
"Ke-kecelakaan? Nggak, nggak mungkin!" kata Kevin menyela.
"Beneran, Pak. Ayo kita semua harus ke Rumah sakit sekarang juga!"
Seluruh keluarga pun langsung bergegas pergi ke Rumah sakit dengan rasa kekhawatiran yang telah membuncah, begitu pula dengan linangan air mata yang tak henti-hentinya mengalir, meluapkan segala kesedihan dibalik suasana semula baik-baik saja, berakhir dengan insident yang bahkan tak pernah dibayangkan. Reyhan dan Gita, begitu banyak rintangan yang mereka alami semenjak menikah, segala rintangan telah mereka jalani, ujian demi ujian telah berhasil mereka taklukkan, demi memperkukuh ikatan cinta di antara mereka.
Akan tetapi, apa kali ini mereka berhasil melewati ujian berat ini? Nyawa menjadi taruhannya, apalagi ada si kecil di dalam perut Gita yang seharusnya sebentar lagi akan lahir dan menghirup udara segar serta menikmati indahnya dunia. Sungguh berat sekali cobaan yang harus mereka lewati, sedangkan kini mereka kembali mengalami kecelakaan untuk yang kedua kalinya, bedanya kecelakaan kali mereka harus berjuang menghadapi maut yang sudah menyapa, hendak membawa jiwa mereka pergi meninggalkan dunia ini.
Semoga Tuhan memberikan keadilan kepada Reyhan dan Gita atas rintangan kali ini.
***
"Minggir! Pasien darurat mau lewat, minggir!" ucap seorang perawat laki-laki yang membawa Reyhan dan Gita bersama para rekan dan juga dokter ke ruang UGD.
"Ayo, kita harus segera melakukan penanganan terhadap korban!" ujar salah satu dokter membukakan pintu UGD.
"Siap, Dok!"
Sedangkan Reyhan, dia berusaha tetap terjaga untuk tetap melihat kondisi sang istri dan calon anaknya, padahal dia juga sedang merasakan sakit yang teramat mendalam. Luka-luka ditubuhnya termasuk luka yang cukup serius.
"Kamu harus bertahan, Yang!"
"Apa keluarga pasien sudah sampai?" tanya seorang dokter kepada para perawat yang berada di sekitarnya.
"Sedang dalam perjalanan, Dok," jawab perawat itu.
"D-Dok, boleh saya meminta sesuatu kepadamu?" tanya Rey membuat semua atensi menatap kepadanya.
"Anda tenang ya, Pak, kami akan melakukan yang terbaik. Anda istirahat saja!" suruh dokter itu.
"Bolehkah saya satu ruangan dengan istri saya!?" pinta Rey.
__ADS_1
Setelah mendengar permintaan Reyhan, semua orang yang menangani Reyhan dan Gita hatinya langsung tersentuh, dikeadaannya yang tidak baik-baik saja, sempat-sempatnya Reyhan meminta untuk tidak dipisahkan dengan sang istri, tatapan iba mulai terpancar di wajah semua orang.
"Tentu, Pak. Kami akan melakukan penanganan di ruangan yang sama dengan istri Anda," jawab dokter itu menyanggupi permintaan Rey.
"Kalian dengar, cepat siapkan segala sesuatunya di ruang UGD, termasuk ranjang tambahan!" suruh dokter itu.
Reyhan yang permintaannya dikabulkan, perlahan meneteskan air mata, dia ... sangat teramat bahagia. Kembali menatap sang istri yang sedari tadi kehilangan kesadarannya paska kecelakaan.
"Mungkin hanya ini yang bisa Mas lakuin, Yang," kata Rey dalam hati. "Nak, kamu harus bertahan ya, kamu harus kuat di dalam perut istriku, kamu harus janji buat dia tetap hidup!" sambungnya berbicara kepada anaknya, akan tetapi di dalam hati, entahlah, apakah sang anak mendengarnya atau tidak, yang pasti ikatan batin antara seorang ayah dan anak sudah terbangun saat umur kandungan menginjak usia lima bulan.
"Jika saja Tuhan berkehendak lain, dan mengambil nyawa Mas, setidaknya Mas sudah cukup puas melihat kalian untuk yang terakhir kalinya...."
"Tetapi, kalau Tuhan mengambil nyawa kalian, Mas mau ikut kalian. Mas nggak akan bisa bertahan hidup jika tanpa kalian, keluarga kecil Mas. Kalianlah tujuan hidup Mas, jika kalian tiada, maka Mas juga akan tiada."
***
Dokter dengan bergegas membawa kedua pasiennya ke UGD, dia bersama para rekannya berjuang bersama untuk menyelamatkan Reyhan dan Gita. Berbagai pemeriksaan mereka lakukan, Reyhan yang semula sadar kembali tertidur karena anestesi yang disuntikkan ke tubuhnya.
Sedangkan di luar ruangan, seluruh keluarga Reyhan dan Gita telah sampai, mereka terduduk di kursi tunggu dengan linangan air mata, menunggu para dokter keluar memberi tahukan kabar tentang kondisi anak-anak mereka. Tak berselang lama, beberapa polisi juga datang mendekati keluarga Reyhan dan Gita.
"Permisi! Maaf, apakah Anda keluarga korban kecelakaan yang selamat?" tanya seorang polisi terhadap Farhan.
"I-iya, Pak. Ada apa ya?" tanya balik Farhan seraya mengontrol diri dan menghapus air matanya.
"Kami para kepolisian telah menyelidiki insident ini, orang yang telah menabrak korban adalah seorang tahanan yang berhasil kabur, namanya adalah Maya!" ungkap polisi itu hingga membuat semuanya menjadi terbelalak.
"Maya?" ucap mereka serentak.
"Benar, dan dia tewas di tempat saat kecelakaan, dia terjebak di dalam mobilnya dan pada saat itu mobilnya meledak. Kami juga telah mengabari keluar korban, mereka juga sedang dalam perjalanan menuju tempat ini," sambung polisi itu, membuat seluruh keluarga terkejut, mereka ingin marah, tetapi kepada siapa akan meluapkan amarahnya, orang yang seharusnya disalahkan atas semua ini telah pergi meninggalkan dunia untuk selamanya.
"Bagaimana kalian dapat menyimpulkan kalau mayat itu adalah Maya, putri Pak Frans?" tanya Farhan yang sedikit berbaik sangka, berharap kalau semua itu bukan perbuatan Maya.
__ADS_1
"Dari hasil pemeriksaan kami dengan bantuan cctv milik para warga, mobil tersangka memiliki plat yang sama dengan mobil ayahnya yang dia bawa lari, kami juga menemukan beberapa bukti lainnya berupa dompet dan ponsel, meskipun semua itu sudah hampir hancur, kami juga sedang menunggu hasil otopsi dari tubuh tersangka." Polisi itu menjelaskan semuanya, membuat Farhan menjadi lemas.
Di sela-sela percakapan mereka, tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruangan, membuat seluruh keluarga langsung mendekatinya untuk bertanya tentang keadaan Reyhan dan Gita.
"Bagaimana keadaan anak kami, Dok?"
"Lukanya parah, Dok?"
"Mereka baik-baik aja kan, Dok?"
"Bagaimana dengan kandungan putri saya, Dok?"
Berbagai pertanyaan terus keluar karena rasa khawatir yang sangat mendalam. Reyhan dan Gita, orang baik yang saat ini sedang diuji oleh Tuhan.
"Ibu dan Bapak tenang ya, kami para tim medis akan berusaha semaksimal mungkin," ucap dokter itu. "Ehmm, kondisi pasien saat ini sedang kritis, pasien laki-laki mengalami cedera yang cukup serius, sedangkan pasien yang wanita, dari hasil ronsen kami menyimpulkan bahwa kepalanya terbentur cukup keras, sehingga menyebabkan terjadinya sebuah gumpalan, mengenai kondisi kandungannya, detak jantung sang bayi semakin lemah, saya tak yakin kalau bayinya berhasil kami selamatkan, maka dari itu kami sebagai tim medis meminta izin kepada wali pasien untuk mengadakan operasi," sambung dokter itu membuat seluruh keluarga semakin tambah bersedih.
"A-apa, Dok, operasi?"
"Apa nggak ada cara lain selain operasi, Dok?"
"Kalau tak segera dioperasi, kami tak yakin kalau pasien bisa diselamatkan, kami harap kalian semua mengerti keadaan genting ini!" jelas dokter itu lagi.
"Baiklah, Dok, saya mengizinkan, lakukan yang terbaik, selamatkan anak dan calon cucu kami!" pinta Farhan mewakili seluruh keluarga.
"Terima kasih, doakan kami agar berhasil menjalankan tugas kami, dan menyelamatkan pasien!" Dokter itu pun masuk kembali ke dalam ruangan UGD itu.
**************
Sekian dulu part kali ini, maaf ya karena kemaren nggak up, semoga kaka reader semua tetap setia membaca cerita aku, salam hangat dari author. Sampai jumpa lagi.
See you all.
__ADS_1