
"Pagi, Bu Cahyadi," sapa Rahma salah satu staf panti asuhan.
"Pagi juga, Rahma. Ada apa pagi-pagi menelepon saya,"
"Maaf kalau mengganggu ibu pagi ini. Saya tahu ibu sibuk karena putra anda mau nikah. Saya mau menyampaikan kalau kami akan menambah penghuni panti,"
"Menambah penghuni panti? maksudnya anak-anak? nggak apa-apa, itu kan bisa diatur sama pak Malik. Kenapa harus mengabari saya, kamu tahu kan sebentar lagi anak saya mau nikah. Jadi saya tidak bisa berkunjung ke panti dalam seminggu ini,"
"Maaf, Bu. Ini bukan anak-anak, tapi perempuan dewasa. Kami tidak tahu namanya tapi sampai sekarang dia belum sadarkan diri. Dokter sudah memeriksa katanya alam bawah sadarnya emang ada sisi trauma. Mungkin dia korban pada suatu kejadian,"
"Perempuan? masih muda atau ibu-ibu?"
"Masih muda, Bu. Tebak saya usianya sekitar 20-an. Jadi kami minta izin untuk merawat dia sampai sembuh," kata Rahma kemudian.
"Nggak apa-apa, Rahma. Kasihan sekali kalau memang ada trauma. Saya belum bisa kesana, nanti kalau setelah acara anak saya datang ke panti. Sekaligus mengenalkan menantu saya di sana," Bu Cahyadi menutup komunikasi dengan salah satu pengurus panti yang dia dirikan.
Bu Cahyadi menjadi pendiri panti asuhan di salah kecamatan desa gunung kidul. Terinspirasi saat melihat salah satu desa di kecamatan tersebut menjadi korban gempa. Dimana banyak anak-anak yang kehilangan kedua orangtuanya.
Panti didirikan efek pak kades tidak bisa menampung beberapa anak untuk tinggal di balai desa. Bu Cahyadi pun tergerak mendirikan panti kecil untuk menampung anak-anak yatim-piatu. Tentu keinginannya sempat di tentang sama pak suami. Tapi berkat Afan, pak Cahyadi akhirnya menyetujui keinginan istrinya.
"Ma," suara putra semata wayangnya terdengar sangat dekat.
"Fan, kamu kok malah masih pakaian santai? sebentar lagi kita ke tempat Theresia. Kalian akan menikah hari ini,"
Afan bersujud di kaki mamanya. Suara isakan tangis terdengar dari putranya. Bu Cahyadi pun ikut duduk sejajar dengan putranya.
"Fan,"
"Maaf, Ma. Aku tidak bisa menikahi Echa." Afan belum beranjak dari sujud di kaki mamanya.
"Fan,. kenapa baru sekarang kamu bicara seperti ini. Kenapa kamu tidak menolak saat kami merencanakan perjodohan. Mama tidak punya muka pada Echa dan ibunya,"
"Aku sudah beberapa kali membicarakan hal ini sama mama. Papa selalu melarang, mama tahu kan kalau papa sudah bertindak bisa kacau dunia ini," Bu Cahyadi menyeka air matanya. Sesekali keduanya saling lempar tawa.
"Apa rencanamu, Nak?"
"Aku akan pergi ke suatu tempat, untuk menenangkan diri sementara. Sambil mencari tahu keberadaan Ayla,"
__ADS_1
"Apakah kamu tahu keberadaan Ayla?" Afan menggelengkan kepalanya.
"Afan sudah ambil cuti dari Kalimantan. Tadi malam ibu ismi mengabari kalau Ayla pergi dari rumah. Saat ini Bu Ismi sedang berada di suatu daerah sekitar sini. Jadi izinkan, ..."
"Kenapa kamu tidak coba mengenal Echa? waktumu akan terbuang sia-sia mencari keberadaan Ayla. Mama mohon pikirkan lagi keputusan kamu, Nak. Jangan melakukan sesuatu jika hatimu sedang panas,"
Afan tetap teguh pada pendiriannya. Dia sudah istikharah, dalam petunjuknya bukan Echa. Tapi sosok lain yang masih samar dalam pandangan. Afan yakin wanita itu bukan Echa, karena postur tubuhnya sangat berbeda.
Berpegang teguh pada isyarat istikharahnya. Afan memberanikan diri untuk menolak wanita yang di pilih untuknya.
"Ma,"
Bu Cahyadi melepaskan tangannya dari sungkeman anaknya. Dia belum bisa membayangkan reaksi dari suami dan keluarga yang lain.
"Mama tidak mau tahu, kamu harus siap-siap. Kamu harus mempertanggungjawabkan pada Echa dan keluarganya. Kalau kamu tidak berniat menikahi Echa, bilang sama keluarganya. Jangan main kabur saja,"
...****...
"Kak Panji!" suara gadis muda berteriak di depan rumah neneknya.
"Kak Panji ganteng ya sekarang? dulu pas aku masih SD kak tu rada hitam dekil. Kakak pasti perawatan, ya. Secara orang kota biasanya kalau banyak duit pasti banyak perawatan,
Oh ya kakak pasti lupa sama aku juga, Kan? aku Indri sepupunya Echa, yang dulu sering ngintilin kakak sama Echa kalau main ke alun-alun Jogja,"
Panji hanya menyengir kuda. Tubuhnya di tekuk sejajar dengan posisi berdiri Indri. Gadis mungil yang mungkin tingginya 150 cm. Kalau di sejajarkan dengan dia dan Echa mungkin sedikit diatas pinggang.
"Indri, ya?" Panji masih mengingat-ingat sosok gadis di depan. Sungguh ingatannya tumpul.
"Hmmmm, jadi kak Panji nggak ingat aku? benar kata kak Echa, kak Panji nggak peka. Sama kak Echa aja kakak nggak ingat, apalagi sama aku!" Indri menunjuk dirinya sendiri.
"Maksudnya?" Panji masih belum paham.
"Aduh maaf, kak. Ibu manggil saya.... Tapi satu hal yang harus kakak tahu, kalau kak Echa kerja di Jakarta untuk mencari kakak. Kan kakak pernah bilang sama Bulik Laksmi kalau Echa cari kerja suruh temui anda,"
"Astaga!" Panji menepuk jidatnya.
Setelah kepergian Indri, Panji menggunakan batik sebagai tamu di pernikahan Echa. Tak berapa lama Panji pun berpapasan dengan Afan yang sudah tiba di tempat acara. Afan masih menggunakan baju batik seperti pada undangan yang lainnya. Panji menatap heran pada sepupunya. Lalu berpikir positif kalau Afan pasti akan ganti pakaian di tempat Echa.
__ADS_1
Keluarga Afan sudah memasuki kediaman Bu Laksmi. Semua para tamu menatap takjub karena calon suami Echa dinilai tampan. Afan pun diminta untuk mengganti pakaiannya. Namun Afan malah meminta bicara empat mata sama Echa.
"Kamu harus sabar, kan bisa bicara setelah akad," kata pak Cahyadi.
"Penting, Pa," Afan terus mendesak papanya.
"Yasudah kalau begitu," Pak Cahyadi
mempersilahkan Afan menemui Echa.
Suara pintu terbuka menandakan ada yang mau memasuki kamar.
"Echa," suara Afan terasa lirih.
"Kak Afan, mau ganti baju ya?" Afan menggelengkan kepalanya.
"Saya mau bicara sama kamu, boleh?" Echa menggangguk serta mempersilahkan lelaki itu duduk di salah satu kursi di kamar rias.
"Ada apa, kak?" Echa dan Afan duduk berhadapan di tempat tidur pengantin.
Afan menggenggam erat jemari Echa. Keduanya saling bertukar pandang. Echa merasa tidak punya desiran rasa pada Afan. Akan tetapi dia akan belajar mencintai Afan sepenuh hati. Begitu juga dengan Afan, dia merasa tidak punya cinta untuk Echa.
"Aku minta maaf, Cha,"
"Minta maaf kenapa, Kak?"
"Aku tidak bisa menikahimu, Cha. Aku sudah punya seseorang yang sangat aku cintai. Dan jika aku menikahimu tentu aku menyiksamu,"
"Apa?!"
"Maafkan aku, Cha,"
"Kenapa tidak sejak awal kak Afan mengatakan itu. Kenapa saat seperti ini kak Afan malah membatalkannya. Jika ibu tahu dia pasti sangat malu kalau anaknya gagal menikah. Apa kata orang nantinya,"
"Lebih baik sakit sekarang daripada nanti sama-sama tersiksa," ucap Afan mengiba sambil menenangkan Echa yang masih syok.
Sepeninggalan Afan, Echa menangis di kamar. Tidak menyangka akan berakhir seperti ini.
__ADS_1