
Perjalanan menuju ke kediaman pakde Harsa yang sebenarnya sangat jauh dari tengah kota. Orang-orang kaya biasanya mencari rumah yang memiliki ketenangan di lingkungan. Dulu waktu Panji baru lulus kuliah dia kerja di perusahaan milik Tante Clarissa. Perusahaan yang di pimpin oleh Adrian. Satu tahu bertahan di sana hingga dia tertarik ikut kelas pelatihan UMKM. Apalagi dia lulusan agrobisnis.
"Kita sudah sampai," seru Panji setelah mematikan mesin mobil.
Sebuah rumah besar tampak asing di matanya. Echa mengalihkan pandangan ke arah suaminya. Mempertanyakan pemilik tempat mewah itu.
"Itu rumah bude Leni dan pakde Harsa. Rumah tempat aku di besarkan setelah mbok Darmi meninggal dunia." Panji langsung turun membuka pintu belakang. Ada mertuanya yang ikut serta bersama mereka.
"Gede,Ji. Kamu tinggal bertiga di sana." tanya Bu Laksmi.
"Aku cuma tinggal sama bude Leni setelah Pakde meninggal dunia. Pakde meninggal saat menjalankan ibadah haji. Bude nyusul setelah lima tahun kemudian. Dan itu aku sudah selesai kuliah. Kerja sama om Adrian, terus mereka kasih modal aku buka usaha. Dan hasilnya sekarang. Alhamdulillah bisa seperti sekarang ini, Bu."
"Adrian itu yang ikut Leni dan Harsa jemput kamu dulu kan? ibu lupa lupa ingat sih. Maklum sudah tua."
"Iya, Bu. Ibu masih cantik kok. Bahkan lebih cantik dari Echa." puji Panji langsung mendapat serangan tajam dari istrinya.
Panji langsung meminta perawat yang ikut rombongan mobil Paklik Malik. Seorang perempuan muda turun dan menuntun Echa yang sudah berada diatas kursi roda. Panji langsung duduk jongkok sejajar dengan istrinya. Tangannya menggenggam erat memberikan kekuatan bagi Echa.
"Sayang, sementara kita tinggal di sini. Di apartemen kan tinggi. Kamu tidak boleh bolak-balik naik tangga. Di sini jauh dari kota tempatnya sejuk. Tidak apa-apa kan kalau kita di sini." Ucapan Panji langsung di sambut anggukan dari Echa.
"Wah, jadi ini rumah nya Harsa. Kenapa Cahyadi tidak ikut, ya. Biar dia lihat rumah adiknya. Besar dan mewah. Aku selama ini tidak tahu apa usaha dia. Apakah Harsa punya anak?" cerocos Paklik Malik.
"Pakde tidak punya anak setahu aku. Selama ini mereka tinggal berdua saja plus bertiga sama aku. Usaha pakde sekarang di tutup sejak kasus adik iparnya. Perusahaan yang di pegang om Adrian itu kerjasama dengan pakde Harsa. Milik keluarga bude Leni."
"Kenapa di tutup? sayang sekali mereka tidak punya penerus. Kenapa bukan kamu yang meneruskan?" tanya Paklik Malik.
"Anak-anaknya om Adrian tidak ada yang berminat, Paklik. Keduanya punya kehidupan sendiri. Yang bungsu malah kerja jadi sekretaris saya."
"Kenapa bukan kamu saja yang meneruskan?"
"Aduh, Paklik. Saya kan bukan anak mereka. Saya tidak mau dianggap maruk sama keluarga besar mereka."
"Tapi kamu kan anak ..."
"Malik!" panggil Bu Laksmi.
"Iya, Mbakyu."
__ADS_1
"Jangan cerita soal itu dulu." bisik Bu Laksmi.
" Panji harus tahu kalau Adrian...."
"Itu bukan ranah kita, Malik. Biarkan dia tahu dengan sendirinya." bisik Bu Laksmi.
Paklik Malik menggangguk setuju. Lalu mengikuti Panji masuk ke dalam rumah. Sementara Echa sudah lebih dulu masuk bersama susternya. Cerita Panji soal perusahaan yang di pegang Harsa membuat pikirannya tidak tenang. Rahasia yang tersimpan rapi seharusnya sudah terkuak. Tapi ada benarnya kata Laksmi, kisah itu bukan ranah mereka. Keluarga mbok Darmi dan keluarga besar Laksmi yang tahu soal itu.
Kursi roda yang Echa duduki berdiri di depan pintu kamar bergambar suaminya. Ada rasa geli melihat pose alay berbentuk poster. Dia tidak lupa kalau dulu Panji rada alay dan narsis. Suka memuji diri sendiri, itu yang dia tahu selama kerja disana.
"Kalau mau bilang aku ganteng nggak apa-apa. Aku ikhlas, apalagi pujian dari istri sendiri. Pahalanya gede."
"Enggak, biasa saja."
"Masa sih, kamu tahu waktu aku gantikan Randi jadi dosen. Banyak tuh yang antri cuma buat nyapa doang. Bahkan banyak yang minta aku perpanjang masa mengajar di sana."
Echa mendengar cerita Panji mendadak terdiam. Dia tidak lupa saat Panji menyuruhnya bolak balik ke kampus. Hanya untuk mengantarkan berkas pekerjaan. Di tambah di mana ada Panji pasti ada Savira.
"Mas, aku mau istirahat." kata Echa dengan nada datar.
"Kenapa tidak pulang ke apartemen?"
"Karena apartemen kita di lantai atas. Akan susah buat kamu untuk bolak balik nantinya. Kalau ini kan ada kamar bawah. Di atas biar ibu kamar sebelah buat Paklik Malik dan keluarganya."
"Kan ada lift. Atau jangan-jangan di rumah ini banyak kenangan pada seseorang atau ..." Echa terdiam saat telunjuk Panji menutup bibirnya.
"Bisakah sekali saja mengurangi pikiran jelek mu. Kenapa setiap kita berbicara selalu ada pikiran-pikiran negatif, tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar." suara Panji seperti menekan amarah. Tubuh atletisnya meninggalkan kamar tanpa sepatah katapun.
Echa hanya menunduk tanpa berani menegakkan kepalanya. Apa dia salah lagi? Justru sikap Panji lah yang membuat dia berpikir seperti itu.
"Siang, Bu Theresia. Saya belum memperkenalkan diri, ya. Nama saya Atik. Saya di tugaskan pak Panji untuk merawat ibu selama pemulihan hingga bisa berjalan seperti semula."
Echa mengangguk menyalami perempuan bertubuh mungil di depannya.
"Terimakasih, Mbak." jawab Echa.
"Tidak usah panggil, Mbak. Panggil saya Atik saja karena usia saya muda dari anda." sambung Atik.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu berapa usia Atik?"
"Saya 22 tahun, Bu. Saya di rumah sakit juga masih proses magang buat ngejar skripsi sekolah perawat." jelas Atik.
Kedua perempuan beda generasi itu saling melempar senyum. Echa merasa punya teman tukar pikiran, meski ada ibunya juga ikut membantu. Namun untuk sekedar teman bicara sama ibunya akan banyak pertentangan. Pemikiran Bu Laksmi yang masih kolot. Apalagi sang ibu lebih memihak suaminya daripada mendengarkan dirinya.
"Suami saya mana?" tanya Echa.
"Saya tidak tahu, Bu. Saya tadi cuma di instruksikan sama ibu Laksmi untuk menemui Bu Echa. Sebagai perkenalan pertama. Apa ada yang bisa saya bantu? atau ibu mau lihat-lihat sekitar sini biar saya temani."
"Iya, Saya mau keliling sekitar sini. Bisa temani saya?"
"Bisa. Itu sudah tugas saya." Atik langsung membuka kunci kursi roda. Echa mengucapkan terima kasih lagi pada susternya. Mereka mengelilingi setiap sudut ruangan. Banyak ruangan salah satunya kamar yang akan di tempati Atik di dekat dapur.
Echa sudah berada di depan teras belakang. Banyak bunga cantik yang masih bagus dan terawat. Ada seorang bapak-bapak berdiri menyapa dirinya.
"Perkenalkan saya Ibnu tukang kebun di kediaman pak Harsa. Saya sudah bekerja di sini 15 tahun. Kalau Bu Echa butuh bantuan saya akan siap."
"Terimakasih, Pak." sapa Echa dengan ramah.
"Bapak lihat Mas Panji?" sudah kesekian kalinya Echa menanyakan keberadaan suaminya.
"Ada, Bu. Tadi saya lihat dia ada di sana." Tunjuk pak Ibnu ke arah sudut taman.
"Jangan panggil saya Bu. Saya lebih muda dari ada. Setarakan saja dengan panggilan Mas Panji."
"Saya panggil non saja, Ya. Apa saya panggilkan den Panji."
"Tidak usah, Pak. Biar susul ke sana saja." Echa pun meninggalkan area teras belakang.
Tampak Panji sedang membersihkan rumput sekitar kandang. Tak ada hewan di dalamnya.
"Aaa..." Echa di kejutkan sosok mungil bertelinga lancip bulunya sangat lebat.
"Ayo, kenalkan ini mami kamu. Sayang itu namanya Katy" sahut Panji.
__ADS_1