After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 42


__ADS_3

Panji kembali memasuki kantor polisi. Menemui orang yang sudah mencelakai istrinya. Walaupun pengakuan Lani kalau itu tidak dia rencanakan, tentu dia tidak akan percaya langsung. Sejak dulu Panji memang merasakan persaingan antara Echa dan Lani. Tapi dia memilih tidak ikut campur. Bukan karena menutup mata antara kedua pegawainya. Tapi selama persaingan itu tidak mengandung kekerasan fisik, bukan menjadi masalah intern perusahaan.


Tubuhnya sudah bersandar di balik pintu ruang jenguk. Menurut keterangan pihak kepolisian, Lani sedang di jenguk keluarganya. Tebakan Panji sudah pasti sedang ada Bu Riana di dalam. Panji mendengar rengekan Lani meminta di bebaskan. Seharusnya sebagai ibu yang bijak Riana tidak usah membantu. Akan tetapi mendengar omongan Riana membuat Panji geram.


"Tentu kamu harus keluar dari tempat terkutuk ini. Lagian ini kan salah Diko bukan salah kamu. Tapi mama penasaran sama anaknya Laksmi. Apakah dia yang menikah dengan Panji?"


"Iya, Ma. Dia yang menikah dengan pak Panji. Mama kenal sama Theresia?" tanya Lani.


Apa aku cerita sama Lani mereka satu ayah. Walaupun Lani lahir dengan nasab ibu. Ah, lebih baik jangan. Jangan sampai Lani tahu kalau aku hamil sebelum mas Wahyu menikahiku.


"Kenal." jawab Riana datar.


"Kok bisa, Ma. Theresia kan dari kampung. Bagaimana bisa mama bergaul dengan keluarga There."


"Dia masih famili Paklik Malik, adik papamu." jawab Riana. Terpaksa dia harus berbohong tentang status antara Lani dan anaknya Laksmi.


"Masih sepupu sama aku si There? Idih amit-amit saudara sama dia." sahut Lani.


"Mungkin juga iya bisa juga tidak. Mama hanya tahu mereka masih kerabat Paklik kamu." Riana tetap melemparkan pandangan ke arah lain.


Ma, tolong bebaskan aku dari sini. Aku nggak salah, aku hanya minta Diko menumpahkan minuman ke gaun Theresia. Itu saja, jika kejadian selanjutnya itu kecelakaan semata. Tanya saja sama Diko."


"Kamu tenang saja, Nak. Mama akan lakukan apapun untuk membebaskan kamu." Riana mencoba menenangkan hati putrinya.

__ADS_1


Panji mengepalkan tangannya. Dia tidak akan tinggal diam kalau mereka mau merencanakan sesuatu untuk menghancurkan Echa. Ingatannya berputar saat Bu Laksmi mengatakan kalau Riana adalah perebut suami orang. Itu sudah modal yang cukup untuk menghancurkan Lani.


"Jangan harap kamu bisa keluar dengan tenang!" amuk Panji menerebos ruang jenguk.


"Pak Panji," Lani langsung pucat melihat atasannya dengan kemarahan yang sangat besar.


"Iya, saya. Kenapa kaget melihat saya disini. Oh, kamu tenang saja. Saya di sini menjamin kalau kamu akan membusuk di penjara. Teganya kamu melakukan hal itu pada istri saya. Apa salah dia sama kamu, Lani!"


Seorang lelaki muncul di belakang Panji. Seperti yang Panji katakan pada Echa di rumah dia memang akan bertemu dengan temannya. Lelaki itu bernama Leo, putra dari pak Hermansyah, teman kuliah Panji. Hanya saja di semester tiga Leo pindah jurusan dari agrobisnis ke hukum.


"Leo, bagusnya kita kasih hukuman apa sama dia?" tanya Panji.


"Percobaan mencelakai orang lainnya. Dan menyebabkan kerusuhan di keramaian. Percobaan melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun. Dan jika Bu Echa mau bersaksi mungkin bisa meringankan hukuman dari 15 ke 10."


"Apa 15 tahun penjara. Gila anda! Theresia saja selamat hanya luka kena kaca harus dapat hukuman seberat itu. Jangan berlebihan pak Panji. Saya hanya meminta ponakan saya menumpahkan minuman ke pakaian There. Tapi soal insiden selanjutnya itu di luar rencana." Ujar Lani.


"Ma, lakukan sesuatu!" rengek Lani.


"Kamu sabar dulu, mama akan lakukan apapun untuk kamu, Nak."


"Iya, tapi jangan lama-lama. Aku tidak betah di sini." Riana menarik nafas dalam-dalam. Tatapannya tajam ke arah Panji.


"Kamu tidak lupa kalau suamiku sudah banyak membantu Adrian. Beliau juga yang menawarkan kamu ikut pelatihan UMKM. Kamu tidak lupa itu kan, Panji. Sekarang inikah balasan kebaikan suamiku?"

__ADS_1


"Maaf, Bu Riana. Itu jelas konteks yang sangat berbeda. Saya menghormati suami anda. Saya tidak lupa kebaikan beliau saat membantu memberikan modal di usaha pertama saya. Tapi ini masalah kriminalitas, kasus yang tidak bisa di tolerir. Maaf saya tetap akan menindak lanjuti kasus ini." Panji pun meninggalkan ruang jenguk kantor polisi.


"Tunggu!" Riana ternyata mengejar Panji sampai depan kantor polisi. "Kamu butuh berapa? Saya akan kasih apapun mau kamu asal tolong bebaskan Lani. Kamu sudah tahu kan kalau Lani dan istri kamu satu ayah. Mereka bersaudara. Jadi tega kamu melakukan hal itu pada adik istri mu."


"Simpan saja uang anda Bu Riana. Siapa tahu suatu saat andalah yang lebih membutuhkan. Oh ya, anda berusaha menyuap saya, tapi bagaimana kalau saya bilang ke media kalau Lani itu anak seorang pelakor. Apa yang terjadi nantinya?" wajah Riana saat Panji membahas masa lalunya. "Kamu!" suara Riana meninggi. Panji tidak peduli reaksi yang di tinggalkan Riana. Dia berjalan menuju ke mobil. Di mana Bu Laksmi sudah tertidur di dalamnya.


Panji melajukan mobilnya. Masih dengan headset menempel di telinga kanannya. Tangannya sibuk memutar kendali mobil.


"Halo, Indri bagaimana keadaan Echa?"


"Kak Echa dari tadi gelisah karena dia tahu ibu ikut ke kantor polisi. Soalnya ini bukan pertama kali Bude Laksmi seperti itu. Dulu saja dia rela luka-luka saat ada orang yang menghina Kak Echa. Makanya kak Echa cemas saat tahu ibu ikut kak Panji."


"Seperti yang kamu tebak, Ndri. Ibu melabrak orangtuanya Lani. Tapi sudah diatasi kok. Namanya juga orangtua pasti marah ketika ada mencelakai anaknya. Mungkin itulah yang di lakukan Bu Laksmi." jelas Panji.


"Terus bagaimana keadaan Echa sekarang?" Panji menyambungkan ucapannya.


"Lagi main sama Katy di belakang. Tadi dia ribut minta Katy di bawa ke dalam karena hujan besar. Emang di sana hujan juga kah?"


"Sepertinya mulai mendung. Yasudah, kakak tenang kalau Echa baik-baik saja. Pokoknya pantau terus istriku." Panji menutup teleponnya.


Panji kembali melanjutkan kendali mobilnya. Langit tampak semakin menghitam. Tatapannya hanya fokus pada kendaraan yang di kendalikannya.


Mobil terus melaju mengelilingi kota Jakarta. Hiruk pikuk keramaian kota masih terasa meskipun tanda hujan akan turun. Tampak di pelupuk mata dua ekor burung terbang berdampingan. Dia tak tahu jenis burung apa tapi buatnya pemandangan itu sangat langka.

__ADS_1


Ada sebuah gedung yang terbengkalai dilewatinya, beberapa burung hitam tampak menari mengitari mobil. Ada rasa cemas takut burung tersebut menghambat perjalanan mereka. Diiringi serpihan daun yang berjatuhan memenuhi ruas jalan besar.


"Aku janji akan menjagamu sepenuh hati. Tidak akan aku kasih ampun buat mereka yang menyakitimu" batin Panji.


__ADS_2