
Di sisi lain, Devan dan keluarganya telah berada di dalam ruangan tempat Kevin dirawat, yang mereka bayangkan ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan, malahan mereka disambut baik oleh keluarga Rey, bahkan Kesya pun mempersilahkan mereka untuk membesuk suaminya yang celaka akibat perbuatan dari salah satu anggota keluarga Devan.
"Silahkan masuk, Pak!" Farhan mempersilahkan keluarga Devan untuk masuk. "Jangan ragu-ragu!" sambungnya lagi.
"Terima kasih," balas Frans yang merekahkan senyumannya karena telah disambut baik oleh keluarga Kevin.
"Silahkan, Pak! Terima kasih karena sudi kiranya datang ke sini," kata Kesya yang merekahkan senyumannya, meski semua orang yang melihatnya tahu kalau dia lagi bersedih yang teramat mendalam.
"Terima kasih, Tant!" ucap Devan lega. "Ehm, kenapa kalian tak marah dengan kami?" Devan bertanya kepada pihak keluarga Kevin yang seharusnya mereka marah terhadapnya serta keluarganya, bahkan seharusnya mereka menuntut.
"Nggak ada yang perlu diungkit, Nak. Ini semua telah terjadi, apa dengan kami marah suami saya bisa langsung sadar? Semua kejadian yang menimpa kalian sesungguhnya adalah murni kesalahan kami di masa lalu, kami yang menyebabkan semua insident ini sehingga berimbas kepada anak dan calon cucu kami," jelas Kesya sendu.
"Mungkin kalau saya tak datang ke kehidupan Kevin dan Pasya, ini semua tak akan terjadi, kalian semua tak akan menghadapi semua ini." Kesya mulai menyalahkan dirinya sendiri, dia merasa bersalah terhadap semua orang, dia menganggap kalau semua yang telah terjadi itu karena kedatangannya di masa lalu.
"Tidak! Anda jangan merasa bersalah, Bu! Semua ini salah kakak dan putri saya, karena dia terlalu terobsesi dengan dendamnya, maafkan keluarga saya yang telah membuat keluarga Anda terpisah selama puluhan tahun!" Frans merasa malu atas apa yang telah dilakukan keluarganya.
"Devan juga minta maaf, Om, Tant! Ini semua juga karena aku dan Anggi, kami juga salah dalam hal ini, kami menyesal karena dulu sempat sangat terobsesi dengan kakak adik itu. Maafkan Dev juga, Pah, Mah, karena aku yang telah menjerumuskan Maya ke dalam lubang penuh dendam, aku juga nggak menyangka kalau adikku akan senekad itu demi membalaskan dendamnya, padahal kalau ditelaah dengan benar, sebenarnya yang salah itu kami, karena kami yang telah memercikkan api di atas dedaunan kering itu." Devan meminta maaf kepada semua, dia merasa bersalah atas apa yang dia perbuat dulu.
Sedangkan Anggi, dia menunduk di samping sang suami, dia juga merasakan hal yang sama dengan apa yang tengah dirasakan Devan.
"Nggak ada yang perlu disalahkan, semua ini memang udah jalannya, mari sama-sama merenung, mengingat apa yang telah kita perbuat di masa lalu, kita perbaiki di hari ini, berharap di masa depan kita bisa menjadi orang yang tak merugi karena orang yang merugi adalah orang yang masih sama dengan orang yang di masa lalu, dalam artian tak ada kemajuan." Farhan ikut angkat bicara, menengahi pembicaraan semua orang.
*********
Di depan Rumah sakit sudah ada Reyhan dan Gita yang baru saja turun dari mobil. Mereka baru sampai beberapa saat yang lalu, kini mereka tengah berjalan masuk ke dalam Rumah sakit sembari membawa tas dan beberapa makanan yang dengan sengaja mereka bawa untuk orang tua mereka.
Akan tetapi, semua barang-barang yang sengaja dibawa Gita dari rumah, diserahkan kepada Rey semua, sehingga Rey menjadi kesulitan, bahkan dia berjalan menjadi sangat lambat.
"Mas, cepetan ikh! Lamban kali!" pekik Gita memanggil suaminya yang tertinggal di belakang.
"Sabar, Yang, ini berat banget loh." Reyhan terus berjalan dan berusaha menggapai sang istri.
__ADS_1
"Ah, payah! Baru segitu aja sudah ngeluh!" gerutu Gita sebal karena menurutnya Rey itu sangat lamban, mungkin itu juga efek dari kehamilannya, sehingga emosinya mudah sekali naik turun silih berganti.
"Dasar! Yang nyuruh bawa barang segini banyaknya kan dia. Huh, untung cinta!" cibir Rey.
"Iya-iya, sabar!" ucap Rey malas.
"Cepetan, dong! Dikit lagi kita sampai," suruh Gita saat Rey sudah berada tepat di sampingnya.
"Iya, ini kan udah cepet, berat tau, bantuin kek bawain barangnya!" pinta Rey yang sudah sangat lelah.
"Huh, iya-iya, nih aku bantuin bawa rantang makanannya, udah ayo jalan lagi!" Gita mengambil rantang makanan itu dan pergi berlalu meninggalkan sang suami, membuat Rey cengo, sebab dia berharap sang istri akan membantu membawa tas yang berisi pakaiannya, tetapi ternyata salah, dengan tak tau dirinya dia hanya mengambil hal yang bahkan tak ada beratnya sama sekali.
"Ya Tuhan, untung dia istriku, kalau bukan udah aku buang ke laut!" Rey mengelus dadanya, dia masih berusaha sabar menghadapi bumil kesayangannya.
Setelah melewati koridor, sampailah Rey dan Gita di ruangan sang papa, awalnya mereka terkejut atas kedatangan Devan dan keluarganya, mereka takut akan terjadi suatu masalah, tetapi saat melihat wajah Farhan, Ina dan Kesya yang tampak tenang dan ikhlas, Rey dan Gita pun juga ikut tenang, mereka bersyukur karena memiliki keluarga yang hatinya sedalam dan seluas samudera, mau memaafkan orang yang telah banyak sekali ngelakuin kesalahan terhadap mereka.
"Assalamualaikum, Pah, Mah." Rey dan Gita menyalami orang tua mereka.
"Hai, Om, Tant? Apa kabar?" sapa Rey terhadap Frans dan Tika.
"Woy, gue nggak elu tanya?" ucap Devan, sedangkan Anggi dia hanya diam, tetapi dia memutar mata malas, sebab dia sudah tau apa yang bakal terjadi.
"Hih, siape lue?" canda Rey.
"Sialan, loe!"
"Hai, Kak? Gimana kandungannya?" Gita menyapa Anggi.
"Baik, kandungan kamu juga gimana?" tanya Anggi balik.
"Alhamdulillah baik kak, dan udah jalan 3 bulan," jawab Gita.
__ADS_1
"Syukurlah!"
"Pah, Mah, gimana papa Kevin, apa ada perkembangan?" tanya Rey mulai memperhatikan keadaan sang papa yang tengah berbaring dengan selang infus di lengannya, dan beberapa alat medis lainnya yang berada di tubuhnya.
Seketika semua menjadi tertunduk lesuh, dengan semua ekspresi mereka, Rey sudah tahu jawabannya.
"Pah, ini Rey, papa kapan mau bangun? Rey kangen, Pah," ucap Rey.
"Papa emang nggak mau liat anak Rey, cucu papa? Sekarang dia tengah dikandung menantu kesayangan Papa, usianya sudah jalan 3 bulan, Pah, sebentar lagi cucu papa akan lahir dalam hitungan bulan saja," ucap Rey meneteskan air mata.
"Hiks, Papa kenapa diam aja, kan Papa yang minta cucu dari Rey, sekarang Papa harus tanggung jawab, Papa harus bantuin Rey menuhi semua nyidam Gita!" ucap Rey sesegukan.
"Lihatlah, Rey capek sendirian kalau harus jagain istri dan mama sekaligus, mana tanggung jawab Papa? Mana, Pah?" Rey mengguncang tubuh Kevin, membuat Gita mendekat dan menghentikan suaminya.
"Hentikan, Mas. Kesehatan papa bisa terganggu kalau kau berbuat seperti itu," ucap Gita dengan mata berkaca-kaca, bahkan bukan cuman Gita, semua orang yang melihat itu juga ikut bersedih.
"Maaf, tapi kapan dia bakal bangun, mana tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga? Dia sudah ninggalin kami selama dua puluh satu tahun, dan sekarang dia telah kembali lalu mau pergi lagi, dasar tua bangka!" teriak Rey, dia bingung antara mau marah atau sedih.
"Shut, gantian aku yang bicara sama papa, ya?" ucap Gita dan mendekat ke Kevin.
"Pah, ini Gita. Ayo dong, Pah, bangun! Apa Papa nggak mau lihat masa kecil Mas Rey? Papa bisa loh lihat Mas Rey lewat anak kami, kapan Papa akan bangun?" Gita masih berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
Dia semakin mendekat, dan memegang tangan Kevin. Perlahan tapi pasti, dia meletakkan tangan mertuanya tepat di perutnya.
"Pah, rasakan, di dalam sini ada Abi, Abi junior Papa. Papa ingin lihat dia kan, jadi Papa harus bangun! Hiks, Papa harus bangun!" Sukses sudah air mata Gita menetes.
"Papa mau, Nak!"
**************
Hai kaka reader, gimana bab kali ini, jangan lupa like, komen, dan vote yak. Ehmm, kasih author gift setangkai bunga mawar atau secangkir kopi juga boleh, wkwk. Biar semakin semangat author upnya.
__ADS_1
Sampai jumpa lagi.
SEE YOU ALL.