
Ayla dan Fadlan berdiri di depan pintu lapas. Tentu saja menemui sang ibu yang sudah satu minggu lebih mendekam di sana. Dia baru di beritahu kalau sang ibu di penjara karena terbukti menjebak Afan. Ayla yakin itu perbuatan pak Cahyadi yang tidak suka sama keluarga dirinya.
"Ay, aku keluar dulu. Kalian bicaralah." kata Fadlan seraya meninggalkan Ayla yang duduk di kursi jenguk.
"Nak," sapa Bu Ismi.
Kedua anak dan ibu pun saling berpelukkan. Tangisan pun tak luput dari keduanya.
"Kenapa bisa seperti ini? Apa yang mereka lakukan pada ibu?" suara Ayla terisak-isak.
"Maafkan ibu, Nak."
"Ibu kenapa minta maaf? apa mereka mengancam ibu?"
Sepertinya Ayla sudah terlanjut benci sama mereka.
Ayla masih yakin kalau ibunya di bawah ancaman pak Cahyadi.
"Maafkan ibu, Nak. Memang ibu yang melakukan semua ini. Tapi target ibu bukan Afan, melainkan Fadlan. Ibu berharap kalau Fadlan berbuat senonoh pada anak panti lain dia akan di usir dari panti. Dia tidak akan ganggu hubungan kamu dan Afan."
Ayla syok. Ternyata benar biang keladinya adalah sang ibu. Kepalanya menunduk malu. Iya dia malu sama keluarga Afan, malu sama orang-orang di panti. Ayla tidak menyangka kalau ibunya sampai sejauh itu.
"Apa salah Fadlan, Bu?" Isak Ayla mendengar pengakuan Ismi.
"Fadlan itu cinta sama kamu, Ay. Dia baik sama kamu ada mau nya. Dia tidak tulus. Kamu lupa saat harusnya kamu bisa ambil S2 di Jakarta. Malah ayah kamu menggunakan biaya S2 itu untuk sekolah Fadlan. Padahal kamu anak kandungnya, tapi dia mementingkan anak angkatnya. Yang entah bibit bebet bobot tidak kita ketahui. Ibu melakukan hal ini untuk masa depan kamu, Nak. Afan itu anak orang kaya. Kita kenal dengan orangtuanya. Kamu di dukung sama ibunya. Kurang apa lagi, Ay."
"Tapi ibu lihat kan? Malah kak Afan yang kena. Aku pikir setelah kejadian pak Bahar ibu bisa belajar mengambil hikmah. Tapi ternyata aku salah. Dari dulu ibu salah. Ibu memakai uang mahar dari Bu Cahyadi untuk membeli perhiasan. Lalu berhutang sama pak Bahar. Kenapa, Bu! kenapa ibu jahat sekali sama aku anakmu sendiri."
"Maafkan ibu, Nak. Maafkan ibu." Ismi menunduk malu.
Ayla meninggalkan lapas tempat Ismi bernaung saat ini. Di teras depan kantor polisi dia mendaratkan tubuhnya. Memilih duduk di dekat posko polisi. Dia meluapkan semua perasaan yang dia pendam.
"Ay," suara sapaan tak membuat dia bergeming.
__ADS_1
"Fadlan, maafkan ibuku. Maafkan ibuku." Ayla sudah berada dalam pelukan Fadlan.
"Aku sudah tahu. Sewaktu bangun saat sholat subuh aku bertemu ibu. Dia tiba-tiba menyapa dan mengatakan sudah membuatkan minuman khusus. Lalu ada yang bilang Afan yang meminum teh dari ibu." jelas Fadlan.
"Aku harus bagaimana, Fad?"
"Ikuti kata hati kamu, Ay. Jika memang kamu mau memaafkan Afan datang ke lapas. Kasih penjelasan yang sebenarnya. Walaupun begitu dia tetap tidak akan bebas begitu saja. Paling tidak hukumannya di ringankan. Dari 10 tahun menjadi lima atau mungkin enam tahun."
"Maafkan aku, sepertinya aku belum bisa memaafkan kak Afan. Rasanya sakit mengingat bagaimana dia melakukannya."
"Aku paham, Ay. Tata mental kamu dulu baru ambil langkah selanjutnya. Jangan lupa panjatkan doa kepada yang di atas."
"Aku kotor, Fadlan. Rasanya Tuhan pun tidak akan mengabulkan doa ku." lirih Ayla.
"Tentu. Allah kan maha pengasih dan penyayang. Dia pun akan mengampuni segala dosa umatnya. Asal kita tetap mendekatkan diri pada yang maha kuasa." Fadlan menjentik hidung Ayla.
"Terimakasih, Fad. Kamu memang sahabat sekaligus saudara yang aku punya saat ini. Kamu selalu ada buat aku di saat sedih maupun senang."
"Sama-sama, Ay. Aku senang punya adik perempuan seperti kamu. Karena mendiang kakakku laki-laki. Walaupun usia kita cuma terpaut satu tahun." Fadlan mengacak pucuk hijab yang di kenakan Ayla.
Suasana di kota Malioboro tidak terlalu ramai siang ini. Biasanya beberapa kendaraan memadati jantung kota gudeg tersebut. Setelah meninggalkan Ayla untuk membeli makanan Fadlan pun kembali ke tempat keberadaan Ayla. Langkah kakinya terhenti melihat gadis itu terduduk dengan tatapan kosong. Melamunkah? Atau masih meratapi diri. Fadlan menarik nafas dalam-dalam.
"Apa kamu masih kepikiran soal Afan, Ay? Seandainya saja kamu bisa melihat hal selain Afan." Fadlan melangkah pelan karena tak ingin mengganggu Ayla. Bahkan dia duduk pun gadis itu tak menyadarinya. Fadlan pun ikut melemparkan pandangan ke jalanan tepat di hadapannya. Masih punya rasa syukur karena di beri waktu kehidupan. Masih merasa bersyukur karena sudah berhasil menjadi dokter.
"Ibu, bapak, Mas Fadli. Alhamdulillah aku sekarang jadi seorang dokter. Berkat doa kalian diatas sana. Maafkan Fadlan yang sampai sekarang tidak tahu di mana kalian di makankan. Di mana pun itu, aku yakin kalian sedang melihat aku di atas sana." Fadlan menyeka air matanya. Dia tersentak saat tangan lembut menyeka wajahnya. Senyuman penuh keteduhan mengusik hati pemuda itu.
"Cowok kok cengeng." suara lembut namun terdengar pedih.
"Cowok juga manusia, Ay." Fadlan mengambil sapu tangan dari genggaman tangan Ayla.
"Iya juga, Ya. Ibu juga manusia yang tak luput dari kekhilafan. Tapi aku lelah sekali, lelah mengingatkan ibu kalau semua tidak bisa di pandang dengan harta. Lelah menjadi tumbal atas semua kemauan ibu."
"Jangan pernah lelah menebarkan kebaikan, Ay. Kalau bukan kamu yang ingatkan ibu siapa lagi. Aku juga masih berusaha membuat ibu menerima sebagai anaknya. Seperti yang di lakukan bapak Yatmo padaku dulu."
__ADS_1
"Kita pulang, yuk?" ajak Ayla suara terdengar serak.
"Apa selama aku tinggal tadi kamu menangis, Ay?" tanya Fadlan.
"Tidak. Untuk apa menangisi yang sudah terjadi. Untuk apa aku meratapi yang sudah menjadi bubur. Tapi aku masih tidak menyangka ibu dan kak Afan seperti itu. Tapi aku ...." Ayla menarik nafas dalam-dalam. "Aku mau pindah dari panti. Kalau masih di sana rasanya sakit sekali."
"Ay, kalau kamu mau pindah ke kontrakan aku saja." tawar Fadlan.
"Mana mungkin kita bukan...." Ayla belum menyelesaikannya ucapannya. Fadlan sudah menyela duluan. "Ay, kamu pindah ke sana sebagai istriku. Apa kamu bersedia?"
Ayla mematung mendengar ucapan Fadlan. Tidak terpikirkan di saat seperti Fadlan malah mengajaknya menikah.
"Maaf," Ucap Fadlan lirih. Kedua nya masih posisi yang sangat berjarak dekat.
"Kalau kamu bicara seperti ini karena kasihan sama aku. Maaf aku tidak bisa."
"Jujur aku mencintaimu sejak dulu. Walaupun aku tahu ada Afan di hatimu. Walaupun Bu Ismi lebih suka Afan daripada aku."
Suasana semakin tegang antara keduanya. Terdengar tawa kecil demi memecahkan kesunyian.
"Kamu percaya? tegang amat, Buk." Satu bogem mengenai bahu kanan. Fadlan pura-pura meringis.
Mereka kompak melepaskan tawa, Ayla mencoba melepaskan beban yang menghimpit di dada. Sedangkan Fadlan dia berusaha jujur untuk melamar gadis itu, tapi buru-buru dia patahkan. Momennya tidak tepat. Tidak akan pernah tepat.
...****...
"Aku tidak akan mau keluar dari sini!" ucap Afan tegas saat pengacara pak Cahyadi datang ke lapas.
"Anda jangan memperumit pekerjaan saya mas Afan. Saya sudah dapat bukti kalau anda juga di jebak orang lain. Bu Ismi dan anaknya berkerjasama mau menghancurkan nama baik keluarga anda. Percaya sama saya." kata pak pengacara.
"Saya sudah lihat cctv nya, Pak.Terbukti memang kesalahan itu ada pada saya. Walaupun saya cukup kaget kenapa bisa melakukan hal itu pada Ayla, pada wanita yang sangat aku cintai. Dan jika aku keluar juga percuma. Image ku sudah buruk. Dan Ayla pasti sangat membenciku." Afan melemaskan kaki.
Lelaki itu pergi menjauhi bahkan meninggalkan lapas Afan. Afan menatap kepergian sang pengacara dengan nanar. Puing-puing hatinya juga hancur, karena perbuatan sendiri.
__ADS_1
"Maafkan aku, Ay. Maafkan aku!" Afan memasukkan tengkuk lehernya dalam lipatan tangannya di meja. Tidak menyangka akan berakhir seperti ini.