
Riana baru saja sampai di kantor. Tak tahu kenapa dia datang terlambat hari ini. Biasanya dia selalu ontime. Pagi ini dia sudah punya janji meeting di perusahaan. Sebagai direktur pengganti suaminya, Riana harus menjaga wibawa di depan anak buahnya. Namun semalam dia mendapat kabar kalau Melani demam panas. Sedang di rujuk di rumah sakit Bhayangkara.
Ibu mana yang tidak sedih melihat putrinya pucat dan kurusan. Dunia lapas yang di tempati Lani sepertinya terlihat kejam.
"Kenapa anak saya bisa seperti ini? Kan saya sudah bilang tolong jangan campur anak saya dengan napi yang lain. Kalau terjadi sesuatu sama Lani, kalian yang akan saya tuntut!" amuk Riana.
Seperti biasa kalau terjadi sesuatu pada Lani, Riana akan datang dengan kondisi marah. Orang-orang di lapas sudah tidak terlalu memperdulikan wanita itu.
Bagi mereka baik anak maupun ibunya sama saja.
"Anak anda sakit bukan karena temannya di kapas melainkan fisiknya yang tidak sehat." Kata petugas lapas.
"Kasih makanan yang bergizi. Lihat anak saya kurus kering begini!" Riana masih tidak terima.
"Anda akan kami kasus kan karena tidak menghormati instansi. Anda pikir kami takut hanya karena anda masih keluarga pak Kapolri. Eh, bukannya pak Kapolri itu famili almarhum suami anda. Jangan banyak tingkah, Bu." ucap petugas lapas.
Riana tetap tak mau pergi meninggalkan Lani. Dia juga enggan meminta maaf kepada petugas kepolisian. Dengan angkuhnya dia duduk sambil memainkan handphone.
"Ma, kapan aku bisa bebas?" suara Lani hampir tidak terdengar.
"Sabar, Nak. Mama akan bertemu dengan Panji dan Theresia. Hanya Theresia kuncinya. Kalian kan satu nenek jadi dia harus bantu kamu. Saudaranya."
"Aku sudah tidak tahan di sini." Lani masih mengeluh pada mamanya.
"Pokoknya mama akan tangguhkan hukuman kamu." Riana mencoba menenangkan Lani.
"Kapan mama mau ketemu pak Panji dan Theresia?"
"Sebenarnya sudah, tapi sepertinya Theresia sedang kurang sehat. Begitu ketemu mama dia langsung pingsan. Panji malah salah paham. Mama di usir deh."
"Kok bisa dia pingsan pas ketemu mama? emang dia kenal sama mama?"
"Ya kenal dong, semua keluarga besar papamu tahu sama mama. Apalagi semua keluarga besar papamu benci sama mama. Kamu mau tahu alasannya? karena papamu lebih memilih mama daripada menerima perjodohan keluarga mereka. Tapi papamu tetap teguh pendirian."
__ADS_1
"Tapi kenapa aku malah tinggal sama oma? Aku cuma ngerasain tinggal sama papa pas dia sudah sakit-sakitan." keluh Lani.
"Karena ada keponakan papamu yang tinggal sama kita. Itu juga papamu yang bawa, mama takut dia macam-macam sama kamu. Kalau tinggal sama oma kamu aman. Tapi saat kamu kecil kan tinggal sama kami. Papa kamu sayang sekali sama kamu. Dan kamu juga punya papa lain yang juga sayang sama kamu. Dia juga tidak membedakan kamu dan Lisa."
Beda sama mas Wahyu yang lebih sayang sama Theresia daripada Lani. Batin Riana.
"Iya, Ma. Papa juga baik menyerahkan perusahaan sama mama. Biasanya kan jatuh ke anak kandungnya."
"Papa kamu marah sama Lisa saat itu. Karena lebih milih sama Heri, padahal dia sudah jodohkan Lisa sama anak temannya. sekarang kamu lihat, mereka cerai kan?"
"Tapi kenapa papa dan mama malah suruh aku kerja sama pak Panji. Bukan di perusahaan kita?"
"Kata papamu dia mau kamu belajar dari bawah. Cari pengalaman di luar baru di rekrut perusahaan kita."
"Dan sekarang aku malah berakhir disini."
"Lani, orang yang buat kamu seperti ini malah hidup enak. Mama akan usahakan buat dia merasakan apa yang kamu alami. Mama janji!"
"Mama jangan aneh-aneh. Kalau terjadi sesuatu sama mama siapa yang berada di pihakku. Orang-orang memusuhi aku, Ma." Lani takut kalau mamanya membahayakan diri. "Aku cuma punya mama." ucap Lani lirih.
Tentu saja, Nak. Yang buat mas Wahyu meninggal dunia, Nenek kamu dan papanya Lisa cuma satu orang pelakunya. Batin Riana.
Riana sudah memasuki pelataran kantor. Beberapa orang menyapa dirinya. Riana pun membalas sapaan mereka dengan baik. Selama dia cukup memakai topeng menjadi pemimpin yang baik. Membangun image untuk kelangsungan perusahaan.
"Siang, Bu." sapa Anneke staf kepercayaan.
"Apa mereka sudah sampai? maaf saya terlambat. Saya baru pulang dari rumah sakit subuh tadi. Anak saya sakit dan di rawat disana." jelas Riana.
"Itu, Bu. Rapatnya sudah selesai dari tadi. Mungkin pak Taruna dan beberapa anak buahnya sudah meninggalkan kantor."
Riana terlonjak kaget.
"Siapa yang sudah lancang menggantikan saya?" Anneke sedikit kaget ternyata Riana sangat marah.
__ADS_1
"Kata mbak Lisa, ibu suruh dia menggantikan untuk menemui klien. Mbak Lisa keren, Tidak sampai satu jam klien langsung setuju sama persentasi dari Mbak Lisa." puji Anneke tanpa di sadari atasannya menatap tajam ke arah dirinya.
Riana langsung mencari keberadaan Lisa. Sejak Lani masuk penjara, Riana pun di kejutkan dengan kemunculan Lisa dalam perusahaan. Alasannya simpel, Lisa mengaku ingin membangun perusahaan yang berasal dari kakeknya.
"Apa maksud kamu mengambil klien mama, Lisa!"
"Klien perusahaan, Ma. Bukan klien mama. Emang mama ngapain pakai klien sendiri. Mau cari suami baru? Biar bisa di porotin juga."
PLAAAAK!
Riana merasa Lisa semakin lancang pada dirinya. Padahal selama ini dia sudah baik membesarkan anak perempuan suaminya.
"Lancang kamu bicara seperti itu sama mama. Saya yang melimpahkan kasih sayang sama kamu dan Lani. Tapi apa balasannya? kamu malah menjatuhkan mama."
"Iya, Ma. Terimakasih sudah membesarkan saya. Tapi ternyata itu tidak tulus. Anda punya maksud tertentu pada keluarga saya. Apa perlu saya kembalikan anda ke jabatan lama yaitu staf biasa. Saya sudah baik tidak memecat anda mama Riana."
"Maksud kamu?"
"Silahkan kembali ke ruangan anda, mama tiri ku tersayang." Riana pun meninggalkan ruang kerja Lisa.
"Apa sih maksudnya anak itu?" Langkah Riana terhenti. Beberapa orang staf memasukkan barang-barang milik Riana ke dalam kardus.
"Apa yang kalian lakukan di ruang saya? kenapa barang-barang saya? Hey! Kalian bubar!" Riana berusaha mengusir staf yang berada di ruangannya. Sayangnya mereka tetap mengerjakan tugasnya.
Riana sekarang duduk di teras kantor. Dia terus meraung-raung mengetahui ulah anak tirinya. Tanpa peduli dia menjadi tontonan orang sekitar.
"Siapa kalian?" tanya Riana pada orang-orang yang mendatanginya.
"Saya Rian anak dari Rahansyah, adik dari suami anda. Makam pakde saya sudah di bongkar untuk menjalani autopsi dan dari sana kami mengetahui kalau ada unsur pembunuhan. Dan yang terakhir bersama beliau adalah anda.
Pak polisi bawa saja perempuan ini ke kantor. Biar bukti yang bicara siapa yang bersalah."
"Saya bukan pembunuhnya! Saya bukan pembunuhnya. Suami saya meninggal karena sakit. Pak saya tidak bersalah! Tidak bersalah!" Riana mengamuk ketika di giring oleh polisi.
__ADS_1
Ini semua karena Theresia!