After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 9


__ADS_3

Malam ini Echa, Indri dan Eli, teman seangkatan Echa. duduk di teras rumah mbok Darmi. Bukan hanya itu saja, rumahnya sudah ramai dengan beberapa sanak saudara. Besok Echa akan di boyong Panji untuk pulang ke Jakarta. Sebagian dari mereka pun takut tidak bisa bertemu dengan Echa esok hari. Maka dari itu sesempatnya berkunjung.


"Kak Echa, gimana rasanya nikah sama cinta pertama?" Echa menutup mulut adik sepupunya. Takut kalau Panji tahu yang sebenarnya.


"Kenapa, kak. Kan faktanya begitu?" Indri tanpa dosa masih bicara tanpa mengurangi volume suara.


"Kalau dia dengar nanti besar kepala!"


Echa menarik nafas dalam-dalam. Dia bingung apa yang dirasakannya saat ini. Cinta? jujur saat tahu Panji bersikap tidak manusiawi pada Savira, disitu ada rasa ilfeel pada lelaki itu.


"Aku juga masih bingung, Ndri. Apakah ini takdir atau kebetulan semata. Bahagia ada lelaki yang mau menikahi saya. Apalagi saat kak Afan malah membatalkan sepihak."


"Itu takdir, Cha. Kamu bahkan pernah menolak seorang Jaya. Ketua OSIS sekaligus idola sekolah kita, saingan kamu waktu itu Stella, anak klub basket perempuan." Eli ikut menyambung pembicaraan Echa dan Indri.


"Mas Panji itu atasan aku di tempat kerja. Jadi otomatis pasti di suruh berhenti kerja. Kalian tahu saat pertama aku masuk kerja disana statusku masih staf kecil. Hingga aku di suruh pilih antara manajer dengan sekretaris. Aku ambil pilihan kedua karena pasti tidak se ribet jadi manajer."


"Kak Echa tidak usah kerja lagi. Kan kak Panji sudah jadi bos. Kalau aku di posisi kak Echa pasti sudah duduk santai di rumah. Di layani pembantu."


"Aku dapat posisi sekretaris juga tidak mudah, Ndri. Dua tahun aku kerja di sana merangkak dari bawah dan sekarang di posisi ini. Ya aku akan bicara sama Mas Panji. Lagian itu tugas istri juga supaya suaminya nggak macem-macem. Di rumah Mas Panji juga tidak pakai pembantu. Dia juga pulang ke rumah malam saja. Itu yang aku tahu selama jadi sekretarisnya."


"Wah, sedalam itu kakak kenal sama kak Panji. Tapi pernah tidak menginap di sana. Aku pernah baca novel online, ada bos yang mengajak sekertarisnya..."


"Kamu pikir aku perempuan apa, Ndri! aku memang orang kampung tapi masih punya harga diri! ucapan kamu seolah-olah, ..." Indri menundukkan kepalanya. Dia sadar ucapannya akan menyinggung perasaan kakak sepupunya.


"Maaf, kak." Indri hanya menunduk ketakutan.

__ADS_1


Echa tadi yang marah seketika tertawa melihat ekspresi adik kecilnya. Memang dia kesal atas ucapan Indri yang tanpa filter. Tapi ada niat mengerjai gadis muda itu supaya jera di kemudian hari. Kebiasaan Indri yang ceplas-ceplos belum pernah dapat boomerang. Ingin sekali Echa kasih efek jera sayangnya dia belum punya cara.


"Li, aku ke dalam dulu," pamit Echa tanpa peduli atau menyapa Indri.


Echa berbaur dengan suaminya serta sanak famili yang lainnya. Mendengar cerita masa-masa kecil mereka. Tentu saja Paklik Malik membuka kenangan antara Echa dan Panji.


"Kamu tahu,Ji. Waktu kamu pergi ke Jakarta, si buntelan ini merengek minta ke Jakarta. Katanya kamu janji sama dia mau bawa ke monas. Ya Paklik bilang kalau Echa naik kelas nanti tak bawa ke Jakarta. Dan akhirnya Echa percaya kalau dia sedang di Jakarta. Padahal Paklik cuma bawa dia ke solo." suara riuh tawa seisi rumah.


"Paklik jangan sebut aku buntelan lagi. Paklik tahu aku sekarang udah langsing." Protes Echa dengan mimik manja.


"Walaupun kamu sudah cantik, langsing, dan nantinya kamu punya anak. Tapi tetap saja di mata Paklik kamu adalah gadis buntelan kesayangan kami semua. Dan Paklik juga tidak menyangka lelaki yang sering di kepoin si buntelan ini malah jadi suaminya."


Panji menatap balik ke arah Echa. Seakan meminta pertanggungjawaban ucapan Paklik Malik. Echa sudah kadung malu, Seketika dia mengalihkan pandangan ke arah lain. Malu? iya malu. Rahasianya malah ke bongkar sendiri.


"benar ya?" bisik Panji. Ia memilih acuh walaupun hatinya sudah ketar ketir.


"Kok kamu disini, Cha. Duduk di luar saja, temani suamimu. Biar dia nggak canggung di dekat bapak-bapak." Kata budenya.


"Echa nggak paham obrolan laki-laki. Mending Echa di sini sama ibu dan bude. Eh kak Tika mana?"


"Tika sudah di jemput suaminya pulang ke Klaten. Mereka kan sempat ngambekan. Makanya Tika lama di sini. Kamu jangan gitu, ya, Cha. Kalau ada masalah dalam rumah tangga ya harus di bicarakan. Jangan main kabur segala kayak si Tika." kata bude.


Sepulang para tamu keluarga, Echa dan panji di sibukkan membereskan sisa barang. Tampak lelaki itu menggeser kursi di dekat ruang tamu. Di karena jumlah tamu melebihi kapasitas rumah yang terbilang tidak terlalu besar. Peluh menetes di dahi Panji, Echa spontan mengambil tisu membersihkan wajah suaminya.


"Mas kalau capek istirahat saja. Kamu tidur di kamar biar aku tidur di sofa." Ajak Echa.

__ADS_1


"Kenapa tidak sama-sama tidur di kamar? kita kan suami istri. Ya kalau kamu belum siap aku unboxing nggak masalah. Tapi aku tidak akan membiarkan istriku tidur di sofa. Lagian ini sebentar lagi selesai. Kamu istirahat saja dulu besok kita mau berangkat ke Jakarta."


"Mas, aku boleh kerja lagi kan?" Echa dengan tatapan puppy eyes.


Panji menarik nafas dalam-dalam. Dia bisa saja melarang Echa kerja lagi. Akan tetapi untuk sementara dia memperbolehkan istrinya kerja.


...****...


Di ufuk timur, langit menyemburatkan warna merah. Fajar perlahan menyingsing. Lantunan adzan dari desa W. Sebuah mushola kecil berdiri tak jauh dari kediaman Panji dan Echa.


Echa terbangun terlebih dahulu. Ada bantal yang membentengi mereka. Panji masih tertidur pulas dengan posisi menyamping kiri, membelakangi Echa.


"Mas, bangun sudah subuh. Mandi dan sholat subuh dulu Mas," ucap Echa sembari menggoyangkan pinggang Panji.


Mengingat hari ini mereka akan berangkat ke Jakarta. Tentu tidak bisa bersantai ria.


Apalagi Panji sekarang kepala keluarga tentu harus di biasakan bangun lebih pagi.


Waktu terus berjalan, Rumah mbok Darmi terlihat ramai. Ibu Laksmi dan Paklik Malik ikut menemani Echa dan Panji menuju bandara Adi Sucipto. Echa memandang orang-orang yang melepas dirinya. Betapa perhatiannya para warga desa W. Terlebih Indri dan juga Eli.


Mereka pun pamit meninggalkan desa. Mobil yang mengiringi Echa dan Panji pun berjalan meninggalkan desa.


"Cha, kamu jaga diri baik-baik. Nurut sama suami. Ibu nggak mau dengar kamu ngambekan lagi sama Panji."


"Iya, Bu. Echa dan mas Panji pamit."

__ADS_1


Setelah memeluk ibu laksmi dan menyalami Paklik Malik. Echa dan Panji masuk ke memasuki kawasan yang hanya di peruntukan bagi penumpang. Melambaikan tangan pada mereka yang di tinggalkan.


"Dan sekarang aku bukan lagi Theresia sang sekretaris. Tapi yang akan mendampingi semua kegiatan mas Panji"


__ADS_2