
Panji duduk di kediaman Dewi Savitri. Rumah kedua setelah apartemennya, tidak ada yang berubah di rumah tersebut. Matanya sedikit menyala ketika berdiri di depan photo pernikahan Vira dan Dawa. Sepertinya belum lama di pajang. Karena terakhir dia main ke rumah itu photo pernikahan Dira dan Juna yang berada di sana.
"Photo non Dira dan Juna di bawa sama mereka ke rumah Lembang. Katanya mas Juna bangun rumah baru dan besar. Itu yang saya dengar dari mas Juna."
"Terus Vira?"
"Ciyeeee masih nanyain non Vira." godaan yang di lontarkan Bi Inah membuat Panji senyum-senyum sendiri. Bi Inah langsung meralat ucapannya. Dia sadar orang dia ganggu sudah punya istri.
"Maaf, Den. Bibi lupa kalau den Panji sudah nikah juga." ralat Bi Inah.
"Eh, iya nggak apa-apa, Bi. Aku tahu kok mana yang guyon ama yang serius. Lagian kalian sudah seperti keluarga sendiri. Santai saja, Bi." padahal dia masih sedikit ketar-ketir ketika di sebut nama Vira.
Bi Inah masuk ke dapur mempersiapkan masakan untuk majikannya. Walaupun Bu Dewi tidak sedang di Jakarta, tetapi tiap menjelang makan siang Feri selalu pulang untuk makan siang atau sekedar bercengkrama bersama anak istrinya.
"Eh, ada Panji. Kamu apa kabar?" Tina langsung menyapa tamunya.
"Iya, Tina tadi aku ketemu Bi Inah di jalan sekalian antar dia pulang. Si kembar mana?"
"Sudah tidur. Makanya aku bisa keluar sekarang. Oh iya Bi Inah, mas Feri nggak pulang katanya ada klien ajak makan siang."
"Den Panji sudah makan belum? Kalau belum makan dulu, ya. Tanggung sudah masak banyak."
"Iya, makan saja dulu." Tina ikut menimpali.
Panji akhirnya ikut makan bersama di kediaman Dewi Savitri. Hanya dia saja yang makan sementara Tina beralasan belum terlalu lapar. Tapi Tina duduk di kursi meja makan karena tidak enak meninggalkan tamu.
"Sudah lama tidak mencicipi makanan Bi Inah. Masih mantap seperti dulu." Puji Panji setelah menikmati masakan buatan Bi Inah.
"Ah, Den Panji bisa saja memujinya. Emang istri den Panji nggak masak?"
"Istri ...." Panji langsung menepuk jidatnya. Baru saja teringat kalau Echa dan ibu mertuanya menunggu di pasar tradisional. Panji melirik waktu sudah pukul dua siang.
__ADS_1
"Bi Inah, saya pamit dulu. Baru ingat kalau istri dan mertua saya menunggu di pasar. Mereka pasti sudah kepanasan di sana."
"Aduh, kalau ada mertuanya den Panji harus banyak berdoa."
"Kenapa?"
"Biar tidak di omel. Den Panji sudah bikin anak perempuannya lama menunggu jemputan. Kalau dia duluan pulang tandanya dia sudah lelah menunggu. Kalau tetap di sana artinya dia nurut sama den Panji. Kalau bibi mah langsung pulang kasihan ibunya ikut menunggu."
Panji menarik nafas dalam-dalam. Sejak beberapa hari mertua tinggal bareng mereka ada saja cerita yang dia anggap bertolak belakang. Seperti komentar mertuanya cara berpakaian istrinya. Tentang bagaimana cara memperlakukan istri atau suami dengan baik. Bagusnya Bu Laksmi tidak terlalu berpihak pada anaknya. Kalau Echa salah tetap di tegur. Begitu juga dengan Panji. Sikapnya netral.
"Bi, saya pamit dulu. Salam sama Tina dan yang lainnya."
Mobil yang di kendarai Panji sudah keluar dari area perumahan Griya Samara. Sebenarnya dia merasa tidak enak sama istrinya, karena sempat mampir ke tempat Vira. Sudah pasti istrinya yang rada posesif kalau berhubungan dengan Savira akan menuduhnya macam-macam. Di tambah tadi pagi kepergok sama Echa tentang kotak cincin yang di simpannya.
Panji sudah turun dari mobilnya. Mencari keberadaan istri dan mertuanya. Panji menerima handphonenya, ternyata low batt.
"Aku rasa Echa sudah beberapa kali menelpon. Tapi mungkin akunya yang tidak buka handphone. Sial! Malah lowbat pula. Bagaimana ini? pasti mereka sudah lama menunggu. Mereka mana, ya?"
Sekitar hampir setengah jam Panji mencari mereka. Seperti anak hilang yang mencari induknya, Panji menerobos jalanan pasar yang mulai sepi.
Panji sudah berada di depan gedung apartemen. Setelah memarkirkan mobilnya lalu masuk ke tangga dari parkiran. Akhirnya dia berdiri di pintu apartemennya.
Ceklek!
"Pulang juga kamu, Mas." sambutan kecut yang dia dapat saat masuk ke dalam rumah.
"Suami pulang kok gitu sambutannya? Pahalanya kalau menyenangkan suami. Senyum dong, sayang."
"Mas sudah makan. Oh sudah pastinya makanya pulangnya lama. Padahal ibu sudah masak spesial untuk menantu kesayangannya. Aku yakin Mas Panji ke tempat Savira kan? aku pikir mas sudah ikhlas ternyata enggak."
"Kok gitu, Cha?" suara Panji terdengar meninggi.
__ADS_1
"Ini apa, Mas?" Echa menunjukkan photo mobil Panji berhenti di depan rumah Savira.
"Enggak gitu juga, Cha. Bisa nggak sih kamu mikir ke arah positif thinking. Bukan negatif thinking. Aku bantu Bi Inah bawa belanjaan banyak di jalan. Makanya aku antar sampai rumah. Kalau dapat info jangan di telan bulat-bulat!"
"Selama cincin itu masih kamu simpan, selama itu pula aku belum bisa berpikiran positif. Itu saja menandakan kamu masih belum move on, Mas! dan sekarang kamu pulang setelah makan enak di sana."
"Echa!" suara wanita paruh baya memecahkan ketegangan antara keduanya.
"Kamu kok gitu sama suamimu dia baru pulang malah di sambut dengan omelan. Gimana sih, kamu!"
"Bu, dia ...."
"Minta maaf sama suami kamu; Ibu tidak mau tahu apapun alasannya kamu nggak boleh bicara tinggi sama suami sendiri. Dia itu imam kamu, sekarang kiblat hidup dan akhirat kamu sama Panji bukan sama ibu. Cepat minta maaf!" Echa dengan terpaksa menuruti permintaan ibunya. Meraih tangan suaminya lalu mencium siku jemari Panji. Masih dengan isakan kecil Echa meminta maaf atas sikapnya pada Panji.
"Aku juga minta maaf sama ibu. Terimakasih ibu sudah susah payah masak buat aku. Nyatanya aku malah makan di luar. Aku janji lain kali akan pulang tepat waktu."
"Emang kamu makan dimana, Nak?" tanya Bu Laksmi.
"Di rumah teman nggak jauh dari tempat kerabatnya Tika. Kebetulan ketemu di jalan dan mengajak mampir. Sekali lagi Panji minta maaf tidak pulang tepat waktu."
"Cha, aku pengen ngomong. Bisa ke kamar?" Echa mengangguk lalu ikut ke kamar.
Namanya rumah tangga tidak ada yang semulus jalan tol. Menjalankan kehidupan berumah tangga memang bukanlah hal yang mudah. Seringkali berbagai cobaan muncul menguji kesetiaan pasangan suami istri. Oleh karenanya, diperlukan komitmen untuk setia dan saling mendukung di antara sepasang suami istri.
Rumah tangga yang harmonis akan membawa kebahagiaan bagi setiap anggota keluarga. Untuk mewujudkannya, suami dan istri harus bisa memenuhi tanggung jawabnya masing-masing. Selain itu, pasangan suami istri juga harus bisa saling percaya dan saling memahami satu sama lain.
Setiap pasangan tentu ingin membawa rumah tangganya menjadi keluarga yang harmonis. Namun, untuk menciptakan keluarga harmonis memang bukanlah hal yang gampang. Ada banyak hal yang harus dilakukan setiap pasangan, terutama saling menjaga kepercayaan dan saling memahami satu sama lain.
"Cha," Panji duduk di samping Istrinya.
Echa menundukkan kepalanya. Jemari Panji semakin erat dalam genggaman tangan Echa. Menyentuh lembut telapak tangan istrinya. Jemarinya yang saling bertaut seolah mengisi kekosongan-kekosongan yang mengepung keduanya.
__ADS_1
"Aku tahu kamu masih marah soal cincin itu. Aku tahu kamu masih di kuasai rasa cemburu pada Savira. Tapi aku tidak punya perasaan apapun pada Vira, Cha. Perempuan yang aku cintai saat ini dan selamanya itu cuma kamu. Aku ... Aku tahu ... cincin itu masih jadi perkara buat kamu. Aku janji akan melakukan sesuatu pada cincin itu. Tapi please, jangan berpikiran yang aneh-aneh." Panji meletakkan dahinya diatas siku jemari Echa.
"Cha, percaya sama aku. Nggak ada perempuan lain di hatiku saat ini. Ketika kita mau memulai suatu hubungan yaitu pernikahan. Aku sudah hempaskan semuanya. Jadi kamu juga harus hempaskan perasaan yang bisa merusak nilai pernikahan kita."