
"Eh, Pak Reyhan dan Ibu...." Indah menghentikan perkataannya.
"Gita, dia istri saya," ucap Rey spontan.
"Hai, Ibu Gita," sapa Indah. "Mari, silahkan duduk!" Indah mempersilahkan pasutri itu untuk duduk.
"Terima kasih!" ucap keduanya.
"Maaf sebelumnya, kenapa kalian bisa terlambat?" tanya Indah.
"Kami yang Maaf, Bu. Tadi ada drama dulu yang harus kami lewati," jawab Gita melirik sinis sang suami, Indah yang melihat tatapan Gita, Indah berĀ Oh ria, tak mau bertanya kembali.
"Baiklah, apa ada yang bisa saya bantu tentang perihal sebab kalian ke sini?" Indah memulai membuka percakapan yang sesungguhnya.
"Ini, Bu, sebenarnya...." Rey menghentikan perkataannya, dia masih sedikit ragu, alhasil Gita lah yang memberi tahukan sebab kedatangan mereka.
"Kami datang ke sini untuk berobat dengan Anda. Kami ingin menyembuhkan trauma suami saya yang sudah berkepanjangan," tutur Gita, membuat Indah sedikit terkejut, sebab seorang Rey yang tampak tenang dan berwibawa memiliki trauma, dengan segera dia menetralisir keterkejutannya.
"Kalau boleh tahu, trauma apa yang sedang dia rasakan?" tanya Indah mulai mencari tahu kunci masalahnya.
"Suami saya selama enam bulan terakhir selalu saja mimpi buruk, dan isi dari mimpi buruk itu adalah memori enam bulan yang lalu, yaitu saat-saat terberat kami, kami mengalami kecelakaan," Gita menceritakan pasal trauma yang diderita Rey.
"Apa mimpi buruk yang Pak Rey alami, berlangsung sangat sering?" tanya Indah lagi.
"Iya, Bu. Bahkan terbilang sangat sering, putri saya yang masih berumur enam bulan saja sampai terbiasa bangun malam dan tak menangis karena mendengar teriakan suami saya." Gita terus menceritakan semua, membuat Indah langsung melirik Rey. Bagaimana bisa seorang bayi bisa sampai terbiasa, sungguh, ini mungkin trauma yang cukup sangat serius.
"Maaf sebelumnya, apakah kalian bisa menceritakan kejadian kecelakaan yang kalian alami enam bulan yang lalu?" Indah sangat penasaran tentang kecelakaan itu, hingga membuat seorang Rey sangat trauma.
Gita berbalik, menatap sang suami sebagai kode meminta persetujuan sebelum menceritakannya. Rey yang ditatap seperti itu mulai mengangguk, dia menyuruh Gita yang menceritakannya, sebab, dia tak akan sanggup kalau disuruh mengingat insident tragis itu. Baginya, hal itu akan sangat menguras emosinya.
__ADS_1
"Bermula dari sebuah dendam teman kami yang awalnya sangat terobsesi dengan Mas Rey, tetapi dia kami cebloskan ke penjara, karena hampir saja membunuh orang tua kami. Akan tetapi, dengan liciknya dia kembali menipu kepolisian, dia menyuruh seseorang untuk membawa sebuah racun dengan dosis ringan ke penjara, hal ini adalah rencananya agar dia bisa bebas dari penjara. Dia meminum racun itu, dan sukses membuahkan hasil, dia jatuh pingsan dengan buih di mulutnya, membuat kepolisian menjadi panik dan membawanya keluar dari penjara, dan sesegara mungkin dibawa ke rumah sakit...."
Flashback....
Di penjara tempat Pasya dan Maya disekap, terjadi sesuatu yang membuat seluruh napi yang satu sel dengan Maya histeris. Mereka berteriak memanggil siapa saja yang ada di luar.
"Tolong! Tolong! Siapa saja, tolong!" teriak para napi, membuat para kepolisian yang pada saat itu sedang bertugas menjadi penasaran. Mengapa para napi pada berteriak minta tolong? Itulah yang ada di pikiran mereka.
"Tolong!" teriak mereka lagi, dan pada akhirnya ada seorang polisi yang mendekat dan melihat apa yang sedang terjadi. Polisi itu juga sangat terkejut, bagaimana bisa ada seorang napi yang jatuh pingsan dengan mulut yang mengeluarkan buih. Polisi itu pun memanggil rekan-rekannya.
"Apa yang terjadi, kenapa dengan wanita ini?" tanya polisi itu kepada para napi lainnya.
"Entahlah, kami juga tidak tahu, kami tahunya saat tiba-tiba wanita itu memegang lehernya seperti orang yang tercekat, lalu perlahan dia jatuh dan mulai kejang-kejang, mulutnya mulai mengeluarkan buih, dan pada akhirnya dia jatuh pingsan," jelas dari salah satu napi itu.
"Baiklah, terima kasih." Polisi itu pun pergi membawa Maya dengan dibantu oleh rekannya.
Para kepolisian dengan segera membawa Maya ke rumah sakit terdekat, agar segera mendapatkan penanganan. Tak lupa juga, kepolisian memberi kabar ke keluarganya.
Di sisi lain, Pasya sangat bertanya-tanya tentang kejadian tadi, mengapa para napi pada berteriak, dia dibuat mejadi sangat penasaran.
"Sebenarnya apa yang terjadi di sana, kenapa para napi pada berteriak tadi?" tanya Pasya pada rekan napinya.
"Entahlah, aku dengar dari salah satu polisi yang lewat, katanya ada seorang napi yang masih gadis jatuh pingsan, dan mulutnya mengeluarkan buih," jawab napi itu, membuat Pasya terkejut.
"Siapa gadis itu, dan bagaimana bisa dia pingsan?" tanyanya lagi.
"Katanya sih gadis itu yang terjerat kasus percobaan pembunuhan, siapa sih namanya, ehmm ... oh iya, namanya Maya," tutur napi itu membuat Pasya terbelalak, dia benar-benar terkejut.
"Ma-Maya? Ke-kenapa dia bisa sampai pingsan?" gagap Pasya karena merasa terkejut plus khawatir.
__ADS_1
"Entahlah, para kepolisian sedang membawanya ke rumah sakit."
"Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan, May. Sungguh, ini sangat berbahaya, mulut keluar buih, apa kau sedang bermain dengan racun?" batin Pasya.
***
"Bagaimana kondisinya, Dok, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya seorang polisi yang sedang menunggu hasil pemeriksaan.
"Pasien sekarang sudah baik-baik saja, dia pun sudah siuman. Untung dia dengan segera ditangani, kalau tidak mungkin sudah berbanding terbalik dengan sekarang. Ehm, sebenarnya kalian memberi makan apa ke pasien?" tanya dokter itu.
"Maksudnya, Dok?" Polisi itu sangat heran dengan pertanyaan yang diberikan dokter itu.
"Iya, Pak. Menurut hasil pemeriksaan, pasien mengalami keracunan, mungkin itu bisa disebabkan oleh alergi terhadap makanan yang kalian berikan," jelas dokter itu. "Untuk sekarang, pasien harus dirawat inap dulu, agar kami dapat memeriksanya secara intensif," sambungnya lagi.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu. Oh iya, keluarganya mungkin akan segera datang," ucap polisi itu.
"Iya, mari...."
Polisi itupun pergi berlalu meninggalkan rumah sakit dan kembali ke kantor polisi. Tak lama kemudian, Frans dan keluarganya sampai di tempat sang putri dirawat. Dokter pun mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Hai, Pah, Mah!" sapa Maya yang terbaring di kasur rawat rumah sakit.
"Ya ampun, apa yang telah terjadi terhadapmu, Nak? Kenapa semua ini bisa terjadi?" Tika menangis melihat sang putri yang saat ini dalam keadaan yang sedang lemah tak berdaya.
"Maafin Maya, Mah. Sebenarnya Maya baik-baik saja, Maya tak betah di dalam penjara, ini semua gara-gara keluarga mereka, aku pastikan akan membuat mereka hancur!" batin Maya.
**************
Hai, kaka reader, ini belum siap flashbacknya yak. Pada penasaran nggak? Kalau iya, kuy komen di kolom komentar. Tunggu kelanjutan ceritanya yak!
__ADS_1
Love You All.