ada mahakarya, elo mau--" ucap Rey terpotong.


"Mau apa hah? Awas kalau coba-coba!" Ancam Gita sebelum Rey menyelesaikan perkataannya.


"Iya-iya, huh gagal keren jadinya," gerutu Rey.


"Cukup sudah, kalian ini bertengkar terus, nggak capek apa? Udah mau punya anak juga!" Gantian Ina yang bersuara, membuat semua menjadi bungkam, mereka takut kalau sudah sang singa betina yang berbicara, wkwk.


(Maaf ya, Mama Ina, hihi)


"Gimana kalau kalian punya anak nanti, mau nyontohin sikap kalian ke anak-anak? Iya? Mau jadi orang tua yang durhalext, eh durhaka? Mau dikutuk jadi batu sama anak kalian?" ucap Ina memarahi kedua pasangan itu (Rey & Gita, Devan & Anggi).

__ADS_1


"Yeeee, mana ada dikutuk jadi batu, emangnya Malin Kundang?" sindir Farhan mengkritik sang istri.


"Ishh, Papa ganggu aja, kan itu perumpamaan, jangan dianggap serius dong!" Ina kesal karena Farhan bukannya mendukung malah mengkritik hal yang tak penting.


"Ya kali perumpamaannya kayak gitu, emangnya ini jaman apaan, pakek kutuk-kutukan segala lagi." Farhan semakin membuat Ina merasa kesal.


"Papa itu sebenarnya dukung siapa, sih?" tanya Ina marah.


"Kok marah-marah sih, Mah? Kan Papa nggak salah!" ucap Farhan ketus.


"Loh, kok jadi nyolot sih, Pah?" balas Ina ketus.


"Kan Mama yang mulai!"


"Enak aja, Papa yang mulai!"


"Jadi, yang salah Papa Gitu?"


"Ya iya lah!"


"STOPP!!" ucap semua orang, mengagetkan Farhan dan Ina.


"Kok malah jadi kaliam sih yang bertengkar, bukannya mencontohkan yang baik, malah sebaliknya," ucap Kesya ketus, membuat Farhan dan Ina merunduk, pertanda mereka menyadari kalau mereka telah melakukan sebuah kesalahan.


"Maaf!" ucap keduanya.


"Hihi, Papa sama Mama lucu kalau lagi takut, yakan, Yang?" ucap Rey meledek, yang langsung mendapat pelototan dari Ina dan Farhan, membuat dirinya menelan ludah, dia merinding melihat wajah sangar papa dan mamanya yang terlihat sangat mengerikan kalau lagi marah.


"Kamu juga, Rey. Jangan suka julid, bener kata Nenek, kualat nanti baru tahu rasa!" ujar Kesya, seketika membuat Rey juga ikut merunduk.


"Maaf, Mah."


"Sudah, sudah! Dari pada berdebat, yuk kita makan, Kakek sudah lapar sedari tadi karena melihat kalian bertengkar!" ajak Herman menengahi perdebatan.


"Ayukkk!!!" jawab semua.


************


Hai kaka reader, gimana bab kali ini? Jangan lupa tunggalkan jejak ya.


Like, komen, rate, fav, dan vote dari kaka semua, membuat author semakin semangat dalam menulis, jadi jangan sungkan yak, kritik juga boleh.


Sampai jumpa lagi.

__ADS_1


See You All.


__ADS_2