After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 14


__ADS_3

Echa mengurutkan dadanya melihat hasil kerjanya masih utuh. Mau nangis? dia bukan tipe wanita yang melampiaskan kemarahan dengan tangisan ataupun mengamuk. Lebih baik dia kembali menjalankan aktivitas sebagai istri rumah tangga. Membersihkan diri terlebih dahulu.


"Lebih baik aku mandi pakai air hangat. Terus shalat subuh." gumam Echa menyambar handuk di lemari kamarnya.


"Apa aku telepon Rini menanyakan soal Mas Panji? bukannya Rini semalam bilang kalau dia ikut Mas Panji ke pabrik pak Burhan. By the way, pak Burhan bukannya kakeknya Savira, Ya. Apa itu yang membuat Mas Panji tidak pulang. Ah tidak Echa, kamu kenal dengan keluarga mereka. Savira bukan tipe gadis yang seperti itu. Dasar Mas Panji aja yang belum move on." Kata Echa lalu memasuki kamar mandi.


Echa memandang bathtub yang semalam di taburi kelopak bunga mawar merah. Membayangkan betapa kerennya kalau mandi dengan wewangian aroma bunga. Tak membuang waktu Echa pun memasukkan beberapa sabun sehingga menciptakan gelembung sabun. Tubuhnya sudah dalam rendaman air.


"Hmmm sabun pemberian kak Tika wangi juga. Nanti kalau habis aku pesan lagi sama kak Tika." ujar Echa.


Setelah membersihkan diri dari rendaman bathtub di kamar mandi. Echa sudah siap dengan pakaiannya yang rapi. Entah kenapa dia berselera mencari sarapan di luar rumah. Udara pagi masih terasa menusuk tulang.


Setelah memanjakan diri dengan sabun wewangian, Echa pun menggunakan blazer panjang tebal. Melilitkan syal di lehernya.


"Ini dari siapa?" tanya Echa dalam hati.


Satu kotak berikat tali cantik. Kotak berwarna merah pun di bawa ke dalam rumah. Echa memilih meletakkan di meja ruang tamu. Dia kembali menutup pintunya untuk mencari sarapan. Beberapa hari yang lalu dia pernah melihat orang-orang berjualan di pinggir jalan. Aneka makanan jajan pasar pun tersedia di sana. Echa berjanji akan mampir mencicipi jajanan itu.


"Pagi, Bu Theresia." Sapa salah satu staf apartemen.


"Pagi, Mbak." Echa membalas sapaan wanita di depannya.


"Bu, Echa mau kemana?"


Echa mengerutkan dahinya. Kenapa wanita itu mau tahu tujuannya.


"Mau cari sarapan di luar, Mbak. Kayaknya di sana banyak jajanan murah. Mari mbak saya duluan." Pamit Echa meninggalkan apartemen.


Kakinya berjalan menuju tempat tujuan. Dan benar saja, para penjaja makanan mulai menyapa dirinya menawarkan dagangan mereka. Echa pun berhenti di depan penjual sekoteng. Udara dingin seperti ini sepertinya enak minum sekoteng.


"Nikmat mana yang kau dustakan, Ya Allah. Oh iya bukankah aku tadi rencana mau nanya ke Rini perihal Mas Panji." Echa mengeluarkan handphonenya menghubungi rekan kerjanya.


"Iya, Re. Ada apa?"

__ADS_1


"Kok suara kamu kayak abis bangun tidur?"


"Aku nggak masuk kerja, Re. Kurang sehat, semalam begadang bikin laporan permintaan pak Panji. Tadi pas mau shalat subuh kepalaku terasa sakit. Jadi aku sudah izin sama pak Panji. Cuma sepertinya pesanku belum di baca."


"Aku mau nanya semalam kamu terakhir ketemu Mas eh maaf pak Panji di tempat pak Burhan atau di pabrik?"


"Seingat aku di kantornya pak Burhan, Re. Setelah itu nggak tahu lagi. Ada apa kamu nanya suami orang? Re, sadar kamu itu sudah punya suami. Aku tidak lupa dulu kamu sempat suka sama pak Panji. Tapi kan sekarang keadaan beda."


"Perasaan aku belum bilang apa-apa kamu sudah ngomong nggak jelas. Aku cari pak Panji karena mau membahas soal pekerjaanku. Kemarin aku sempat bilang mau resign. Ternyata suamiku sudah mengizinkan aku kerja jadi resign nya mau aku tarik lagi."


"Oh, pantesan."


"Pantesan apa, Rin?"


"Pak Panji semalam mengumumkan kalau dia sudah punya sekretaris baru. Dan kamu di daulat gantikan almarhum Sardi. Selamat ya." Rini memberikan selamat pada temannya. Sejauh ini Echa memang hanya dekat dengan Rini. Meskipun dengan teman yang lain juga berhubungan baik. Akan tetapi hari-harinya lebih banyak ke Rini.


"Selamat ya, Re. Kamu pantas dapat jabatan itu. Melihat dedikasi kerja kamu dua tahun ini." ucap Rini.


"Terimakasih, Rin. Aku tutup dulu. Assalamualaikum."


"Jadi Mas Panji sudah mengumumkan soal sekertaris baru. Tapi sepertinya Mas Panji belum mengumumkan kalau aku adalah istrinya. Apa dia malu punya istri dari kampung. Kalau dia malu kenapa dulu dia ajak aku nikah, apa untuk melupakan Savira.


Echa kamu jangan lupa, Mas Panji menikahi kamu karena terpaksa. Untuk menutup rasa malu keluargaku. Seharusnya kamu sadar diri, Cha. Sadar diri!" batin Echa.


Echa membayar sekoteng yang dia makan tadi. Satu lembar kertas berwarna biru berpindah tangan ke abang penjual sekoteng. Si abang mengeluh karena tak punya kembalian.


"Nggak ada kembalian, Neng. Soalnya Neng yang baru pertama belanja. Uangnya kegedean. Gini aja, kapan neng kesini bayar pakai uang pas." kata abang penjualnya.


"Kembaliannya ambil sama abang saja." Echa pun pamit pada penjual tersebut.


"Ya Allah, Neng. Terimakasih semoga Eneng di kasih rejeki yang berlimpah." sahut abang penjual sekoteng. Sayangnya Echa sudah berjalan jauh. Tidak dengar apa yang di ucapkan abang penjual.


Echa pun berjalan meninggalkan area lapak makanan. Tadinya dia mau beli kudapan. Niat itu di urungkan karena memilih pulang.

__ADS_1


Ceklek!


Echa mendapati Panji tengah duduk di sofa sambil menonton televisi. Bukan hanya Panji yang ada di sana. Ada satu seorang lelaki ikut duduk menikmati cemilan.


"Mas sudah pulang?" tanya Echa di balas anggukan kepala dari Panji.


"Jaka kenalkan ini istri saya, nanasnya Theresia atau biasa di panggil Echa." Panji memperkenalkan Echa pada Jaka.


"Mas Panji sudah nikah ternyata. Kok nggak ada undangan. Istrinya cantik bening pula. Yah aku terlambat terus, tiap ketemu cewek cantik malah bini orang." Ucapan Jaka sontak mendapat tatapan tajam dari Panji.


"Neng, saya sudah mengantarkan Mas Panji dengan selamat. Semalam Mas Panji badannya panas malah hampir pingsan saat di ruangan pak Burhan. Jadi Mas Panji nginap di rumah pak Burhan. Tenang saja suaminya sudah di tangani dokter langganan pak Burhan. Saya pamit ya, Neng.


Mas Panji terimakasih atas sarapan kopinya." Jaka pun meninggalkan apartemen Panji.


"Mas sakit? kok nggak ngabarin aku?" Echa langsung menyambangi sofa tempat duduk suaminya.


"Maaf, Ya. Aku juga kaget pas bangun sudah di rumah pak Burhan. Padahal seingatku semalam masih di pabrik gula nya pak Burhan." jelas Panji.


"Yasudah, Mas istirahat biar aku buatin air jahe." Echa hendak berdiri di tahan oleh Panji.


"Aku minta maaf," suara Panji lirih.


Tubuh Echa langsung terhempas di atas pangkuan Panji.


"Soal?"


"Sudah bikin kamu menunggu semalaman. Di awal pernikahan kita aku sudah membuat kamu tidak nyaman. Maafkan aku, masih banyak belajar tentang arti komitmen. Dan terimakasih kamu sudah menghias kamar kita seindah itu." ucap Panji melabuhkan kecupan di siku jemari Echa.


Panji mengalungkan tangannya di pinggang Echa. Membuat gadis itu salah tingkah. Sesaat dia menunduk tanpa berani menegakkan kepalanya. Bahkan jantungnya sudah tidak beraturan saat ini.


"Cha, aku mencintaimu. Bukan ungkapan untuk pelarian. Jujur aku sudah merasakan hal itu sejak kamu sering mendampingi pekerjaanku. Dan ternyata kamu adalah Echa, gadis yang juga mencintaiku sejak kecil. Berarti perasaan kita tidak salah, kan." Echa melepaskan pelukan Panji perlahan-lahan. Ada ragu yang masih membelenggu hatinya.


"Mau kemana?" tanya Panji.

__ADS_1


"Aku ... Mau ke ... ini ... itu" Tangan Panji merambat setiap lekuk tubuh Echa. Seketika sudah kembali terduduk di atas pangkuan Panji.


Panji langsung menyambar bibir Echa. Tanpa melepas pagutan bibir Panji menggendong Echa hingga masuk ke kamar.


__ADS_2