
Beberapa hari kemudian....
Setelah dua hari pasca bangunnya Kevin dari komanya, kini Rey dan Gita telah berada di Rumah sakit, mengurus segala administrasi perawatan sang papa, karena hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu, yaitu hari kepulangan Kevin dari Rumah sakit.
Sengaja hanya Rey dan Gita yang datang menjemput, karena Kesya dan yang lainnya berada di rumah, sedang menyiapkan sebuah perayaan kecil untuk menyambut kepulangan Kevin.
Kesya dan Ina berencana ingin membuat perayaan, yaitu makan malam bersama, bahkan di rumah itu sudah ada Herman dan Windy, selaku orang tua Kevin yang baru saja datang kemarin.
Akan tetapi, saat mendengar kabar bahwa Kevin di Rumah sakit, dirawat karena terkena tembak, sontak membuat Herman dan Windy sangat syok, mereka terkejut. Bahkan, Windy nyaris pingsan, karena memang sebelumnya mereka tak tahu menahu akan masalah itu.
Kini, Herman dan Farhan sedang berada di rumah, membantu wanita-wanitanya dalam manyiapkan parayaan kecil yang dilakukan untuk Kevin.
"Tunggu, Pak! Saya istirahat dulu, saya merasa letih sekali," ucap Herman sembari memegang pinggangnya.
"Haha, iya, Pak! Awas pinggangnya copot," ledek Farhan.
"Enak aja, saya istirahat hanya sebentar, masih kuat ini!" dalih Herman tak terima karena diejek Farhan.
"Jangan malu, Pak, saya tahu Anda sudah tua, hahaha!" Farhan kembali meledek Herman, bahkan, Farhan mulai menautkan masalah umur.
"Dasar! Ingat, kamu juga bakal jadi tua! Sebentar lagi punya cucu," jawab Herman.
"Saya hanya akan punya cucu bukan cicit, lagian saya masih sanggup buat adik lagi untuk Rey dan Gita!" ujar Farhan yang tiba-tiba mendapat jeweran di telinganya.
"Aduh, du duh, sakit!" Farhan mengaduh kesakitan.
"Dasar! Udah bau tanah, tapi nggak ingat umur." Ina tiba-tiba telah berada di belakang Farhan seraya menjewer telinganya.
"Mamvosh! Haha." Herman senang melihat Farhan yang sekarang terlihat seperti suami takut istri.
"Heh, ini juga sama," cubit Windy pada tubuh suaminya.
"Duh, aduh du." Herman mengadu kesakitan karena tiba-tiba sang istri juga telah berada di sampingnya, mencubit pinggangnya.
"Apa-apaan sih, Mah, dateng-dateng main cubit aja!" kata Herman menegur sang istri.
"Papa yang apa-apaan, udah mau punya cicit juga masih bertengkar, malu tau sama umur!" Windy menjawab dalam judes mode on.
"Iya-iya."
****
"Akhirnya ya, Pah. Papa bisa pulang dari Rumah sakit ini," ujar Rey seraya mendorong Papanya di kursi roda.
"Iya, Pah. Gita kangen seperti dulu lagi, berkumpul, bersenda gurau bersama, apalagi sekarang keluarga kita sudah lengkap," ujar Gita.
__ADS_1
"Oh iya, Pah. Di rumah juga sudah ada kakek sama nenek loh!" Rey memberi tahukan kepada sang papa kalau Herman dan Windy ada di rumahnya.
"Hah, apa mereka tahu keadaan Papa?" Kevin terkejut, dia khawatir dengan papa dan mamanya.
"I-iya, Pah. Kakek dan nenek sudah tahu, tapi Papa tenang aja, mereka baik-baik saja kok, meski melewati beberapa adegan menegangkan tadi," ungkap Rey yang kakinya diinjak Gita.
Gita sangat kesal dengan suaminya, bisa-bisanya dia mengungkapkan hal yang tidak perlu.
"Sakit, Yang!" Rey mengadu kesakitan.
"Biarin!"
"Emangnya ada apa tadi, Nak?" tanya Kevin yang penasaran.
"Tuh kan, Mas, tanggung jawab!" Dengus Gita.
"I-iya, nggak ada apa-apa kok, Pah. Papa tenang aja, ya!" ucap Rey.
"Katakan, Nak, gimana keadaan kakek dan nenek kalian? Mereka sehat-sehat kan?" tanya Kevin yang masih penasaran sekaligus khawatir.
"Sebenarnya...."
Flashback....
"Hallo, Kek, Nek, apa kabar?" sapa Rey pada sambungan vidio call.
"Alhamdulillah, Kek, kami semua baik-baik aja. Ehm, Kakek sama Nenek bisa nggak datang ke sini besok?" ucap Rey.
"Bisa, Nak. Emangnya ada apa?" tanya Herman.
"Ini, Kek, Mama Ina sama Mama Kesya mau ngadain sebuah perayaan, Kakek sama Nenek datang ya!" pinta Rey.
"Baiklah, kami akan datang besok."
Vidio call pun ditutup setelah mereka berbincang-bincang sedikit. Akan tetapi, di dalam percakapan tadi, Herman tak bertanya perihal mengapa diadakannya sebuah perayaan.
***
Keesokan harinya....
Kini, Herman dan Windy telah berada di kediaman Nataniel, memenuhi undangan sang cucu kesayangan mereka, siapa lagi kalau bukan Rey, cucu satu-satunya.
Mereka semua berkumpul di ruang keluarga, kecuali Kesya. Karena dia sedang berada di Rumah sakit, menemani Kevin yang masih dirawat. Mereka ngobrol ngalur ngidul, bercanda tawa, hingga pada akhirnya Windy mulai menyinggung perihal perayaan itu.
"Nak, perihal perayaan itu, kapan akan diadain?" tanya Windy.
__ADS_1
"Besok, Bu. Sekalian menunggu Ibu Kesya dan Pak Kevin." Ina menjawab pertanyaan yang dilontarkan Windy.
"Oh iya, di mana Kesya dan Kevin? Kok nggak ada kelihatan sedari tadi?" Gantian Herman yang bertanya, membuat semua orang seketika bungkam, karena bingung harus menjawab apa.
Herman dan Windy sontak mengkerutkan dahinya, mereka berfikir kenapa semua pada diam, kenapa tak ada yang menjawab pertanyaan se-sederhana itu, membuat pasutri lansia itu semakin penasaran, mereka berfikir kalau telah terjadi sesuatu yang telah mereka lewatkan.
"Kenapa pada diam, Pak Farhan, kemana Kevin dan Kesya?" tanya Herman.
"Iya, kemana mereka? Rey, tolong jawab, jangan membuat Nenek menjadi cemas, Nak!" Windy juga ikut mengintrogasi cucunya, membuat Rey menjadi bingung, dia clingak clinguk, memandang istri dan orang tuanya, sebagai pertanda meminta jawaban.
Sedangkan Ina dan Gita sangat bingung, mereka ingin mengatakan seluruh kebenarannya, tetapi, mereka ragu dan takut akan berimbas kepada kesehatan Herman dan Windy. Rey beralih menatap Farhan, bimbang? Itu yang sedang mereka rasakan.
"Katakan, sebenarnya apa yang telah terjadi?" cecar Herman semakin dibuat cemas sekaligus penasaran.
Hingga pada akhirnya, Farhan pasrah dan mengangguk, pertanda setuju dan memperbolehkan Rey untuk menceritakan segalanya.
"Baiklah, Rey akan menjawabnya," ucap Rey. "Sebenarnya, beberapa hari lalu, kami semua menghadapi sebuah insident yang sangat besar. Yaitu istri Rey --Gita, telah diculik oleh Pasya dan Maya," sambung Rey, membuat Herman dan Windy terbelalak karena terkejut.
"Pada saat itu kami semua sangat bingung, hingga pada akhirnya kami berhasil melacak keberadaan Gita. Kami dengan bergegas pergi untuk menyelamatkan Gita dari tangan mereka. Awalnya semua berjalan dengan lancar, akan tetapi, entah dari mana asalnya, Maya tiba-tiba datang dan melepaskan sebuah tembakan yang diarahkan ke kami (Rey dan Gita). Papa Kevin melihat itu, dia langsung berlari, berniat menyelamatkan kami, tapi malah dia yang terkena tembakan itu," jelas Rey membuat Windy menangis, dia sangat terkejut.
"Ke-Kevin, gi-gimana keadaan anakku?" gagap Windy dengan derai air matanya. Sedangkan Herman, dia masih berusaha menahan air matanya, seraya memeluk sang istri.
"Kami dengan segera membawa papa ke Rumah sakit, agar segera mendapat perawatan, kami memasukkan ke bagian pusat trauma, agar papa bisa dengan segera ditangani. Kami bersyukur, karena operasi papa berjalan dengan lancar, tetapi...." Rey berhenti berbicara, dia menggenggam tangan sang istri, berharap mendapat kekuatan, dan memandang Farhan sebagai tanda bahwa dia sedang bertanya, apakah dia harus menceritakan segalanya? Dia mendapat anggukan dari sang papa, membuat dia menjadi yakin untuk menceritakannya.
"Ta-tapi apa, Nak?" tanya Windy.
"Tapi, kami mendapat kabar kalau papa mengalami Syok Hipovalemik, sehingga beliau menjadi koma," ungkap Rey.
Sontak membuat Herman meneteskan air matanya, sedangkan Windy? Dia langsung lemas, membuat semua orang menjadi histeris, dan mendekatinya.
"Nek, Nenek! Nenek nggak apa-apa?" tanya Gita memegang tangan sang nenek seraya mengusap telapak tangannya agar tetap hangat.
"Ne-Nenek nggak papa, te-terus, gimana keadaan anakku?" tanya Windy.
"Papa koma selama seminggu, tapi Nenek tenang aja, papa udah sadar kok, dan besok papa sudah boleh pulang!" ungkap Rey membuat Herman dan Windy merasa lega.
Flashback off....
"Begitulah, Pah!" ucap Rey setelah menceritakan semuanya.
"Dasar bodoh! Kenapa kalian kasih tahu mereka, untung mereka tak terkena serangan jantung." Dengus Kevin sebal, sedangkan Rey dan Gita hanya bisa cengar-cengir, memandang satu sama lain.
***************
Hai kaka reader, gimana bab kali ini? Jangan lupa tinggalin jejak ya! Like, komen, fav, rate, dan votenya jangan lupa, gift juga boleh, walau hanya setangkai bunga mawar, agar author makin semangat up-nya, wkwk.
__ADS_1
Sampai jumpa lagi.
See You All.