
"Maaaaassssssss!" pekik Gita.
"I-iya, Yang?" jawab Rey sedikit takut.
"Mana mie tek-tek pesanan aku?" Gita menagih apa yang dia tadi pagi sebelum sang suami pergi ke kantor.
"Hehe... Lupa, Yang." Rey salah tingkah saat tiba-tiba Gita meletakkan tangannya di pinggang.
"Maaaassss! Aku nggak mau tau, pokoknya aku mau mie tek-tekku sekarang!" Suara Gita semakin meninggi.
"Mas capek, Yang. Mas baru aja pulang," ucap Rey memelas.
"Aku enggak mau tau, suruh siapa Mas lupa? Pokoknya sekarang Mas keluar, carikan mie tek-teknya, atau Mas tidur di luar!" Telak sudah, Gita mengeluarkan ancaman yang sangat mengerikan bagi seorang Reyhan.
"Mana bisa Mas tidur di luar, Yang, jangan dong!" Rey memohon kepada sang istri.
"Yaudah, carikan apa yang aku pingin!" pinta Gita.
"Mas bener-bener capek, Yang, hari ini di kantor banyak sekali yang harus dikerjakan," jelas Rey membuat Gita jadi merasa bersalah, sebab dia sudah begitu egois, beruntung Rey dengan sabar menghadapinya.
"Lagian kita kan mau ke Rumah sakit, nanti sekalian aja!" sambung Rey lagi.
"Yaudah, tapi jangan diulangi lagi. Ingat, ini semua bukan aku yang minta, tapi calon anak kita!" kata Gita membuat Rey juga ikutan merasa bersalah.
"Maafin Mas ya, Yang! Mas akan berusaha memenuhi apa yang kamu minta," ucap Rey sendu.
"Iya, yaudah sekarang Mas mandi, abis itu kita makan siang bareng-bareng, air hangatnya udah aku siapin tadi!" kata Gita.
"Makasih ya, nanti setelah makan kita langsung cari mie yang kamu minta, sekalian kita pergi ke Rumah sakitnya," tutur Rey.
Rey pun pergi berlalu ke kamarnya untuk membersihkan diri, sedangkan Gita pergi ke dapur, menyiapkan makanan dan membungkus makanan yang akan mereka bawa ke Rumah sakit untuk Kesya, Farhan, dan juga Ina yang sekarang tengah menjaga Kevin yang sedang berbaring di ranjang Rumah sakit.
Sedangkan di sisi lain, ada Devan dan keluarganya yang telah sampai di Rumah sakit, bermaksud baik untuk membesuk Kevin yang sedang sakit, sekaligus menyelesaikan segala masalah yang ada di antara mereka, supaya tak ada lagi yang menjadi pikiran yang membuat semua pihak menjadi sakit dan tertekan.
Mereka terus berjalan melewati koridor hingga sampai tepat di depan ruangan Kevin dirawat. Akan tetapi, saat Frans ingin mengetuk pintu, tiba-tiba Devan menghentikannya.
"Tunggu!" ucap Devan.
__ADS_1
"Ada apa, Dev?" tanya Anggi heran dengan Devan.
"Kalian yakin akan hal ini?" tanya Devan yang mungkin dalam hatinya masih terbesit sebuah keraguan, membuat Frans dan Tika mengerutkan dahinya, karena heran melihat sang putra yang masih ragu untuk melakukan hal yang semestinya dari dulu dia lakukan.
"Kenapa kamu ragu, Nak? Jangan khawatir, terlepas dari apapun, kita harus melakukannya!" tutur Frans kepada Devan.
"Iya, Nak, ayo kita lakukan, agar kita tak merasa bersalah terus terhadap mereka!" ajak Tika.
"Bukan itu yang Dev maksud, Pah, Mah. Dev takut mereka malah marah dan membuat Anggi tertekan, sehingga berimbas kepada calon anak kami," jelas Devan yang ternyata sedang mengkhawatirkan istrinya yang tengah mengandung.
"Aku enggak apa-apa kok, Dev. Aku tahu kamu mengkhawatirkanku, tetapi mau bagaimanapun kita tak boleh mundur lagi, aku janji akan baik-baik aja!" ucap Anggi berusaha meyakinkan Devan.
"Tapi--" kata Devan terpotong karena Anggi memegang tangan Devan membuat Devan menghela nafas kasar.
"Baiklah, ayo kita lakuin!" Devan pun akhirnya menuruti kemauan keluarganya.
Mereka berempat pun masuk ke dalam ruangan tempat Kevin dirawat, tetapi tak lupa pula mereka mengetuk pintu sebelum masuk.
Disaat mereka mengetuk pintu, ada seorang wanita paruh baya yang membukakan pintunya. Dia adalah Ina, istri dari Farhan, dia sedikit ragu untuk mempersilahkan mereka untuk masuk, tetapi karena melihat sorot mata keluarga Devan yang terlihat memohon, akhirnya dia pun mempersilahkan dengan lapang dada.
"Silahkan!" ucap Ina.
********
Kini Rey dan Gita tengah dalam perjalanan menuju Rumah sakit, setelah tadi sebelumnya mereka membeli apa yang Gita mau. Akan tetapi, mereka juga membawa beberapa pakaian untuk ganti, karena mereka berencana menginap beberapa hari di Rumah sakit, untuk menemani Kevin dan menggantikan Kesya yang mungkn sudah lelah karena selama ini dia yang menjaga Kevin selama seminggu terakhir paska operasi itu.
"Kamu yakin mau menginap, Yang?" tanya Rey sedikit khawatir.
"Iya, Mas. Aku mau gantiin mama, pasti dia sangat letih di sana," jawab Gita.
"Yaudah, yang penting kamu juga jangan sampai kelelahan, soalnya Mas kan juga harus ke kantor, Mas nggak bisa stay nemenin kamu dan papa di sana," tutur Rey memperingati sang istri. "Ingat! Kamu sekarang juga lagi mengandung, jangan sampai kelelahan!" sambung Rey lagi.
"Iya, siap suamiku!" jawab Gita yang menggembungkan wajahnya, terlihat sangat imut, membuat Rey jadi gemas.
"Gemesh banget sih, sini Mas cium!" suruh Rey.
"Enak aja! Awas kalau macem-macem!" ancam Gita sebelum Rey menerkamnya.
__ADS_1
"Abisnya kamu imut, Yang. Lagian Mas udah puasa lama banget loh," kata Rey membuat pipi Gita ngeblush, memerah seperti mengenakan blash on.
"Mas apaan sih, mulai deh julidnya." Gita menjadi salah tingkah.
"Haha, tuh lihat, wajah kamu memerah!" Rey tertawa saat melihat sang istri yang salah tingkah akibat merasa malu.
"Ikh, mana?" Gita langsung melihat ke arah spion mobil dan berkaca. Akan tetapi, saat dia baru saja menatap spion, Rey mengatakan sesuatu yang membuat Gita level bin jengkel.
"Lihat! Cantikkan monyetnya?" ucap Rey seloroh, tetapi berbeda dengan Gita.
"Jadi, Mas nyamain aku dengan monyet gitu? Hah!?" kata Gita yang suaranya langsung meninggi, pertanda kalau dia mulai marah.
"Eh, Mas bercanda, Yang, jangan marah!" Rey menjadi sedikit takut saat menyadari kalau kata-katanya telah menyakiti hati istrinya.
"JAWAB!!!" teriak Gita.
"Ma-maafin Mas, Yang, Mas tadi cuman bercanda, jangan marah ya!" pinta Rey.
"Duh mati, lupa lagi kalau emosi bumil kagak stabil, gimana ini?" batin Rey.
"Maaf, maaf, kalau ngomong tuh hati-hati, cantik gini dibilang monyet, yang ada tuh princes," tutur Gita yang tiba-tiba emosinya berubah, dia mulai menyombongkan diri.
"Dih, tadi marah-marah, sekarang malah sombong, dasar bumil!" batin Rey lagi. "Tapi syukur deh, selamat," sambungnya lagi.
"Iya-iya, kamu princes, nah Tuan putri, sekarang balikin spionnya, nanti kalau Mas nggak lihat-lihat sekitar bisa kecelakaan, nah kalau kecelakaan nanti kamu bisa luka-luka terus jadi jelek deh!" kata Rey nyeleneh.
"Hush, kebiasaan kalau ngomong nggak difilter dulu!" kata Gita geram.
"Hehe, yaudah kita bentar lagi nyampek Rumah sakit, nggak mau mampir-mampir lagi kan?" tanya Rey.
"Enggak, Mas."
*****************
Hai kaka reader, author up lagi, maaf ya kemaren bolos lagi, soalnya Hpnya lagi error, jadi harus dibenerin dulu, sekali lagi maaf ya.
Jangan lupa tinggalin jejaknya! Like, komen, dan vote. Terima kasih.
__ADS_1
See You All.