
Setelah beberapa jam paska operasi, seluruh keluarga masih setia menunggu Reyhan dan Gita sadar di luar ruangan. Beberapa dari mereka pun pergi ke ruang bayi untuk melihat cucu mereka yang baru saja lahir. Sama seperti sebelumnya, Reyhan dan Gita ditempatkan di tempat yang sama sesuai permintaan Reyhan sebelumnya.
Oh iya, jangan lupakan tentang Devan dan keluarganya. Mereka masih dengan setia menunggu di Rumah sakit menemani Kevin, Farhan dan keluarganya. Hanya saja, Anggi sudah pulang duluan ke rumah karena dia tak mau meninggalkan putranya --Rizal sendirian di rumah bersama baby sisternya, sekaligus mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kepulangan jenazah Maya yang sekarang masih berada di Rumah sakit.
Waktu terus berlalu, keluarga Reyhan dan Gita ingin sekali masuk ke ruangannya dan melihat kondisi mereka secara langsung, tapi apalah daya, dokter belum mengizinkan mereka demi kenyamanan pasien. Di saat mereka sedang menunggu, tiba-tiba seorang dokter datang bermaksud untuk memeriksa keadaan Reyhan dan Gita.
"Dok, apa kami masih belum boleh melihat anak-anak kami?" tanya Kesya yang akhirnya buka suara.
"Benar, Dok. Kami ingin sekali melihat keadaan mereka!" timpal Ina mendukung Kesya.
"Baiklah, Bu. Saya periksa dulu keadaan pasien, kalau pasien dalam keadaan baik, saya persilahkan kalian untuk membesuknya," jawab dokter itu membuat wajah semua orang kembali berseri.
Setelah dokter itu masuk ke dalam ruangan Reyhan dan Gita, tiba-tiba ada seorang suster yang datang mencari Frans, dan keluarganya.
"Maaf, apakah di sini ada Bapak Frans?" tanya suster itu.
"Saya, Sus. Ada apa mencari saya?" tanya balik Frans.
"Saya mau mengabarkan kalau jenazah putri Anda sudah bisa dibawa pulang," tutur suster itu.
Seketika wajah Frans kembali sendu, bukan hanya dia, tetapi istri dan putranya juga ikut sendu. Meskipun kelakuan Maya telah membuat mereka malu, tetapi tetap saja, Maya adalah orang yang sangat berarti bagi mereka. Sungguh, rasa kehilangan adalah perasaan yang sangat tidak enak, rasa kehilangan memacu kesedihan membuat semua orang yang merasakannya akan menjadi sangat lemah.
"Baiklah, Sus. Kami akan mengurus administrasinya terlebih dahulu." Frans menundukkan kepalanya.
"Iya, silahkan, Pak!" Suster itu pun pergi berlalu meninggalkan semuanya.
Tika perlahan meneteskan air matanya, pada akhirnya dia meluapkan kesedihannya. Putri yang sangat disayangnya telah pergi dari alam ini untuk selamanya. Devan yang pada saat itu berada di samping mamanya, merangkul dan berusaha memberi semangat agar tabah dalam menghadapi duka ini. Padahal, dia juga sangat kehilangan sang adik, orang yang dari kecil selalu bermain bersamanya, susah senang selalu bersama, selalu dia jaga sedari kecil, kini telah pergi meninggalkannya.
"Mah, Mama yang sabar ya, biarkan adek tenang di alam sana!" kata Devan.
__ADS_1
Dengan spontan, Tika langsung memeluk putranya. Meluapkan kesedihannya di dalam dekapan Devan.
"Maya sudah pergi ni-ninggalin kita, Dev. Mama gagal jagain dia, hiks." Tangis pecah membasahi baju Devan.
"Seharusnya Devan yang bicara seperti itu, Mah. Maafin Devan yang gagal jagain adek, ya?!" ucap Devan meneteskan air matanya, lalu dengan cepat menghapusnya agar tak dilihat oleh mamanya.
"Papa juga minta maaf, Papa sudah gagal ngedidik dan ngejagain adek. Papa orang tua yang gak berguna!" Frans mendekat dan merangkul istrinya.
"Papa gak boleh ngomong kayak gitu, doain aja semoga adek bahagia di sana," ucap Devan menengahi.
Farhan dan yang lainnya melihat kesedihan keluarga Frans, juga ikut merasa bersedih. Meskipun semua ini akibat ulah Maya, tapi tetap saja, rasa kehilangan mereka tak dapat dipungkiri. Farhan perlahan mendekat dan memegang bahu Devan.
"Kami turut berduka, ya. Maaf karena kami terlalu sibuk dengan kecemasan kami, sehingga melupakan kalau kalian juga sedang berduka," ucap Farhan saat memegang bahu Devan.
Dengan sigap Devan berbalik badan, dia memeluk Farhan dan menangis dalam pelukkannya. Sontak hal ini membuat Farhan tertegun, dia merasakan getaran yang sangat hebat. Sepertinya Devan tengah terisak, dia menangis.
"Sabar ya, Nak. Ini mungkin sudah takdir yang kuasa, doakan agar adikmu di sana bahagia, dia sudah tak memiliki beban lagi!" ucap Farhan mengelus punggung Devan seraya membalas pelukannya.
"Sssttt! Kamu gak boleh seperti ini, adik kamu pasti sangat sedih melihat kalian yang merasa bersalah seperti ini setelah ditinggalkannya," ucap Farhan lagi.
"Maafin segala perbuatan Maya ya, Om. Ini semua bermula dari Devan, seandainya dulu Devan tak--"
"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Sekarangkan kamu sudah tau apa yang akan terjadi kalau ***** yang bermain, mulai sekarang segala sesuatu harus kamu pikirkan matang-matang ya, kamu harus kuat demi orang tua, istri dan anakmu!" tutur Farhan lagi membuat Devan tertegun.
"Kenapa Om gak marah sama keluarga kami, padahal kami udah banyak salah sama kalian?" tanya Devan.
"Gak ada yang perlu dimarah, apa kalau marah semua akan kembali seperti semula, enggak kan? Jadi, kalian jangan merasa bersalah!" jawab Farhan yang langsung kembali mendapat pelukan Devan.
"Makasih ya, Om, makasih!"
__ADS_1
"Iya, sekarang kalian bersiaplah, bawa jenazah adikmu pulang, urus jenazahnya dengan layak, nanti kami akan menyusul!" kata Farhan lagi.
"Baiklah, Om. Kalau gitu, Devan dan orang tua Devan pamit dulu ya, nanti kami akan datang dan menjenguk lagi," balas Devan.
"Iya, makasih juga ya!"
Setelah beberapa saat kesedihan itu berlalu bersama dengan kepergian Devan dan keluarganya. Kini Farhan, Kevin, dan Ina sudah berada di dalam ruangan Reyhan dan Gita, sedangkan Kesya dia sedang berada di ruang bayi, bermaksud membawa si kecil untuk pergi ke ruang perawatan orang tuanya yang pada saat ini telah siuman.
"Hai, Pah, Mah?" ucap Reyhan dan Gita barengan.
"Gimana keadaan kalian, apa masih terasa sakit?" tanya Ina menggebu.
"Tenang aja, Mah. Udah gak terlalu sakit, kok."
"Dasar bocah semprul, mana bisa kami tenang! Kalian udah bikin jantung kami mau copot tau gak? Gak kasihan sama kami yang udah tua?" ucap Ina yang kekhawatirannya disembunyikan dengan embel-embel amarah.
"Cieeee, ngaku udah tua!" Rey malah meledek sang mama.
"Kenapa kalau Mama udah tua, toh kami juga udah punya cucu!" balas Ina tak mau kalah.
"Oh iya, Mah. Gimana dengan anak kami, dia baik-baik aja, kan? Dia selamat, kan?" ucap Gita yang mengkhawatirkan buah hatinya.
"Kamu tenang aja, Nak. Anak kalian baik-baik aja kok, bentar lagi juga dia datang sama neneknya," jawab Ina.
"Syukurlah kalau gitu."
"Oh iya, coba ceritakan gimana kalian bisa kecelakaan?" singgung Farhan.
"Iya, Nak. Bagaimana bisa itu terjadi?" timpal Kevin.
__ADS_1
"Kejadiannya begitu cepat, Pah. Bahkan kami tak menyangka kejadian na'as ini bisa sampai menimpa kami, yang pasti Rey takut kalau hal ini terjadi lagi, Rey takut kehilangan orang yang Rey sayang!" Perlahan Rey meneteskan air matanya. Dia benar-benar merasa sangat ketakutan akan kejadian yang baru saja menimpa mereka. Usaha yang dia lakukan demi menyelamatkan istri dan anaknya, teriak meminta pertolongan pada saat dia yang juga tak berdaya. Sungguh, hal ini yang membuat Rey sangat ketakutan, takut akan perasaan kehilangan orang yang dia sayang.
FLASHBACK END~