Adikku Is My Wife

Adikku Is My Wife
Usaha Kesya


__ADS_3

Keesokan harinya....


Di kediaman Nataniel, lebih tepatnya di kamar Rey dan Gita, Rey sedang kalang kabut sebab sepulang dari rumah sakit, esoknya sehabis bangun tidur istrinya mengalami pusing hebat, mual-mual terus hingga wajah sang istri terlihat sangat pucat.


Huek....


Huekkk....


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, tetapi lasutri itu tak kunjung keluar dari kamar, bagaimana dengan yang lain? Tentu saja mereka memaklumi karena pasutri baru itu habis mengalami kecelakaan jadi mereka menganggap mereka sedang istirahat. Padahal sebenarnya Gita sedang mual-mual di kamar mandi, karena kamar mereka kedap suara dan kebetulan di lantai atas jadi sudah mustahil di dengar oleh penghuni lainnya.


"Yang, wajah kamu pucet banget, kita ke Rumah sakit ya!" ajak Rey khawatir.


"Aku nggak apa-apa, Mas, bantu aku ke tempat tidur aja!" ujar Gita yang dituruti Rey.


Saat sudah berada di tempat tidur Gita langsung berbaring.


"Mas sini, ikut baring!" suruh Gita kepada suaminya.


"Ehm? Mas ambil sarapan sama air hangat untuk kamu dulu ya, wajah kamu pucet banget loh," kata Rey berjalan tetapi baru dua langkah tiba-tiba Gita berbicara.


"Mas mau ninggalin aku sendiri? Mas udah nggak sayang lagi sama aku? Hikss, hikss...." ucap Gita tiba-tiba menangis, jelas Rey sangat terkejut saat sang istri menangis. Dia langsung mendekat dan menghapus air matanya, dia benar-benar kebingungan sebab sang istri menangis tiba-tiba.


"Eh, kamu kok nangis, mas nggak bakal ninggalin kamu, mas cuman mau ambil sarapan buat kita, kan perut kamu kosong tuh tadi karena muntah," ucap Rey menjelaskan.


"Hiks, hiks Mas di sini aja, kita tidur lagi!" pinta Gita masih menangis.


"Istri aku kenapa sih? Nggak di apa-apain malah nangis." Pikir Rey.


"MASS.....!!" Tiba-tiba Gita membentak dan menyadarkan Rey dari pikirannya.


"Eh, i-iya, kita tidur lagi, yaudah yuk baring!" ucap Rey pasrah.


"Mas, peluk aku!" pinta Gita lagi.


"Siap, Sayang!" terima Rey yang nggak pernah marah saat sang istri bersikap manja.


"Udah nggak pusing lagi, Yang?" tanya Rey kepada Gita.


"Udah kurang, Mas, kamu kok makin tampan sih? Suami siapa cobak?" kata Gita tiba-tiba memuji Rey.


"Suami tetangga," jawab Rey seloroh tetapi malah hal mengejutkan terjadi.

__ADS_1


PLAKkkkkk....


"Aduh, kok ditampar sih, Yang? Sakit tau," ucap Rey memegang pipinya yang memerah akibat terkena tamparan dari sang istri.


"Ngapain coba bawa-bawa tetangga, udahlah sana jauh-jauh! Enggak usah tidur sama aku," jawab Gita kesel, marah, ngambek jadi satu.


"Eh, canda, sini mas peluk!" ucap Rey.


"Malas, udah sana jauh-jauh, malas sama barang bekas tetangga," ujar Gita ketus.


"Bekas gundulmu, udah sini mas peluk atau mas makan kamu!" ucap Rey mengancam, Gita langsung nurut.


"Nah gitu dong nurut sama suami, yaudah tidur biar enakan badannya," kata Rey kembali dan mereka pun tertidur kembali.


Sedangkan di bawah, Ina, Farhan dan Kevin sedang berada di ruang keluarga, menunggu Rey dan Gita yang tak kunjung keluar dari dalam kamarnya.


"Ini kelewatan namanya, udah jam sembilan lewat loh, kok mereka belum bangun sih, nanti Rey terlambat ke kantor," seru Farhan.


"Biarin dong, Pah, mungkin mereka kelelahan pasca insident kemarin," balas Ina.


"Iya, Mah, tapi Rey harus ke kantor," ucap Farhan kembali.


"Enak aja, Papa. Papa udah berapa minggu libur, biar hari ini Rey di Rumah, Papa yang ke kantor!" balas Ina ketus.


"Yakan masih mau, bukan udah, nggak ada bantahan papa sekarang yang ke kantor, masak kalah sama Pak Kevin, mama nggak mau ya punya suami pengangguran!" balas Ina semakin ketus.


"Enak aja penganguran, itukan perusahaan papa!" balas Farhan juga ikut ketus.


"Iya, tapi yang punya perusahaan udah lama jadi pengangguran," balas Ina meledek.


Bagaimana Kevin? Dia tersenyum kecut, bukanya disuguhkan makanan atau secangkir kopi, malah disuguhkan dengan pertengkaran hal sepele dari pasutri kadaluarsa ini.


"Ekhm, jangan bertengkar, udah bau tanah juga!" ucap Kevin bersuara.


"DIAM!!" teriak keduanya yang membuat Kevin kaget.


"Kok saya sih yang jadinya di marahin, dasar pasutri kadaluarsa," gerutu papa Kevin.


*******


"Huh, tinggal dua minggu lagi aku bakal keluar dari tempat ini, persetan dengan kakak, pokoknya setelah bebas aku akan menghancurkan keluarga mereka, dan akan kubuat kalian merasakan penderitaan juga!" ucap Maya berencana dibalik jeruji besi penjara, dia sudah memikirkan berbagai rencana untuk mengahancurkan keluarga Gita.

__ADS_1


*******


Di sisi lain, seorang suruhan dari Pasya melihat keadaan tawanannya yang dalam keadaan yang mengenaskan, bagaimana tidak? Setelah di


siram dengan air kemarin, dia tak di perbolehkan untuk mengganti pakaiannya, bahkan seharian tak dikasih makan, dalam keadaan baju yang basah kuyup, dengan teganya Pasya tak memperbolehkan siapa pun untuk mematikan kipas angin, alhasil sekarang kondisi Kesya sedang pucat pasih, dia benar-benar seperti orang yang kehabisan darah.


Sungguh, melihat keadaannya, hati dari orang itupun tergerak. Dia mendekati Kesya, tak lupa mematikan kipas angin setelah itu membuka ikatannya dan menyuruh Kesya untuk mengganti pakaiannya.


"Bangun, Bu! Ibu ganti pakaian dulu, nanti saya akan bawaka makanan dan obat, kelihatannya Anda sedang jatuh sakit, karena tubuh Anda sangat panas," ucap orang itu.


"Kenapa? Kenapa kau mau menolongku?" tanya Kesya.


"Hati manusia mana yang tak akan sakit jika melihat sesamanya dalam keadaan yang mengenaskan," ucap orang itu.


"Kalau kau ingin menolongku, tolong bebaskan aku dari tempat ini, dua puluh satu tahun aku telah di sekap, kumohon tolong aku, aku ingin melihat keluargaku, aku mohon kepadamu, aku harus menyelamatkan suami dan anakku hiks ... Hiks...." ucap Kesya memohon sambil menangis.


"Maaf, Bu, saya tak berani, saya takut dipecat, kalau saya dipecat siapa yang akan menafkahi keluarga saya," jawab orang itu menolak permohonan Kesya.


"Kumohon, aku akan tetap megingat jasamu, kalau masalah kerjaan kau tenang saja,suamiku seorang pengusaha, ajak saja keluargamu,aku nanti yang akan tanggung jawab!" bujuk Kesya.


"Tapi--" tolak orang itu.


"Kumohon!" pinta Kesya lagi.


"Baiklah, Bu, saya akan membantu Anda," ucap orang itu membuat Kesya bahagia.


"Makasih, Pak, saya janji akan bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi kedepannya, termasuk keluarga Anda," ucap Kesya semringah.


"Iya, Bu, nggak apa-apa saya ikhlas membantu," jawab orang itu.


"Engak apa-apa, Pak. Pokoknya nanti urusan Anda, saya yang akan handle, oh iya, kenalin saya Kesya," kata Kesya mengenalkan dirinya.


"Saya Radit," balas Radit berjabat tangan.


"Salam kenal, Pak, terima kasih atas bantuannya," seru Kesya.


"Yaudah, Bu, ayo kita segera keluar dari tempat ini, kebetulan penjaga di luar lagi istirahat makan siang," ajak Radit.


****************


Hai kaka Reader, gimana chapter kali ini? Jangan lupa ya like sama komennya, jangan lupa juga votenya. Terima kasih.

__ADS_1


SEE YOU ALL.


__ADS_2