
Panji tak pernah melepaskan genggamannya pada Echa. Mereka bahkan turun ikut berbaur menyapa para tamu undangan. Pesta yang sudah masuk season malam. Setelah Mereka meminta jeda untuk sholat Maghrib di jamak sama sholat isya. Echa mengganti gaunnya lebih simpel.
Resepsi seorang pengusaha muda memang tak beda dari acara mewah kebanyakan. Panji bukan hanya mengundang melalui surat yang di sebar kerabatnya. Tapi dia juga mendatangi kerabat terdekat atau koleganya ikut turut mengundang. Senyumnya mengembang ketika melihat semua yang dia undang benar-benar datang.
"Mas Panji selamat menempuh hidup baru, ya. Semoga Samara mawadah warahmah. Cepat punya anak." bisik seorang lelaki yang bernama Stevan.
"Terimakasih mas Stevan." balas Panji.
"Mas Panji selamat, ya. Semoga langgeng hingga kakek nenek." Kata salah satu undangan bernama Zas Novia.
"Terimakasih, Mbak." balas Panji.
"Selamat ya kak Panji," sosok manis berdiri di depan Echa dan Panji.
"Eh, Elsa. Sendirian?"
"Enggak tadi bareng sama Vira. Cuma sudah pulang duluan. Aku sudah booking hotel disini buat menginap."
"Pacar kamu nggak ikut?" tanya Panji.
"Oh, iya. Bukannya kamu jomblo, ya?" tawa kecil Panji.
"Mas, sudah. Tuh lihat Elsa sudah turun terlebih dahulu. Kamu sih ganggu dia terus."
"Aku sama Elsa sudah biasa seperti itu. Tapi boleh juga kita kenalin Elsa sama temanku." usul Panji.
"Sudahlah ngapain kamu pusingin pasangan buat Elsa. Atau jangan-jangan kamu mau daftar lagi? Awas kalau aneh-aneh aku bakal pulang ke rumah ibu!" ancam Echa.
"Sayang bagaimana kalau kita berbaur dengan tamu undangan. Kamu nggak pegel duduk terus di pelaminan dari pagi tadi?" ajak Panji.
"Emang boleh?"
"Ini pesta kita, Sayang. Jadi bebas, dong. Mau?" Echa mengangguk.
Panji menuntun istrinya turun di tengah para undangan. Sepertinya Panji sudah mengintruksikan pada panitia agar mengosongkan meja dan kursi.
Panji membungkukkan badannya. Tangannya mengulur seperti hendak mengajak berdansa.
__ADS_1
"Theresia Will you dance with me?" ucap Panji.
"Mas, aku nggak bisa dansa." jawab Echa lirih.
"Tenang, Sayang. Ikuti arahku saja." bisik Panji.
Tarian pernikahan atau wedding dance hanya dilakukan dengan mempelai wanita dan pria berdansa, dilanjutkan dengan orang tua masing-masing.
Tapi karena keluarga istrinya enggan tergabung dalam pesta dansa. Bahkan Bu Laksmi memilih tetap di kamar hotel, begitu juga Paklik Malik dan istrinya. Mereka beralasan sudah lelah dan ingin istirahat di kamar saja. Sementara Indri, Tika dan suaminya masih mengikuti acara berlangsung.
Lagu A thousand year milik Christina Perri mengiringi dansa pasangan suami istri tersebut. Lampu di matikan dan hanya cahaya yang menyoroti keduanya.
"Mas,"
"Iya, istriku." Panji berbicara dengan nafas mendayu.
"Terimakasih atas resepsinya. Aku tidak menyangka bisa ikut dalam acara semewah ini."
Echa tidak bohong. Dulu saat Afan menerima perjodohan itu, lelaki itu cuma bilang sehari sudah akad Echa akan di boyong ke Kalimantan. Di mana lelaki itu bekerja dan memang batas cuti liburnya habis.
Nyatanya itu hanya tinggal cerita saja. Aku juga tidak menyangka kalau menikah dengan kak Panji. Bermimpi saja tidak pernah.
Bukankah pernikahan itu sekali seumur hidup. Tentu momen ini akan dia banggakan pada anak cucunya nanti. Hanya saja yang membedakan dia tidak ingin sekedar duduk di pelaminan. Walaupun bukan outdoor, Panji ingin menciptakan momen pesta lepas dalam ruangan tertutup.
Echa dan Panji langsung berbaur dengan para undangan yang lainnya. Tika dan Indri pun ikut turun. Sementara Rini pun ikut sibuk mendampingi Echa.
Seorang anak kecil sekitar usia 5 tahun berjalan sendiri sambil membawa minuman coklat. Dia berjalan dengan hati-hati karena gelas yang di pegangnya berbahan kaca. Langkahnya tertatih-tatih, matanya memandang sesuatu seperti sedang mencari orang dewasa.
BYUUURR!
Langkah anak kecil itu terhenti ketika menabrak ujung gaun milik Echa. Gaun Echa yang berwarna pink muda pun terkontaminasi cairan berwarna coklat. Bukan hanya itu saja, gelas itu jatuh, serpihannya mengenai pergelangan kaki anak itu.
"Maaaamaaaaa!" pekik anak itu.
"Ya Allah itu anak siapa?" pekik salah satu tamu undangan.
Echa yang berada di belakang sang anak sontak kaget. Lebih kaget ada serpihan kaca menempel di sela lobang gaunnya. Dia memilih membungkukkan badannya untuk menolong anak kecil tersebut. Sayangnya keseimbangan antara tubuhnya dengan sepatunya tidak sinkron. Echa ikut terjatuh lutut kakinya terkena pecahan kaca yang ukurannya lebih besar.
__ADS_1
"Aaaaa...." Pekik Echa.
Panji masih sibuk mencari bantuan. Lelaki itu beberapa kali menghubungi pihak rumah sakit untuk membawa anak kecil yang terluka.
Echa melihat kucuran darah keluar dari kakinya. Tubuhnya merasa lemas pandangannya mulai gelap. Dalam sekejap tubuhnya tersungkur, beda dengan anak kecil yang lukanya cuma lecet.
"Echaaaa!" Panji terpekik melihat kaki istrinya tertancap kaca bahkan tancapannya ke dalam.
"Kenapa kalian diam saja! apa tidak ada empati untuk menolong orang lain!" Panji mengamuk sambil memeluk istrinya. Sementara orang sedari tadi hanya menonton kejadian yang di alami Echa dan anak kecil itu. Tidak ada yang berusaha menolong.
"Kenapa masih diam, ini bukan tontonan!" mata lelaki itu berair terus mengguncang tubuh istrinya. "Cha bangun! please jangan begini!"
Dari jauh senyum mengembang. Dalam hatinya bersorak-sorai melihat kejadian itu. Tandanya rencananya berhasil. Membawa keponakannya untuk pancingan buat keduanya.
"Rasain, kamu Theresia! kalau buat bersaing kamu bukan tandingan aku. Aku tidak minat pada Panji tapi aku minat menghancurkan hidup kalian berdua. Tinggal tunggu waktu saja."
Langkahnya terhenti saat deringan telepon bergetar di tasnya. Dia menatap malas saat tahu siapa yang menelepon.
"Kapan kamu pulang? Ini sudah malam kasihan Diko di sana. Kalau mau pesta jangan bawa anak kecil." amuk suara wanita di seberang sana.
"Iya sebentar lagi aku pulang bawa anak itu pulang. Makanya cari suami jangan sibuk kerja, anak kena getahnya!"
"Eh, aku cuma minta bawa pulang anakku. Dari tadi perasaanku nggak enak. Diko nggak apa-apa kan?" Sambungan telepon langsung di matikan. Si pemilik suara lembut itu hanya menggerutu panjang.
****
"Echaaaa!"
Bu Laksmi terbangun setelah bermimpi tentang anaknya. Dalam mimpinya mendapati tubuh Echa terkena pecahan kaca banyak mengeluarkan darah. Nafasnya tersengal-sengal.
"Ya Allah apa yang terjadi pada anakku? semoga itu hanya mimpi semata." Bu Laksmi langsung mengambil handphone ternyata sudah jam sembilan malam. Pada akhirnya dia menghubungi Panji. Sayangnya tak diangkat oleh menantunya.
"Lik, kamu coba hubungi Indri atau Tika. Perasaanku tidak enak dari tadi." adu Bu Laksmi pada adik iparnya.
"Mbakyu, kami semua di rumah sakit." suara Paklik Malik terdengar berat.
"Ru ... mah sakit? Si ...apa yang sakit?"
__ADS_1
"Echa, mbakyu. Panji sudah menyuruh orang menjemput Mbakyu."
"Iii..ya. Aku akan siap-siap. Ya Allah Echa, kenapa ini terjadi."