
Setelah Kesya berhasil membongkar kedok pembantu itu, kini Rey dan yang lain sedikit merasa lega sebab mereka telah tau siapa yang selama ini membongkar setiap rencana yang mereka susun secara rapi yang seharusnya tak akan ada celah bagi musuh untuk menggagalkan semua itu. Akan tetapi, Rey dan yang lain masih sedikit waspada kepada pembantu itu, jaga jaga kalau dia berkhianat karena selama ini dia dengan rapi dan mulus masuk ke rumah menjadi musuh dalam selimut sebagai mata-mata dari Pasya tanpa diketahui oleh siapapun.
Rey dan yang lainnya bukan hanya mengawasi. Akan tetapi, mereka menekan pembantu itu agar memberi tahu segala pengamanan tempat Gita disekap. Harap-harap mereka mendapatkan secerca informasi agar mereka dapat menjalankan rencananya dengan baik dan mulus, mereka tak menanyakan tempat dimana Gita disekap. Sebab, Rey sudah berhasil melacak keberadaan Gita lewat klue yang sempat diberikan oleh Gita.
"Cepat katakan! Seberapa ketat penjagaan yang mencaga tempat itu?" kata Rey yang masih berusaha menahan emosinya, jujur saja dia sudah tak tahan melihat orang ini.
"Sa-saya tak tau, Den!" jawab pembantu itu masih terlihat gugup.
"Aku tak percaya! Cepat katakan seberapa ketat penjagaannya!?" Ucap Rey yang mulai menekankan kata-katanya, pertanda kalau dia mulai naik pitam.
"Udah beritahu saja! Atau kamu mau saya cebloskan ke penjara!" Ancam Farhan yang mulai ikutan menggali informasi dari wanita itu.
"Sungguh, saya tak tau, Tuan," jawab wanita itu lagi sama.
"Baiklah untuk yang terakhir. Heh, cepat katakan atau aku akan ceblosin kamu sekarang juga!!!!" kata Rey kali ini membentak wanita itu, tentu saja yang dibentak langsung merasa takut saat melihat sisi lain dari tuannya.
"Ba-baik, Den! Maafkan saya, tolong jangan penjarakan saya, hiks!" ucap wanita itu memohon.
"Yaudah, cepetan kasih tau! Lama banget," pekik Rey yang udah sangat geram dengan wanita ini, sungguh membuang waktu saja.
"Ba-baik, Nona Gita sebenarnya di sekap nggak terlalu jauh dari Mall itu. Beliau disekap di sebuah desa yang berada tak jauh dari sana, mengenai soal penjagaannya, saya emang tidak tau, yang saya tau bahwa desa itu adalah tempat markas para preman yang memiliki solidaritas kuat, mereka akan saling membantu jika ada diantara mereka yang merasa terancam, dan mungkin saja Ibu Pasya juga telah menambah penjagaan," jelas wanita itu memberitahukan sebuah informasinya.
"Di mana letak tepatnya istriku disekap?" tanya Rey lagi.
"Kalau tak salah, Nona Gita di tawan di rumah nomor 4 di desa itu, hanya selisih beberapa rumah dari gerbang masuk desa. " Jelas wanita itu lagi.
__ADS_1
"Cukup, terima kasih informasinya. Kenapa kau sedari tadi berbelit? Kenapa tak langsung memberi tahuku semua informasinya?" ucap Farhan yang merasa cukup dengan informasi itu.
"Sebenarnya saya mengikuti semua perintah Ibu Pasya bukan tanpa sebab, ibu saya sedang sakit keras, dan saya membutuhkan banyak uang untuk membawanya berobat, saat itu saya sangat bingung harus mencari uang kemana dalam jumlah besar, tetapi entah ini emang jalannya atau rezeky ibu saya, saya bertemu dengan Ibu Pasya di Rumah sakit tempat ibu saya dirawat, dia menawarkan saya uang tetapi dengan satu syarat," jelas wanita itu menceritakan semuanya.
"Syaratnya jadi mata-mata gitu?" tanya Rey yang benar-benar merasa geram namun juga merasa iba, sebab wanita ini rela melakukan apapun demi ibunya, kakak kakak reader semua pada tahukan bahwa surga berada di telapak kaki ibu. Jadi berlaku baiklah kepadanya, berbaktilah selagi dia masih ada, banggakan dia, sayangi ibumu selagi kau masih bisa menyentuh raganya. Untuk para anak yang telah kehilangan ibunya, doakanlah dia, beri dia ketenangan di akhirat sana, kirimkanlah secerca sinar dari doa kalian untuk menerangi gelapnya dunia ibumu sekarang, pada intinya berbaktilah kepada ibumu kapanpun dan dimana pun.
"Soal itu kau tak perlu khawatir, kami akan membantumu melunasi semua biaya pengobatan ibumu, sebelumnya siapa namamu?" tanya Rey yang emang belum mengetahui namanya.
"Nama saya Nana, Den! Umur saya masih tiga puluh tahun," ucap wanita itu mulai tersenyum saat melihat kepiawaian keluarga Nataniel.
"Baiklah. Ibu Nana, terima kasih atas segala informasinya, masalah ibu anda tak usah risau, entar saya sendiri yang akan membantu melunasi semuanya," ucap Rey tersenyum sedangkan Farhan hanya melihat apa yang dilakukan Rey.
"Hah, dasar didikan mamanya, cepet banget luluhnya, Tapi, papa bangga sebab kau masih mau memaafkan wanita ini, sungguh mulia hatimu, mau membantunya. Rey, papa bahagia punya kamu di sisi papa," ucap Farhan dalam hatinya.
"Saya yang terima kasih, Den! Maafkan saya yang lancang selama ini!" ucap Nana yang terharu akan hati Rey yang sedalam samudra.
"Tidak, Aden tak salah. Berjuanglah, Nak! Selamatkan istrimu," kata Nana terharu dengan sifat Rey.
"Iya, Bu! Doakan saya ya!" pinta Rey.
"Pasti, Den!" ucap Nana yang berakhir Rey pamit pergi meninggalkannya berlalu bersama Farhan.
"Hah, sungguh hati anakku," batin Farhan benar-benar bahagia melihat hasil didikannya dan juga istrinya. Mereka berhasil mengenyam seorang anak yang menghormati yang lebih tua.
*******
__ADS_1
Di sisi lain, Pasya tengah menghadapi orang suruhannya yang tolol bin bodoh, bisa-bisanya mereka melakukan hal konyol saat melakukan sebuah pekerjaan yang serius, apalagi menyangkut penculikan anak seorang pengusaha.
"Dasar bodoh! Kenapa kalian tak membekapnya dengan obat bius?" tanya Pasya kepada orang yang dia suruh untuk menculik Gita.
"Emangnya boleh pakek obat bius, Bos? Entar dia pingsan siapa yang angkat?" tanya orang itu gamblang dan polos.
"Astaga, ya boleh lah! Biar kalian menculiknya gampang bodoh, dan yang angkat kalianlah, kan enggak mungkin saya," ucap Pasya geram dengan kelakuan anak buahnya.
"Kenapa enggak mungkin, Bos, kan Bos bisa datang untuk mengangkatnya," ucap orang suruhannya yang lain.
"Apa kamu bilang? Dasar bodoh, jadi buat apa aku bayar kalian kalau aku sendiri yang ngelakuin?" tanya Pasya yang menepuk jidat menghadapi kelakuan orang-orang itu.
"Ya buat nyuliklah, Bos kok malah nanya balik, dasar Bos bodoh!" Telak sudah gantian orang itu yang mengumpat Pasya.
"Iya, lagian Bos enggak ngasih tuh uang untuk beli anestesi, kami mana ada duit dah untuk beli itu, harganya kan mahal, lagian kalau kami beli sayang juga kalau buat untuk nona itu," ucap orang itu.
"Terus mau buat apa?" tanya Pasya memijat kepala.
"Ya bagus buat Bos aja, biar diem!" jawab orang itu.
"Oke fix, kalian berdua potong gaji!" Telak sudah melihat kelakuan mereka. Lagian Pasya emang bodoh, bisa-bisanya dia menyewa orang seperti mereka yang masih polos-polos keparat, haduh bikin pusing saja.
****************
Hai kaka reader, bagaimana chapter kali ini,
__ADS_1
setangkai bunga biar author tambah semangat upnya. Baiklah, sampai jumpa di chapter selanjutnya.
PAPAYO.