
Byurrrrrrrrrrr....
Disiramnya wanita itu dengan air yang sangat dingin, sungguh tak berperikemanusiaan sekali. Sudah tangan dan kaki diikat pada besi pinggir tempat tidur, kini saat tidur malah dibangunkan dengan menyiram air yang sangat dingin.
"Heh, bangun kau wanita sialan!" bentak Pasya kepada tawanannya.
"Hiks, kenapa kau kejam sekali kepadaku, sedari dulu kau selalu berbuat kejam kepadaku, hiks apasih salahku kepadamu?" tanya wanita itu sambil menangis meratapi nasibnya.
"Heh, kau masih tanya apa salahmu, dasar wanita tak tau diri, kau telah merebut cintaku kau nggak sadar hah, kau datang ke kehidupanku dan Kevin, dengan tak tau dirinya kau merampas semuanya dariku," ucap Pasya yang sangat emosi.
"Hiks, tapi kami saling mencintai, dan kami sudah memiliki seorang putra," jawab wanita itu masih menangis.
"Persetan dengan anak kalian, denger ya, aku udah nemuin anak kalian dan aku akan melenyapkannya, hahaha." Pasya tertawa jahat.
"Kenapa? Kenapa kau tega ngelakuin ini, apa masik kurang kau telah menghancurkan rumah tangga kami, dan kau telah merebut aset-aset suamiku, apa itu masih kurang untukmu!" teriak Kesya, ya yang sedang disekap Pasya adalah Kesya, istri dari Kevin, dan ibu kandungnya Rey.
Plak....
Telak sudah, Kesya telah ditampar oleh Pasya, dia benar-benar sangat emosi.
"Berani sekali kau berteriak kepadaku. Kau lihat saja, bukan hanya anakmu tapi seluruh keluarganya akan aku buat menderita!" ucap Pasya setelah menampar Key, dia pun berlalu meninggalkan Key sendiri dalam keadaan basah kuyup.
"Syukurlah anakku masih hidup, hiks a-aku harus menghentikan dia, aku harus bebas, tapi bagaimana caraku untuk keluar dari tempat menyeramkan ini? Ya tuhan, tolonglah aku," ucap Key seraya berusaha melepaskan ikatannya namun hanyalah sia-sia.
Di sisi lain, ada seseorang pria yang telah melihat hal itu, dia yang selama ini menjaga Key agar tak kabur merasa iba, sungguh dia sudah tak tahan melihat wanita malang itu menderita seperti ini. Akan tetapi apalah daya, dia tak berani membantu wanita itu karena takut dipecat.
"Kasihan sekali wanita itu, sungguh kejam sekali Ibu Pasya, padahal dia telah menyekapnya selama dua puluh satu tahun, tetapi dia masih saja bertindak kejam, bahkan ini sudah melebihi hukuman dipenjara," ucap pria itu iba.
"Heh, ngapain kamu lihat-lihat, jaga wanita itu, jangan sampai dia kabur!" titah Pasya mengagetkan.
"I-iya, Bu!" jawab pria itu gugup.
*******
Seminggu kemudian....
"Ayo, Mas, hari ini kamu sidang loh, kok sampai sekarang nggak bangun bangun sih!" seru Gita membangunkan sang suami.
Cuph....
__ADS_1
"Morning kiss sayang." Bangun Rey dari tidurnya tetapi, tiba-tiba mengecup bibir Gita, sungguh Gita sangat terkejut.
"Mas, ikh ngagetin aja, mau bunuh aku ya?!" bentak Gita, tetapi si pelaku malah terkekeh.
"Udah ah. Mas, bangun hari ini kamu sidang loh!" ucap Gita kembali.
"iya iya." Rey bangkit dari tempat tidur dalam keadaan tubuh polos.
"Mas, ikh dipakek dulu itu celananya!" tegur Gita menutup mata dan wajahnya memerah menahan malu.
"Kok kamu malu sih, kan mas udah lihat semuanya, mas aja sudah hafal seluk beluk tubuh kamu," ucap Rey malah mendekati Gita.
"Mas, ikh" jawab Gita semakin malu.
Kini Rey sudah ada di belakang tubuh Gita, lebih tepatnya dia tengah memeluk Gita dalam keadaan polos, sungguh melihat sang istri salah tingkah merupakan hiburan tersendiri bagi Rey, dia kini semakin bahagia karena tak salah memilih istri. Terbukti istrinya masih sangat polos dan pemalu, padahal mereka telah melakukan hal yang lebih dari pada itu.
"Yang, terima kasih untuk yang tadi malam, nanti lagi ya, cuph...." bisik Rey dan mengecup pipi Gita sekilas abis itu langsung lari ke kamar mandi. Sungguh perkataan Rey sangat membuat Gita malu bukan kepalang, wajahnya sudah seperti kepiting rebus, sangat merah bak pakai blash on.
"Maassssssssss!" teriak Gita malu.
"Hahaha, polos banget istri aku," ucap Rey di depan pintu kamar mandi.
*******
"Nak, kok kamu kayaknya nggak gugup sama sekali? Padahal kamu mau sidang skripsi loh," tanya Kevin.
"Eh iya, kok kamu seperti tenang gitu, hayo kamu curang ya?" timpal Farhan meledek, karena dia emang tahu bahwa anaknya yang satu ini sangat cerdas.
"Ikh, mana ada Rey curang, dan buat apa Rey gugup? Rey aja udah banyak sekali bertemu orang hebat, bahkan semua pekerjaan kantor Rey yang handle, bahkan sudah seakan-akan papa Farhan sudah pensiun!" sindir Rey.
"Hahaha, papa kan sengaja ngelatih kamu, bentar lagi kamu kan wisuda, jadi papa akan pensiun dan kamu juga akan gantiin papa," ucap Farhan.
"Nah bener itu, papa juga akan pensiun, kamu juga harus gantiin papa!" ucap Kevin tak mau kalah.
"Apa-apaan ini, tega banget ngelimpahin dua perusahaan besar kepada anakku," sergah Ina sinis.
"Iya, Mah, kalau dua perusahaan sama Rey, terus kapan Rey ada waktu untuk istri Rey, satu perusahaan aja kadang Rey lembur," ucap Rey protes.
"Entah papa ini, emang suami Gita mesin nggak punya keluarga," timpal Gita ikut membela Rey.
__ADS_1
"Makanya nanti kalau punya anak jangan cuman satu,buat yang banyak biar rame!" seru Farhan nyeleneh sukses membuat Gita bungkam dan malu.
"Tentu, Pah, lihat aja nanti, aduh sakit, Yang!" ucap Rey terpotong karena Gita menginjak kaki suaminya dan dia juga mendapat pelototan dari sang istri, alhasil Rey pun memilih diam.
"Udah-udah! Nanti telatloh, yaudah semoga lulus ya, Nak!" ucap Ina menghentikan pembicaraan.
"Aminn, yaudah Mah, Rey sama Gita pamit, assalamualaikum!" pamit Rey dan Gita kepada Ina, tetapi tidak dengan couple papa itu.
"Loh, nggak pamit sama papa?" ucap keduanya.
"Nggak, gara-gara papa istri aku ngambek!" ucap Rey dan langsung pergi meninggalkan rumah.
Di perjalanan, Rey tak henti-hentinya ngebujuk sang istri untuk bicara, salah Rey juga sih karena menanggapi papanya, kini dia yang kena akibat dari ucapan frontalnya.
"Yang, uda dong jangan ngambek lagi!" bujuk Rey tetapi Gita tetap diam.
"Kamu mau tetap diam, hemm? Sepertinya makan kamu di dalam mobil enak ini, mumpung sidangnya masih satu jam lagi." siasat Rey.
"Ish, Mas nggak peka banget sih, badan aku aja masih capek banget, ngantuk lagi, kita baru tidur jam tiga pagi loh!" ucap Gita ketus yang akhirnya berbicara.
"Nah gitu dong bicara, lagian kamu nggak mau punya anak banyak?" tanya Rey.
"Ya mau, tapi satu aja belum, ah sudahlah," ucap Gita pasrah.
"Kamu tenang aja, setelah anak pertama kita lahir, satu tahun kemudian kita buat lagi," ucap Rey tak masuk akal.
Mereka terus saja berbicara, kadang tertawa, kadang marah dan terkadang sedih, hingga tanpa mereka sadari di depan mereka ada sebuah mobil yang melaju kencang yang sepertinya akan menabrak mereka.
"Mas, awasss!!!" teriak Gita dan Rey dengan cekatan dia langsung membanting setir ke luar jalur aspal, dan Rey berhasil terhindar dari maut itu, tetapi mereka malah menabrak pohon dan kepala Gita terbentur jok mobil, tidak terlalu keras, tetapi mengenai luka yang ada di kepalanya, alhasil kepalanya kembali mengekuarkan darah.
"Yang, kamu nggak apa-apa? Yang?" ucap Rey khawatir.
"Aku nggak apa-apa, Mas, hanya sedikit pusing aja," jawab Gita, Rey pun langsung membawa sang istri keluar dari dalam mobil.
"Tolong, tolong saya, Pak?" teriak Rey dan para warga yang melihat ada yang kecelakaan langsung mendekat dan menolong Rey dan Gita, syukur tak ada luka serius, hanya mobil mereka yang agak hancur bagian depan.
"Sial, sial, sial!" ucap orang yang berada di mobil tadi.
****************
__ADS_1
Hai guys, cuman mau ngingetin jangan lupa like sama komen ya! Jangan jadi pembaca rahasia karena like dari kalian membuat kami para author makin semangat untuk up lagi.
SEE YOU ALL.