Adikku Is My Wife

Adikku Is My Wife
Masih Koma


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu, kini telah seminggu Kevin dirawat di Rumah sakit, tetapi dia belum ada menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan sadar. Seluruh keluarga merasa sedih, terutama Rey dan Kesya. Baru hitungan hari mereka dapat berkumpul kembali, tetapi takdir kembali memisahkan mereka.


Dokter terbaik dari semua daerah di Indonesia telah didatangkan oleh Farhan demi memulihkan kondisi Kevin agar segera bangun dari komanya, bahkan beberapa dokter dari luar negeri juga sudah dia datangkan, tetapi semua hanya sia-sia. Kevin seakan menolak seluruh pengobatan yang ada, beliau masih sangat betah dengan tidurnya.


Seluruh keluarga selalu menemaninya secara bergantian, mengajaknya berbicara meski tak mendapatkan respon apapun, tak luput juga mereka membersihkan tubuh Kevin meski hanya dengan menggunakan tissu ataupun kain basah. Keluarga sudah pasrah atas apa yang terjadi, mereka menyerahkan semua kepada Tuhan YME.


Kecuali Rey, dia masih percaya kalau sang papa masih bisa bangun, dia tidak patah semangat, dia terus berdoa kepada yang kuasa, meminta kesembuhan atas segala derita yang sedang dialami sang papa. Tak luput juga dukungan dari sang istri, Rey masih bisa bertahan untuk tetap percaya akan kesembuhan Kevin, karena ada Gita yang selalu memberikan motifasi kepada Rey dikala dia putus asa. Gita selalu menghibur sang suami saat Rey merasa apa yang selama ini dia lakukan hanyalah sia-sia belaka, tak memberikan dampak apapun terhadap Kevin --Papanya.


"Mas, nanti kita nginap di Rumah sakit ya!" ajak Gita.


"Iya, nanti kita ke Rumah sakit gantiin mama, pasti mama di sana kelelahan jagain papa," jawab Rey menerima ajakan sang istri. "Yaudah, kalau gitu mas berangkat ke kantor dulu ya, entar siang kita perginya!" sambung Rey.


"Iya, Mas. Hati-hati ya, jangan lupa mie tek-teknya!" Gita menyalamin Rey sembari mengingatkan sang suami akan pesanannya.


"Iya iya, dasar bumil!" ledek Rey.


"Ikh, awas aja kalau enggak dibawain, Mas tidur di luar!" ancam Gita.


"Hih, mas mana bisa tidur di luar, Yang!" protes Rey.


"Ya makanya, kalau gak mau tidur di luar, jangan sampai lupa pesenanku, ingatloh! Ini yang minta anak kamu," seru Gita.


"Iya iya, yaudah, Mas berangkat yah, anak papa juga jangan bandel, ya! Sampai jumpa lagi," pamit Rey pergi meninggalkan anak dan calon istrinya di rumah, tetapi tak sendirian. Pasca insident beberapa hari lalu, Rey benar-benar menjadi ekstra siaga, seluruh keluarga tak boleh keluar rumah kalau tak dikawal oleh bodiguard, bahkan rumah kediaman keluarga Nataniel yang sudah memiliki keamanan yang cukup ketat, semakin diperketat oleh Rey.


*****


"Vin, mau sampai kapan kamu tidur begini terus? Apa kau tak rindu aku?" tanya Kesya pada Kevin yang tengah berbaring di ranjang Rumah sakit.


"Sudah seminggu kau koma, kenapa kau betah sekali dengan tidurmu? Apa kau gak mau bangun lagi? Kau gak mau lihat cucu kita nanti? Hiks...." Tangis Kesya kembali pecah, selama seminggu ini dia sudah banyak menangis, bahkan di sekitar kelopak matanya sudah mulai menghitam.


"Kata para dokter, kalau orang koma itu bisa mendengar apa yang ada di sekelilingnya, kalau kau dengar semua perkataanku, ku mohon padamu bangun! Ku mohon bangun!" Kesya menangis semakin kuat sembari memegang tangan suaminya, sesekali mengecup tanganya.


Sedangkan di sisi lain, Kevin yang mendengarkan semua perkataan sang istri menjadi sangat sedih, dia ingin merespon segala perkataan dari sang istri, tetapi dia sulit sekali menggerakkan anggota tubuhnya, jangankan membuat pergerakan dengan jarinya, membuka mata saja tak bisa dia lakukan.


"Aku mendengar semuanya, Key. Maafkan aku karena tak bisa merespon semua perkataanmu, aku ingin bangun dan kembali berkumpul dengan kalian, tapi entah mengapa seluruh tubuhku saat ini sedang mati rasa, aku tak bisa berbuat apa-apa, maafkan aku!" ucap Kevin dari alam bawah sadarnya.


Sedangkan di luar ruangan, Farhan dan Ina memperhatikan semua yang dilakukan Kesya lewat cendela kecil yang ada di pintu. Mereka turut sedih atas apa yang menimpa Kevin, apalagi Kevin celaka karena berusaha menyelamatkan putra putrinya.


"Pah, kapan Pak Kevin akan bangun? Mama sedih melihat Ibu Kesya sama Rey yang terus bersedih seperti ini." Ina menangis di dada suaminya.

__ADS_1


"Papa juga gak tahu, Mah, kita berdoa aja, semoga Pak Kevin segera bangun dari komanya dan keadaan kembali seperti semula." Farhan memeluk sang istri.


"Iya, Pah, semoga semua kembali seperti semua dan keadaan menjadi baik-baik aja." Ina juga ikut berdoa.


Semua berharap akan keadaan yang semoga kembali seperti sedia kala.


*****


DI RUMAH KELUARGA DEVAN


"Dev, ke Rumah sakit yuk!" ajak Anggi.


"Mau ngapain, tapi jadwal pemeriksaan kandungan kamu masih sebulan lagi?" tanya Devan.


"Bukan cek kandungan, kita jenguk orang tuanya Reyhan, mau ya!" pinta Anggi.


"Sekarang?"


"Besok!"


"Oh yaudah," ucap Devan.


"Lah, tadi katanya besok, gimana sih?" Devan jadi serba salah.


"Tau ah, aku mau ajak mama sama papa aja!" Anggi ngambek dan berlalu pergi meninggalkan Devan sendirian.


"Jangan dong! Nggi, Anggi!" Devan pun berjalan mengikuti sang istri.


Anggi terus berjalan ke ruang keluarga, di situ telah ada mertuanya, Frans dan Tika. Mereka terlihat santai, menonton TV berdua.


"Hai, Mah, Pah" sapa Anggi.


"Eh, Nak, sini gabung!" Tika menyuruh Anggi untuk duduk di sofa, bergabung dengan mereka menikmati hari yang cukup renggang dari berbagai kesibukan.


Dari belakang, ada Devan yang juga ikut datang menyusul sang istri yang sekarang tengah bersantai dengan orang tuanya.


"Nggi, main tinggal-tinggal aja!" protes Devan.


"Mau apa kamu, sana jauh-jauh!" Anggi masih betah dengan ngambeknya.

__ADS_1


"Jangan ngambek terus dong, entar anak kita juga ikut ngambek," kata Devan.


"Biarin!"


"Kalian kenapa sih, kok bertengkar?" tanya Tika.


"Dia, Mah. Aku ajak ke Rumah sakit jenguk orang tuanya Reyhan nggak mau," ungkap Anggi.


"Bukan nggak mau, Mah!" elak Devan.


"Oh iya, bener kata Anggi, Papa juga belum pernah jenguk orang tuanya temen kalian itu, siapa namanya?" tanya Frans.


"Namanya Reyhan, Pah, dan papanya namanya Kevin yang sekarang tengah dirawat gara-gara Maya." Devan memberi tahu papanya dengan raut wajah sendu.


"Udah, jangan diingat-ingat lagi, semua sudah berlalu!" ucap Frans. "Ehm, kapan kalian mau jenguk mereka?" sambung Frans bertanya.


"Niat hati hari ini, Pah, tapi dia nggak mau!" sindir Anggi.


"Kenapa nggak mau, Dev?" tanya mamanya --Tika.


"Bukan nggak mau, Mah, Devan takut aja kalau mereka menyalahkan kita, dan Devan takut Anggi jadi tertekan dan berimbas kepada kandungannya," jelas Devan.


"Aku enggak apa-apa kok," bela Anggi.


"Iya, Nak. Mau bagaimanapun kita harus siap akan konsekuensi yang akan kita terima nantinya, kan emang semua ini salah keluarga kita, akan lebih baik jika kita ber-etiket baik, kita datang dan meminta maaf atas apa yang telah terjadi, terserah apa tanggapan mereka yang terpenting kita sudah minta maaf!" Frans memberikan petuah untuk Devan.


"Iya, benar kata papamu, yaudah, yuk kita sama-sama pergi ke Rumah sakit, kita jenguk mereka!" ajak Tika.


"Yaudah deh, tapi kamu harus janji sama aku, Nggi! Apa pun nanti yang terjadi, kamu harus kuat demi anak kita!" pinta Devan.


"Iya, aku janji akan selalu jaga anak kita!" jawab Anggi.


*************


Hai kaka reader, author kembali up lagi, maaf ya author kelamaan hiatus nya, kemaren aku fokus sama sekolah, jadi novelnya terbengkalai, sekali lagi maaf ya. Jangan lupa tinggalin jejak! Like, komen, vote, dan rate fullnya jangan lupa! Terima kasih kepada kalian semua yang masih stay menunggu cerita aku.


Sampai jumpa lagi.


SEE YOU ALL.

__ADS_1


__ADS_2